The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 59



Joshua tengah asik menebas beberapa pria berseragam khusus itu sambil sesekali menembak mereka dengan jarum bius. Meskipun mereka memakai pakaian anti peluru, Joshua dan Ivanna membuat peluru khusus yang di campur racun dan obat bius.


Sedikit gila memang, namun karena kesal dengan tingkah Aaron dan anak buahnya yang suka menjarah dan selalu membuat masalah, apa boleh buat.


Kirania sendiri dengan santai mengibaskan sepasang kipas besinya, mengeluarkan tombak es yang menusuk orang-orang berseragam itu hingga tewas.


"Hati-hati. Ada seorang mutan yang sedang mengincarmu." Ganymede memperingati Kirania.


"Apa kau tau apa kelemahannya?" Tanya Kirania melalui fikirannya.


"Suruh pamanmu itu menembak beberapa titik vitalnya. Semakin lambat beregenerasi, maka itu kelemahannya." Ucap Ganymede.


"Terimakasih."


Tak berapa lama datang seorang pria dan tubuhnya langsung berubah membesar dua kali lipat seperti hulk. Dia melompat hendak menyerang Joshua dengan kecepatan tinggi. Mengetahui sang paman tengah lengah, Kirania segera berteriak memperingati paman narsisnya.


"Paman!! Awas!!"


Joshua menyadari ada seseorang yang menyerangnya, dengan cepat pria tampan itu menghindar dan...


'Bruakhh'


Seorang pria bertubuh seperti hulk menabrak bangunan club malam di depannya hingga bangunan itu hancur lebur dengan asap tipis menyelimuti sekitarnya.


"Woah!! Ada hulk nyasar~" Ucap Joshua dengan nada riang.


Kirania mendekati Joshua yang terlihat menatap pria bertubuh besar itu dan menarik lengannya membuat sang paman menoleh kearahnya.


"Paman, tembak seluruh titik vitalnya. Jika regenerasi nya melambat, itu adalah kelemahannya." Bisik Kirania yang berdiri di sebelah Joshua.


"Wah~ Keponakanku memang pintar." Lalu Joshua segera menembak titik vital hulk itu.


Benar saja, sebuah titik vital hulk itu beregenerasi dengan lambat, segera Joshua menembak luka yang menutup dengan lambat itu dalam sekali tembak.


'Dor'


'Brukh'


Pria itu ambruk dalam sekali tembak. Lalu Joshua mengangkat tangannya saat merasa sakunya berdering membuat mereka otomatis menghentikan acara perkelahian nya.


"Maaf sebentar. Aku ada telepon penting. Boleh angkat?" Ucap Joshua santai tanpa beban sambil menunjuk kearah ponselnya yang berdering. Joshua segera mengangkat telepon itu.


"Iya, halo..."


"..."


"Sudah hampir selesai."


"..."


"Baiklah. Kami akan kesana."


'Klik'


"Kalian lanjutkan acara tembak-tembakannya~ Kami pergi dulu~" Ucap Joshua santai sambil menghampiri Kirania lalu memegang tangannya dan menghilang dari sana membuat beberapa rekan Joshua menghela nafas.


💠💠💠💠


Aretha berdiri di atas rooftop perusahaan Athena grup bersama beberapa orang yang setia berdiri di belakangnya dan memandang distrik F yang dipenuhi dengan suara letusan peluru dan suara ledakan.


Tak berapa lama muncul Albert dengan Ellios dan Antares, Joshua dengan Kirania, Ren dengan Benedict dan Arabella dengan Petra. Lalu muncul Roy dengan Ivanna.


"Kami menghadap Sang Dewi Keadilan." Ucap Albert, Joshua, Ren, Roy dan Arabella dengan serempak. Sementara Ellios, Antares, Kirania, Benedict, Petra dan Ivanna hanya bisa diam memperhatikan.


"Malam ini pinjamkan aku kekuatan kalian, Ksatria Perunggu Pelindungku." Ucap Aretha. Seketika cahaya putih keluar di dahi Aretha disusul dengan cahaya yang keluar dari pergelangan tangan dan lengan dari kelima petinggi Athena Grup.


"Dengan segenap hati kami meminjamkan kekuatan kami pada Anda, Yang Mulia Dewi. Kami, Ksatria Perunggu melindungi Anda sampai titik darah penghabisan." Ucap mereka serentak dengan hormat ala ksatria.


"Terimakasih bantuan kalian."


Seketika cahaya di dahi Aretha memudar, begitupun dengan di lengan dan pergelangan tangan kelima petinggi Athena grup itu.


"Kami sudah membereskan pasukan milik Aaron. Jika dihitung, mereka berjumlah seratus orang berdasarkan jumlah korban yang berjatuhan." Lapor Ren.


"Dan setiap regunya terdapat seorang mutan yang belum sempurna." Lanjut Joshua.


Aretha terkenal dengan kecantikannya yang membuat para wanita menjadi iri dan menjadi incaran laki-laki, baik yang masih lajang maupun yang sudah menikah. Selain cantik, dia juga jenius dalam berbisnis, menjadikan wanita itu incaran para pebisnis dan musuhnya.


Jika saja Aretha bukan pemilik Athena grup, sudah ditebak dia akan menjadi buruan pria-pria gila untuk menjadi pemuas mereka. Apalagi dia merupakan pemegang tatto Athena yang mungkin bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi mereka.


