
Gemerlap lampu di iringi suara DJ yg cukup membising di telinga, ia bersandar pada sebuah meja bartender sambil meneguk alkohol berjenis vodka, pandangannya kosong seolah tak peduli dengan keramaian sekitar, namun tak lama kemudian datang seorang pelayan bar yg datang menghampirinya dengan dalih memberikan sebuah nampan perak berisikan selembar kertas yg dilipat.
Di bukalah lipatan kertas tersebut, kemudian ia membacanya.
"Long black dress, 10 o'clock"
Seketika Adam kembali melipat kertas tersebut dan segera menghampiri wanita dengan gaun panjang berwarna hitam yg berada pada arah jam 10.
Ia berjalan lantang tepat melewati kursi yg di duduki wanita itu, namun tanpa mendekatinya ia segera mengerti bahwa berkas tersebut di letakkan tak jauh dari meja wanita itu.
Yaa sebuah daftar menu yg terletak pada meja kosong di seberangnya, berkas tersebut terletak tepat di bawah daftar menu itu.
Pria dengan tuxedo itu segera mengambilnya dan beranjak dari sana, langkahnya yg sedikit panik lantaran khawatir akan ketahuan yg sebenarnya, Adam pun segera masuk ke dalam mobil dan mengganti pakaian yg mulanya formal kini menjadi lebih santai dan kasual.
Seperti biasa, ayah satu anak ini lebih suka dengan kaos oblong dan juga celana jeansnya.
Di injaklah pedal gas mobilnya, namun tak lama kemudian terlihat seorang pria dengan kostum yg sama dengan yg dikenakannya memasuki bar itu dengan tergesa gesa, Adam pun terkekeh melihat itu lantaran ia berhasil menyabotase aksi ilegal itu.
Pria itu pun segera kembali ke apartemen untuk mengamati keaslian dokumen penting tersebut.
Ia bersandar pada sebuah tempat tidur dan terus menatap layar laptopnya sembari menemani sang istri yg kini terlelap.
"That's it ! Ini benar2 asli, aku akan menyimpan ini Serapi mungkin !" (Seru Adam dengan semangatnya)
Suara pun lantas mengejutkan Malaika sehingga membuatnya terbangun.
"Ehmmmm !" (Gumamnya sambil mengusap ngusap kedua matanya)
Adam pun lantas menoleh dan mengusap kepala sang istri.
"Kau terbangun sayank ?" (Ucapnya)
Wanita itu pun mencoba untuk bangun dan duduk bersandar di atas dada suaminya.
"Kau menatap layar komputer di tengah kegelapan seperti ini, apa kau ingin merusak penglihatanmu ?" (Tanya Malaika mencoba menasehati)
"Hmmm tidak malai ! Aku hanya tidak ingin mengganggu waktu tidurmu !" (Jawab Adam dengan teduhnya)
"Kau kan bisa kerjakan ini di ruang tamu, Adam ?" (Pungkasnya)
Adam pun menggeleng.
"Aku cuma ingin menemanimu di sela pekerjaanku, itu saja !" (Tuturnya lembut)
Malaika pun terharu mendengar ucapannya, dengan spontanya ia lalu mencium pipi suaminya.
"Memangnya apalagi yg sedang kau kerjakan, ini sudah larut ?" (Bisiknya lembut)
"Yaa ! Memang, tp aku harus menyelesaikannya malam ini juga !" (Pungkas Adam)
"Hmmm, but ? Tp apa yg membuatmu berisik sampai kau membangunkan ku ?" (Tanya Malaika penasaran)
"Huhhh (menghela nafas), lihat ! (Menunjukkan seberkas kertas), aku sudah mendapatkannya ! Penantianku akhirnya terbayar, tp ?" (Ucapannya terpotong)
"Tp ?" (Sahut Malaika sambil mendongakkan wajahnya)
"Aku harus menyimpan dokumen penting ini, tp aku masih belum tau harus menyimpannya dimana, karna ini pasti akan lebih berbahaya setelah aku mendapatkannya dengan cara licik seperti ini, anak buah Aydin pasti akan mencari orang yg menyabotase dokumen ini, mereka pasti akan berburu seperti harimau yg kelaparan, karna seperti yg telah di ketahui sebelumnya, Aydin sudah mentransfer uangnya terlebih dahulu ke rekening Jonas, dan dia merasa di tipu karna tidak mendapatkan dokumen apa pun." (menunjuk dokumen yg ia pegang)
"Lalu kakakmu ?" (Sahut Malaika mulai cemas)
"Entahlah ! Mungkin dia akan mengulangi cara yg sama seperti sebelumnya, melarikan diri, menghilangkan jejak ? Whatever !" (Pungkasnya)
"Anak buah Aydin juga pasti akan mencarinya ?" (Seru Malaika)
"Tidak malai ! Bukan itu ! Mungkin awalnya memang iya, mereka akan mencari Jonas, tp yg jadi santapan utama mereka kemudian adalah file ini !" (Menunjuk dokumen itu)
Mendengar pengakuan sang suami, Malaika semakin terlihat cemas dan panik, ia semakin merekatkan pelukannya.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Adam !" (Pintanya dengan cemas)
Untuk pertama kalinya Adam mendengar pengakuan istrinya yg cukup mengejutkan. ia pun menatap Malaika dengan sangat, ia melihat kekhawatiran itu pada mata istrinya.
