The Second Husband

The Second Husband
Sad Moment (Bab.65)



"Dengar ! (Ucap Adam dengan sedikit meninggikan nada bicaranya), sampai kapan kau akan terus seperti ini ? Kau sadar dengan apa yg kau lakukan ? Ini jelas akan menyakiti dirimu sendiri." (Tutur Adam dengan menatap penuh wajah cantik itu)


"Aku tidak peduli seperti apa keadaannya, Adam ? Aku cuma ingin kau ! Kau ! Tolong satu kesempatan saja ! Aku akan mencoba menjadi yg terbaik untukmu !" (Pinta wanita itu dengan sangat)


"Kembalilah ! Jangan menggenggam pasir terlalu kuat ! ia akan terlepas ! Dan satu lagi ! Aku sangat mencintai istriku !" (Ucap Adam dengan jelas)


Pria itu pun akhirnya beranjak meninggalkan Georgina di tempat, namun sebelum langkahnya terlampau jauh tiba2 perkataan Georgina menghentikannya.


"Aku tau Adam ! (Ucapnya dengan suara lantang), bukankah kita berdua sama ? Kau terlalu mencintainya tp wanita itu sama sekali tidak mencintaimu ! Kau juga seperti itu kan ?" (Lanjutnya kembali meneriaki langkah pria besar itu)


Dengan sejenak Adam terhenti, ia terdiam sesaat merenungi perkataan wanita itu.


Dan tak lama kemudian, ia berbalik dan kembali menghampiri Georgina.


"Tidak ! (Ucapnya tegas sembari menatap teduh wanita itu), dia mencintaiku atau tidak itu bukan masalah bagiku, dia adalah istriku, dan sudah sepantasnya aku menjaganya dengan cinta yg ku miliki, kau dan aku sangat berbeda, kau menginginkanku karna ambisi, karna paras yg ku miliki, sedangkan aku ? Walau dia tidak atau belum mencintaiku aku akan tetap memperjuangkannya, karna dia tidak pernah memandangku dari sudut pandang manapun." (Jawab Adam dengan mempertegas ucapannya)


"Bohong ! Kau berbohong Adam, kau dusta ! Aku tau semua tentang wanita itu, bahkan kau menikahinya karna terpaksa ! Dan dia, pasti hanya memanfaatkan mu saja, wanita seperti itu sudah tidak asing di negeri ini." (Balas Georgina dengan kesal)


"Inilah yg membedakan antara kau dengannya, kau menganggap semua wanita itu sama, itu berarti kau juga seperti mereka, kau tidak punya kualitas untuk dirimu sendiri, kau tidak punya nilai untuk menghargai dirimu sendiri, lantas bagaimana orang akan menghargai mu ? (Ucapan Adam seolah menjatuhkan mentalnya), kau sangat cantik, harusnya kau lebih pintar dari istriku ? Sehingga dia, lebih mampu membuatku jatuh cinta padanya (tuturnya), kau tau apa yg membuatku jatuh cinta padanya ? (Tanya Adam mencoba menjelaskan), kau pasti akan berpikir bahwa semua pria akan tertarik dengan wanita cantik dan seksi, kau salah besar gio ! (Tuturnya lagi), aku bukan pria seperti itu, aku bukan pria penggila wanita seperti kebanyakan (pungkasnya), dengar ! (Panggilnya lagi), aku akan meratukan wanita ku jika dia benar2 ingin hidup denganku, dalam suka maupun duka." (Ucap Adam kembali mempertegas)


"Lantas apa bedanya denganku, aku yg lebih dulu mengenalmu, aku yg lebih dulu mencintaimu, Adam ? Aku yg lebih dulu benar2 ingin hidup denganmu ? Lantas dimana kesalahanku ? Apa bedanya ?" (Balas Georgina dengan kesalnya)


"Kau ingin hidup dengan ku karna kau tau akan kekayaanku, bagaimana jika aku sangat miskin, bagaimana jika aku berasal dari kalangan keluarga yg serba kekurangan ? Kau pasti akan berpikir dua kali kan ? Kau sama dengan perempuan lainnya." (Tuturnya lagi)


"Apa kau pikir, wanita itu benar2 ingin hidup denganmu ? Apa kau yakin dia benar2 akan menemanimu jika kau benar2 miskin ? Ayolah Adam ! Jangan munafik, dia juga sama sepertiku ? Dia pasti juga akan meninggalkanmu saat kau terpuruk ! Wanita mana yg akan bersedia hidup sengsara dengan pasangannya ?" (Georgina kembali menyulutkan amarahnya).


