
Pagi yg sejuk untuk sebuah hati yg tenang, beberapa lembar sandwich dan juga segelas susu hangat terpampang di atas meja saat seorang pelayan menjamunya dengan ramah.
"Silahkan ! Pesanan anda !" (Pinta pria itu dengan menundukkan kepalanya)
Begitupula Malaika, ia pun membalasnya dengan sopan.
"Thank you !" (Ucapnya ramah)
ia yg semula melakukan yoga di rooftop yg sejuk, berlalu menghampiri meja dengan sajian sarapan pagi.
Wanita dengan tangtop berwarna putih itu serta setelan celana selutut sedang menikmati pemandangan sekitar.
"Hmmmm ! Indah sekali !" (Tuturnya seraya meneguk segelas susu ditangannya)
ia terduduk di sebuah bangku yg tersedia disana, sebuah telepon genggam masih dipandangnya dengan perasaan ragu.
Dan lagi lagi ia selalu mengingat akan suami tampannya tatkala memperhatikan benda pintar itu.
"Adam, aku benar2 merindukanmu ! (Peliknya dalam hati), huhhhh !" (Lalu membuang nafas)
Seketika lamunannya terhenti ketika seseorang meneriakinya dari bawah.
"Hey ! Kau yg disana ? Bisakah kau mendengarku ?" (Suara teriakan pria cukup lantang di telinganya)
Dengan cepat, Malaika mengenali suara itu, ia tersenyum lalu memandangnya dari atas.
Kedua orang itu saling tersenyum ketika sama2 menatap satu sama lain.
Ibu satu anak itu pun akhirnya turun dan menghampirinya.
Ya, dia adalah Gino, pemuda yg sejak semalam telah menemaninya.
"Kau bilang ? Kau bekerja dipagi hari ? Lalu kenapa kemari ?" (Tanya malaika heran)
"Yaa, karna kau disini sendirian, aku cuma ingin memastikan bahwa teman baruku baik baik saja !" (Jawab Gino dengan recehnya)
"Kau ini membual saja !" (Balas Malaika dengan menepuk pundak pria itu)
"Hmmm, kau sudah makan ?" (Tanya Gino dengan begitu perhatiannya)
"Tentu saja, aku baru saja menyelesaikan yoga." (Tuturnya)
"Hmmmm, kau melakukan yoga dipagi hari ? Bukankah lebih baik jogging ?" (Sahut Gino)
"Tidak, mana mungkin ? Bahkan untuk sembilan bulan kedepan aku vakum untuk jogging." (Jawab Malaika malas)
"Kau sedang hamil ?" (Tebak gino)
"Tepat sekali ! (Jawabnya singkat), ini anak keduaku dan pria itu sangat possesive terhadapku !" (Menyindir Adam)
"Hmmmm, tp kau sama sekali tidak terlihat seperti ibu dengan satu anak !" (Tutur Gino)
"Mungkin karna tubuhku kecil, semua orang juga menganggapku begitu." (Balas Malaika dengan tersenyum)
"Apa suamimu juga tidak tau ?" (Sahut Gino)
"Kau pikir berapa usiaku ? Bahkan suamiku terpaut 3 tahun lebih muda dariku." (Malaika tersenyum)
"Hahhh ? Mana mungkin ?" (Gino heran)
"Kau lihat saja ? Apa aku terlihat seperti wanita berusia 35tahunan ?" (Tanya Malaika dengan candanya)
"Hahhhh ? (Lagi lagi Gino terkejut), kau berusia 35 tahun ? Tidak bisa dipercaya ! Aku bahkan mengira kau mungkin berusia 25 atau 27 tahun." (Seru Gino)
"Kau salah, tahun ini usiaku genap 37 tahun, dan suamiku, dia baru 34 tahun." (Perjelas Malaika)
"Apalagi ini ? Benar2 tidak bisa ku percaya, kau berusia 37 tahun tp kau sama sekali tidak terlihat setua itu, aku bahkan jauh lebih muda darimu." (Gino masih tidak percaya)
"Aiih sudahlah ! Kenapa mempersulit pertemanan karna batasan usia, sama sekali tidak fair bukan ?" (Ucap Malaika seraya meneguk minuman ditangannya)
"kau benar ! (Timpalnya), lalu bagaimana suamimu ? Apa dia tidak ingin menemui mu ?"
