
10 menit kemudian, gadis berusia 20 th itu terlihat sibuk mengenakan kembali sepatunya.
"Kau mau kemana ? Ini sudah larut ?" (Tanya Malaika)
"Aku harus pergi, seseorang sudah menungguku " (paparnya)
"No Adel ! Kau tidak boleh pergi kemana mana malam ini ! Kau harus tetap disini !" (Tegas Malaika)
"Maaf kak, aku tidak boleh mengecewakannya ! Lagipula ! Dia sering memakaiku !" (Pungkasnya lagi)
"Berikan ponselmu !" (Paksa Malaika lalu meraih ponsel gadis itu)
"Kak, tolonglah ! Jangan mengatur hidupku !" (Balas Adel dengan kesalnya)
"Diamlah kau gadis kecil !" (Ucap Malaika seraya mengotak Atik isi ponsel itu)
"Kembalikan ponselku, cepat !" (Adel masih bersikeras)
Tak lama kemudian.
Malaika berhasil membatalkan transaksi Adel dan juga seseorang yg akan membookingnya.
"Ini ! (Memberikan ponsel itu), tidak ada alasan lagi untukmu keluar dari kamar ini !" (Ucap Malaika)
Seketika ekspresi itu berubah menjadi lemas.
"Kau menghancurkan hidupku kak, 200 jutaku hilang dalam sekejap !" (Seru gadis itu dengan kekecewaannya)
"Hahhh ?? Apa ? 200 juta ? Kau bahkan membayar murah tubuhmu sendiri ! (Celetuk Malaika dengan nada tinggi), dengar !! Aku bisa memberimu 10 kali lipat dari ini kalau kau mau bekerja dengan benar di tempatku, asal kau mau berjanji kau tidak akan kembali lagi ke tempat seperti ini !" (Ucap Malaika menegaskan)
Gadis itu masih membisu dengan tatapan tajam Malaika.
"Kalau kau masih ingin menganggapku sebagai kakakmu maka jangan pernah melakukan pekerjaan kotor ini lagi !" (Ucap Malaika dengan tegasnya)
"Tp kak ! (Sahut Adel dengan mata berbinar), ibu pasti akan marah padaku jika aku tidak memberinya uang dalam sepekan ini !" (Tuturnya)
"Urusan ibu biar aku yg tangani, aku akan memberinya cek kosong, lalu terserah dia mau menuliskan angka berapa, asal kau tidak boleh lagi melakukan pekerjaan kotor itu." (Jawab Malaika dengan tegasnya)
"Kak ?" (Sahutnya perlahan)
"Besok antarkan aku pada ibu, aku akan bicara padanya ! Kau jangan takut ! Setelah ini, aku akan membawamu pergi ke tempat dan pekerjaan yg lebih baik !" (Ucap Malaika memperjelas)
Lalu Malaika pun menyuruh gadis itu untuk segera tidur, namun ia masih terjaga dengan berbagai beban di kepala.
Dengan setelan rok selutut dan juga long cardi yg melekat di lengannya, ibu satu anak itu nampak berdiri sendirian di atas balkon.
Masalah demi masalah yg telah terjadi dalam hidupnya sempat membuatnya down dan hampir bunuh diri, tp untungnya ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan hal hina itu.
Namun apa yg telah terjadi pada gadis itu, kini membuatnya semakin sedih dan hampir tidak percaya bahwa Tuhan telah menghukum Adel dengan begitu kerasnya, matanya mulai berkaca kaca dan perlahan menetes satu persatu, ibu satu anak itu masih tidak percaya dengan apa yg telah terjadi.
Tak lama kemudian.
"Kriiiiing !!!!"
Nada panggilan masuk mulai mengejutkan lamunannya, di usaplah pipi yg basah itu seraya mengangkat telepon.
"Hallo" (sapanya)
Suara serak itu terdengar jelas dari balik panggilan.
"Malai ?" (Sapa seseorang dalam panggilan itu yg tak lain adalah Adam sang suami)
"Iya, Adam !" (Jawabnya lirih masih dengan suara serak)
"Suaramu terdengar buruk, apa terjadi sesuatu ?" (Tanya Adam penasaran)
"Aku tidak bisa mengatakannya lewat telepon, mungkin kita bisa bicara nanti setelah bertemu." (Jawab Malaika dengan lembut)
"Baiklah ! Kapan kau kembali ? Aku sudah sangat merindukanmu, malai !" (Pungkasnya)
"Adam, aku ingin bicara jujur padamu, aku harap kau tidak akan marah." (Pinta Malaika)
Adam pun terkekeh mendengar penuturan sang istri.
"Kenapa kau tertawa ? Aku tidak sedang bercanda" (pungkasnya)
"Kau mengatakan apa sayank ? Kau mau bilang kalau sekarang kau sedang ada di jakarta, begitu ?" (Sahut Adam)
"Ah kau ini !" (Malaika pun tersipu)
"Aku akan menemuimu besok setelah meeting ! Kau tunggu aku ya ?" (Pinta Adam)
"Hmmm yaah tentu saja ! Tp maaf, aku mungkin tidak bisa ikut kembali esok hari, aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan disini !" (Pungkasnya)
"Hmmm, urusan apa yg tidak ku ketahui ?" (Sahut Adam penasaran)
"Kau akan mengetahuinya saat kita bertemu !" (Jawab Malaika dengan lembut)
"Hmmm baiklah, sayank ! Tp sayangnya sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur !" (Jawab Adam mulai menggodanya)
"Aku sudah hafal dengan bualanmu, Adam ! Jangan coba2 menggodaku tuan ! Hehehe !" (Jawab Malaika dengan santai)
Begitu pula dengan Adam, ia pun turut tersenyum mendengar penuturan sang istri.
