
"Ada apa dengan wajah bodoh kalian?" Tanya Kirania yang sukses membuat 2 laki-laki berbeda usia pulih dari acara melongonya dan langsung mendapatkan jitakan manis dari Albert yang kebetulan duduk disampingnya.
'Pletak'
"Aduh! Kenapa kau menjitak putri cantikmu ini, Pa?" Rengek Kirania tak terima dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Pede gila." Gerutu Albert dengan dahi berkedut. "Jadi kenapa kau menyuruhku membeli sebuah rumah dari pada tinggal di apartemen?" Tanya Albert penasaran.
"Mau bagaimana lagi. Tiap malam ada orang nyelonong masuk dan mengacak-acak rumah dengan seenaknya. Apalagi aku merasa ada beberapa orang mengawasi kediaman ini. Sepertinya dia menargetkanmu, Pa." Jawab Kirania tepat sasaran.
"Aku setuju dengan Kiran, Paman. Akhir-akhir ini ada beberapa orang yang mengawasi unit apartemen milikmu. Kau memiliki wajah yang sangat merrepotkan." Komentar Ellios disertai dengan gerutuan di akhir perkataannya membuat kedutan di kepala Albert bertambah.
"Hu'um. Kau benar Kak. Jika saja dia bukan papaku, mungkin aku jatuh cinta padanya dan akan memburunya untuk dijadikan suami. Karena wajahmu itu sangat tampan." Ucap Kirania tanpa dosa dengan mata berbinar-binar berkilauan berbentuk lope-lope yang sukses membuat 2 laki-laki itu speechless.
"Hahahaha... Seleramu sangat buruk, bocah!" Suara Ganymede bergema dikepalanya yang sukses membuat Kirania jengkel.
"Diamlah." Sentak Kirania melalui telepati lalu memutuskannya secara sepihak.
"Seperti bukan kalian saja." Gerutu Albert sebal yang hanya dibalas dengan cengiran tanpa dosa oleh 2 bocah remaja tersebut.
"Pokoknya Papa beli rumah saja yang jauh dari apartemen ini. Aku ingin pemandangan hijau dan suasana asri. Kalau tinggal disini, aku merasa gerak gerik kita diawasi. Aku tak suka." Protes Kirania dan mulai mengeluarkan jurus andalannya yang sukses membuat Albert tak berkutik.
"Iya, ya. Nanti aku akan mencarinya jika ada waktu." Ucap Albert pasrah yang langsung disambut pekikan bahagia bertepatan masuknya beberapa orang bersenjata dan meodongkan kearah mereka.
"Apa yang aku katakan memang benar, kan?" Gerutu Kirania jengkel karena acara makan malamnya terganggu dan mereka segera menghajar penyusup itu dengan kekuatan scard mereka.
Flashback off.
Albert menatap langit biru yang bersih tanpa awan dengan pandangan menerawang. Dia hanya berharap kedua remaja itu tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Bayangan kelam itu masih menghantuinya hingga saat ini.
Sekalipun bebannya telah hilang, rasa traumanya masih membekas. Apalagi akhir-akhir ini apartemen nya sering terdapat transaksi ilegal yang berujung penjarahan, membuat beberapa penghuni tewas dibunuh, sehingga apartemen itu perlahan mulai ditinggalkan pemiliknya.
Albert meninggalkan rumah baru miliknya mengingat hari ini sudah beranjak siang dan perutnya mulai lapar. Segera Albert berjalan menuju sebuah kedai pinggir jalan yang berdekatan dengan tempat motornya terparkir. Saat pria itu memasuki kedai makanan itu, sontak dirinya menjadi pusat perhatian khususnya dari kaum hawa yang mengundang tatapan cemburu dari pasangan mereka karena wajah Albert yang begitu sempurna.
"Sial,tatapan mereka sangat menjijikan." Batin Albert seraya menuju tempat duduk paling pojok. Tak berapa lama seorang pramusaji wanita bermake up tebal dan pakaian ketat menghampiri nya dan menyerahkan sebuah buku menu dengan wajah yang merona hebat. Pikirannya melalang buana dengan kehaluan tingkat tinggi sambil memandang wajah Albert yang sibuk membaca menu tanpa kedip.
"Aku ingin aneka seafood, minumannya air putih." Ucap Albert sambil mengembalikan buku menu, namun tidak mendapatkan tanggapan. Saat dia menoleh, Albert mendapati wanita itu melamun dengan wajah merona hebat. Albert berdehem pelan membuat pramusaji itu terhenyak karena kaget.
"Maaf, Tuan. Bisa ulangi pesanan Anda?" Ucap pramusaji dengan nada menggoda tidak lupa gaya centil membuat Albert mendengus.
"Aku tidak mengulangi perkataanku dua kali. Pelayan!" Seru Albert begitu melihat seorang pramusaji laki-laki lewat di hadapannya, mengabaikan pramusaji wanita yang berdiri di hadapannya yang kini memasang ekspresi kesal karena merasa diacuhkan. Pramusaji laki-laki itu menoleh dan bergegas menghampiri nya.
"Maaf, Tuan. Apa ada masalah?" Tanyanya sopan.
"Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Aku memesan aneka seafood dan air putih, tapi wanita ini hanya diam seperti patung tanpa menulis pesananku." Ucap Albert dingin disertai aura intimidasi yang membuat 2 orang pramusaji itu gemetar.
"Apa pekerjaanmu hanya menatap pengunjung yang sedang makan?" Tanya Albert pedas saat mendapati wanita itu masih berdiri di hadapannya sambil menatap Albert dengan tatapan lapar?
Sontak pengunjung yang berada disana menoleh kearah mereka dan menjadi pusat perhatian. Karena merasa malu, wanita itu segera beranjak dari sana dengan wajah memerah entah menahan malu atau amarah.
Tak berapa lama pramusaji laki-laki tadi datang membawa pesanannya. Saat pramusaji laki-laki itu menata makanan, secara tidak sengaja Albert melihat sebuah cahaya bersinar redup bewarna ungu gelap di pangkal leher pemuda itu, matanya yang tajam melihat sebuah tatto dari salah satu konstelasi 12 zodiak yaitu Gemini. Setelah selesai menata pesanan Albert, pramusaji laki-laki itu segera undur diri meninggalkan Albert yang sibuk dengan pemikirannya.
⚛️⚛️⚛️
Seorang pemuda berambut pirang kecokelatan membuka matanya perlahan, menampakkan mata merah darah yang sebening kristal. Pemuda itu melihat ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang khas.
"Oh, kau sudah bangun?" Terdengar suara bass menyapa pendengarannya membuat pemuda itu berjengit kaget dan menoleh kesamping. Terlihat seorang pria tampan dengan rambut cokelat dan mata abu kebiruan duduk disebelahnya sambil menyesap minuman soda kaleng.
"Semalam aku melihatmu tergeletak di samping apartemen ku dan aku membawamu kemari karena kau masih bernafas. Saat ini kau berada dirumah sakit. Omong-omong aku Joshua, salam kenal ya." Jelasnya sambil memperkenalkan diri.
"Terimakasih." Jawab pemuda itu dengan datar dan segera duduk diranjang rumah sakit.
"Jangan bergerak dulu. Lukamu belum pulih benar. Kata dokter lusa kau bisa keluar dari rumah sakit ini." Ucap Joshua dengan nada ramah sambil menggoyangkan kaleng soda yang dia genggam di salah satu tangannya. Merasa isi minuman kalengnya habis, Joshua segera meremas kaleng itu hingga tak berbentuk dan melemparnya ke tempat sampah yang berada di pojok ruangan.
'Klang'
Kaleng itu mendarat mulus ditempat sampah dengan jarak yang cukup jauh dari tempat Joshua duduk. Joshua menatap pemuda itu yang duduk diam tanpa melepas pandangan dari tempat kaleng itu mendarat. Suasana terasa hening, pemuda itu hanya diam menatap kosong tempat sampah tanpa memperkenalkan diri.
"Kau belum memperkenalkan dirimu." Kata Joshua memecah keheningan diruangan itu.
"Aku Ivanna Antara. Salam kenal." Sahutnya singkat.
"Semalam aku menemukan kalung perbudakan ini di lokasi yang tak jauh darimu. Apa kau–" Belum selesai Joshua berkata-kata, sebuah cahaya ungu berpedar redup di pangkal leher Ivanna dengan lambang kalajengking, membuat Joshua menyeringai senang.
"Jangan membahas hal menjijikkan itu! Jika bukan karena mereka, aku tidak sudi berada di tempat terkutuk itu!" Raung Ivanna marah membuat wajah Joshua berubah serius beberapa saat lalu kembali memasang wajah ramah.
"Hoo~ Rupanya konstelasi zodiak Scorpio ada dihadapanku. Apa yang akan kau lakukan dengan tatto itu? Jika aku jadi kau, aku akan mengoleksi racun dan penawarnya lalu menjualnya dengan harga fantastik." Perkataan Joshua membuat Ivanna curiga dan langsung memasang sikap waspada. Joshua menguap lebar sambil memamerkan kartu pengenalnya yang dikalungkan di lehernya.
"Aku Joshua Alandero Mahardika, dokter tampan penuh pesona dengan Phoenix api sebagai tatto ku. Salam kenal, ya kalajengking jelek." Ucapnya dengan serius sambil memamerkan pergelangan tangannya yang mengeluarkan sinar kuning keemasan berbentuk burung Phoenix.
Ivanna terdiam dengan kepala berdengung mendengar makian dan sumpah serapah dari tattonya yang dilayangkan kepada Joshua yang kini sibuk mengutak atik handphonenya.
"Jika tidak ada yang kau tanyakan, aku keluar dulu. Kebetulan jam besuk sudah habis." Joshua segera berdiri dan beranjak keluar meninggalkan Ivanna sendirian.
"Apa pemilik tatto Aquarius dan Leo ada bersamamu?" Tanya Ivanna membuat langkah Joshua terhenti dan berbalik menatap Ivanna yang kini menundukkan kepalanya.
"Ya, mereka bersamaku. Jika kau ingin bertemu dengan mereka, lusa kau bisa menjenguknya bersamaku."
Lalu Joshua berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tertunda meninggalkan Ivanna yang sibuk dengan fikirannya.