"Mungkin ? Tp sepertinya dia masih kesulitan mencariku, karna sejak kemarin aku tidak ingin menghidupkan ponselku." (Tuturnya)
"Kau kejam ! Apa kau tidak kasihan padanya, dia pasti kebingungan mencarimu, bagaimana kalau dia memarahimu ?" (Tanya Gino dengan cemas)
"Ketika aku didekatnya dia mengabaikanku, tp ketika aku jauh darinya dia malah sibuk mencariku, seperti itulah sejak dulu, aku bahkan sangat tidak asing dengan sikapnya, dan kalaupun dia marah, silahkan saja !" (Ucap Malaika santai)
"Hmmmm kau tidak boleh seperti itu, biar bagaimana pun dia itu suamimu." (Ucap Gino dengan nasihatnya)
Selesai dengan perbincangan itu, akhirnya Gino pun melanjutkan aktifitasnya. Sementara Malaika, ia masih sejenak menenangkan hatinya dari kebisingan kota yg mengganggunya.
Beberapa aktifitas seperti berenang di kolam renang, berendam di air hangat serta menikmati pemandangan hutan dengan begitu rindangnya.
Namun bukan Adam namanya, jika ia tidak bisa menemukan apa yg ia inginkan.
Melakukan perjalanan sejak semalam, rupanya pria besar itu sudah lama mengamati gerak gerik istrinya.
Tidak ingin terburu buru menghampirinya, Adam justru tidak mau terjadi pertikaian karna masalah sepele itu, ia mencoba memahami apa keinginan istrinya tanpa mengajaknya berdebat.
Melihat Malaika yg begitu menikmati aksi berenangnya, pria besar itu masih terdiam mengamati.
Dengan tubuh telanjang dada, serta hotpants yg melekat di pinggangnya, apalagi sebuah kaca mata hitam yg semakin menyempurnakan penampilannya.
ia bersandar pada matras yg terjajar dengan pengunjung lainnya.
Ada banyak pria macho di sana, dengan dada bidang yg serupa, namun hanya Adam pria macho dengan rambut gondrongnya yg khas.
Tawa lepas itu seolah membuatnya turut tersenyum, bagaimana tidak, Malaika begitu bahagianya menikmati moment itu walau tak ada suami di sisinya, ia berenang kesana kemari, tertawa lepas , tersenyum puas seolah melepaskan beban yg begitu keras mengikatnya.
Ekspresi itu benar2 tidak bisa disembunyikan olehnya, melihat kebahagiaan itu, diam diam Adam pun turut menyeburkan diri ke kolam hingga menjadi pusat perhatian para kaum hawa yg ada disana.
Semua wanita seolah menghunuskan pandangan ke arahnya, namun pria dengan tubuh besar itu perlahan muncul dari genangan air, dan berjalan pelan menghampiri Malaika yg sedang tersenyum lepas menikmati setiap air yg membasahi tubuhnya.
Semakin dekat
Semakin dekat
Perlahan langkahnya tepat berada di samping wanita kesayangannya itu, meski tanpa Malaika sadari, Adam pun terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Sementara Malaika, ia masih menatap ke arah depan dengan ekspresi bahagianya, setiap deburan air yg terdengar seolah musik indah yg meramaikan kembali hatinya.
Sesekali ia menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan musik reggae yg menggema.
Matanya terpejam sejenak seolah meresapi setiap alunannya.
Semakin dibuat tersenyum oleh sikap istrinya, Adam pun kini memberanikan diri untuk mendekatinya, dan menatapnya tepat didepannya.
Masih dengan mata terpejam, Malaika nampaknya enggan untuk membuka matanya.
Hingga musik itu berganti, barulah ia membuka kembali kedua matanya.
Dan alangkah terkejutnya bahwa seseorang telah lama berada di depannya dan menatapnya dengan begitu teduh.
ia terperangah untuk sejenak ketika melihat laki laki yg ada didepannya.
Keduanya saling bertatapan, sementara Adam menjamah pipi mungil itu dengan begitu lembut.
Masih tidak percaya dengan kehadiran sang suami, Malaika terbengong tanpa ekspresi.
Sontak ekspresi konyol itu semakin membuat Adam gemas, pria besar itu pun akhirnya memeluknya dengan begitu erat.
ia semakin bahagia dengan kehadiran suami tampannya.
Sesekali kecupan lembut juga menyambar keningnya.
Selesai dengan aktifitas berenangnya, kedua suami istri itu memutuskan untuk kembali ke villa dan menikmati sajian makanan di sana.
Masih dengan rambut basahnya, Malaika terlihat lapar sekali saat melihat beberapa makanan yg tersaji.
"Sudah berapa lama kau tidak makan ?" (Celetuk Adam menggodanya)
"Aku baru menyantap 3 sandwich tadi pagi." (Jawab Malaika dengan polosnya)
"Wow ! 3 sandwich ! Dan sekarang kau makan seperti orang yg baru berbuka puasa." (Balas Adam dengan senyum riangnya)
Pria itu nampak bahagia saat mengamati gerik istrinya.
