
Kirania membuka matanya, dihadapannya terlihat berbagai memori yang terputar seperti film. Memori itu adalah ingatan Kirania saat baru lahir sampai detik ini.
"Hidupmu sangat menyedihkan. Mereka memperlakukanmu lebih buruk daripada binatang." Ucap sebuah suara pria misterius membuat Kirania menolehkan kepalanya ke asal suara itu.
Di hadapannya berdiri sesosok pria dengan jubah sebiru es menutupi tubuh gagahnya, aura yang dipancarkan begitu kuat, tegas, dan seperti seorang pemimpin. Sosok pria itu menatap memori kehidupan Kirania dengan pandangan datar.
Kirania memperhatikan sosok itu, wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Yang pasti sosok itu sangat tampan dengan sebuah hiasan sederhana namun indah di kepalanya.
"Kau... Siapa?" Tanya Kirania penasaran.
"Oh, aku?" Tanya sosok itu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Aku adalah sang Aquarius, dan namaku Ganymede." Sosok itu memperkenalkan dirinya dengan ramah.
Kirania ternganga tidak percaya. Yang dia tahu, Aquarius adalah salah satu zodiak yang berada di bawah naungan planet Uranus yang tidak pernah berada di lintasannya dalam susunan tata surya. Sangat jarang planet Uranus berada di lintasannya sendiri dan lebih sering berada di lintasan planet Neptunus.
Zodiak yang melambangkan udara, kebebasan dan kecerdasan. Dan menurut legenda Aquarius adalah jelmaan seorang pemuda rupawan bernama Ganymede yang diculik oleh dewa Zeus dan dijadikan abadi di Olympus sebagai pembawa minuman para dewa. Tetapi lama kelamaan Ganymede yang diculik dari keluarganya merasa muak dan memberontak. Dia menuangkan semua air, Ambroneksa dan Nectar (makanan dan minuman para dewa) sehingga menyebabkan hujan tanpa henti dan menimbulkan banjir bandang di bumi.
Karena menyadari tindakannya cukup jahat, Zeus menempatkan Ganymede dilangit sebagai konstelasi Aquarius, sang penuang air.
Dan sekarang dia berada di hadapan sang Aquarius, Kirania tidak bisa berkata apapun saat ini.
"Kau terlihat cukup cerdas, namun mereka mengabaikan sebongkah batu berlian langka demi batu berlian imitasi. Sungguh sangat cerdas." Sindirnya saat melihat kepingan memori Kirania.
"Apa kau ingin balas dendam pada mereka?" Tanya Ganymede pada Kirania yang kini menunduk sedih.
"Aku ingin sekali, tetapi jika aku melakukannya maka aku akan terlihat sama seperti mereka." Jawab Kirania tegas. Tidak ada kebimbangan di sorot matanya membuat Ganymede tersenyum.
"Pilihan yang bijak dan aku menyukainya. Lalu apa yang kau inginkan?" Tanyanya lagi sambil menatap Kirania dengan pandangan menilai.
"Aku akan membuat mereka menyesal dan menderita dalam penyesalan terdalam. Sakit hati yang ku rasakan sejak kecil ini tidak sebanding dengan menyiksa lalu membunuhnya. Itu terlalu ringan." Jawab Kirania dengan pandangan kebencian.
"Ah, sesuai harapanku. Aku akan melatihmu selama tiga belas tahun." Tawar Ganymede.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Tapi tiga belas tahun disini sama dengan tiga minggu diluar sana." Jelas Ganymede lalu melanjutkan perkataannya saat melihat Kirania hemdak bertanya kembali, "Oh, tentu saja kau tidak mati. Saat ini kau tengah koma dan dua orang bodoh tengah berdebat disamping tubuhmu. Tapi mereka memiliki Naga dan Phoenix api." Ucap Ganymede sambil memperlihatkan dua orang pria tampan tengah berdebat.
"Paman Joshua dan paman Albert?" Beo Kirania tidak percaya. Setelah kematian Frankie, Joshua sering menemuinya secara diam-diam di luar kediaman Anderson bersama Albert.
"Oho! Dua pria bodoh ini pamanmu, ya? Mereka terlihat cukup tampan, tapi aku jelas lebih tampan." Uajrnya dengan percaya diri.
"Sebaiknya kita latihan sekarang." Ujar Ganymede lalu menjentikkan jarinya. Secara otomatis mereka berada di sebuah lapangan cukup luas, kepingan memori Kirania serta penampakan kedua pamannya menghilang.
"Ini alam bawah sadarmu." Terang sosok itu lagi. "Mari kita mulai pemanasannya. Kau hanya perlu berlari sebanyak lima puluh putaran, lalu lakukan push up dan sit up sebanyak lima puluh kali." Jelas Ganymede dengan tatapan serius.
