
Meeting pun berakhir, pria besar itu kembali menutup laptopnya dan meletakkan tepat di atas meja yg bersebelahan dengan jendela.
Suara bising di luar cukup mengganggu pendengarannya, alunan musik dan juga beberapa obrolan para wisatawan.
Dengan rasa penasaran ia pun membuka tirai jendela dan mengamati aktifitas yg ada di bawah.
Sebuah pemandangan yg cukup menyita perhatian, terlihat gerak gerik seorang wanita yg ia kenal sedang berbincang bincang dengan salah seorang pria yg juga sepertinya tidak asing baginya.
Adam pun masih memperhatikannya dan sejenak berpikir.
"Apa ini yg kau inginkan dariku malai ? Kau butuh teman bicara untuk meluapkan segala yg kau rasakan, maaf sayank selama ini aku tidak bisa memberikan semua itu padamu, aku terlalu jahat untukmu (keluhnya dengan tatapan pasif), aku tidak akan menyalahkanmu atas ini, tp aku berharap aku juga bisa jadi teman untukmu." (Gumamnya dalam hati)
Pria itu pun kembali menutup tirai jendela, tatapannya pasrah seolah tak bisa berbuat apa apa lagi, ia hanya duduk termangu di sebuah bangku yg ada di rooftop.
"Kau lihat ? Dia sendirian ! Cepat datang dan temani dia !" (Pinta Gino seraya menatap Adam dari bawah)
Malaika pun lantas menoleh dan mendongakkan wajahnya.
"Hmmm yah ! Mungkin dia sudah selesai dengan meetingnya !" (Tutur Malaika seraya beranjak dari tempat itu)
Di hampirilah laki laki yg sedang sendirian itu, dengan mendaratkan kedua tangan pada pundaknya, Malaika mencoba tetap bersikap manis pada suami tampannya.
"Apa yg kau lakukan disini, Adam ?" (Ucapnya lirih)
Pria itu pun lantas menoleh dan menatap istri kecilnya.
"Nothing ! Aku hanya bosan di dalam, sepertinya udara diluar lebih segar !" (Balasnya dengan senyuman hangat)
"Emmmm okay ! Kau sudah makan ?" (Tanya Malaika mencoba mencari topik pembicaraan)
Adam pun lantas menggeleng.
"No !" (Ucapnya lembut)
"Kau mau sesuatu ? Emmm i mean ! Di bawah ada beberapa makanan yg mungkin kau suka, apa kau ingin mencobanya ?" (Tanya Malaika mencoba menawarkan sesuatu)
"(Mengangguk) baiklah !" (Balasnya seraya beranjak dari tempat duduk itu)
Tangan mungil itu masih erat dalam genggamannya, bahkan ia seolah tak ingin melepaskannya sedikitpun.
Wanita itu hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya, meski ia terdiam nampaknya malaika sedikit salah tingkah dengan sikap sang suami.
Keduanya berjalan sambil bergandengan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, tersajilah beberapa menu makanan di atas meja.
Pasca perdebatan itu, kedua pasangan itu pun masih terlihat dingin, tak ada yg mau bicara satu sama lain, mereka hanya fokus pada makanan di depannya, begitu juga dengan Malaika, ia yg biasanya ceria polos dan apa adanya saat berbicara, kini terdiam membisu seolah tak tau bagaimana cara mengawalinya.
Selesai dengan makan malam itu, nampaknya Adam ingin segera kembali ke kamar.
"Mataku sedikit lelah, bisakah kita kembali sekarang ?" (Tanya Adam dengan lembut)
"Kau ? Kembalilah lebih dulu, aku akan menyusul !" (Balas Malaika dengan senyumannya)
Adam pun mengangguk perlahan, pria besar itu segera naik ke kamarnya dan meninggalkan Malaika seorang diri.
"Aku tau, mungkin kau lelah dengan pekerjaanmu Adam ! Aku sangat memaklumi." (Peliknya dalam hati)
Batinnya terus berkecamuk seraya menatap setiap langkah yg mulai perlahan menjauhinya.
Untuk sesaat ia merasa tenang lantaran keheningan itu mulai menemaninya.
Beberapa musik slow juga menggema di telinganya, seakan mengikuti hatinya yg mulai tenang.
Beberapa kenangan juga terbesit dalam pandangannya, sejenak itu mengingatkan akan pertemuannya dengan Adam 12 tahun yg lalu, betapa konyolnya saat itu, ia terlihat polos saat pertama kali berbicara dengan pria besarnya itu, yg kemudian terpisah untuk beberapa waktu yg cukup lama, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali dalam sebuah pekerjaan.
