The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 56



Ujian kelulusan telah berakhir. Kirania akhir-akhir ini sangat jarang terlihat disekolah dan lebih sering bersama Albert mengikuti kemanapun pria itu pergi, karena ayah tampannya menjadikan Kirania sebagai asisten dadakan. Apalagi situasi yang tenang ini terlihat mencurigakan membuat para petinggi Athena Grup curiga dan mengutus Kirania bersama Ivanna untuk menyelidikinya.


Albert menatap nyalang Ivanna yang sukses membuat pemuda itu merinding disko. Jika tatapan Albert seperti laser, mungkin saja kepala Ivanna berlubang karena tatapan tajam yang ditujukan oleh pria tampan itu. Setelah tugas mereka selesai, Albert berjanji akan membekukan Ivanna dan melelangnya nanti jika tubuh putri kesayangannya tergores sedikit saja.


Dan disinilah mereka. Kirania dan Ivanna berkeliling di pusat kota X melihat beberapa bangunan yang rusak dan beberapa orang sibuk mengais-ngais sisa harta benda yang masih bisa diselamatkan.


Kirania melihat seorang pria di tandu oleh beberapa perawat dengan infus berisi sekantong darah tertancap di salah satu lengannya. Seketika ingatan masa lalu berputar di ingatannya.


Flashback


Kirania yang kala itu berusia 3 tahun terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap di lengannya dengan darah berceceran di lantai. Darah itu milik Kirania yang saat itu masih kecil. Wajahnya terlihat sangat pucat karena darah gadis itu hampir habis di tubuhnya.


Setelah dirasa cukup, dia melihat Damian membawa 3 kantong darah dan mentransfusikan ke Kirania kecil. Dia juga menyuntikkan sesuatu ke lengan gadis kecil yang tengah sekarat itu.


Kirania yang saat itu berusia 8 tahun dipaksa membunuh seorang pria yang tengah sekarat oleh Damian. Jika menolak maka pria paruh baya itu akan menjadikannya sebagai objek penelitian. Mau tidak mau Kirania kecil menurut dan membunuh pria itu.


"Sekarang potong tubuhnya." Titah Damian. Dengan tangan bergetar Kirania melakukan apa yang di suruh kakeknya.


Kirania selesai melakukan tugasnya. Tubuh kecilnya dipenuhi percikan darah. Tiba-tiba Albert yang menyamar datang membawa sebuah bungkusan.


"Ini yang Anda minta, Tuan." Ucap Albert sopan sambil menyerahkan bingkisan itu.


"Keluar." Perintah Damian dingin.


Albert menurut dan pandangannya tak sengaja melihat Kirania kecil dengan berlumuran darah. Tidak ingin terkena masalah, Albert segera keluar meninggalkan mereka.


"Sekarang kau makan di sebelah mayat ini. Jangan dimuntahkan." Perintahnya dingin.


Mau tak Mau Kirania kecil menuruti keinginan sangat kakek dengan terpaksa. Beberapa menit kemudian Kirania kecil telah selesai makan dan Damian segera menyeret Kirania kecil ke suatu tempat.


Damian membawanya ke laboratorium. Pria tua itu segera merebahkan Kirania kecil di brankar lalu mengikat tangan dan kaki cucunya sendiri. Pria itu mengambil sebuah cairan dan menyuntikkan ke lengan Kirania.


Kirania menjerit kesakitan saat cairan itu bereaksi di tubuhnya. Sesekali gadis itu memuntahkan seteguk darah sebelum berakhir dengan tidak sadarkan diri.


Saat sadar, Kirania melihat Joshua menatapnya dengan cemas. Wajah pria itu terlihat lebam dan sudut bibirnya berdarah.


Lalu saat berusia 9 tahun, Damian menyuntikkan sebuah cairan yang membuat tubuhnya terasa terbakar. Entah apa kandungan yang terkandung dalam cairan itu yang membuat Kirania menjerit kesakitan selama tiga hari penuh. Selama masa penderitaan itu Albert yang tengah menyamar dan Joshua menemani nya meskipun mereka berdua di hajar habis-habisan oleh Damian.