Merasa tidak percaya diri saat di tatap suami tampannya, Malaika pun kembali membalasnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" (Tanyanya gugup)
Adam pun menggeleng perlahan.
"Tidak ! Aku hanya bahagia melihatmu seperti ini ! Tetaplah seperti ini nona !" (Pungkasnya)
Keduanya pun melanjutkan makan siangnya.
Tak lama kemudian, tiba2 Gino melintas di sekitar mereka dan Malaika pun memanggilnya.
"Ah Gino ! Come here ! Come come !" (Teriak Malaika tatkala melihat pemuda itu)
Pemuda itu pun lantas menghampiri mereka berdua.
"Yah ! Apa kau perlu sesuatu ?" (Gino kembali bertanya)
"Oh no ! This is my husband !" (Ucap Malaika seraya memperkenalkan sang suami)
"Ah yaa ! Good !" (Gino pun menatap Adam dengan biasa)
"Adam, this is Gino ! My new friend in here !" (Ucap Malaika)
"Hmmmm ya (mengangguk angguk), bahkan dia yg membawaku kemari." (Jawab Adam dengan santai)
Mendengar hal itu, sontak membuat Malaika terkejut.
"Hahhh ? Apa ?" (Ucap Malaika kaget)
"I'm sorry !" (Jawab Gino memohon)
"Jadi, kalian bersekongkol ?" (Sahut Malaika)
Adam pun hanya tersenyum kecil.
"Oh ! Kenapa kau menyabotase semua teman2ku, tuan Adam Jackson ? (Tanya Malaika dengan kesalnya), aku bahkan baru mengenalnya." (Timpalnya)
"I'm sorry tp sejak aku tau kau sendirian disini, aku sangat khawatir, dan setelah pembicaraan kita tadi malam, aku tidak sengaja bertemu dengan suamimu saat ia sedang makan malam (sahut Gino), dia bercerita bahwa dia sedang pusing mencari keberadaan istrinya, dan kebetulan sekali itu adalah kau, lalu aku memberitahunya, sialnya sekarang kau malah marah padaku." (Ucap Gino lemas)
"Bersyukurlah malai, kau memiliki teman yg baik seperti dia, kalau tidak pasti aku sudah membunuhnya, nona" (celetuk Adam dengan tatapannya)
Pemuda itu kemudian berlalu dari hadapan mereka, sementara Malaika kini nampak murung.
"Huhhhh !" (Menghela nafas)
Selesai dengan makan siang itu, kedua pasangan itu kemudian menuju villa untuk beristirahat sejenak.
Suasana hening kembali menemani keduanya, dengan dress panjang, juga long cardi yg menutupi lengannya, Malaika nampak berdiri di ambang jendela seolah sedang memikirkan sesuatu.
Melihat pemandangan itu, Adam nampak risau dengan istrinya, ia pun segera menghampiri wanita kesayangannya.
"Malai !" (Panggilnya lembut)
Wanita itu pun sontak menoleh tanpa bersua.
"I think ? Sepertinya kita perlu bicara." (Ucapnya lembut seraya menggenggam jemari yg mungil itu)
"Memangnya apa yg ingin kau dengar ?" (Tanyanya kembali)
"Hmmm ya ! (Ucapnya perlahan), kenapa kau melakukan ini ? Kenapa kau membuatku cemas ?" (Tanya Adam dengan tatapan teduhnya)
Pria itu duduk di depannya, seolah merendahkan diri agar tidak ada amarah yg tersulut.
"Tidak ada yg perlu kau dengar, Adam ! Kita berdua memiliki visi misi yg berbeda, kau penggila kesibukkan, sedangkan aku cuma ingin keluarga ! Itu saja !" (Tuturnya Jelas)
Wanita itu pun mengalihkan pandangannya, namun jemari itu masih tergenggam erat di tangan besarnya.
"Siapa ? Siapa malai ? Siapa yg mengatakan itu padamu ? Aku tidak penggila kesibukkan seperti yg kau katakan ! (Ucap Adam dengan terus menatapnya), aku memiliki tanggung jawab yg besar atas perusahaanku, Malai ! Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja." (Perjelas Adam dengan lembut)
Wanita itu pun menganggukkan wajahnya perlahan.