"Sure !" (Jawab Malaika lembut)
Lalu keduanya pun mengakhiri panggilan.
"Aku belum pernah sebahagia ini saat memiliki Adam, ini mungkin karna aku baru mencintainya." (Gumamnya sembari tersenyum)
Dan keesokan paginya, seperti yg telah dikatakan malam itu, Malaika dan juga mantan adik iparnya pergi mendatangi seorang wanita yg tak lain adalah mantan ibu mertuanya yg juga orang tua Adel.
Keduanya melakukan perjalanan yg cukup jauh, dan memerlukan waktu berjam jam untuk bisa sampai di tempat itu, terletak di provinsi NTB disebuah desa yg cukup jauh dari perkotaan, itu adalah tempat tinggal Malaika dahulu saat masih bersama dengan suami pertamanya.
Mereka tinggal dalam lingkungan yg cukup terbatas dengan segala sesuatu dan sangat kental dengan adat yg cukup aneh dan fanatik.
Namun meski begitu, Malaika sangat menghargai adat disana sehingga itu juga yg mempersatukan dia dengan Adam, suaminya yg sekarang.
"Kalian jangan terus mengikutiku, tempat ini cukup jauh dan menguras tenaga !" (Ucap Malaika pada kedua bodyguard yg ada di belakangnya)
"I'm sorry madame ! We are just doing errands !" (Jawab salah satu dari mereka)
(Maaf nyonya, kami hanya menjalankan tugas !)
"Kalian tidak akan sanggup, ini sangat melelahkan !" (Pungkasnya lagi)
"We can't bear to see Mr. Adam's anger any longer!" (Jawab mereka dengan tegas)
(Kami lebih tidak sanggup lagi melihat kemarahan tuan Adam nantinya !)
"Ashh sudahlah ! Terserah kalian saja !" (Ucap Malaika pasrah)
Lalu mereka pun kembali meneruskan langkah.
Sesampainya di gerbang desa, Malaika dan yg lainnya nampak berhenti sejenak memperhatikan sekitar.
"Tidak ada yg berubah ! (Gumamnya seraya menatap gapura pintu desa), bahkan cat yg sudah lapuk ini tidak di ganti !" (Celetuknya lagi saat menjamah dinding gapura itu)
Terlihat beberapa penduduk berbondong bondong keluar masuk untuk menjajakan hasil panennya, ada buah2an, sayuran, gandum dan makanan pokok lainnya.
Semuanya di jual pada pengepul yg ada disana, kemudian di teruskan ke pelabuhan untuk di kirim ke luar2 kota.
Penduduk yg asri, penduduk yg tidak pernah kekurangan pangan apa pun, meski minim sumber daya lainnya, seperti listrik, internet namun tak membuat mereka merasa kekurangan.
Anak2 juga bersekolah dengan baik, meski dengan tempat yg seadanya.
Masih terbilang primitif namun mereka tidak pernah mengeluh atau mengadu pada pemimpin negara.
"Apa kita akan terus berhenti disini ?" (Tanya Adel)
Malaika pun tersentak dari lamunannya.
"Oh ! Tentu tidak ! Kita akan segera menemui ibu !" (Pungkasnya)
Perjalanan kembali dilanjutkan, hingga beberapa mulai menyapa kedatangan Adel, karna sebelumnya Adel juga sudah lama tidak mengunjungi kampung halamannya.
Sesampainya ditempat, Malaika berhenti sejenak menatap rumah itu, terlihat luas namun masih tradisional.
ia tersenyum, lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Tok Tok Tok !!"
Suara ketukan pintu terdengar jelas dari sana, namun Adel sepertinya ia ketakutan saat akan bertemu dengan ibunya.
Ia bersembunyi dibalik tubuh mungil Malaika.
Namun Malaika tak henti hentinya menguatkan Adel agar merasa sedikit tenang.
Tak lama kemudian
Terbukalah pintu kayu itu, seorang wanita dengan tudung di kepalanya, juga rok panjang menjuntai lantai, berdiri tegap menghadap ke empat orang tersebut.
Entah ia bisa mengenali atau tidak, matanya terperangah saat melihat Malaika ada didepannya, bibirnya membisu, tubuhnya membeku bak patung.
ia menatap begitu dalam wajah Malaika, seperti pernah mengenalnya namun nampaknya ia sedikit lupa.
Wanita itu terus mencoba mengingatnya meski bibirnya tak mampu berucap.
"Ibu !" (Panggilnya)
Suara Malaika mencoba mengejutkannya, sehingga membuat wanita itu kembali tersadar dari lamunannya.
"Oh ! Ah maaf ! Kalian siapa ? Dan sedang apa kemari ?" (Tanya wanita tua itu)
Melihat gelagat ibunya, Adel kemudian memberanikan diri untuk menampakkan dirinya.
Dengan rasa takut ia berjalan dan berdiri di hadapan ibunya.
"Ibu ? (Panggilnya dengan tubuh membungkuk), bisa kita bicara sebentar ?" (Tanya Adel ragu2)
"Kau !! (Seru sang ibu saat melihat Adel yg tiba2 berdiri di hadapannya), braninya kau pulang tanpa memberitahuku !" (Tutur sang ibu dengan kesalnya)
"A aku ak akan menjelaskan ini semua Bu !" (Ucap Adel sedikit gugup)
Lalu wanita itu pun mempersilahkan untuk masuk.