
"Papa tidak berniat aneh-aneh, kan?" Bisik Kirania saat mereka tiba di depan sebuah kamar yang terletak di lantai atas bar. Percakapan ayahnya dan wanita penghibur itu membuat hatinya sedikit cemas dan ingin menggampar pria dewasa disebelahnya.
"Untuk apa aku melakukan hal gila seperti itu? Aku bukanlah orang tua bejat yang meniduri anaknya sendiri maupun menjualmu untuk kepentingan ku. Kau terlalu berharga untuk hal menjijikkan seperti itu." Ucap Albert lalu mengetuk pintu.
'Tok' 'Tok'
"Masuk!“ Seru sebuah suara dari dalam lalu mereka berdua memasuki ruangan itu. Terlihat beberapa pria duduk di sebuah sofa panjang dengan di dampingi beberapa wanita berpakaian seksi. Bahkan salah satu dari wanita itu tanpa tau malu duduk di pangkuan salah satu pria itu. Tanpa menghiraukan kedatangan Albert dan Kirania, pria itu tengah asik mencumbu setiap inchi tubuh wanita penghibur itu membuat Kirania merinding dan memeluk lengan Albert, berpura-pura menyembunyikan rasa takutnya.
Menyadari hal itu membuat Albert kesal dan berdeham yang membuat pria itu kaget dan menyingkirkan wanita penghibur itu dari pangkuannya. Dia menatap Albert lalu melirik Kirania tanpa kedip dengan tatapan lapar. Melihat sosok gadis berusia 15 tahun yang masih terlihat segar dengan tubuh dan penampilan sempurna membuat tanpa sadar air liur pria itu menetes. Salah satu rekannya mengagetkan pria itu dan berdehem untuk mengurangi rasa malunya.
"Ehem! Silahkan duduk." Ucapnya tanpa melepas pandangan dari Kirania. Albert segera duduk di sofa yang berhadapan dengan pria itu dan menarik Kirania agar gadis itu duduk di pangkuannya.
Dia memperhatikan ruangan itu sejenak. Ruangan bergaya vintage dengan lampu gantung yang sedikit remang-remang, 3 sofa panjang yang saling berhadapan bewarna merah maroon dengan sebuah meja kecil dengan hiasan asbak dan sebuah botol minuman keras yang tersisa setengah.
Bau alkohol tercium di ruangan itu, membuat kepalanya pusing. Dalam hati dia mengutuk sang ayah dan meratapi nasibnya yang harus memasuki tempat terkutuk ini.
(Flashback)
Kirania menatap horor pakaian yang di berikan oleh Albert dan menatap sang ayah dengan tatapan memelas.
"Kenapa aku harus memakai pakaian menjijikkan ini? Lebih baik aku memakai pakaianmu daripada pakaian mengerikan ini!" Protesnya frustasi dan menatap Albert kesal.
Top crop dengan tali hexagonal berwarna hitam dengan skater skirt pendek sepaha dengan warna senada, sepatu ankle boots hitam berbahan kulit yang dipilihkan oleh sang ayah membuatnya ingin menjerit. Dia lebih menyukai celana dan kaos oblong daripada pakaian yang diberikan oleh Albert, sementara sang ayah yang tak lain adalah Albert memakai kemeja biru gelap dengan vest hitam, celana cargo hitam dipadukan dengan sepatu boot senada membuatnya terlihat tampan dan gagah.
"Sebagai hukuman mu karena memborong snack begitu banyak. Mungkin aku perlu menguliti Joshua sekarang karena membuatmu tidak makan dengan benar." Ucap Albert acuh.
'JEDDERR'
Perkataan Albert bagai petir yang menyambar di siang bolong. Kirania paham maksud perkataan ayahnya yang seolah berkata, 'jika ingin snack dan sumber uang kesayanganmu selamat, turuti perkataanku.' Mau tidak mau gadis itu mengambil pakaian yang diberikan oleh Albert sambil menggerutu dalam hati.
"Kau hanya perlu bertingkah manis seperti perempuan tanpa banyak protes. Target kita adalah seorang politisi korup yang pedofil. Ini pertama kalinya kau ikut ke lapangan istimewa secara langsung. Jadi persiapkan mentalmu." Ucap Albert sambil menyerahkan sebuah berkas yang berisi data target. Kirania menerima berkas itu dan membacanya.
"Baiklah." Jawabnya pasrah.
Kirania meletakkan berkas itu dan segera bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan wajah cemberut.
Albert terkekeh lalu menyuruh gadis itu duduk di sebelahnya. Kirania menurut dan duduk di sebelah Albert. Pria itu mengeluarkan peralatan make up dan mendandani Kirania dengan telaten.
"Sebagai seorang pembunuh bayaran, make up adalah senjata ampuh untuk perempuan. Kau bisa mendapat informasi dengan mudah jika memiliki wajah cantik." Jelas pria itu sambil merias wajah Kirania.
Setelah selesai, pria itu menata rambut Kirania lalu menatap wajah anaknya dengan puas. Segera Albert membawa Kirania ke kamarnya dan menyuruh gadis itu berdiri di depan cermin. Kirania membelalakan matanya melihat hasil karya sang ayah.
"I-ini beneran aku?" Ucapnya tak percaya.
"Kalau bukan kamu, siapa lagi. Nah sekarang kita harus memburu mangsa." Ucap Albert seraya menyerahkan candirgan bewarna biru gelap dan berjalan keluar disusul oleh Kirania.
