The Second Husband

The Second Husband
Senayan Hotel (Bab.83)



Malam itu


Akhirnya kedua wanita tersebut sampai di sebuah hotel dimana tempat Malaika akan bermalam selama beberapa hari kedepan.


Raut angkuh masih terlihat jelas dari wajah ayu bernama Adel itu, ia duduk di tepi ranjang dengan menundukkan wajahnya.


Seolah di dera rasa kesal yg mendalam pada dirinya sendiri juga sebuah penyesalan yg telah ia lakukan pada masa berlalu.


"Tenanglah ! Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan segalanya (ucap Malaika seraya menepuk pundak gadis itu), kau bisa santai sejenak disini !" (Pungkasnya)


Mata itu kemudian memperhatikan gerik Malaika yg terus berbicara padanya.


"Oh yaa ! Kau bilang, kau tidak punya tempat tinggal ? Bolehkah aku tau satu hal ?" (Tanya Malaika dengan ramahnya)


"Tentang apa ?" (Jawab Adel dengan singkat)


"Ehmm maksudku ? Mungkin kau bisa menjelaskan arti dari ucapanmu tadi !" (Tambahnya dengan santai)


"Kau mungkin akan menertawakanku setelah tau kenyataannya !" (Jawaban Adel masih terdengar sinis)


Wanita berusia 20an itu terus bersikap angkuh meski raut kesedihan sebenarnya tak bisa ia sembunyikan dari mana pun.


"Kau pikir aku orang yg seperti itu ? Jika seperti itu anggapanmu tentang aku maka aku pasti akan berpura pura tidak mengenalmu tadi ! (Jawab Malaika dengan jelas), dengar ! Kau kini sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yg harus di hakimi ! Masalah memang harus di hadapi, bukan dihindari ! Jika aku menertawakanmu atas permasalahan mu maka apa bedanya aku denganmu ? (Lagi lagi ia menegaskan), kau lihat aku sekarang ? Siapa yg mengira kalau aku kini sudah berusia 35 th ke atas ?" (Tambahnya lagi)


Perlahan raut angkuh itu berubah menjadi tatapan yg berkaca kaca, gadis itu terus menatap tajam Malaika, ia malu dan merasa bersalah pada ibu satu anak tersebut.


"Hey ! Sudahlah ! (Ucap Malaika seraya mengusap pundak gadis itu), meski harsha sudah tidak ada lagi di dunia ini tp aku masih menganggapmu sebagai adikku !" (Tutur Malaika kemudian merangkul gadis itu)


Aura kesedihan benar2 sudah tidak bisa terbendung lagi, air mata itu jatuh seirama dengan suara nafas di dadanya, dan perlahan kepala itu terdampar pada sebuah pundak Malaika yg mungil.


Gadis itu menangis sejadi jadinya, meratapi segala masalah yg telah terjadi.


Dengan sigapnya, Malaika segera memeluknya dengan erat serta mengusap kepala gadis itu.


"Keluarkan semuanya ! Kau akan legah setelah ini !" (Bisiknya perlahan)


Beberapa menit kemudian


Setelah dirasa cukup tenang, gadis itu mulai sedikit mengatakan sesuatu.


"Sudah 3 tahun aku tinggal di kota metropolitan ini ! Aku harus bekerja." (Pungkasnya)


"Lalu ?" (Sahut Malaika)


"Pendidikanku tidak selesai ! Ibu memaksaku untuk bekerja untuk melunasi semua biaya pengobatan kakak !" (Perjelasnya lagi)


"Pengobatan ? Maksudmu ?" (Sahut Malaika)


"Iya, hutang di rentenir itu sebenarnya tidak pernah di lunasi oleh ibu." (Jawabnya lagi)


"Apa ?" (Malaika terkejut)


"Uang yg kau berikan waktu itu, tidak di izinkan oleh ibu untuk kepentingan pengobatan kakak, ibu memakainya untuk hura2, terkadang bermain judi, ibu juga sering kalah taruhan, sampai2 uang itu lama lama habis." (Ucapnya masih dengan sesenggukan)


Mendengar hal itu Malaika masih tidak percaya, ia terperangah tak berdaya sementara gadis itu masih melanjutkan ceritanya.