"Jaga bicaramu, nona ! Kau sama sekali tidak mengenal istriku ! Jangan pernah membanding2kan apalagi menyamakan dia denganmu ! Dan satu lagi ! Aku tidak butuh wanita cantik untuk menemani masa tuaku !" (Jawab Adam dengan kesalnya)


Pria besar itu pun akhirnya meninggalkan Georgina di tempat.


Sementara dari kejauhan, tanpa sepengetahuan mereka, rupanya diam2 Malaika mengikutinya, namun ia nampak tenang dan pasrah seolah sudah tidak peduli lagi dengan apa yg akan terjadi.


Wanita itu terduduk di sebuah kedai kopi pinggiran pantai, masih dengan bandana berwarna mocca juga rambut yg di ikat, ia nampak duduk dengan kaca mata hitam dan menikmati setiap seduhan cappucino hangat di cangkirnya.


Deruan angin di laut lepas itu cukup menyejukkan hatinya, meski terik matahari mulai membakar kulit putihnya, Malaika tak ubahnya seperti boneka manekin mungil yg di pajang di setiap toko pakaian.


Sadar Adam telah meninggalkan wanita itu, Malaika kini terus memperhatikan setiap langkah suaminya.


Pria itu berjalan ke sudut pantai dan membeli sebotol air mineral.


"Ting !!!!!"


Sebuah nada pesan masuk terdengar dari ponsel miliknya, Adam yg semula duduk dan ingin membuka tutup botol, kini mengambil ponselnya yg terselip di celana panjangnya.


Di bukalah ponsel itu, dan terlihat sebuah pesan singkat dari Malaika yg berisi :


"Mau berbohong apalagi ? Kau tau apa akibatnya jika kau terus membohongiku."


Terlihat singkat, namun pesan itu cukup membuatnya gelisah tak menentu.


Pria itu lalu melihat sekeliling, merasa bahwa Malaika mungkin ada di sekitarnya.


Di lepaslah kaca mata itu, kemudian ia kembali melihat sekeliling, sekali lagi ia memastikan bahwa Malaika memang ada di sekitarnya.


Merasa tidak ada tanda tanda akan kehadiran sang istri, Adam kembali melangkahkan kakinya untuk segera mencari Malaika.


Langkahnya yg gelisah cukup membuatnya bimbang, pria besar itu sangat cemas jika Malaika akan marah lagi padanya.


Dengan ponsel di tangannya, Adam mencoba menghubungi sang istri, namun panggilan itu rupanya terabaikan oleh Malaika.


Pria itu semakin gelisah dengan keadaannya, ia berjalan kesana kemari untuk mencari sang istri.


Dan tak lama kemudian, terlihat seorang wanita beranjak dari tempat duduk di sebuah kedai kopi, ia berdiri lalu mengambil tas kemudian berlalu meninggalkan kedai.


Melihat itu dari kejauhan, Adam sepertinya mengenali wanita itu, untuk sesaat ia terdiam mengamati apakah benar wanita itu adalah istrinya.


Langkah demi langkah, Malaika nampak berjalan santai menuju ke sebuah batu karang yg ada di bibir pantai, wanita itu terlihat ingin menyendiri dan sejenak menenangkan hatinya.


Duduklah ia di sebuah batu karang yg cukup besar, sambil menikmati deburan ombak yg masih ringan.


Tatapannya benar2 kosong saat pemandangan pantai menyambutnya.


Mengetahui bahwa Malaika kini berada disana, Adam mulai menghentikan pelariannya, pria itu kini berjalan santai menghampirinya.


Seperti biasa, ia selalu mendaratkan sebuah ciuman kecil di pipi mungil itu.


Mengetahui kedatangan Adam yg tiba2, Malaika pun menoleh kemudian menatapnya tanpa semangat.


Dengan segera Adam pun meraih tangan sang istri berniat untuk mengajaknya pulang dan membicarakan masalahnya di rumah.


"Kita perlu bicara !" (Pinta Adam perlahan sembari menggandeng tangan mungil itu)


"Bicara saja, jangan memaksaku !" (Balas Malaika yg sedikit dingin)


Adam pun kini menuruti ucapannya, pria itu terduduk di sampingnya dengan wajah menghadap istrinya.


