
Ellios memasuki salah satu cafe milik ayah angkatnya yang berada di distrik D. Pemuda berambut merah itu mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok familiar yang duduk di pojok cafe bersama seorang gadis. Dia segera menghampiri mereka dan ikut bergabung disana.
"Kalian sudah menunggu lama?" Tanya Ellios memulai pembicaraan membuat mereka menoleh.
"Kami baru saja tiba." Balas Albert lalu memasang wajahnya seriusnya.
"Jadi ada apa Ayah memanggilku kemari?" Tanya Ellios penasaran.
Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka dan menatanya di meja membuat Ellios mengernyitkan alisnya.
"Aku memesankan makanan untukmu,Kak. Jangan khawatir, aku tidak memasukkan sianida disana." Ucap Kirania sambil memakan pesanannya.
Ellios mengangguk dan menatap Kirania kesal. Setelah pramusaji itu pergi, Albert segera mengutarakan maksudnya.
"Aku kemari ingin mengajakmu menghadiri makan malam di salah satu restoran terkenal di distrik ini. Nama tempatnya Draka Restaurant."
"Jadi?" Tanya Ellios yang masih loading.
"Aku ingin memperkenalkan kalian berdua sebagai anakku pada petinggi Athena Grup. Jika seandainya ada perjodohan, kalian bisa menolaknya jika memang tak menginginkannya." Jelas Albert panjang lebar.
"Bagaimana bisa begitu, Yah? Nanti reputasimu bisa jatuh." Tukas Ellios tak terima.
"Jika kalian memang sangat ingin balas budi karena aku merawat kalian, lampaui aku dan tumbuhlah dengan baik." Ucap Albert tegas.
"Kenapa kau sangat ingin kami menolak perjodohan? Bukannya banyak orang yang memaksa anak mereka menerima perjodohan? Bahkan ada juga yang rela mengorbankan hidupnya demi orang tuanya." Kirania mengeluarkan pendapatnya.
Albert menyesap matcha hangatnya lalu menatap putri kesayangannya dengan tatapan teduh. Dua remaja ini telah tumbuh dengan baik di kota tanpa hukum ini dan dia masih ingin mendengar pertengkaran konyol mereka, permintaan kedua anak angkatnya, cerita mereka untuk hari ini, besok dan seterusnya. Dan dia tidak ingin mendengar atau melihat mereka hancur.
"Karena di kota tanpa hukum ini, hal-hal manis itu tidak berguna. Dan aku masih ingin melihat pertengkaran konyol kalian." Jawab Albert membuat mereka saling pandang.
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Ayah, apa aku harus mencari pakaian terkutuk ini?" Ucap Kirania memandang horor deretan dress pesta yang terlihat cantik bagi sebagian besar perempuan. Banyak gaun dan deras menggantung cantik dengan model yang menurutnya mengerikan.
"Ingat, kau harus bertingkah layaknya 'perempuan' Kiran, untuk malam ini saja." Bujuk Albert.
'Dia tidak memanggilku papa lagi.' Batinnya sedikit sedih.
"Aku tidak menyukainya." Protesnya seraya mencari gaun yang cocok untuknya.
"Bagaimana dengan ini." Celetuk Ellios menyerahkan sebuah dress cantik berwarna biru gelap dengan tali hexagonal tanpa lengan.
"Cobalah." Perintah Albert dan gadis itu menerima dress pemberian sang kakak dan mencobanya di ruang ganti.
Sembari menunggu Kirania berganti pakaian, Ellios memutuskan memulai percakapan dengan Albert.
"Sepertinya malam ini akan ada hal yang menarik." Ucap Albert membuat Ellios menatapnya penasaran.
"Apa pertemuan dengan keluarga Anderson atau sesuatu yang berhubungan dengan baku hantam?"
"Mungkin keduanya." Balas Albert tanpa mengalihkan pandangannya dari tempat Kirania menghilang.
Tak lama kemudian Kirania akhirnya muncul dengan dress pemberian Ellios dan terlihat cocok dengan gadis itu. Dress berwarna biru gelap berbahan beludru dengan tali hexagonal tanpa lengan sepanjang lutut, yang memiliki rok berbentuk simetris selutut. Ellios dan Albert menatapnya dengan puas.
"Kau sangat cocok dengan dress itu." Ujar Ellios dan mendekati Kirania lalu memutar gadis itu.
"Hn."
"Baiklah. Aku ambil yang ini saja." Ucap Kirania dan segera kembali masuk ke ruang ganti. Albert segera melanjutkan perkataannya, "Ellios, kau boleh bertindak sesuka hatimu, kau boleh melawan orang-orang yang menindas mu, tapi jangan kau melakukan hal yang bisa membuatmu menyesal di kemudian hari. Kau masih remaja dan jalan hidupmu juga masih panjang. Kau boleh tidak mengikuti jejakku sebagai pembunuh bayaran."
Ellios terdiam mendengar penuturan Albert, pria yang selama ini merawatnya bersama Kirania semenjak mereka masih kecil. Jika selama ini dia diam seperti pecundang saat ditindas dan sekali waktu membuat keonaran dengan alasan tidak ingin merepotkan pria itu. Dia memantapkan pilihannya dan menatap pria itu dengan hangat. "Terimakasih, Ayah. Aku tau kau sangat peduli pada kami. Maafkan aku jika selama ini aku membuatmu kerepotan."
