
Acara itu berlangsung cukup lama, canda tawa yg renyah seolah menjadi luapan rindu yg sekian lama tak berjumpa.
Pria berjanggut tipis itu juga menikmati acara dengan baik, ia mencoba menyesuaikan diri dengan teman2 Malaika yg ada disana.
Sampailah di penghujung acara, tibalah mereka semua untuk mengakhiri kebersamaan itu.
Salah seorang laki laki menghampiri kasir dan bertanya menanyai total pembayaran yg telah di konsumsi oleh mereka.
"Permisi !" (Ucap Sandy)
Pelayan itu pun membalas dengan ramah.
"Ya ! Ada yg bisa saya bantu ?" (Tanya sang pelayan)
"Minta bill untuk meja nomor 10 !" (Pinta Sandy)
"Sebentar saya cek dulu !" (Jawab sang pelayan kemudian memeriksa komputer)
Beberapa saat kemudian.
"Maaf ! Tagihan Untuk meja nomor sepuluh sudah di bayar !" (Jawab pelayan itu ramah)
"Hahhh?" (Sandy terkejut), sudah di bayar ? Bagaimana mungkin ? Kalau boleh tau siapa yg membayar ?" (Sandy penasaran)
"Atas nama Tn. Adam Jackson !" (Jawab pelayan itu)
"Hahhh !" (Lagi lagi Sandy terkejut), semua tagihan sudah di bayar oleh suami Malaika ? CEO itu ? (Sandy masih bingung), ok thanks !" (Ucap Sandy pada pelayan itu)
Pria itu kemudian berlalu dan kembali ke meja menghampiri yg lainnya.
"Wow ! Rupanya kita makan gratis hari ini !" (Seru Sandy)
"Makan gratis ? Apa maksudmu ?" (Tanya Emily)
"Ya, apa maksudmu ?" (Sahut yg lainnya)
"Kalian patut berterima kasih pada Malaika, karna semua tagihan makanan kita sudah di bayar oleh suaminya !" (Ucap Sandy dengan bangganya)
Mendengar hal itu, semuanya tampak gembira dan bersorak.
"Wahhhh ! Benarkah ? Sungguh ini sebuah kejutan !" (Seru Teddy)
"Wow ! Trimakasih banyak kawan, kenapa kau repot2 sekali !" (Ucap Sandy kemudian berjabat tangan dengan Adam)
"Sepertinya suamimu benar2 kaya malai !" (Seru Maura)
"Hussst ! Jaga bicaramu gendut !" (Bisik Nadine)
"Benar ! Dia sangat royal, wah kau hebat sekali malai ! Kau sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia, sudah tampan, kaya, baik pula ahh ! Rasanya aku ingin punya suami seperti itu !" (Seru Emily)
Mendengar celotehan Emily tiba2 sebuah telapak tangan mendarat menutupi wajahnya. Yaa dia adalah suami Emily yg juga turut hadir disana.
"Tidak seberapa ! Kalian tenang saja !" (Ucap Adam ramah).
Akhir yg cukup mengesankan untuk sebuah acara reuni yg baru pertama kali terjadi.
Satu per satu pasangan mulai meninggalkan lokasi, termasuk Adam dan juga Malaika.
Malam itu.
Sebuah pemandangan menyejukkan menyita perhatiannya, Malaika dengan dress pendek sepaha, dan rambut yg tergerai, coba mendekati suaminya yg kala itu sedang merenung di tepi kolam renang.
Sorot matanya terfokus pada sebuah air kolam yg tenang, pandangannya kosong seolah sedang menyembunyikan beban yg begitu besar.
Pria dengan singlet oblong berwarna putih itu tampak gusar akan sesuatu.
Sebuah langkah kecil kemudian terdengar dari telinganya, dan tak lama kemudian dua telapak tangan mendarat di dadanya dari belakang, pelukan manja juga semakin menghangatkannya.
"Apa yg kau lakukan disini Adam ?" (Tanya Malaika lirih)
Wanita itu kemudian menundukkan wajahnya pada leher besar itu.
"Tidak ada." (Adam menggeleng kemudian menggenggam tangan mungilnya)
"Sepertinya kau punya masalah !" (Tebak wanita itu)
"No ! Tidak ada yg membebaniku sama sekali !" (Jawab Adam hangat)
"Tp matamu tidak mengatakan demikian !" (Ucap Malaika)
"Kenapa belum tidur ?" (Sahut Adam mengalihkan pembicaraan)
"Entahlah ! Aku tidak bisa tidur jika tidak di temani !" (Jawab Malaika sedikit menggodanya)
"Really ! (Sahut Adam)
Malaika mengangguk manis.
Pria itu kemudian tidur di atas pangkuannya.