(Flashback Off)
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Kau telah melanggar kode etik sebagai seorang dokter, Joshua! Kau bisa mengundurkan diri sekarang juga!" Bentak direktur rumah sakit dan menatap Joshua dengan tajam.
"Kalau begitu saya mengundurkan diri." Ucap Joshua santai tanpa beban dan meletakkan kartu identitas pegawainya, dia berlalu begitu saja membuat sang direktur menganga tak percaya.
"Kau bercanda, kan?"
Joshua yang telah tiba di depan pintu menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh ke arah sang direktur dan berkata dengan santai, "Apa aku terlihat bercanda? Terimakasih atas waktunya, Direktur. Selamat malam."
'BLAAMM!'
Direktur itu menghela nafasnya frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena kehilangan satu-satunya dokter terbaik di rumah sakit itu. Dia menyesal telah memecat pria itu dengan tergesa-gesa.
"Baiklah. Aku akan membuka klinik di distrik F. Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang untuk saat ini." Gumamnya bahagia.
Joshua mengabaikan tatapan yang ditunjukkan oleh beberapa perawat yang berpapasan dengannya di koridor rumah sakit. Dengan santai dia berjalan menuju tempat parkir dan mencari mobil sport kesayangannya. Dia segera meninggalkan rumah sakit itu yang kini akan di kelola oleh keluarga Anderson dalam waktu singkat.
Keluarga Anderson akhir-akhir ini berhasil menyingkirkan pesaing yang berada di kota X, bahkan sebuah perusahaan bernama Centauri Corp terpaksa memindahkan pusat perusahaannya ke distrik F.
Joshua memikirkan rencana untuk menghancurkan Damian. Dari informasi yang dia dengar, keluarga Anderson mulai mendatangi sekolah Kirania dan mencari beberapa siswa untuk dijadikan percobaan dengan dalih mengadakan kelas khusus.
"Keluarga itu! Apa yang di inginkannya, sih?!" Seru Joshua kesal sembari memukul stir mobil yang tak bersalah itu.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
"Apa dia gadis yang akan di serahkan pada kami?" Tanya salah satu pria itu sambil tertawa mesum membayangkan gadis cantik itu menjadi pemuasnya.
"Tidak" Sahut Albert cepat.
"Jangan pura-pura begitu. Kau mendapatkan keuntungan besar jika menyerahkan gadis itu." Salah satu pria diantara mereka berusaha membujuk Albert, namun pria itu tetap pada pendiriannya.
'Ku bunuh kalian.' Geram Albert dalam hati, sementara Kirania yang asik memainkan kancing baju sang ayah melirik ayahnya sebentar dan melihat raut wajahnya yang ingin membohongi kepala orang.
"Sepertinya dia adikmu. Kau membawanya kesini hanya untuk di pamerkan? Sayang sekali. Harusnya kau membiarkannya bersenang-senang bersama kami, hahaha..." Ucap temannya lagi sambil tertawa mengejek.
"Oh, apa kau ingin meniduri nya disini? Boleh juga, hahaha..." Tambah yang lainnya membuat Albert kesal setengah mati. Sementara para wanita penghibur itu tertawa cekikikan.
Kirania menatap mereka dengan tatapan polos, menatap satu persatu targetnya malam ini.
"Papa, boleh aku bermain sebentar?" Kirania mendongak menatap sang ayah yang terlihat mengerikan dengan tatapan polos.
"Hahaha... Kemarilah sayang. Mari bermain sama om." Ucap salah satu pria itu sambil tertawa merendahkan. Sementara yang lainnya tertawa terbahak-bahak.
"Pa, telingaku sakit karena ada lalat yang berdengung." Rengek Kirania yang membuat Albert menatapnya sebentar.
"Baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Kirania tersenyum manis dan bangkit dari pangkuan sang ayah. Dia menatap sekumpulan pria itu seraya tetap tersenyum manis.
"Om mau main denganku, ya? Bolehkah aku bermain dengan nyawa kalian?" Tanyanya dengan suara merdu membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Bermain dengan nyawa katanya? Hahaha..."
Sementara para wanita penghibur yang masih berada di sana tertawa cekikikan tanpa mengetahui nyawa mereka menghilang sebentar lagi.
Senyum di wajah Kirania menghilang lalu dia merogoh senjata api yang di selipkan di pahanya.
'Dor' 'Dor' 'Dor'
Suara tembakan terdengar menggema di ruangan itu membuat mereka tersadar dan menatapnya dengan tatapan tak percaya saat melihat 3 rekannya tewas dengan luka tembak di kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Seru salah satu diantara mereka dengan panik, sementara para wanita penghibur itu berteriak ketakutan dan berlari menyelamatkan diri.
"Tentu saja, bermain." Jawab Kirania riang sambil menembaki mereka satu persatu. Ruangan itu kedap suara sehingga tidak terdengar suara gaduh yang berasal dari sana.
Mereka yang kaget tidak sempat melawan dan nyawa mereka melayang sia-sia. Selain kondisi mereka yang sedikit mabuk, mereka juga tidak mempersiapkan diri. Kirania menembak kepala orang-orang itu termasuk para wanita penghibur, tanpa menyisakan satu orangpun yang hidup. Setelah selesai dengan tugasnya, Albert segera berdiri dan menepuk kepala Kirania dengan bangga.
"Kerja bagus. Sebaiknya kita pergi dari sini."
"Baik."
Segera mereka keluar meninggalkan ruangan yang dipenuhi tubuh bergelimpangan dengan darah membanjiri tempat itu seolah-olah tak terjadi apa-apa.