
Kirania berjalan santai menikmati suasana sore hari yang tidak terlalu ramai pejalan kaki sembari memakan takoyaki porsi jumbo di temani oleh Albert dan Joshua yang berjalan di belakangnya.
"Aku ke toilet dulu." Pamit Albert dan berlalu begitu saja meninggalkan Kirania dan Joshua berdiri dibawah sebuah pohon di pinggir trotoar.
Joshua mengedarkan pandangannya dan menemukan mesin penjual otomatis yang terletak tak jauh dari sana.
"Kau mau minum?" Tanya Joshua seraya menunjuk ke arah mesin penjual minuman otomatis.
"Hm...hm... Aku mau cola, Paman." Ucap Kirania sembari menyuap takoyakinya
"Baiklah, kau tunggu disini." Lalu pria itu segera berlalu menuju mesin penjual otomatis.
Di kejauhan terdengar suara teriakan beberapa laki-laki yang mendekat ke arah mereka. Terlihat Ellios muncul mengayuh sepeda dengan cepat disusul orang-orang membawa balok kayu dan pemukul bisbol berlari mengejar pemuda bersurai merah itu dari sebuah tikungan.
Joshua yang tengah mengambil minuman kaleng menatap pemuda itu dengan dahi berkerut. Pria itu mendekati Kirania dan menyerahkan minuman kaleng kepada keponakannya.
"Kakak?" Ujar Kirania heran menatap pemuda berambut merah itu sambil memakan takoyaki saat Ellios melewati mereka begitu saja sambil nyengir tak berdosa.
"Kenapa dia?" Tanya Joshua seraya menatap pemuda yang telah menghilang di sebuah gang yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Kirania.
Segerombolan laki-laki berpakaian urakan yang mengejar Ellios menabrak mereka berdua hingga takoyaki Kirania yang tersisa separuh jatuh dari tangannya dan minuman milik mereka tumpah. Kirania membeku menatap makanan dan minumannya yang berceceran di aspal, sementara Joshua menatap mereka geram.
"Apa-apaan kalian?!" Teriak Joshua sembari mengejar mereka disusul Kirania. Dengan cepat mereka berdua berhasil mengejar gerombolan itu dan menendang salah satu di antaranya hingga tersungkur.
Sontak gerombolan itu menghentikan pengejarannya lalu menatap Kirania dan Joshua dengan kesal.
"Apa lihat-lihat!" Bentak Kirania dan berjalan mendekati salah satu diantara mereka lalu menendang pinggang seorang laki-laki berperawakan besar dengan rambut mohawk dengan keras.
'Duakh'
'Brukh'
Laki-laki itu jatuh tersungkur sembari mengerang kesakitan. Melihat temannya tidak bisa bangun seketika emosi mereka tersulut.
"Serang mereka!" Teriaknya sambil mengacungkan pemukul bisbol dan balok kayu. Seketika mereka semua mendekati Joshua dan Kirania yang tengah menatap mereka dengan kesal.
Salah satu diantaranya melayangkan balok kayu ke arah Joshua, namun pria itu berhasil menangkap balok kayu dan merebutnya. Joshua memukul pundak mereka dengan keras sambil sesekali menangkis serangan dan menendang mereka hingga semuanya jatuh tersungkur.
Kirania melayangkan tendangan ke arah paha kanan laki-laki berambut klimis dengan kuat lalu memukul ulu hati pemuda itu, lalu dia menangkis sebuah serangan yang dilayangkan kearahnya dan menyerang titik vital mereka hingga mereka semua jatuh tersungkur.
Setelah selesai melawan mereka, Ellios datang dengan mengayuh sepeda, menghampiri Joshua dan Kirania yang memandang gerombolan tergeletak itu sembari mengerang kesakitan.
"Kalian menghabisi mereka?" Tanya Ellios seraya menatap Joshua dan Kirania dengan sedikit kecewa.
"Dia menumpahkan makanan dan minumanku." Balas Kirania enteng.
"Bukankah dia mengejarmu?" Tanya Joshua menatap pemuda berambut merah itu.
"Jadi ini gara-gara aku?" Tanya Ellios sambil menunjuk dirinya sendiri membuat Kirania geram dan menjitak kepala pemuda berambut merah itu geram.
"Apa yang terjadi?" Tanya Albert ketika mendapati Kirania, Ellios dan Joshua berdiri di tengah-tengah orang yang tergeletak kesakitan.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Albert menatap mereka bertiga dengan tajam yang hanya dibalas dengan senyuman lebar tanpa dosa dari Joshua, tatapan datar dari Ellios dan Kirania yang asik menggigit sedotan sambil menatap sang ayah dengan tatapan takut-takut.
"Jadi kau membuat keributan karena seorang perempuan, lalu berakhir dengan keroyokan?" Tanya Albert dengan nada dingin.
"Aku tidak membuat keributan, Ayah. Mereka saja yang mencari keributan denganku." Ellios membela diri.
"Dan kalian berdua menghajar mereka karena menumpahkan makanan dan minuman kalian? Astaga! seharusnya kalian tidak melakukan hal bodoh itu." Geram Albert sembari memijit pelipisnya.
'Pletak'
Astaga! Joshua terlalu memanjakan putrinya dan itu tidak bisa dibiarkan. Albert menatap Kirania yang kini mengalihkan pandangannya dan lebih memilih menatap pemandangan yang mengarah ke arah laut. Pria tampan itu menghela nafas lelah. Kadang emosi Kirania sangat susah ditebak.
