
Derrick dan Emillia menatap Joshua dan Kirania dengan kaget lalu mereka menormalkan ekspresinya dengan cepat.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Derrick mengalihkan suasana dan mencuri pandang kearah Kirania. Rambut itu tampak familiar namun dia lupa melihatnya entah dimana.
"Silahkan duduk." Ujar Aretha mempersilahkan mereka duduk yang langsung dituruti oleh Derrick dan Emillia.
"Perkenalkan, saya Aretha Arathena. Pemilik perusahaan Athena Grup dan mereka adalah petinggi di perusahaan saya." Ucap Aretha memperkenalkan diri.
"Saya Roy Keane, pemilik hotel Eagle yang bekerja sama dengan restoran ini."
"Saya Arabella Oktavia , sekretaris dari nona Aretha."
"Ren Kertapati, ketua biro keamanan di bawah Athena Grup."
"Joshua Alandero Mahardika, kepala rumah sakit yang berada dibawah naungan Athena Grup."
"Albert Fernando Mahesa, pemilik restoran Draka yang berada di bawah naungan Athena Grup." Ucap Albert datar.
"Lalu siapa kedua remaja itu?" Tanya Derrick menatap mereka penasaran dan dengan intens.
"Mereka anak-anakku." Jawab Albert singkat dan melirik mereka. "Perkenalkan diri kalian." Titahnya pada dua remaja itu.
"Saya Kirania Fernando Mahesa." Ujar Kirania singkat dengan ekspresi datar.
"Ellios Dirgantara Mahesa." Ellios memperkenalkan dirinya dengan singkat.
Emillia menatap Ellios dengan tatapan tak percaya, namun saat melirik ke arah Joshua, matanya membeku seakan mengingat sang paman yang telah meninggal.
Emillia memang tidak akrab dengan Joshua karena latar belakang pria itu yang sebatas adik angkat Helena yang diabaikan keberadaannya oleh keluarga mereka. Bahkan kakeknya, Damian lebih sering memaki pria itu daripada berbicara baik-baik dengannya.
Saat pandangannya mengarah kearah Kirania, seketika dia mengingat Ran yang disiksanya hingga mati. Rambut gadis itu memiliki warna yang sama dengan Ran, namun Kirania terlihat sangat cantik dan elegan dengan tubuh ideal dan rambut itu indah terawat yang sukses membuatnya merasa iri dan tersaingi. Berbeda dengan Ran yang kurus kering tak terawat.
Kirania tersenyum miring saat melihat wajah Emillia yang mendadak pucat pasi. Dia melirik kearah Derrick yang juga berwajah pucat saat melirik ke arah Joshua dan kearah dirinya namun pria itu berhasil menguasai dirinya kembali dan berdeham.
"Ehem! Kedatangan saya kemari hanya ingin mengadakan kerjasama dengan restoran Draka ini." Ucapnya percaya diri.
"Sebelumnya mari menikmati hidangan sebagai makan malam sebelum ke pembicaraan utama kita." Putus Aretha begitu beberapa pelayan memasuki ruangan itu sembari membawa hidangan dan menatanya lalu mereka keluar dari ruangan itu.
"Silahkan nikmati makanannya." Aretha mempersilahkan mereka dan tamunya memakan hidangan yang tersaji dihadapanya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka kini membahas topik mereka dengan suasana tegang menyelimuti ruangan itu.
"Restoran ini berada di bawah naungan Athena Grup dan saya menyerahkan keputusan kerjasama ini pada pemiliknya, Albert Fernando Mahesa." Ucap Aretha tegas membuat pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya.
"Seharusnya Anda yang mengatur kerjasama ini, Nona. Bukan bawahan Anda yang terlihat seorang pemula." Ucap Derrick dan memandang remeh Albert yang menatapnya tanpa minat. Sepertinya pria tampan itu mulai bosan di lihat dari ekspresi wajahnya.
"Sepertinya Anda tidak tau jelas mengenai kota ini, Tuan Anderson." Ucap Joshua kesal memandang mantan kakak iparnya. Pria itu sangat arogan dan sering membuat perusahaan orang mengalami kerugian, sehingga dia bisa membeli perusahaan bangkrut untuk memperluas bisnisnya.
"Jika Anda memiliki sebuah usaha tanpa naungan perusahaan raksasa, maka perusahaan itu akan mengalami kehancuran. Kota ini bukan seperti kota Anda dulu yang di perhatikan oleh pemerintah. Kota ini dilindungi oleh orang-orang berkuasa yang membuat penduduk mau tak mau melakukan konflik senjata dan mengalami kerugian akan hal tersebut, baik secara finansial maupun hal lainnya." Roy menjelaskan panjang lebar.
"Jika Anda keberatan dengan saran dari nona Aretha, Anda boleh pergi sekarang." Ucap Albert dingin membuat pria paruh baya itu kesal.
