
Kericuhan diruang pak Harres menyebar begitu saja dan menjadi pembicaraan seantero sekolah. Terlihat sang pelaku berjalan santai menuju kelasnya diikuti oleh seorang pria tampan membuat siswa yang berada di dalam kelas menatap mereka dari jendela dengan penasaran.
Kirania segera memasuki ruang kelasnya, sementara Albert berdiri santai di depan ruang kelas menunggu Kirania.
Seisi kelas seketika mengerubungi Kirania dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan saat gadis itu berjalan santai menuju tempat duduknya,mengemas buku dan peralatan tulisnya. Beruntung sekarang ini jam kosong, sehingga gadis itu tidak menerima ceramahan guru karena terlambat masuk kelas.
"Kau mau bolos, Ran?" Tanya sang ketua kelas saat melihat Kirania telah selesai mengemas peralatan tulis dan menyampirkan ranselnya.
"Aku di skors selama sebulan." Balas Kirania santai membuat seisi kelas heboh. Namun suara Aqueera membuat Kirania menghentikan langkahnya di depan kelas.
"Aku dengar kau di skor, ya? Aku sangat cemas saat mendengar kau keruangan pak Harres tadi." Ujar Aqueera dengan nada pura-pura perhatian yang berhasil membuat Ganymede berceloteh.
"Lihatlah ratu drama ini. Aku ingin membekukannya menjadi sebongkah es dan melelangnya." Ujar Ganymede sinis.
"Hn. Dan aku telah merusak mejanya." Jawab Kirania acuh dan berlalu begitu saja membuat Aqueera kesal dan menghampiri gadis itu.
"Kenapa kau mengacuhkan ku, Kiran? Apa karena aku dekat dengan Steve kau jadi begini?" Ucapnya dengan kesal sambil menjambak rambut Kirania, namun rambut gadis itu terlepas hingga menampilkan rambut hitam ombre biru cerah yang indah dan terawat membuat seisi kelas heboh.
"Rambut itu, bukannya mirip dengan salah satu petinggi Athena Grup?" Bisik siswa A.
"Petinggi yang katanya memiliki cafe dan restoran terkenal itu?" Balas siswa B.
"Aku dengar dia memiliki 2 anak angkat yang telah remaja, dan salah satunya memiliki penampilan yang sama dengannya." Bisik siswa lainnya.
"Aku dengar mereka sangat gila, kejam dan suka berkelahi jika ada yang mencari gara-gara dengannya." Tambah yang lainnya.
Kirania mengabaikan bisikan itu dan menatap Aqueera dengan tatapan dingin andalannya. Sementara Aqueera gemetar ketakutan. Dia melihat sosok Kirania seperti orang lain.
"Aku tidak menyukainya, jadi untukmu saja." Balasnya dingin dan melanjutkan langkahnya.
"Beraninya kau menipuku?! Aku ini saha–" Belum selesai Aqueera berkata, Kirania telah keluar dari keras dan membanting pintu tepat di depan wajah Aqueera.
'BLAMM!'
Kirania menghampiri Albert yang menunggunya di depan ruang kelas, mata seindah langit malam itu menatap Kirania yang berjalan kearahnya tanpa wig yang biasa dipakai gadis itu dengan datar.
"Kita pulang." Ujar Albert membalikkan tubuhnya begitu Kirania tiba di hadapannya. Gadis itu menurut dan mengikuti langkah lebar sang ayah.
Sementara ruang kelas IX B terlihat gaduh begitu Kirania pergi dari sana. Mereka mengerubungi Aqueera yang menggenggam rambut palsu Kirania.
"Katanya kau bersahabat dengan Kiran, tapi apa ini? Kau bahkan tidak tau jika dia memakai wig." Ucap salah satu siswa dengan nada mencemooh.
"Sahabat untuk dimanfaatkan, ya, ga sih?" Celetuk siswa lainnya dengan sinis.
Cemoohan dan tatapan sinis dilayangkan kearah Aqueera, membuat gadis itu menggeram marah. Dia merasa tak terima dengan keadaan ini dan memutuskan pergi dari kelas.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Suasana hening menyelimuti ruang tamu di apartemen Albert. Kirania yang telah berganti baju tengah duduk dengan tegang, sementara sang ayah yang tak lain Albert tengah sibuk memeras handuk kecil yang direndam air hangat.
Albert mengompres pipi Kirania yang terlihat membiru dengan bekas cap tangan yang tercetak indah dengan perlahan, sementara gadis itu menundukkan kepalanya.
'Papa pasti marah.' Pikirnya takut.
"Maafkan aku untuk hari ini, Pa." Ucap Kirania dengan tubuh bergetar menandakan gadis itu tengah takut membuat Albert menaikkan sebelah alisnya.
"Ternyata kau sangat bar-bar, ya." Ucap Albert dan mengelus kepala Kirania dengan hangat.
"Apa Papa marah?" Cicit Kirania dan menatap sang dengan takut-takut membuat Albert menatapnya hangat.
"Untuk apa. Toh kau hanya membela diri, kan. Lagipula ini kota tanpa hukum, ditindas atau melawan, mangsa memangsa sudah menjadi hal umum di kota ini. Namun cara mereka berbeda-beda, ada yang menjilat orang-orang berpengaruh, menjadi penguasa, dan ada juga membuat onar. " Jelas Albert panjang lebar sambil mencelupkan handuk kecil kedalam baskom yang berisi air hangat lalu memerasnya.
"Anggap saja kau tinggal di hutan belantara yang dipenuhi dengan hewan buas." Lanjut Albert. Kirania mengangguk paham sambil meringis menahan pipinya yang berdenyut sakit.