"Berhenti menggeplak kepalaku, Albert. Kau mau membuatku gegar otak, hah?" Geram Joshua kesal.
Beruntung mereka berada di sebuah cafe yang tampak sepi sehingga tidak menarik perhatian.
"Ku harap otakmu sedikit berfungsi, Joshua. Aku heran kenapa kau bisa menjadi dokter hebat dengan otak dangkalmu ini." Sindir Albert kesal.
"Sudahlah, Papa, jangan marah-marah." Cicit Kirania takut-takut lalu menatap Joshua dengan tatapan memelasnya. "Paman benar, kita harus memesan makanan yang banyak agar dompet paman segera menipis." Ucap Kirania sambil nyengir lebar membuat suasana hati Joshua memburuk seketika.
Albert segera memanggil seorang pramusaji dan memesan beberapa makanan. Pramusaji itu mencatat pesanan mereka dan bergegas pergi dari sana.
"Sepertinya kau ingin pergi ke pantai, Ran?" Tebak Albert yang sukses membuat gadis itu menatap sang ayah dan mengangguk dengan takut-takut. Tiga pria yang melihat reaksi Kirania hanya bisa saling melirik. Meskipun Kirania tinggal bersama mereka selama hampir 3 tahun, gadis itu tetap saja takut meminta sesuatu yang membuat mereka sedikit kesulitan. Albert menepuk kepalanya hangat dan berkata dengan lembut, "Setelah makan kita akan pergi kesana."
"Bagaimana denganku, Yah?" Tanya Ellios karena hanya pemuda itu yang masih memakai seragam sekolah.
"Bukannya kau membawa baju ganti?" Celetuk Joshua membuat pemuda itu menginjak kakinya kesal. Dia tidak mau mendapat hukuman dari Albert. Joshua meringis kesakitan.
"Maksudku, apakah aku boleh ikut?"
"Bukannya besok kau ada ulangan? Sebaiknya kau belajar untuk ulangan besok. Lain kali kita pergi menyelam." Tawar Albert membuat pemuda itu cemberut.
"Kau selalu saja memonopoli adikku, Tua Bangka." Sinis Ellios kesal yang hanya mendapatkan juluran lidah dari pria itu sebagai balasan.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Terdapat berbagai olahan seafood dan sebuah hotpot membuat mata Kirania mebelalak. Dia menatap sang ayah yang tersenyum hangat padanya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Kirania duduk diatas pasir dan menatap hamparan pantai berpasir putih dihadapannya. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan ayahnya mengajaknya melihat sunset. Sementara Joshua telah pulang terlebih dahulu bersama Ellios.
"Apa kau takut meminta sesuatu padaku?" Tanya Albert. Pria itu mendudukkan diri di sebelah Kirania dan menatap gadis itu lembut.
"Apa tidak apa-apa aku meminta sesuatu padamu? Kau sudah mau merawatku dan itu sudah cukup bagiku." Ucap Kirania sambil memandang gulungan ombak di depannya.
"Sebagai seorang ayah, kadang aku merasa sedih jika kau tidak meminta sesuatu padaku." Ucap Albert dan membelai kepala Kirania dengan sayang. Kirania menikmati sentuhan itu dengan tubuh menegang. Dia takut jika pria itu akan menjambak rambutnya seperti yang di lakukan ibunya dulu. Namun apa yang ditunggu-tunggunya tidak terjadi, malah pria itu mengeluarkan sebuah pin rambut kecil bewarna biru es dengan hiasan bunga anggrek dengan rumbai tetesan air yang terbuat dari batu amethyst ungu yang indah.
Albert menata rambut Kirania lalu menjepitkan pin rambut itu dan berkata dengan hangat. "Selamat ulang tahun, Kirania. Berbahagialah selalu, putriku." Ucap Albert dan mengecup kening Kirania dengan sayang. Kirania tersentuh dan air matanya mengalir begitu saja dengan deras.
"Terimakasih, Papa." Ucap Kirania dan memeluk Albert sambil menangis terisak-isak.
"Sudahlah, jangan menangis." Ucap Albert sambil membalas pelukan Kirania dan menepuk-nepuk punggung gadis itu pelan, berusaha menenangkan gadis itu yang masih terisak-isak di pelukannya.
Beberapa saat kemudian, Kirania merasa lebih tenang. Dia melepas pelukannya pada sang ayah dan mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dipendam nya.
"Apa kau tidak akan menjualku?" Tanya Kirania dan menatap pria itu dengan serius.
"Untuk apa aku melakukan hal itu? Sudah ku bilang kau itu terlalu berharga karena kau itu putriku." Balas Albert serius. Kirania memberanikan diri menatap mata Albert, tidak ada jejak kebohongan di sana selain tatapan hangat yang tulus membuatnya bernafas lega.
"Bagaimana jika ada orang menawarkan perjodohan dengan dalih kerjasama? Apa kau akan melakukannya?" Tanya Kirania bertubi-tubi.
"Jawabannya ada padamu. Aku tidak akan melibatkan mu pada hal seperti itu. Perjodohan dengan mengatasnamakan kerjasama, itu sama saja seperti menjualmu dan aku tidak ingin kau mengalami hal itu." Jelas Albert panjang lebar membuat Kirania terharu dan bertekad akan memberikan kepercayaan nya pada pria itu.
"Dia pria sekaligus ayah yang baik. Percayalah padanya." Suara Ganymede bergema di kepalanya.
"Terimakasih, Papa. Setidaknya aku percaya kalau kau tidak seperti orang-orang yang haus kekayaan." Ucap Kirania dan memeluk Albert dengan erat.