"Yaaah aku mengerti, aku bahkan sangat mengerti, siapalah aku Adam ? Aku hanya wanita yg tidak sengaja kau nikahi, bukan sesuatu yg penting untukmu." (Ucapnya dengan raut sedih)
"Hey ! Hussssst ! Kenapa bicara seperti itu ? Kau penting untukku, malai ! (Ucap Adam seraya menjamah pipi mungil itu), Bagaimanapun pertemuan kita, tuhan sudah mengaturnya dengan indah, meskipun aku hanyalah suami kedua dalam hidupmu, aku tidak peduli malai ! Yg penting sekarang kau milikku seutuhnya." (Tuturnya dengan jelas)
Wanita itu pun lantas mendongakkan pandangannya seraya berkata :
"Apa aku juga bisa memilikimu seutuhnya Adam ? (Tanya Malaika dengan nada tinggi), aku bahkan tidak bisa mengendalikan suamiku sendiri, penampilanmu, tubuhmu, waktumu, bukan milikku seutuhnya Adam ! Setiap hari aku slalu bertarung dengan waktu, kapan aku bisa memiliki waktu bersamamu ? Kapan aku bisa menghabiskan waktu bersamamu tanpa gangguan pekerjaanmu ? (Malaika kembali meluapkan kekesalannya), yaaa kita memang sering terlihat bersama, sering liburan bersama, tp kau juga menyelipkan pekerjaanmu disana !" (Pertegasnya)
Tanpa terasa tiba2 air mata itu mulai membasahi pipinya.
"Dan ini ! (Meraih ponsel miliknya) kenapa aku sengaja menonaktifkan ponselku ? Kau lihat ! (Kembali menunjukkannya), aku tidak ingin siapapun merusak kebahagiaanku, aku benar2 ingin menikmatinya tanpa gangguan dari manapun ! (Tangisnya semakin pecah), apa menurutmu kau bisa melakukan ini ? (Sekali lagi ia bertanya dengan penuh kekesalan), tidak akan ! Kau tidak akan pernah bisa melakukan ini Adam ! (Perjelasnya), Kau sangat berambisi dengan semua bisnismu, pekerjaanmu ! Kau penggila kesibukkan Adam ! (Amarahnya semakin memuncak), aku sangat mengerti kau memulai semua ini dengan tidak mudah, dan perlu perjuangan yg besar untuk sampai di titik ini ! Tp kau jangan pernah lupa akan satu hal !" (Cucur air matanya terus mengalir)
Menghadapi sikap Malaika yg berkecamuk, pria itu terus mencoba meredam amarah istrinya meski ia tak sanggup lagi untuk berkata kata.
Mata itu pun juga mulai basah ketika melihat emosi Malaika yg berapi api, ia mencoba meraih kedua tangan istrinya, meski wanita itu terus menyangkalnya.
"Lepaskan !" (Pintanya paksa)
Pria itu pun terus mencoba mengendalikan istrinya.
"Kau jangan lupa akan satu hal Adam ! (Kembali menegaskan), your son ! Don't forget him ! (Ucapnya dengan nada tinggi), apa kau juga ingin, Danthe akan mengalami nasib yg sama denganmu waktu kecil ?" (Ucap Malaika seolah mengingatkan)
Seolah tamparan keras memukul wajahnya, pria itu terkulai lemas mendengar pernyataan terakhir yg di ucapkan oleh istrinya.
ia jatuh tersungkur, menyadari segalanya yg telah terjadi selama ini.
Perlahan wanita itu menjauh darinya.
"Kau mengerti sekarang ?" (Tanya Malaika perlahan)
Sementara Adam, ia masih terpejam meratapi setiap kenyataan yg ada.
"Jika aku seegois itu, aku tidak akan pernah mau datang kesini sendirian, aku hanya ingin menjelaskan ini padamu, bahwa sebanyak apapun harta yg kau miliki tidak akan ada artinya jika kau tidak memiliki rumah untuk kembali." (ucap Malaika menegaskan)
Malaika pun kembali mendekat dan meraih tubuh suaminya agar segera bangkit.
"Lihat ! Sudah berapa lama kau tidak bicara padanya ? (tanya Malaika dengan kesungguhannya), Sudah berapa lama kau tidak bermain main dengannya ? Hanya karna ayah dan ibu bersamanya, bukan berarti kau harus mengabaikannya begitu saja ! (Timpalnya lagi), Adam, please ! (Panggilnya dengan tatapan itu), He's your son ! Your flesh and blood ! Jangan sampai kau kehilangan masa kanak kanaknya hanya karna pekerjaanmu, dia tidak lahir dua kali, Adam ! Your son !" (Ucapnya perlahan)
Pria itu pun lantas mengangguk memahami setiap perkataan istrinya, ia kembali berdiri lalu meraih tubuh istrinya dan segera memeluknya.