"Aku tidak menyangka kau yang dulunya kurus kering dan suka bertengkar dengan Ellios, bahkan berani melawan keluarga Anderson saat menyiksamu membuatku kagum. Kau memiliki mental yang kuat, Kirania." Albert melanjutkan.
"Aku hidup berkat Papa yang dulu menyamar di rumah itu, meskipun singkat, sih." Ucap Kirania sambil mengingat-ingat, "Oh, ya dulu Papa juga pernah menyamar dengan wajah mengerikan yang menculikku ke kedai makanan dan membawaku pergi dari kediaman itu saat tidak ada orang." Lanjut Kirania membuat Albert terkekeh.
"Ternyata kau masih ingat, ya."
"Tentu saja. Apalagi saat aku di kunci dari dalam dan aku tertidur di luar yang dingin. Bukankah Papa yang membawaku ke kamarmu?"
"Hn. Benar." Balas Albert setelah terdiam cukup lama. Kirania kecil dulu sangat menderita dan dia tidak bisa menolongnya dengan membawa keluar dari kediaman itu. Albert sendiri tidak berani menegur keluarga kejam itu selain menunggu mereka pergi dan membawa gadis itu pergi diam-diam.
Kini Albert menatap Kirania yang tumbuh menjadi gadis cantik. Tubuh kurus kering itu kini berubah menjadi tubuh ideal, pipi tirusnya kini terlihat sedikit chubby, bahkan sorot mata yang penuh kesedihan dan ketakutan kini memancarkan sorot mata bahagia.
Tak lama kemudian Joshua datang memasuki apartemen dengan hebohnya sambil berteriak histeris membuat Albert kesal.
"Albert, apa yang kau lakukan pada keponakan imutku?!" Seru Joshua histeris seraya berlari mendekat mereka dan memeriksa kondisi Kirania.
"Warna biru kombinasi hijau dan kuning terlihat sangat cocok untukmu, Kiran." Gurau Joshua saat melihat sebuah cap tangan yang membiru di wajah gadis itu membuat Kirania tersenyum masam.
Albert mengabaikan Joshua yang berceloteh disebelahnya dan bertanya pada Kirania dengan aura hitam yang menguar ditubuhnya membuat gadis itu pasrah dengan tingkah mereka.
"Putriku sayang, bolehkah aku melemparkan pamanmu yang menyebalkan ini dari lantai 6?" Tanya Albert sambil mengelus kepala Kirania sayang, membuat Joshua berteriak kesal.
"Hentikan itu, Albeerrttt!!!"
⚛️⚛️⚛️⚛️
Setelah sang paman dan ayahnya tenang, Kirania menceritakan kejadian yang dialaminya disekolah secara singkat dan rinci membuat Joshua meradang. Rupanya selama ini Kirania sering diganggu oleh anak dari orang-orang berpengaruh karena pekerjaan sang ayah yang seorang bartender.
"Jadi apa kau marah dan kecewa pada pekerjaan ayahmu?" Tanya Joshua memandang Kirania dengan serius.
"Untuk apa aku marah pada papa. Malah sangat jarang para anak berjumpa dengan ayahnya dan menghabiskan waktu bersama karena sibuk bekerja." Balas Kirania santai.
"Tapi dari segi ekonomi apa kau merasa malu?" Kini Albert bertanya dengan merasa bersalah karena pekerjaannya dulu. Kirania menatap sang ayah dengan tatapan hangat.
"Tidak tuh. Bukannya Papa masih punya pekerjaan lain yang tidak diketahui orang dan uang hasil pembobolan keuangan 2 keluarga itu." Jawabnya santai membuat 2 pria dewasa tertawa kikuk.
"Baiklah, baiklah. Kau terlalu dewasa seakan-akan telah mengalami hal yang sulit, bocah." Ujar Joshua sedih dan memeluk Kirania hangat.
"Jadi aku harus berteriak sambil menangis dan kabur dari rumah? Ayolah Paman, bukannya aku malah merepotkan kalian dengan bertingkah seperti itu?" Tukas Kirania sembari menepuk punggung lebar sang paman, yang berhasil membuat mereka terdiam. Joshua melepaskan pelukannya pada Kirania dan saling melirik membuat mereka menghela nafas pasrah.
"Haahh, terserah kau saja."
"Aku dengar beberapa hari lagi akan ada festival menyambut pemilihan yang akan diadakan selama 5 hari." Joshua merubah topik pembicaraan membuat Kirania mencondongkan tubuhnya ke arah sang paman dengan ekspresi tertarik.
"Benarkah? Kapan?" Tanya gadis itu antusias. Terlihat binar bahagia dimatanya membuat 2 pria itu merasa senang. Setidaknya Kirania melupakan trauma masa lalunya.
"Festivalnya akan dimulai tiga hari lagi." Balas Albert singkat.
"Aku ingin pergi, apa boleh Pa?" Tanya Kirania seraya menatap Albert dengan tatapan memohon yang terlihat menggemaskan. Akhirnya Kirania mulai berani mengutarakan keinginannya tanpa rasa takut dihadapan Albert membuat 2 pria itu tersenyum senang.
"Tentu saja. Tapi kita akan pergi bersama." Balas mereka kompak membuat Kirania senang dan menghambur memeluk mereka.
"Yay! Terimakasih."
"Sudah ku bilang mereka itu tulus menyayangimu." Ganymede mulai berbicara.
"Aku tau. Tapi aku tidak ingin merepotkan mereka. Dan aku takut mereka akan menjualku." Balas Kirania melalui telepati.
"Percayalah pada mereka, Ran. Kau tau mereka itu sangat mencintaimu. Lihatlah sorot mata mereka saat berbicara padamu." Balas Ganymede.
"Baiklah. Aku akan mempercayai mereka."