
Keesokan paginya.
Pantulan sinar matahari mulai merusak pandangannya, suara bising kendaraan dari luar apartemen mulai mengganggu tidurnya.
Perlahan mata itu terbuka, sedikit buram, namun ia segera mengusap ngusapnya agar terlihat jelas.
"Astaga ! Sudah pagi ! (Gumam Adam seraya melihat sekeliling), hah ? Aku ketiduran ?" (ia mulai terkejut)
Pria besar itu sangat terkejut ketika mendapati sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya, juga pakaian yg sudah terpakai di badannya.
"Semalam aku masih mengenakan jas, lalu ini ?" (Pria itu mulai duduk dan berpikir sejenak)
Mendapati hal itu, Adam lantas beranjak dari sofa dan segera menuju ke kamar untuk menghampir sang istri.
Di bukalah pintu kamar yg tak terkunci itu.
"Malai ?" (Panggilnya)
Namun tak seorang pun ada disana, kamar itu terlihat rapi, sprei dan juga selimut sepertinya juga baru selesai di rapikan.
Adam kembali mencari sang istri di setiap sudut kamar.
"Malai ?" (Panggilnya lagi dengan menyibakkan gorden jendela)
Namun tak seorang pun bersua membalas teriakannya.
"Kemana perginya ? (Masih bertanya tanya), aku akan meneleponnya !" (Pungkasnya sembari meraih ponsel dari saku celananya)
Beberapa saat kemudian.
"Dia juga tidak menjawab teleponnya !" (Seru Adam dengan gusarnya)
Masih dengan rasa cemasnya, Adam terus mencoba menghubungi Malaika, ia berjalan mondar mandir kesana kemari untuk memastikan keberadaan sang istri.
Namun tak lama kemudian, suara pintu terbuka cukup melegakan hatinya.
"Malai ?" (Panggilnya spontan)
"Kau sudah bangun ?" (Sahut Malaika)
"Kau darimana? Kenapa tidak menjawab ponselmu ? Aku mencemaskanmu sayank !" (Celotehnya tak karuan)
"Adam please ? Mana mungkin aku bisa mengangkat telepon, kau lihat sendiri aku membawa banyak blanjaan ! (jawab Malaika seraya menunjukkan beberapa bungkusan yg ia bawa), aku dari pasar induk untuk membeli beberapa sayuran dan daging2an, aku ingin memasak hari ini." (Tuturnya)
"Kau tau kau sedang hamil kenapa membawa barang sebanyak itu, kau bisa membangunkan ku terlebih dahulu kan ?" (Seru Adam dengan ocehannya)
"I'm sorry ! Bahkan aku pun lupa kalau aku sedang hamil, okey fine !" (Jawab Malaika seraya berjalan menuju dapur)
Adam pun lantas mengikutinya.
"Kenapa membahayakan diri sendiri seperti ini ? Aku tidak suka malai !" (Ucap Adam dengan ekspresi datarnya)
Mendengar ocehan suaminya, Malaika pun kemudian membalikkan tubuhnya seraya berkata :
"Kau ini kenapa menatapku seperti itu ? (Sahut Malaika dengan membalas tatapan tajamnya), apa kau lupa semalam kau tidur seperti orang mati ? Bahkan kau pun sama sekali tak bergerak saat aku mengganti seluruh pakaiannmu, mana mungkin aku membangunkan harimau yg sedang pingsan !" (Ucap Malaika dengan kesalnya)
Beberapa sayuran mulai ia keluarkan dari bungkusan2 itu, namun Adam masih tak peduli dan terus menginterogasinya.
"Jangan mencari alasan ! Lain kali kau harus membangunkan ku terlebih dahulu, baru boleh pergi !" (Pintanya dengan tegas)
Wanita itu pun hanya mengerutkan dahi dan mencibirkan bibirnya.
"Kau mengerti nona !" (Tanyanya kembali dengan tegas)
"Iya iya aku mengerti !" (Jawab Malaika dengan sedikit malas)
Pria itu pun kemudian berlalu dan menuju ke ruang tamu untuk santai sejenak, sementara Malaika, ia pun melanjutkan aktifitas memasaknya.
"Dasar menyebalkan ! Pulang larut malam, bahkan aku juga sudah mengganti pakaiannya, menyeka tubuhnya, bukannya bilang terima kasih malah marah2 !" (Gerutu Malaika dengan kesalnya)
Untuk melampiaskan amarahnya, secara tidak sengaja Malaika telah menancapkan sebuah pisau besar pada cutting board di depannya sehingga menimbulkan suara keras yg cukup mengejutkan sang suami.
Mendengar suara itu Adam lantas berdiri dan coba menghampiri Malaika.
"Apa terjadi sesuatu ?" (Tanya pria besar itu)
Malaika pun kemudian menatapnya dengan tajam.
"What's wrong ?" (Tanya Adam sekali lagi)
"Pergilah! Kau hanya salah dengar !" (Jawab Malaika sinis)
Pria itu pun hanya mengangguk mengiyakan.