"Kalau begitu biarkan aku tidur di pangkuanmu !" (Pinta Adam)
"Ohwww ! (Seru Malaika) Adam ! Kau mulai lagi." (Gumam Malaika)
"Hmmm kenapa perutmu masih terlihat rata ? (Tanya Adam sambil menjamah perut istrinya itu), aku sudah tidak sabar melihatmu dengan perut buncit seperti melon." (Godanya)
"Ahhh jadi kau lebih suka melihatku kelihatan jelek, gendut, begitu?" (Seru Malaika)
"What ?? Apanya yg jelek, it's so funny ! And i like it !" (Perjelas Adam)
"Kau berbohong kan? Kau tidak sabar melihatku dengan perut buncit, lalu aku terlihat jelek, dan kau bisa beralih ke wanita lain, begitu kan ? Benar kan ?" (Celoteh Malaika)
"Apa katamu ! Coba katakan sekali lagi ! Bisa2nya kau menuduhku seperti itu ! (Ucap Adam gemas lalu mencubit pipi istrinya), dengar nona ! Wanita cantik dan seksi bagiku bukan sesuatu yg spesial, itu terlihat biasa di mataku, mereka cantik dan seksi ya karena kodrat mereka memang seperti itu." (Ucap Adam santai)
"Lalu menurutmu aku bagaimana ? Aku tidak seksi, tidak cantik seperti teman2mu." (Gumam Malaika)
"Kau ?? Kau lucu, kau kecil, kau mungil, kau lincah, kau liar, dan aku sangat suka itu." (Ucap Adam semakin gemas)
"Kau membual lagi kan, dasar buaya !" (Seru Malaika ketus)
"Hey ! Apa katamu ! Buaya ! Coba ulangi lagi !" (Semakin gemas)
"No Adam ! Aku hanya bergurau !" (Ucap Malaika dengan lembut)
Di usaplah wajah suaminya yg lelah itu, ia tersenyum lalu mencium kening Adam.
"Aku (ucapannya terhenti), ingin mengatakan sesuatu padamu malai !" (Ucapnya)
"Katakan !" (Jawab Malaika perlahan)
"Ayah memintaku untuk segera kembali ke Sidney, sesuatu telah terjadi, sepertinya dia butuh bantuanku." (Ucap Adam)
"Lalu ?" (Sahut Malaika)
"Bisakah kita segera kembali ?" (Tanya Adam)
Mendengar hal itu Malaika tersenyum riang.
"Kembalilah Adam, ayah lebih membutuhkanmu di bandingkan aku, aku masih ingin tetap disini, kau pergilah !" (Ucap Malaika mempersilahkan)
"Apa ? Kau tidak ingin menemaniku ? Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendirian disini ?" (Adam mulai kesal)
"Adam ! (Panggilnya lirih), jika aku disana aku akan sangat merasa kesepian, aku tidak mengenal siapa pun disana, saat kau tak ada di sampingku maka tidak ada hal yg bisa ku lakukan, tp jika disini aku masih memiliki banyak teman, aku bisa menemui mereka untuk sekedar ngobrol atau yg lainnya." (Ucap Malaika)
Mendengar pengakuan istrinya, Adam semakin gusar di buatnya, pria itu bingung harus berbuat apa, sebenarnya kalo untuk masalah perusahaan ia bisa meninggalkannya dan cukup memantau dari laptopnya saja.
Namun saat ini, ayahnya lebih membutuhkan pertolongannya.
"Aku akan memikirkannya !" (Ucap Adam singkat)
Raut muka itu tiba2 berubah menjadi suram, ia beranjak dari pangkuan istrinya kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan Malaika.
Malaika yg melihat itu merasa cemas dengan sikap suaminya.
"Adam ? Kau marah padaku ? Apa aku salah mengatakan sesuatu ?" (Gumam Malaika dalam hati)
Tak lama kemudian ia menyusul suaminya masuk ke dalam.
Di lihatlah pria itu, rupanya sedang mencoba terlelap di tempat tidur, ia menghadap ke samping mencoba menghilangkan dilema dalam pikirannya.
Sementara Malaika terus memandangnya dengan rasa bersalah, bahkan ia sama sekali tak berani menatap wajah suaminya.
"Aku tidak tau apa yg kau pikirkan, tp satu hal yg ku tau bahwa kau sedang marah padaku ! (Ucapnya lirih), Adam i'm sorry ! Aku tidak bermaksud seperti itu, bahkan aku tidak menghalangi kepergianmu !" (Ucap Malaika yg mencoba menenangkan hati suaminya)
Laki laki itu sama sekali tak bergeming dengan ucapan istrinya, bahkan posisinya masih membelakangi Malaika.
Karna rasa bersalah itu akhirnya Malaika memutuskan untuk tidak satu ranjang dengan suaminya, ia tak ingin mengganggunya, wanita itu kemudian menuju ke kamar lain untuk bermalam.