
"Siapa yang berani mencuri uang perusahaan sebanyak ini?!" Raung Derrick dan Damian di saat yang sama namun tempat berbeda sambil membating sebuah map hingga isinya keluar. Saat ini mereka tengah memegang laporan keuangan yang diberikan oleh divisi bagian keuangan.
Dari data yang dituliskan, pencurian itu terjadi sejak tiga minggu lalu dan mereka telah menugaskan seseorang untuk melacaknya, namun nihil. Tidak ada jejak yang tertinggal.
Hingga sebuah data yang nyaris membuat mereka serangan jantung, kali ini hampir semua uang perusahaan raib dibobol, meninggalkan uang belasan juta yang nyaris membuat perusahaan bangkrut.
Sejak kematian Ran tiga minggu lalu, disusul dengan berita kematian Albert dan Joshua karena kecelakaan membuat Damian semakin ditekan rasa bersalah. Dia hanya bisa menyesali semua rasa ketidakpeduliannya pada gadis malang itu berkat hasutan Emillia.
Lain Damian lain pula dengan Derrick, pria itu hanya bisa memijat pelipis guna mengurangi sakit kepala yang menderanya.
Derrick merasa kematian Ran adalah sebuah berkah mengingat anak itu tidak memiliki fitur wajah seperti dirinya atau sang istri. Apalagi beberapa helai rambut biru cerah dan mata biru gelap itu.
Derrick hanya menghembuskan nafas kasar dan segera memanggil sang sekretaris melalui telepon perusahaan, "Siapkan ruangan segera. Kita rapat sepuluh menit lagi!"
⚛️⚛️⚛️
Terlihat dua orang berbeda gender tengah sibuk bergulat. Mereka saling menyerang, menendang, menangkis dan menghindari serangan satu sama lain. Gerakan mereka cukup lincah dan gesit seperti orang menari jika diperhatikan sepintas.
Hingga seorang gadis berusia dua puluh lima tahun berparas cantik dengan rambut hitam dihiasi beberapa helai rambut biru cerahnya berhasil menggagalkan serangan seorang pria tampan berambut biru cerah mendekati putih yang diarahkan kearahnya, membuat sang pria berdecak kesal.
"Baiklah, aku menyerah." Ucap pria itu yang tak lain Ganymede dengan kesal yang direspon dengan dengusan oleh sang gadis.
"Aahh... Sepertinya staminamu terkuras cukup banyak karena faktor usia." Ledek gadis itu yang tak lain Kirania, membuat Ganymede berdecak kesal.
"Aku tidak tua." Tukasnya kesal.
"Aku tadi bilang faktor usia, bukan menyebutmu pria tua. Sepertinya kau sadar diri, eh." Sindir Kirania dengan nada pedas yang berhasil membuat Ganymede kehilangan kata-kata.
"Kauu..." Geram Ganymede kesal. Tinggal bersama gadis ini selama tiga belas tahun membuatnya harus bersabar secara mental karena sikap dan perkataan Kirania yang membuatnya sakit kepala.
Ganymede menghembuskan nafasnya dengan kasar, berusaha mengatur emosinya yang nyaris meledak. Setelah merasa tenang, Ganymede menatap gadis itu sejenak dan berkata, "Sudah saatnya kau kembali ke tubuhmu."
Sontak Kirania menatap pria itu dengan ekspresi rumit. Sudah dipastikan Kirania tidak mau berpisah dengannya.
"Aku tidak ingin kembali. Tidak ada yang mau menyayangiku disana. Mereka selalu menyiksa ku." Ucapnya dengan ekspresi sedih saat mengingat masa lalunya.
"Apa kau merindukan orang yang telah menyakiti dan membuangmu?" Tanya Ganymede yang dibalas dengan gelengan.
"Aku tidak memiliki siapapun. Kak Elli pasti membenciku, karena aku dia kehilangan orang tuanya. Paman Alex sudah pergi, paman Albert dan paman Joshua juga jarang menemuiku karena sibuk." Ujar Kirania sambil menunduk sedih.
"Kau harus kembali, Ran. Jangan terpaku pada masa lalu. Jika keluarga dan orang-orang tidak menyukaimu, abaikan saja." Ganymede menasehatinya, dia berusaha membujuk Kirania. "Kau adalah gadis yang kuat, Ran. Karena itu aku memilih mu sebagai pemilik tatto konstelasi Aquarius." Ganymede memeluk Kirania yang kini menangis terisak, tubuh gadis itu mulai memudar.
"Kita masih bisa terhubung melalui telepati, Ran. Kembalilah ke tubuhmu. Ada sebuah kebenaran yang akan menantimu. Kau harus menerima kebenaran itu." Ganymede memberi saran pada Kirania yang kini mulai tenang.
"Kebenaran?" Beo Kirania penasaran. Gadis itu mulai melepaskan diri dari pelukan Ganymede.
"Kau akan tau nanti." Jawab Ganymede. Tubuh Kirania terlihat transparan dan memudar.