"Sampai suatu hari hutang pada rentenir itu sudah jatuh tempo, lalu ibu menjual semua barang2 yg ada di rumah, sampai membuat penyakit jantung ayah kambuh, dan tak lama kemudian ayah meninggal, ibu sendirian dan sikapnya semakin menjadi jadi ! Lalu dia mengirimku ke kota dengan alasan katanya aku mendapatkan beasiswa di kota, tp kenyataannya ? Ibu malah mengenalkanku pada seseorang, seorang wanita paruh baya, yg aku sama sekali tidak mengenal siapa wanita itu, karna dengan kepolosanku saat itu aku bahkan menurut saja saat wanita itu menyuruhku untuk menuruti semua perkataannya, malam itu dia mendandaniku sangat cantik dia juga memberiku minuman yg sangat aneh, dan setelah itu aku tidak ingat apa2 lagi, tau2 aku bangun dan sudah pagi, aku terdampar di sebuah tempat tidur tanpa sehelai pun pakaian, dari situ aku mengerti bahwa ibuku telah menjualku, aku menangis sejadi jadinya, kemudian aku memutuskan kembali untuk pulang, tp apa yg terjadi ? Ibu malah memarahiku, dan mengatakan perkataan yg sangat menyakitkan, sehingga membuatku merasa tidak ada harganya, ibu kemudian memintaku untuk kembali ke tempat kotor itu, katanya aku harus mendapatkan uang yg lebih banyak lagi, dengan begitu ibu akan selalu menganggapku sebagai anaknya ! (Ucap gadis itu dengan kesungguhannya), entah kenapa aku selalu takut dengan ibu, dan aku tidak bisa melawannya ! Hingga sampai saat ini, aku mencoba untuk menerima takdirku ! Yahh memang inilah terkadang kenyataan lebih menakutkan dari apa yg kita bayangkan ! Lalu aku kembali teringat dengan beberapa hal hina yg pernah aku dan keluargaku lakukan padamu ! Dari situlah aku sadar bahwa Karma akan selalu menagih janjinya !" (Ucapnya sendu)


Merasa teriris mendengar kisah pilu yg di ceritakan mantan adik iparnya, tak sadar air mata itu telah membasahi pipi mungil Malaika.


"Bukankah kau bekerja pada restoran itu ?" (Tanya Malaika)


"Tidak kak ! Restoran itu cuma kedok agar aku terlihat kerja sungguhan, tidak peduli aku dibayar berapa, yg penting aku terlihat benar2 bekerja di tempat yg baik !" (Pertegasnya lagi)


"Maksudmu ?" (Sahut Malaika perlahan)


"Itulah kenapa aku katakan padamu, bahwa aku tidak punya tempat tinggal ! Karna di jam setelah bekerja dari restoran itu aku kemudian beralih ke hotel atau bahkan ke tempat lain untuk melayani mereka yg menginginkanku" (pungkasnya lagi)


"Oh my God ! (Malaika membuang muka), astaga ! Kenapa kau selemah ini ? Kemarilah !" (Pinta Malaika seraya memeluk gadis itu)


Kedua wanita wanita itu pun saling berpelukan untuk menguatkan.


"Dan kau ? Bagaimana kau sekarang ?" (Tanya Adel dengan lembut)


"Aku ? Aku masih sama" (jawab Malaika kemudian menyeka pipinya yg basah)


Wanita itu mencoba untuk tersenyum meski kenyataannya ia sangat prihatin dengan keadaan Adel.


"Yahh ! Aku masih seperti ini, seperti yg kau lihat !" (Pungkasnya mencoba untuk tersenyum)


"Kau tidak menikah lagi ?" (Sahut Adel)


Malaika pun tersenyum.


"Hmmm !! Sulit bagiku untuk membuka hati, tp aku juga tidak melarang siapapun untuk masuk ke dalam kehidupanku " (jawabnya dengan lembut)


"Hmmm yaa ? Tp yg ku lihat ! Nampaknya sekarang kau lebih baik, outfitmu keren ! Dan ini (mengamati merk baju Malaika), ini bukan jenis pakaian yg murah." (Tuturnya lagi)


"Hahahaha jangan bicara omong kosong, ini tidak seperti yg kau lihat !" (Malaika mencoba tertawa)


"Kau pikir aku tidak tau ? Ayolah ceritakan padaku, bagaimana kau mendapatkan semua ini ? Kau bekerja dimana ? Apa kau salah satu sekretaris bos ? Atau yg lainnya ?" (Tanya Adel semakin penasaran)


Malaika pun menggeleng dengan senyuman.


