The Second Husband

The Second Husband
Can't Sleep (Bab.62)



Beberapa hari kemudian seperti biasa kedua pasangan suami istri itu melakukan aktifitas kantornya.


Namun sebelum itu, nampaknya pagi itu Malaika mengalami masalah pada lambungnya, ia merasakan mual dan terus muntah2.


Adam yg mengetahui hal tersebut sangat cemas akan kondisi istrinya, ia berniat untuk membawanya ke rumah sakit namun Malaika enggan menurutinya.


"Kita ke rumah sakit sekarang !" (Ucapnya sambil memegangi kedua pundak sang istri)


Malaika pun menggeleng.


"Jangan ! Aku tidak seburuk itu Adam !" (Pinta Malaika)


"Bagaimana mungkin, kau terlihat lemas malai, aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini !" (Tuturnya sambil terus mengusap lengan wanita itu)


"Hey ! Percayalah aku baik baik saja !" (Pinta Malaika terus menolak)


"Kau sangat keras kepala !" (Ucap Adam kesal)


"Please ! Aku cuma masuk angin, kau jangan berlebihan ! Okey !" (Ucap Malaika sambil menenangkan suaminya)


"Huhhhh !! Baiklah ! Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku !" (Pinta Adam lalu mencium keningnya dengan lembut)


Malaika pun mengangguk tersenyum.


"Pergilah ! Nanti kau terlambat !" (Pinta Malaika)


"Baiklah ! Istirahat lah dengan baik ! Jangan bertingkah aneh2 ! Atau aku akan menghukumu !" (Ancam Adam perlahan)


"Adaaam !!!" (Rengeknya manja)


"See you honey ! Daa !" (Ucap Adam lalu berpamitan)


Selang beberapa menit setelah kepergiannya, Malaika nampaknya sedikit penasaran akan kondisi tubuhnya yg tiba2 lemas tak bertenaga, hal itu sudah ia rasakan beberapa hari terakhir hanya saja ia tidak berani mengutarakan pada suami tampannya.


Wanita itu kemudian iseng mengambil sebuah alat test kehamilan yg telah tersedia di rumahnya.


Masuklah ia ke kamar mandi untuk mengambil sampel urin miliknya, Malaika terlihat santai dan tenang, bahkan ia tak berharap banyak dari alat test kehamilan itu lantaran bulan ini dia masih mengalami datang bulan, siapa yg menyangka dia akan benar2 hamil.


Beberapa menit kemudian, setelah alat test kehamilan itu terdeteksi, mulai lah Malaika mengambil alat tersebut lalu membilasnya dengan air bersih.


Dan alangkah terkejutnya ketika alat test tersebut menunjukkan kata YES yg berarti ia benar2 positif hamil.


Seketika terbelalak mata lebar itu, sekali lagi ia menatap alat tersebut dengan rasa tidak percaya.


"Astaga ! Apa ini !" (Seru Malaika dengan terkejut tak karuan)


Dan lagi lagi ia mengambil 10 alat test kehamilan yg lainnya untuk membuktikan bahwa ada kesalahan dalam alat test tersebut.


Namun sayang sekali rupanya 7 dari 10 alat test kehamilan itu menunjukkan bahwa ia benar2 positif hamil.


"Mati aku ! Aku hamil lagi ??? Apa yg harus ku katakan pada burung gagak itu ? Bisa2 dia akan membunuhku ! Tidak2 ! Dia tidak boleh sampai tau akan hal ini ! Danthe masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik, bagaimana mungkin ! Astaga ! Kenapa bodoh sekali malai !" (Gerutu Malaika dengan penuh kecemasan)


Setelah mengetahui kenyataan tersebut, nampaknya Malaika di dera rasa cemas yg berlebihan, ia selalu merasa panik lantaran khawatir Adam pasti akan marah padanya, padahal kenyataannya Adam justru merasa senang jika mengetahui hal itu.


Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke klinik, memastikan bahwa dirinya benar2 hamil atau tidak. ia pergi seorang diri tanpa di temani sang suami.


Sesampainya di tempat, Malaika kemudian melakukan pemeriksaan seperti yg di anjurkan oleh dokter, ia berbaring kemudian dokter menunjukkan padanya hasil pemeriksaan melalui ultrasonografi 4 dimensi. Yaa dan benar saja ibu satu anak ini memang benar2 hamil, janinnya kini berusia 3 Minggu, tp ada satu hal yg sedikit berbeda dari kehamilan sebelumnya, dalam layar monitor itu terlihat ada 2 janin yg sedang berkembang, dokter mengatakan bahwa itu adalah bayi kembar, namun ia belum bisa memastikan secara detail lantaran usia kandungannya yg masih terlalu kecil.


Dokter pun menyarankan agar Malaika datang kembali untuk melakukan pemeriksaan ketika kandungannya memasuki usia 8 Minggu untuk memastikan bahwa janin itu memang benar2 kembar.


Merasa sedikit legah setelah mengetahui secara langsung bahwa ia benar2 hamil, Malaika kemudian kembali pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya, wanita itu kini masih bingung bagaimana cara mengutarakannya pada sang suami.