"Jangan perlihatkan kemampuan mu pada siapapun." Pesan terakhir Ganymede sebelum gadis itu menghilang melebur menjadi seberkas cahaya. Meninggalkan Ganymede seorang diri yang sibuk dengan fikirannya.
⚛️⚛️⚛️
Tiga minggu berlalu begitu cepat. Perlahan Kirania membuka matanya dan terlihat sebuah ruangan bernuansa serba putih dengan bau obat-obatan yang khas disertai bunyi alat pengujur jantung yang berbunyi nyaring.
Disampingnya terdapat seorang pria dengan penampilan kurang terawat menatap gadis itu, "Sampai kapan kau akan terbaring disini, Ran. Bangunlah, ayah merindukan mu." Lirih pria itu yang tak lain Albert. Terlihat wajahnya dihiasi jambang sedikit tebal, lingkar hitam dibagian bawah mata serta kantung mata terlihat jelas menandakan pria itu jarang tidur dan merawat diri.
Sebuah gerakan kecil membuatnya menoleh. Albert melihat Kirania telah membuka matanya dan menelisik sekitar. Dia melihat Kirania mencoba untuk duduk bersandar. Dengan cepat Albert membantu gadis itu duduk bersandar dengan menekan remote control yang terletak dipinggir ranjang rumah sakit.
Pria itu tengah menatapnya dengan cemas, rindu, khawatir dan emosi yang campur aduk menjadi satu seperti mengaduk es campur. Tidak bisa ditebak.
"Syukurlah kau sadar. Aya–ehem! Aku khawatir denganmu." Ucap Albert yang nyaris saja menyebut dirinya ayah, membuat gadis itu menatapnya dengan penasaran.
"Air... " Lirih Kirania. Dia merasa kerongkongan nya sangat kering dan pahit. Albert dengan sigap mengambil sebotol air dan membantu meminumkan kepada gadis itu. Kirania menenggaknya hingga tandas dan menghembuskan nafas lega.
"Terimakasih, paman." Ucap Kirania dengan tulus yang hanya dibalas dengan senyuman. Albert segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Albert dengan khawatir. Dia menatap Kirania dengan tatapan hangat, membuat gadis itu merasa nyaman.
"Aku baik-baik saja, Paman." Jawab Kirania bertepatan dengan seorang dokter dan perawat memasuki ruang ICU tempat Kirania dirawat dan melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Pasien sudah bisa meninggalkan ruangan ICU. Untuk sementara pasien dirawat dulu selama tiga hari untuk memastikan kondisinya agar tetap stabil." Jelas sang dokter sambil melepas alat yang menempel di tubuh Kirania.
"Hn. Lakukan." Jawab Albert singkat.
⚛️⚛️⚛️
Kirania telah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Saat ini gadis itu duduk bersandar dengan sebelah lengannya terpasang infus.
Dia mengamati ruangan yang ditempatinya. Terlihat sebuah sofa di samping kanannya, sebuah televisi dan sebuah kamar mandi dalam.
Pintu ruangannya terbuka, membuat Kirania menoleh. Dia melihat seorang pria dengan rambut cokelat memasuki ruangannya bersama seorang remaja berambut maroon yang tak lain Joshua dan Ellios. Tidak lupa Ellios menutup pintu ruangan tersebut dan menyusul Joshua yang lebih dulu menghampiri Kirania yang duduk bersandar.
"Dimana Albert?" Tanya Joshua sambil melirik sekitar sambil meletakkan sebuah bingkisan di sofa.
"Paman Albert dikamar mandi." Jawab Kirania sambil menatap Ellios dengan takut-takut. Suara gemericik air terdengar dikamar mandi menandakan seseorang berada disana.
Joshua menyadari ada sebuah masalah yang terjadi pada dua anak yang sebentar lagi memasuki masa remaja itu, dengan segera pria itu membuat alasan agar keduanya bisa menyelesaikan masalah mereka. "Aku keluar dulu. Ada sesuatu yang ku lupakan." Ucap Joshua sambil melenggang pergi meninggalkan sepasang remaja yang masih canggung.
Setelah memastikan Joshua pergi, Ellios menatap Kirania yang menunduk takut. Anak laki-laki itu memutuskan angkat suara memecah kesunyian di ruangan itu. "Aku sudah mendengar dari paman Joshua dan paman Albert. Keluarga Anderson dan Brawijaya memang keterlaluan."
"Maafkan aku, kak. Karena aku–" Ucapan Kirania dipotong oleh Ellios. "Itu bukan salahmu. Mereka yang terlalu kejam. Kau sudah aku anggap sebagai adikku." Ucap Ellios sambil memeluk Kirania.
Kirania tersentuh saat mendengar perkataan Ellios. Gadis itu mendongak menatap mata remaja berusia tiga belas tahun itu untuk mencari kebohongan, namun tidak terlihat sorot kebencian yang mengarah padanya.
"Terimakasih, kakak." Ucap Kirania tulus dan membalas pelukan Ellios.