"Baik, Ayah."
Ellios senang jika selama ini Albert ternyata peduli dengan nya dan tidak mempermasalahkan keonaran yang selama ini dia buat, seperti berkelahi dengan beberapa preman dan orang-orang berseragam khusus. Namun jika di sekolah dia lebih sering diam saat diganggu siswa lain.
Sementara Kirania yang telah selesai mengganti pakaian keluar dari ruang ganti dan menghampiri mereka.
"Aku sudah selesai." Suara Kirania mengalihkan atensi mereka.
"Kalian ingin membeli yang lain lagi?" Tanya Albert sembari menatap mereka.
"Tidak." Jawab mereka kompak. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja dan terdapat beberapa paper bag bermesraan di tangan Albert dan Ellios.
"Ayo kita pulang."
⚛️⚛️⚛️⚛️
Sebuah mobil mewah memasuki halaman sebuah restoran mewah berlantai 2. Mobil itu terparkir rapi diantara jejeran beberapa mobil mewah yang berada di sana. Terlihat pintu mobil terbuka dan terlihat 3 penumpang keluar bersamaan dari mobil itu.
Kirania terlihat sangat cantik malam ini. Dress biru dongker dengan tali hexagonal sepanjang lutut tanpa lengan, dipadukan dengan angkle boots hitam.
Dia mengenakan riasan tipis natural dengan rambut di half bunds. Tidak lupa dengan jepit rambut pemberian sang ayah menghiasi kepalanya. Telinganya dihiasi anting dengan batu amethys berbentuk tetesan air yang indah.
Albert mengenakan kemeja senada dengan Kirania, vest hitam dengan kalung liontin naga dan jam tangan pemberian Kirania. Telinga kanan pria itu di hiasi sebuah piercing dan sebuah anting dengan batu amethys ungu. Pria itu terlihat tampan dan dingin dalam waktu bersamaan.
Sementara Ellios mengenakan kemeja merah maroon dengan vest senada dengan dress Kirania. Dia juga mengenakan jam tangan serta sebuah anting tusuk dengan tiger eye di telinga kirinya dan 3 piercing di telinga kirinya. Dia terlihat tampan dan buas disaat yang bersamaan.
Mereka segera mengapit Kirania dengan gadis itu berada di tengah mereka dan berjalan memasuki restoran berlantai 2 tersebut.
Sontak mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana begitu memasuki restoran itu. Segera mereka masuk ke dalam ruangan VIP yang terletak di lantai 2, dimana terlihat beberapa orang berkumpul disana.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Albert ketika memasuki ruangan VIP yang berada di restoran itu.
"Akhirnya kau datang juga. Omong-omong siapa 2 remaja yang ikut bersamamu?" Tanya Roy seraya menatap 2 remaja yang berdiri di belakang Albert.
"Mereka anakku." Jawabnya singkat yang berhasil membuat mereka tersedak, kecuali Joshua.
"Yang benar saja?! Bukannya kau masih lajang dan belum menikah?! Bagaimana mungkin kau memiliki anak remaja saat usiamu baru menginjak kepala tiga?!" Seru Arabella tak percaya mewakili yang lainnya.
"Mereka anak angkat." Balas Albert cuek membuat mereka sweatdrop.
"Ah, ya. Kalian silahkan duduk." Aretha mempersilakan mereka yang sedari tadi diam memperhatikan kedua remaja itu.
"Hn."
Mereka segera duduk di tempat yang telah disediakan. Kirania duduk di antara Albert dan Joshua, membuat pria berambut cokelat itu berbinar bahagia bisa duduk di dekat keponakannya. Kapan lagi coba Albert dan Ellios mengijinkan gadis itu dekat dengannya? Apalagi dirinya juga jarang bersantai dan menikmati waktu bersama dengan Kirania.
"Aku dengar ada orang yang ingin mengajukan kerjasama dengan kita." Ucap Arabella menarik atensi mereka.
"Hn."
Mereka menunggu kedatangan klien yang mengajukan kerjasama selama 10 menit sambil berbincang-bincang sejenak. Hingga akhirnya raut wajah mereka terlihat kesal.
"Jadi dimana orang itu, apakah dia tidak datang?" Tanya Joshua penasaran sembari melirik arloji nya. Sudah lewat beberapa menit dari rencana perjanjian yang di tentukan tetapi orang itu belum datang juga.
"Sepertinya dia seekor siput. Apakah dia berdandan seperti seorang pangeran atau menyamar menjadi putri raja? Toh kita tidak mengajukan kerjasama dengan mereka." Ucap Ren pedas. Sepertinya turah lambe pria ini kambuh karena kesal dengan keterlambatan seseorang.
"Sepertinya seekor siput telah datang kemari." Ucap Albert saat melihat pintu ruangan itu terbuka. Muncul seorang pria paruh baya dengan seorang gadis remaja berkisar 18 tahun. Sontak Albert menggenggam tangan Kirania dan Joshua mengusap punggung gadis itu seakan memberi ketenangan dan berkata 'jangan cemas, kami disini,' membuatnya menoleh menatap kedua pria itu yang mengertakkan rahangnya. Mereka khawatir Kirania akan berteriak histeris atau mengamuk saat melihat mantan keluarga nya.
"Aku baik-baik saja, Papa, Paman. Kalian jangan khawatir."