Masih tidak menyangka akan kejadian itu, Malaika terus mengingat moment dimana Adam kembali menolongnya saat dihadapkan pada sebuah fitnah yg ia terima.
Wanita bertubuh mungil itu juga merasa aneh saat pertama kalinya Adam mengatakan bahwa ia masih menjadi istri sahnya, pasalnya ia tidak memiliki perasaan apapun pada pria besarnya itu, apalagi saat Adam memintanya untuk tinggal dalam satu rumah dengannya, ia semakin di dera rasa takut yg berlebihan.
ia masih belum siap jika harus menjalin hubungan dengan pria lain, apalagi saat itu ia baru saja di tinggal oleh suami pertamanya, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yg sangat berarti dalam hidupnya.
Bahkan untuk tidur satu ranjang pun memerlukan waktu yg tidak sebentar untuk benar2 siap.
Ibu satu anak itu nampaknya memang benar2 susah untuk menerima kembali pria dalam hidupnya.
Hingga suatu ketika, Adam jatuh sakit dan mengharuskannya untuk berhenti sejenak dari pekerjaannya, pria besar itu benar2 tak berdaya, bahkan untuk berdiri saja ia tidak mampu, sehingga mengharuskan Malaika untuk merawatnya dengan maksimal.
Karna insiden itu tak jarang ia juga sering ketiduran dalam ranjang yg sama dengan suami tampannya.
Yg akhirnya membuat Malaika terbiasa tidur satu ranjang dengannya.
Meski ia belum memiliki perasaan apa apa pada suaminya kala itu, ia mencoba untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik.
Hingga beberapa bulan kemudian, tuhan memberikan karunia terbesar dalam hidupnya, penantian 7 tahun bersama suami pertamanya kini terbayar dengan lunas, ia akhirnya hamil meski bukan dengan suami pertamanya.
Meski begitu ia merasa sangat bahagia karna akhirnya bisa memiliki seorang anak.
Perlahan tapi pasti perasaan itu mulai tumbuh, memang tidak mudah, tp Adam selalu sabar menantikan cinta dari istri kecilnya.
Hingga kini,
Ibu satu anak ini benar2 sudah bisa menerima Adam sebagai suaminya, meski secara tidak langsung ia mengatakannya.
Tak terasa 3 jam berlalu, Malaika terhanyut dalam lamunannya hingga ia lupa bahwa kini jarum jam telah menunjukkan di menit ke 20 tepatnya pukul 11 malam.
Wanita itu segera bergegas dan kembali ke dalam kamarnya.
Sebuah pemandangan indah cukup menarik perhatiannya, terlihat Adam yg kini sudah terlelap lebih dulu.
Di usaplah wajah itu dengan lembut.
"Bahkan saat kau tidur pun, kau masih terlihat tampan !" (Gumamnya dalam hati)
Malaika tersenyum kecil tatkala memperhatikan wajah tampan yg tengah terlelap itu.
Sesekali ia mengecup pipinya dengan lembut, sehingga tanpa ia sadari sentuhan hangat itu rupanya membangunkan Adam dengan tiba tiba.
Tangan mungil itu masih terasa hangat, lalu Adam pun menggenggamnya dengan lembut.
Mengetahui hal itu, Malaika sontak terkejut dan salah tingkah.
"Kenapa belum tidur ?" (Tanya Adam perlahan)
Mencoba mencari cari jawaban, Malaika terlihat gugup dan semakin salah tingkah.
"Ak aku ! Entahlah ! Aku hanya ?" (Ucapannya terpotong)
"Apa ? (Sahutnya lembut), kau mau bicara apa ? Bicaralah sayank !" (Pintanya dengan lembut)
"Adam ! Ini sudah malam, aku akan segera tidur !" (Jawab Malaika mencoba mengalihkan pembicaraan)
Malaika pun segera naik ke tempat tidur dan mengatur posisinya.
Melihat gelagat istrinya yg gugup, Adam pun segera meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"What do you want ?" (Tanya Malaika lirih)
"Nothing ! Aku cuma ingin memelukmu !" (Tuturnya Jelas)
"Bukankah setiap hari kau memelukku ?" (Sahut Malaika)
"Yaah ! Tp entahlah ini berbeda !" (Pungkasnya)
"Apanya yg berbeda ? Tidak ada yg berbeda." (Malaika terheran)
"Tidak malai ! Kali ini aku merasa bahwa aku benar benar sudah memilikimu sepenuhnya." (Adam kembali menegaskan)
"Hah ? Aku sama sekali tidak mengerti Adam." (Ucap Malaika)
"Yahh ! Cukup aku saja yg mengerti malai." (pungkasnya lagi)