Para petinggi Athena grup hanya bisa menghela nafas frustasi. Kadang mereka melakukan hal gila untuk menggagalkan orang-orang yang mencari kesempatan untuk mencelakakan Aretha.


"Haahh~ Sudah ku duga dia memang pria gila." Gerutu Aretha kesal.


"Dia memang berniat menguasai hasil jerih payah kita dengan dalih menikah denganku. Tak ku sangka hasilnya begini. Maafkan aku, kalian semua jadi kerepotan karena masalah pribadiku." Sesal Aretha.


"Jangan khawatir, Nona. Dia pria gila yang serakah, tak terhitung berapa nyawa orang yang melayang di tangannya. Kami tidak menyalahkan keputusan Anda untuk selembar kertas yang tak berguna." Ucap Ren.


"Pernikahan bisnis memang menguntungkan perusahaan, namun itu sama saja dengan menjual diri dan menjadi boneka orang lain untuk kepentingan pribadi." Arabella menimpali. Dia mengingat jelas berapa banyak surat lamaran yang menumpuk di meja kerja Aretha serta banyak pria yang sering mendatangi kantor mereka hanya untuk bertemu dengan pemimpin mereka dengan dalih membicarakan bisnis. Beruntung kelimanya bekerjasama mengganggu acara tamu Aretha.


"Yah, kalian benar. Mari kita menyambut tamu-tamu yang telah menunggu kita." Ucap Aretha sambil mengeluarkan sebuah pedang.


Sementara keenam remaja itu hanya menjadi pendengar setia pemilik perusahaan Athena grup dan para petingginya. Mereka tidak berniat untuk ikut campur urusan orang dewasa.


💠💠💠💠


Joshua menatap Kirania yang kini duduk di emperan sebuah toko yang telah tutup. Keponakannya kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dengan tubuh ideal idaman wanita meski baru berusia enam belas tahun, bagaimana jika Kirania dewasa nanti? Pasti dirinya dan Albert akan pusing menghadapi banyaknya surat lamaran.


"Aku tak menyangka kau telah tumbuh seperti ini." Ucap Joshua membuat Kirania menoleh.


"Ini semua berkat Paman dan papa yang telah merawatku."


Joshua ingat bagaimana kehidupan gadis itu saat kecil. Kirania jarang mendapatkan makanan layak dan selalu di hina dan disiksa oleh keluarga Anderson.


Joshua hanya bisa menemui Kirania diam-diam dan ingin mengadopsi nya, namun dia merasa itu percuma mengingat dia hanya seorang dokter biasa yang tidak memiliki kekuasaan, apalagi Damian adalah seorang ilmuwan gila yang bisa saja membunuh nya.


Joshua bersimpuh di hadapan Kirania dan menatapnya penuh penyesalan. Meskipun selama ini Joshua telah merawatnya, namun perasaan bersalah masih menghantui nya.


"Maafkan aku, Kiran. Seandainya aku bisa menyelamatkan mu saat itu dan membawamu pergi dari sana." Sesal Joshua dan memeluk Kirania dengan erat.


"Jika saja saat itu aku membawamu pergi lebih cepat."


"Paman, sudahlah. Setidaknya mereka telah menganggapku telah mati. Jika saat itu Paman mengadopsi ku, mungkin akan lain ceritanya."


Kirania membalas pelukan Joshua, menikmati pelukan hangat pamannya yang penuh kasih sayang.


"Paman jangan merasa bersalah. Bukankah dari dulu kau selalu mengobati ku dan merawat ku? Berkat kalian aku bisa merasakan hangatnya pelukan seorang keluarga yang tak pernah aku dapatkan."


Joshua melepaskan pelukannya dan menatap Kirania dengan teduh. Dia berjanji akan merawat Kirania dan membuatnya bahagia.


"Paman sangat menyayangimu."


"Aku juga menyayangi Paman."


"Setelah kekacauan ini selesai, bagaimana jika kita pergi liburan bersama?"


"Benarkah?"


"Benar."


"Hanya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Apa kita harus menghabisi nya?" Tanya seorang pria berseragam khusus pada pemimpin nya saat melihat Joshua dan Kirania berdiri berhadapan membelakangi mereka.


"Habisi laki-laki itu. Kita bisa mendapatkan uang banyak dengan menjual gadis itu." Ucap pemimpinnya, tak lain adalah Aaron.


Mendengar perkataan itu membuat Joshua mendidih. Dia ingin menghajar orang-orang itu sekarang juga.


"Paman, tenanglah. Ingat rencana kita." Lirih Kirania. Mereka segera berdiri menatap kumpulan orang-orang itu dengan datar.


" Wah~ Lihat ini. Salah satu seorang petinggi Athena grup yang tengah berkencan dengan seorang wanita di tengah keadaan seperti ini?" Ucap Aaron dengan tatapan mengejek lalu melirik Kirania dengan penuh minat.


"Apa mau mu?"


"Aku ingin membuat sebuah penawaran. Kami akan mundur jika kau menyerahkan gadis itu padaku." Mata Aaron melirik Kirania dengan penuh minat. Dia terlihat sangat cantik dengan rambut unik seperti salah satu petinggi Athena grup yang bernama Albert. Dia ingin membalas penghinaan pria itu dengan membuat Kirania menderita.


"Kalau aku tidak mau?" Tantang Joshua yang membuat Aaron emosi.


Aaron memberi isyarat pada pasukannya.


"Bunuh mereka."