Sampai saat Kirania berusia 12 tahun, dengan tega Damian menyuntikkan afrodisiak dengan dosis tinggi membuat Kirania menjerit. Dia tersiksa selama sehari penuh sebelum Joshua berhasil menanganinya. Saat sadar dia melihat wajah Albert dan Joshua dipenuhi luka-luka.


Ya, Damian sering menjadikannya bahan eksperimen. Tak terhitung berapa kali Kirania nyaris dijemput maut dan berakhir sang paman dan ayahnya yang sedang menyamar menyelamatkan nyawa dari jurang kematian.


Flashback End


"Hei, kau kenapa?" Ivanna menepuk pundak Kirania saat tak sengaja mendapati gadis itu melamun dengan tubuh bergetar.


"Ah, aku tidak apa-apa." Jawabnya singkat. "Sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan kita." Imbuh Kirania datar.


Ivanna hanya diam dan kembali menyusuri jalanan yang dipadati lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki. Mereka menuju sebuah taman yang terlihat sepi. Terlihat beberapa orang berseragam khusus tengah mengeluarkan beberapa senjata api dari sebuah truk kontainer. Segera Ivanna melaporkan pada para petinggi Athena Grup.


"Kami menemukan penyeludupan senjata di taman pusat." Ucap pemuda itu melalui earphone yang terdapat di telinganya.


"Kita pergi." Ucap Ivanna setelah mendapat jawaban.


"Sebentar." Ucap Kirania sambil memperhatikan situasi. Siang hari ini taman sangat sepi dan terasa aneh. Kirania melihat sekeliling dan melihat beberapa penembak jitu bersembunyi di beberapa ruko yang terletak agak jauh dari mereka berdiri.


"Sepertinya mereka mengawasi sekitar." Celetuk Ivanna saat matanya tak sengaja menangkap sebuah laras panjang di sela-sela jendela.


"Mereka mengawasi kalian. Menyamarlah menjadi sepasang kekasih yang nyasar." Ucap Ganymede dan Scorpio kompak membuat Ivanna memucat seketika saat masih mengingat tatapan nyalang Albert yang ditujukan ke arahnya.


"Apa boleh buat." Ucap Kirania sambil menghela nafas lelah dan menyeret Ivanna pergi dari sana.


💠💠💠💠


Sore telah datang dan terlihat 5 siswa SMA terlihat duduk di sebuah cafe dengan minuman tersaji di hadapan mereka.


Ellios menatap Irene yang menatap lapar kearahnya dengan jengah belum lagi tatapan nyalang yang di tujukan oleh Xeon membuat pemuda berambut merah itu ingin mencincang mereka lalu memberikan pada hewan liar.


"Mereka kenapa?" Bisik Antares yang hanya mengendikkan bahunya acuh pertanda tidak tau. Niat awal ingin minum sambil menunggu Kirania buyar karena tiga pengganggu yang setia mengikutinya. Tak sengaja mata hijau pemuda itu menatap seseorang yang sangat familiar tengah berjalan bersama seorang pemuda membuatnya berkedut kesal.


"Kenapa Kirania bersama pemuda itu, sialan!! Mana tersenyum manis lagi?!" Teriaknya dalam hati sambil memegang gelas yang berisi minumannya dengan kencang hingga sedikit retak.


Sementara Kirania yang berpura-pura berpacaran bersama Ivanna memasuki cafe tempat Ellios berada. Segera mereka duduk tepat di samping meja Ellios dan memesan makanan.


"Sepertinya mereka mendapat tugas." Tiba-tiba suara Aulolis terdengar di kepala pemuda bersurai merah itu.


"Benar. Tapi aku tidak rela jika adikku tersenyum manis dengan orang lain." Rengek Ellios tidak terima.


"Sudahlah. Toh Albert selalu mengajaknya ke tempat khusus pria hidung belang dan memperlihatkan bagaimana tingkah mereka. Setidaknya dengan begitu adik tercintamu bisa waspada dengan lawan jenisnya." Balas Aulolis menenangkan Ellios.