1 jam kemudian
"Hmmmm akhirnya selesai juga masakanku, aku akan mencicipinya (gumamnya), emmm ini enak sekali !" (Seru Malaika saat menikmati satu gigitan daging di mulutnya)
Dengan lahapnya ibu satu anak itu menikmati semua makanannya tanpa mengajak Adam sedikitpun, di samping karna ia lupa, ia juga masih merasa kesal pada suami tampannya itu.
"Aku bahkan menunggu masakanmu sejak tadi, rupanya kau sedang menikmatinya sendirian !" (Sindir Adam yg datang tiba2)
Malaika pun berhenti sejenak dari aksi makannya, ia menatap pria itu dengan sinis.
"Kau tidak akan suka dengan makanan seperti ini, kau sangat menjaga penampilanmu kan ? Lagi pula ini terlalu banyak lemak." (Tuturnya lalu kembali melanjutkan)
Pria itu pun segera duduk di sampingnya dan turut menikmati masakan istrinya.
"Kau benar, tp rasa laparku tidak peduli dengan omong kosong mu." (Balas Adam seraya meraih piring dan mulai mengambil satu per satu hidangan)
"Whatever !" (Timpal Malaika malas)
Keduanya pun menikmati makanan dengan suasana yg sedikit kaku.
Malaika yg terlampau kesal, sedangkan Adam tidak merasa bahwa ia telah membuat istrinya begitu kesal padanya.
Pria itu hanya memperhatikan sikap istrinya yg terkesan acuh. Namun Adam berusaha untuk mencairkan suasana meski itu sama sekali tak berhasil.
Adegan sarapan pagi pun berakhir.
"Hey kau mau kemana ?" (Tanya Adam seraya meneriaki sang istri yg menuju ke kamar)
"Tidur !!!" (Balas Malaika tanpa menoleh sedikitpun)
"Ini masih jam 8 pagi, tidak bagus untuk kesehatan !" (Teriaknya lagi)
"Ah aku tidak peduli !" (Balas Malaika kemudian membanting pintu kamarnya)
"Kenapa dia ? Hahh !" (Adam pun terheran)
"Tok tok tok tok tok !!!" (Suara ketukan pintu Adam terdengar lantang)
"Bukalah, aku ingin bicara !" (Pinta Adam memohon)
Masih tak ada jawaban.
"Malai ! (panggilnya), cepat buka pintunya ! Tok tok tok tok tok tok !!" (Pintanya sekali lagi)
Pria itu pun coba menahan diri agar tidak terbawa emosi.
"Baiklah ! Aku minta maaf ! Mungkin aku membuatmu kesal, tp percayalah aku tidak bermaksud seperti itu sayank ! Cepat buka pintunya !" (Teriak Adam dengan sangat)
Mendengar kicauan suaminya yg tak kunjung usai, Malaika lantas turun dari tempat tidur dan membuka pintunya.
"Apa ? Hmmm kau bicara apa ?" (Ucap Malaika dengan tatapan kesalnya)
"Biarkan aku masuk !" (Pinta Adam dengan lugasnya)
Pria itu pun masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintunya.
"Hey ! Dengarlah aku tidak bermaksud seperti itu (ucap Adam dengan meraih kedua pundak Malaika), kau jangan salah paham, okay aku minta maaf mungkin itu terdengar kasar, tp percayalah aku tidak bermaksud seperti itu, malai ?" (Tatapnya dengan serius)
"Lalu seperti apa ?" (Balas Malaika dengan tatapan tajamnya)
"Malai, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak ingin terjadi sesuatu yg buruk padamu, pada anak kita ! (Adam kembali menegaskan), jangan seperti ini okay ! Kau membuatku takut !" (Ucap Adam dengan cemasnya)
Sejenak terdiam.
"Baiklah !" (Jawab Malaika perlahan)
Di raihlah tubuh mungil itu dan keduanya pun saling berpelukan.
Pagi yg menjelang siang itu rupanya sudah membuat kedua pasangan itu kembali rukun, namun sayank sekali sepertinya alam sedang tak bersahabat, awan hitam mulai mengelilingi langit2, dan perlahan gerimis turun dengan teraturnya.
Sesekali waktu, hujan deras mengguyur seluruh kota hingga sebagian banjir melanda jalanan yg ramai itu.
Matanya terus menatap jendela seolah sedang menerjemahkan setiap tetesan air hujan yg turun.
Pria besar dengan kaos oblong itu masih memperhatikan laptopnya seraya duduk di tempat tidur.
"Kenapa masih berdiri disana, kau bilang kau sangat ingin tidur ?" (Suara Adam tiba2 memecah lamunannya)
"Tidak ! Aku hanya sedang teringat sesuatu." (Jawab Malaika datar)
Di tutuplah laptop itu kemudian ia segera turun dari ranjang dan menghampiri sang istri yg tengah berdiri di depan jendela.
"Apa yg sedang kau pikirkan ?" (Bisik pria besar itu seraya mendaratkan kecupan mesra di pipi mungil itu)
"Emmmm entahlah ! Rasanya aku merasa nyaman saat melihat butiran air itu turun secara bersamaan." (Jawabnya perlahan)