"Tidak akan terjadi sesuatu, percayalah !" (Jawab Adam dengan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya)
"Hey ! Tenanglah ! Kenapa berlebihan seperti ini ! Kau lupa saat pertama kali kita bertemu ? Kita bertemu di hutan, malai ! Aku sendirian disana ! Aku sudah terbiasa dengan bahaya, bahkan harimau lapar sekalipun tidak akan berani memangsaku !" (Tuturnya mencoba menenangkan)
"Tp sekarang lawanmu bukan harimau, Adam !" (Tegasnya lagi)
"Jika harimau saja mudah untuk aku taklukan, lantas mengapa aku harus takut dengan simpanse seperti mereka ?" (Balas Adam lagi)
"Kau ini !!! Menyebalkan sekali ! Aku kan khawatir !" (Malaika mulai kesal)
Pria besar itu pun terkekeh, lalu ia kembali mendekap Malaika.
"Why ? Why malai ?" (Tanya Adam dengan lembut)
Merasa tidak mengerti dengan ucapan sang suami, Malaika pun kembali bertanya.
"Apa ?" (Sahutnya)
"Why ? (Tanyanya lagi), kenapa kau begitu mengkhawatirkanku ?" (Tanya Adam penasaran)
Mendengar pertanyaan Adam, Malaika nampaknya sedikit gugup, ia tidak tau harus berkata apa.
lalu ia pun mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur !" (Pintanya mencoba mengalihkan pembicaraan)
"Right !" (Adam pun mengangguk perlahan)
Adam pun menuruti perkataan istrinya yg memintanya untuk segera tidur.
Matanya mencoba terpejam, namun hati dan pikirannya masih di selimuti kegelisahan, ia berbalik membelakangi suaminya yg kini mulai terlelap.
"Bagaimana aku tidak mencemaskanmu, Adam ! Sementara kau adalah suamiku, aku sudah pernah kehilangan suami yg sangat ku cintai, haruskah kau juga meninggalkanku ?" (Hatinya terus bergemuruh di landa kegelisahan)
Tanpa terasa matanya mulai sedikit basah lantaran teringat masa lalunya yg cukup tragis, namun sesekali ia kembali menatap Adam yg kini terpejam.
Di usaplah wajah tampan itu dengan perlahan.
"Jangan pernah meninggalkanku !" (Bisik Malaika perlahan)
Keesokan paginya, terdengar suara panggilan telepon yg saling bersaut sautan, hingga membuat kebisingan di pagi hari sehingga kedua pasangan itu terbangun.
Di angkatlah telepon itu.
"Katakan !" (Pinta Adam)
"Anda harus meninggalkan kota ini segera pak, seluruh anak buah Aydin telah menyadap seluruh panggilan yg terhubung dengan orang2 yg ada di bar malam itu!" (Ucap salah seorang dalam panggilan itu)
"Right ! Right ! Tenang Ammar ! Aku sama sekali tidak menggunakan ponselku saat itu, aku menggunakan nomor lain, aku akan segera membuangnya dan pergi dari sini !" (Balas Adam dengan terburu buru)
Pria itu pun segera mengakhiri panggilan dengan salah satu anak buahnya.
"Bersiaplah segera, malai ! Kita akan segera pergi dari sini !" (Pinta Adam)
Mengerti dengan keadaan itu, Malaika pun segera mandi dan bersiap.
Singkat saja persiapan mereka, kedua pasangan itu akhirnya berhasil meninggalkan Turki, dan kini mereka telah berada dalam sebuah pesawat.
"Sekarang bagaimana ?" (Tanya Malaika)
"Tenanglah sayank !" (Ucap Adam dengan mengusap kepala ibu satu anak itu)
"Adam ! Bagaimana aku bisa tenang ?" (Sahut Malaika yg cukup panik)
"Mereka tidak akan menemukan kita, percayalah !" (Tuturnya yg terus mencoba menenangkan)
"Tp mereka pasti menemukan apartemen tempat kita tinggal, dan mereka pasti bertanya pada resepsionist tentang penghuni kamar yg kita tempati ?" (Malaika semakin panik)
"Malai ! Malai ! Tenanglah sayank ! Tenang !" (Adam pun mencium kening istrinya dan terus mencoba menenangkannya)
"Adaaaaam !!" (Panggilnya khawatir)
Pria itu segera memeluk istrinya hingga membuatnya merasa tenang.