"Tidak ! Aku tidak bekerja dimana pun dan bagaimana pun." (Jawab Malaika santai)


"Lalu ?" (Sahutnya)


"Aku baru bisa menerimanya akhir2 ini, aku sadar bahwa ini adalah pilihan terbaik harsha." (Pungkasnya mencoba untuk menjelaskan)


Gadis itu pun semakin terperangah.


"Yahh ! Laki laki yg terpaksa menikahi ku dulu, kau pasti masih ingat ?" (Tutur Malaika mencoba mengingatkan)


"Pengembara itu ?" (Sahut Adel mencoba menebak)


Sementara Malaika pun hanya mengangguk mengiyakan.


"Jadi ? Kau ? Oh my God !" (Adel kini mulai mengerti)


"Yaah ! Dia masih menjadi suamiku sampai sekarang !" (Jawab Malaika memperjelas)


"Tunggu ? Bukankah setelah itu kalian terpisah cukup lama ?" (Timpalnya lagi)


"Aku rasa itu juga cukup mustahil, tp Tuhan mempertemukan kami setelah 8 tahun lamanya, aku ketrima kerja di salah satu perusahaan di autralia, dan aku tidak menyangka bahwa perusahaan itu ternyata miliknya, setelah itu aku banyak bercerita padanya dan dia kembali mengikatku meski aku belum bisa menerimanya." (Ucap Malaika)


"Woww !! Kau cukup unik rupanya ? Boleh aku tau nama perusahaannya ?" (Tanya Adel yg semakin penasaran)


"Adam Corporate" (jawab Malaika singkat)


"Oh my God !!! (Adel sangat terkejut), bukankah itu perusahaan otomotif yg cukup terkenal, cabangnya ada dimana mana loh !" (Seru Adel)


"Kau juga tau hal itu !" (Pungkasnya)


"Lalu bagaimana kisah kalian ?" (Semakin penasaran)


"Aku baru bisa mencintainya akhir2 ini ! Karna sulit bagiku untuk bisa menerima laki laki lain setelah kepergian harsha, aku slalu mengatakan ini padanya, dan dia sangat sabar menghadapiku, padahal aku juga sudah memberinya peluang untuk jangan menunggu cintaku, tp dia malah bersikeras untuk mencintaiku !" (Jawab Malaika yg terus bercerita)


"Lalu dimana dia sekarang ? Kenapa tidak bersamamu ?" (Sahut Adel)


"Kau tau dia orang yg sangat sibuk, hampir setiap detik ponselnya berdering, sampai aku merasa kesal padanya, sebelum kemari aku dan dia berlibur ke Lombok untuk menikmati keheningan sejenak, awalnya aku pergi seorang diri tanpa mengabarinya, dan tak lama setelah itu dia menyusulku, kami 2 Minggu disana, sampai akhirnya ada pekerjaan penting yg mengharuskannya untuk kembali ke ausy, lalu aku memintanya untuk pergi dan membiarkanku sendirian, ya walaupun awalnya dia marah karna aku sendirian disini, tp aku terus memberikan pengertian padanya agar jangan terlalu menghawatirkanku." (Ungkapnya perjelas)


"Lalu apakah dia tau kalau kau pergi ke Jakarta seorang diri ?" (Sahut Adel)


"Kau ingat 2 orang pria mengenakan pakaian serba hitam yg berjarak 20 meter di belakang kita ?" (Tanya Malaika)


Mencoba mengingat.


"Ah yaaa aku ingat !" (Seketika teringat)


"Mereka adalah bodyguard yg di kirim Adam untuk mengawasiku, meski dia tidak mengatakannya padaku, tp aku sangat tau betul gerak geriknya ! Lihat saja besok pagi kemanapun aku pergi pasti dua orang pria itu selalu berada di sekitarku." (Pungkasnya)


"Woww !! Kau benar2 beruntung !" (Puji Adel)