"Benar2 payah ! Kenapa aku semudah itu hamil lagi ? Aku sudah memakai alat kontrasepsi tp masih saja hamil ? Adam pasti tidak akan mengampuniku !" (Gumamnya)


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari mulai gelap dan Adam kembali dari aktifitasnya.


Seperti biasa pria itu datang menghampiri istrinya yg sedang rebahan di tempat tidur, lalu menyambarnya dengan sebuah ciuman kecil pada pipi mungil wanita itu.


Tanpa merespon sedikitpun, Malaika terlihat pasif saat Adam mencium pipinya.


"Are u okay ?" (Tanya Adam dengan lembut)


Wanita itu pun menenggelamkan wajahnya pada bantal di sampingnya, namun Adam terus berusaha meraih wajah manis itu.


"Hey ! Kenapa seperti itu ! Ayo tunjukkan wajahmu !" (Pintanya dengan lembut)


"Hmmm ! Pergilah jangan mendekat !" (Balas Malaika)


"Astaga ! Apa ini ! Kau seperti anak kecil saja !" (Tuturnya)


"Pergilah Adam ! Cepat bersihkan tubuhmu !" (Pinta Malaika perlahan)


"Hmmm oke baiklah !" (Balasnya)


Pria itu pun kemudian beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh peluh keringatnya.


20 menit kemudian, keluarlah Adam dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Namun sesekali padangan itu tertuju pada istrinya yg masih terlihat murung.


Sebuah hotpants dari lemari di ambilnya untuk segera di kenakan, dan rambut yg basah itu pun lekas mengering karna hairdryer.


Masih terus menatapnya dari kejauhan, Adam nampaknya gelisah melihat sikap istrinya, namun saat di tanya Malaika enggan untuk menjawabnya.


"Apa ada masalah ?" (Tanya pria itu sembari mendaratkan sebuah pelukan hangat untuk istrinya)


Malaika pun menggeleng.


"Tp bahasa tubuhnmu mengatakan bahwa ada sesuatu yg membebanimu sayank !" (Ucap Adam mencoba untuk menebak nebak)


"Sudahlah Adam, jangan berpikir yg macam2, aku baik2 saja !" (Tuturnya datar)


"No, tidak malai ! Aku sangat mengenalmu !" (Tambahnya)


"Terserah apa katamu ! Aku sedang tidak ingin berdebat !" (Ucap Malaika pasif)


"Dan ini sangat menunjukkan bahwa ada sesuatu yg sedang terjadi !" (Ujarnya)


"Sudahlah ! Aku sangat mengantuk !" (Jawab Malaika coba mengalihkan)


"Ok baiklah ! Ayo kemarikan tanganmu !" (Pinta Adam agar Malaika juga mengalungkan tangan di pinggangnya)


Di usaplah dengan lembut wajah wanita kesayangannya itu, sesekali ia juga mencium lembut keningnya.


Bukan malah terlelap tp Malaika semakin cemas di buatnya. Kepalanya bersandar pada dada yg bidang itu sesekali ia pun mendengarkan setiap detak jantung pria besarnya.


"Astaga ! Kenapa aku semakin takut ketika ada di dekatnya ?" (Gerutu Malaika masih dengan mata terpejam)


Bulu bulu halus di sekitaran dada bidang itu nampaknya mampu meneduhkan pikirannya, rasa kantuk yg luar biasa pun sepertinya juga mulai menguasai otaknya.


Namun, Sesekali ia membuka mata dan bergumam :


"Hmmm bagaimana jika tau kemudian dia memarahiku ? Aku tau betul, dia memang orang yg susah sekali untuk marah, tp sekalinya marah rasanya aku seperti terbuang dari dunia ini ." (Hatinya terus berkecamuk sembari menatap wajah lelah yg mulai terpejam itu)


Melihat mata yg mulai terpejam itu, Malaika semakin mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak menyangka kehidupanku akan berjalan seperti ini, ketika tuhan mengambil sesuatu yg paling berharga dalam hidupku maka seketika itu pula dia menggantinya dengan yg lain, Harsha adalah lelaki terbaik yg pernah ku miliki tp sayangnya tuhan tidak memberiku kesempatan untuk berlama lama hidup dengannya, aku bahkan hampir tak bisa meneruskan hidupku setelah kepergiannya, dunia seolah enggan memberiku tempat untuk bahagia, tp setelah kehadirannya (menatap lelaki yg sedang memeluknya) aku merasa hidupku kembali berwarna, meski sebenarnya aku begitu cemas, bagaimana tidak, tuhan menggantinya dengan sosok lelaki berparas setampan ini, ini akan menjadi masalah terbesar bagiku, paras tampannya sangat menakutiku, dan aku khawatir itu akan menyakitiku, sejauh ini dia memang baik, sangat penyabar, semua keluarganya juga baik padaku, ayah, ibu, bahkan tuhan juga menghadirkan mereka seolah sedang menghadirkan kembali kedua orang tuaku, ya tuhan ! Ini benar2 karunia, aku bersyukur kini aku berada di tengah2 keluarga ini." (Malaika terus bergumam dalam hatinya, sembari mengusap lembut dada yg di penuhi dengan bulu2 halus itu)