Kirania mulai berlari mengelilingi lapangan yang luasnya tiga kali lapangan sepak bola. Baru sepuluh putaran, nafas gadis itu ngos-ngosan.
"Jika kau berhenti maka kau akan mengulangi dari awal!!" Teriak pria itu dengan santai tanpa beban membuat Kirania berusaha berlari dengan sekuat tenaga.
"Sial, dia kejam sekali." Gerutu Kirania sambil berusaha berlari. Hingga akhirnya tiga jam berlalu dengan cepat, terlihat tubuh gadis itu dipenuhi dengan keringat. Nafas gadis itu terlihat tersengal-sengal karena kelelahan.
Melihat penampilan Kirania yang menyedihkan, Ganymede segera menghampiri gadis itu. "Sebaiknya kau beristirahat dulu sebelum melakukan pemanasan." Ucap Ganymede sedikit kasihan.
⚛️⚛️⚛️
'Cklek'
Suara pintu ruangan terbuka dan terlihat Joshua memasuki ruangan itu sambi membawa sebuah bingkisan.
"Nanti sore kau boleh pulang." Ucap Joshua sambil menatap Ellios yang melamun.
"Aku tidak mau kesana. Mereka selalu menyiksaku." Jawab Ellios tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Siapa yang bilang kau akan kesana? Kau akan tinggal bersamaku mulai hari ini. Jangan khawatir, kau tidak akan bertemu dengan pak tua tidak punya hati itu." Tutur Joshua dengan riang membuat Ellios menolehkan kepalanya dan menatap pria dewasa itu dengan bingung.
"Kita akan pergi ke kota Khusus dan aku sudah membuat kematian palsu untuk kita berdua. Jadi jangan khawatir jika pak tua itu mencari kita." Jelasnya lagi yang membuat Ellios diam. Dia tidak mengerti pemikiran orang dewasa.
"Terserah Tuan saja." Jawab Ellios cuek yang berhasil membuat Joshua sebal.
"Setidaknya panggil aku paman. Jangan panggil aku Tuan, aku tidak menyukai nya."
"Hn."
⚛️⚛️⚛️
Joshua menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat sepi. Pemuda itu melihat seseorang keluar dari ruang ICU sambil membawa sebuah novel di tangannya.
Joshua segera menghampiri orang itu yang tak lain adalah Albert dan bertanya, "Bagaimana keadaan keponakan kesayanganku?"
"Kondisinya stabil, tetapi dia belum sadar." Jawab Albert sambil meletakkan sebuah novel di kursi tunggu. Joshua yang penasaran dengan novel itu segera menyambarnya dan membaca buku itu, dahinya berkerut.
"Novel romansa? Kenapa kau membacakan novel seperti ini? Dia masih dibawah umur, bodoh!" Maki Joshua sambil mendaratkan novel itu di kepala Albert.
'Pletak!'
"Sakit, bodoh!" Kesal Albert sambil mengelus kepalanya yang berkedut akibat ciuman manis yang diterimanya.
"Aku hanya menceritakan bahwa mencintai orang yang salah hanya membawa penderitaan. Aku tidak tahu buku apa yang cocok untuk bocah dua belas tahun sepertinya. Lagipula, tidak ada salahnya menceritakan cinta yang berakhir sedih." Dalih Albert panjang lebar yang membuat Joshua menganga lebar.
"Wow, selama aku mengenalmu baru kali ini aku mendengar kau bicara panjang lebar seperti ini." Sindir Joshua sambil cekikikan yang membuat Albert kesal.
"Berisik!" Ucap Albert sambil mendelik garang.
"Baiklah, baiklah. Omong-omong hari ini aku berhasil membobol keuangan perusahaan Anderson dan Brawijaya lagi." Ucap Joshua berbisik sambil menaik turunkan alisnya membuat Albert hanya bisa berkedut kesal dengan tingkah Joshua yang suka membuat kehebohan.
"Perusahaan mereka sudah hampir bangkrut, sih. Dan aku juga sudah mentransfer setengahnya ke akun milikmu." Jawabnya lagi sambil mengutak-atik handphone nya.
'Drrtt... Drrrtt'
Albert merasa handphone di saku celananya bergetar. Pemuda itu segera mengecek ponselnya dan matanya terbelalak kaget saat melihat nominal yang tertera di sana.
"Kau gila!" Hanya itu saja yang bisa dia katakan. Joshua hanya cengengesan dengan background bunga-bunga dan hati yang berjatuhan serta diiringi dengan glitter yang menyilaukan.
Albert membayangkan dirinya memutilasi lalu menjual organ tubuh Joshua ke pasar gelap jika saja pemuda itu bukan sahabatnya. Sungguh! Dia sudah lelah dengan kegilaan Joshua!