Ellios menghela nafas. Jika dipikirkan dirinya juga merasa bersalah karena membatasi pergaulan sang adik. Dia tidak ingin adiknya ikut terjerat pergaulan bebas di kota tanpa hukum ini. Sesekali mata hijau itu melirik sang adik yang telah melahap tiga mangkuk ramen berukuran jumbo membuat Ivanna menatapnya tak percaya.


"Aku tak menyangka selera makanmu sangat bagus." Celetuk Ivanna yang tak sengaja terdengar di meja mereka.


"Jika kau bermaksud mengejekku, sebaiknya diam atau lidahmu menjadi hiasan makananku." Balas Kirania membuat Ivanna diam seketika. Ellios yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menghela nafas.


"Wow, Ell. Perkataannya itu sangat kejam." Celetuk Antares membuat Ellios menatapnya dingin.


"Apa ibunya tidak bisa mengajarinya cara berbicara dengan benar? Dia terlihat tidak punya etika." Sinis Irene membuat Ellios menatap gadis itu dengan tajam.


"Apa urusanmu?" Sinis Ellios dingin membuat Irene berkaca-kaca.


"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu." Ucap Irene sambil tertunduk penuh rasa penyesalan.


"Sudahlah, Sayang. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu." Ucap Xeon menenangkan Irene.


"Apa yang di katakan Irene benar. Perkataan nya terlalu kejam." Emillia membela Irene, membuat gadis itu terharu.


"Apa tidak di samperin saja?" Celetuk Antares membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.


Ellios memutuskan menghampiri sang adik dan menepuk punggungnya membuat Kirania yang tengah makan menoleh galak kearahnya dengan pipi mengembung karena di penuhi dengan makanan. Saat melihat Ellios dan Antares seketika tatapan galaknya berubah menjadi tatapan datar.


Kirania segera menelan makanannya dan menyapa sang kakak dengan kesal.


"Hai, Kak."


"Boleh ikut bergabung?" Tanya Ellios yang langsung di balas dengan anggukan. Mereka berdua segera duduk di kursi yang berada di sebelah Kirania dan Ivanna.


"Kau habis berkencan?" Tanya Ellios to the point dan menatap galak kearah Ivanna. Sementara Ivanna hanya bisa menghela nafas frustasi, kenapa dia harus dipasangkan dengan Kirania sang pemilik tatto Aquarius yang dikelilingi psikopat, sih? Dia hanya bisa mewek dalam hati


"Tidak." Balas mereka serempak.


"Kami mendapat misi untuk menyelidiki tentang Aaron." Ivanna angkat suara sambil menyeruput minumannya.


"Kau tidak sekolah, Ran?" Tanya Antares pada Kirania. Seketika Ellios mendengus kesal pada temannya itu.


"Tidak. Ujian telah berakhir seminggu lalu." Balas Kirania membuat Antares mengangguk.


"Kau sudah memutuskan sekolah mana yang akan kau tuju?"


"Sudah. Dan aku belum mendiskusikan dengan papa." Balasnya santai lalu melirik Ivanna dengan tatapan anak kucing minta dipungut yang sukses membuat pemuda itu gemas.


'Sabar, Ellios... Sabar... Di depanmu ada Kirania.' Batinnya dalam hati saat melihat tatapan Kirania yang dilayangkan kepada Ivanna. Ellios menatap Ivanna dengan tatapan tajam. Ivanna pun balas menatap tajam Ellios membuat Kirania jengah.


"Karena aku lupa bawa uang, tolong bayarkan ya, Kak Ivanna~" Pinta Kirania membuat pemuda berambut pirang itu nyaris tersedak saat melihat empat tumpuk mangkok jumbo yang kosong bekas makan Kirania.


"Baiklah."


'Perutnya terbuat dari apa, sih?' Batin Ivanna dalam hati.


"Sekalian dengan punyaku juga." Ellios menambahi membuat Ivanna tersenyum manis namun dalam hati dia mengutuk pemuda berambut merah itu.


'Sepertinya tuan Albert dan tuan Joshua memelihara singa liar.'