Derrick berusaha menenangkan diri lalu melirik kearah Emillia yang menatap Ellios dan Albert tanpa kedip. Dia kembali memikirkan perkataan mereka dan menyetujuinya.
"Sudah ku duga." Batin Ellios dan Kirania kompak lalu dia melirik Albert yang tatapannya terlihat ingin membekukan orang.
"Buahahahaha!! Lihatlah tatapan gadis itu yang seperti orang bodoh, hahahaha!!" Tiba-tiba tawa Aulolis menggema di kepala pemuda bersurai merah itu yang langsung membuatnya melirik Emillia yang terpaku membuat Ellios merinding.
"Diamlah, singa sialan! Aku tidak sudi dengan ular itu. Dulu dia menyiksa adik kesayanganku hingga sekarat dan sekarang dia ingin menjadi tunanganku?! Tidak sudi!!" Teriak Ellios melalui telepati membuat Aulolis kembali tertawa.
"Wah, wah... Dia rakus sekali. Melihat 2 pria jelek saja matanya sudah melotot ingin keluar." Suara Ganymede bergema di kepala Kirania membuat gadis itu mendengus.
"Apa bagusnya dari bujang lapuk dan si cerewet itu? Meskipun mereka tampan, tapi aku yakin dia akan bunuh diri setelah mengenal mereka, ahaha..." Kekeh Kirania melalui telepatinya.
"Pfftt... Aku heran kenapa dia yang telah menyiksamu ini tidak tau malu sekali, ckck."
"Karena urat malunya sudah putus, mungkin." Balas Kirania asal.
"Maaf, Tuan. Saya tidak ingin bertunangan dan saya telah memiliki 2 orang anak yang perlu saya bahagiakan." Tolak Albert mentah-mentah sembari merangkul Kirania dan menepuk pundak Ellios membuat Derrick dan Emillia menatapnya tak percaya.
"Bukannya kau perlu seorang istri untuk mengurus keperluanmu dan seorang ibu untuk mereka?" Ujar Derrick berusaha membujuk Albert.
"Aku tidak perlu seorang istri untuk mengurus keperluanku. Putriku sendiri sudah mampu mengurus rumah dengan baik." Balas Albert tegas yang membuat Derrick kehabisan kata-kata sementara Joshua menahan tawanya.
"Bukannya kau masih muda dan belum menikah?" Tanya Derrick saat melihat jari pria itu tidak tersemat cincin, membuatnya merasa menang.
"Bukan urusanmu."
"Jadi mereka hanyalah anak angkat Anda? Sayang sekali Anda menolak perjodohan ini demi mereka." Sinis Derrick lalu melirik Ellios yang kini menatapnya datar.
"Bagaimana jika menjodohkan putra angkat Anda dengan putri saya?"
"Bagaimana denganmu, Ell? Kau mau menerima perjodohan ini?" Tanya Albert datar dan melirik pemuda berambut merah itu sekilas.
"Tidak. Aku tidak suka hal yang merepotkan." Balasnya datar. Sontak Derrick menatap Albert dan Ellios dengan emosi.
"Kerjasama ini bisa dilakukan tanpa perjodohan, Tuan." Aretha menengahi mereka yang kini tengah bersitegang. Namun Derrick menatap mereka dengan marah karena permohonannya ditolak mentah-mentah oleh Albert.
"Jika kau melakukan perjodohan, maka kalian bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak." Sinis Derrick tak terima sementara Emillia memasang wajah benci yang ditujukan kepada Kirania yang langsung disadari oleh mereka.
"Tanpa perjodohan pun Anda bisa menjalin kerjasama, Tuan Anderson." Balas Albert tegas.
Segera Derrick bangkit dan berdiri menatap mereka dengan amarah yang meluap-luap. Selama ini dia tidak pernah gagal membujuk kliennya, namun kali ini dia di tolak mentah-mentah oleh seorang pemula? Sangat memalukan, begitulah fikir Derrick.
"Kalau begitu aku membatalkan kerjasama dengan kalian. Emillia, ayo pergi." Ucap Derrick sambil menggandeng tangan Emillia dan keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Dengan percaya diri pria paruh baya itu berfikir jika mereka akan memohon-mohon sambil mengejarnya. Namun harapannya pupus saat mengetahui mereka tak mengejar atau memanggilnya dengan memohon saat pria paruh baya itu tiba di parkiran restoran.
"Sialan! Mereka mempermalukan ku!" Geram Derrick kesal.
"Ayah, jangan khawatir. Aku akan membuat mereka menjalin kerjasama dengan kita." Ujar Emillia dengan percaya diri membuat Derrick menoleh kearah putri satu-satunya.
"Bagaimana caramu melakukannya?"
Emillia tersenyum miring dan membisikkan sesuatu di telinga sang ayah membuat pria itu menyeringai licik.
"Lakukanlah, Emillia."
"Tentu saja, Ayah. Percayalah padaku."