Masih dengan menggenggam tangan mungil itu, pria itu nampak menundukkan wajahnya.


"Kau marah padaku, malai ! Aku tau itu." (Ucap Adam dengan pasrah)


Sejenak terdiam.


"Lakukan apa saja padaku, untuk melampiaskan amarahmu sayank !" (Pintanya sembari menatap wajah itu)


Tanpa memandang wajah sang suami, Malaika nampaknya enggan untuk bicara.


Keduanya masih diam, tanpa sepatah kata pun.


"Marah ataupun tidak, sudah tidak ada artinya lagi untukku ! Kau akan terus berbohong ! Sampai kapan pun pembohong tidak akan pernah bisa berkata jujur." (Ucap Malaika tanpa memandang wajah itu)


Pria itu terus menggenggam tangan mungil istrinya, sekali lagi genggaman itu sedikit terasa bergetar bagi Malaika, entah Adam sedang gugup atau memang takut.


"Dengar, Adam ! (Panggilnya perlahan), aku sudah tidak peduli lagi kau dekat dengan wanita manapun, aku sudah memutuskan bahwa itu adalah sebuah resiko karna telah memiliki suami sepertimu ! (Ucap Malaika dengan datar), kau telah dekat dengan banyak wanita, kau di kelilingi banyak wanita, di tempat kerja ayah, di tempat kerjamu sendiri, di tempat gym, atau bahkan di tempat yg lainnya (ucap Malaika kembali menatap wajah suaminya yg tertunduk itu), aku sudah tidak peduli lagi ! (Ucapnya perlahan mulai berkaca kaca), dengar ! Selama bertahun tahun aku berusaha untuk menerimamu untuk menjadi suamiku, selama itu pula aku berusaha untuk membuka hatiku untukmu, aku berusaha untuk mencintaimu dengan segenap hati yg ku miliki, itu tidak mudah, Adam ! (Ucap Malaika dengan keseriusannya), aku mencoba untuk terus menumbuhkan namamu di hatiku (timpalnya lagi dengan mata yg mulai basah), tp entah mengapa setelah cinta itu tumbuh, setelah aku benar2 bisa menerimamu ? Atau bahkan mencintaimu dengan sangatnya, kau semakin menyakitiku Adam ? Kau sering pulang malam tanpa menjelaskan segalanya padaku, bahkan kau lebih sering tidur di luar, kau juga sering berbohong padaku ? Kau bilang pergi bertemu dengan klien penting padahal itu hari Minggu ? Kau pikir aku tidak tau kemana kau sebenarnya ?" (Malaika mencoba mengingatkan)


Air matanya benar2 tak terbendung, meski ia berusaha untuk menahannya.


" aku benar2 tidak mengerti dengan cinta yg kau tancapkan di hatiku, Adam ? Kau menumbuhkan cinta seperti apa?, Kau menanamkan cinta tp tanpa kau sadari kau sebenarnya sudah menusukkan cinta yg menyakitkan di hatiku." (Ucap Malaika dengan perlahan namun penuh kekasalan)


Mata itu terus berkaca kaca menatap laki2 yg tertunduk di depannya.


"Jika aku tak cukup membahagiakanmu, kau boleh pergi ! (Ucap Malaika sembari melepaskan tangannya dari genggaman sang suami), ini lebih baik daripada kau harus menyakitiku !" (Pinta Malaika dengan perlahan)


Wanita itu lantas berdiri dan ingin beranjak dari sana


Melihat sikap Malaika, Adam kini mulai menatap wajah yg basah itu, ia kembali meraih jemari sang istri dan menahannya.


Seolah tak bisa berkata kata lagi, pria itu lantas menggelengkan kepala mengisyaratkan agar Malaika tak meninggalkannya.


"Lepaskan, Adam !" (Pinta Malaika perlahan)


Tanpa memperdulikan ucapan Malaika, pria itu segera menarik tangan Malaika hingga membuat wanita itu terjatuh di pelukannya.


Adegan pelukan itu pun berlangsung cukup lama, deruan ombak dan juga angin kencang menjadi saksi moment mereka berdua.


Semakin bingung dengan sikap Adam, Malaika mendongakkan wajahnya ke atas dan menatap Adam dengan penuh tanda tanya.


Pria itu terpejam seolah merasa bersalah atas segala sikapnya selama ini, ia benar2 tidak mengira bahwa itu sangat menyakiti Malaika.