
Seorang gadis berusia 12 tahun dengan rambut hitam legam dihiasi beberapa helai warna biru cerah tersungkur di sebuah sudut gang sempit. Terlihat tubuh ringkih gadis yang baru menginjak usia remaja itu dipenuhi dengan lebam dan memar.
Dihadapannya berdiri beberapa siswi SMP, termasuk Emillia kakak kandungnya sendiri. Mereka bertiga tertawa mengejek sambil melemparkan pandangan merendahkan kearah Kirania.
"Pegang dia. Kita akan bersenang-senang sejenak dengan anak bodoh ini." Ujar Emillia, tidak lupa senyuman miring terukir di wajah cantiknya.
Segera 2 temannya menghampiri Ran yang tersungkur tak berdaya dan memegang kedua lengannya. Emillia mengeluarkan sebuah gunting sambil berjalan santai kearah adiknya.
Ran yang tak berdaya hanya menatap kakaknya dengan pandangan ngeri sambi memandang Emillia dengan tatapan memohon, "A–apa yang kau lakukan, Kak? A–aku mohon jauhkan gunting itu." Pinta Ran lirih sambil berusaha mundur, namun seorang siswi berseragam SMP menahan pergerakannya.
"Apa yang akan ku lakukan untukmu, ya?" Ucap Emillia sambi berjalan menghampiri Kirania dengan langkah pelan sambil memasang pose berfikir. Gadis itu berjongkok di hadapan Ran sambil menjambak rambutnya dengan kencang, membuat gadis malang itu berteriak kesakitan.
Sebuah tamparan membuatnya bungkam seketika dan pelakunya tak lain adalah Emillia.
"Diam, bodoh!" Pekik Emillia sambil menendang perut Ran dengan kuat, menyebabkan gadis malang itu tersedak dan tersengal.
Dengan cepat Emillia memangkas habis rambut panjang Ran hingga nyaris botak, menyisakan rambut sepanjang 3 inchi dari akarnya. Seakan belum puas, Emillia mengambil sebuah selotip dan merekatkan pada akar rambut Ran.
'SRREETTT!'
"Arrrggghhh!!" Teriak Ran kesakitan saat Emillia mengelupas selotip di kepalanya. Terlihat helaian rambut menempel diselotip itu disertai bercak darah.
Tanpa rasa kasihan Emillia terus mengelupas akar rambut Ran hingga gadis malang itu menggeliat kesakitan. Namun sebuah tendangan kembali bersarang di perutnya.
"Kak, hentikan... Hiks...hiks... Ku mohon... Hentikan..." Pinta Ran dengan lirih. Emillia seakan tuli dan tetap melanjutkan kegilaannya sambil tertawa mengejek.
Kini kepala Ran dipenuhi dengan bercak darah yang berasal dari bekas akar rambut yang di tarik paksa menggunakan lakban. Gadis malang itu terlihat tersengal akibat rasa sakit yang dia terima dari tendangan Emillia.
Setelah puas mengelupas kepala Ran, tanpa perasaan Emillia menginjak kepala Kirania dengan keras hingga dahi gadis itu mengeluarkan darah cukup banyak akibat benturan yang cukup kuat di aspal gang yang dingin dan berkerikil.
Ran meronta berusaha untuk membebaskan diri, namun sayangnya kedua teman kakaknya masih memeganginya. Rasa sakit yang luar biasa mendera kepalanya hingga Ran menggeliat dengan hebat sebelum akhirnya diam tidak bergerak.
Merasa gerakan Ran terhenti membuat Emillia dan kedua temannya saling pandang dan mengguncang tubuh Ran. Namun sayangnya, tubuh ringkih itu tidak bergerak sama sekali sekuat apapun mereka mengguncang tubuhnya.
Mereka bertiga merasa panik dan ketakutan, salah satu dari mereka mengecek denyut nadi Ran, namun nihil. Tidak ada denyut nadi yang dirasakannya.
"Hei, jangan bercanda!" Teriak Irene sambil mengguncang tubuh gadis malang itu, namun sia-sia. Tubuh ringkih itu tidak menunjukkan gerakan apapun yang membuat mereka panik.
"Jangan menakuti kami! Hei, bodoh! Bangun!" Pekik Emillia panik sambil mengguncang tubuh Ran yang mulai mendingin.
"Apa kita telah membunuhnya?" Tanya Jessica panik membuat mereka melangkah mundur.
"Sebaiknya kita pergi dari sini! Ayo cepat! Sebelum ada yang melihatnya." Titah Emillia panik. Mereka bertiga segera pergi meninggalkan gang itu, meninggalkan Ran yang telah terbujur kaku.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah merekam perbuatan mereka. Orang itu segera mendekati tubuh gadis malang itu dan menggendongnya dengan brydal style meninggalkan gang itu.
⚛️⚛️⚛️
Emillia berlari memasuki kediaman Anderson dengan raut wajah ketakutan membuat Derrick dan Helena menatap putri kesayangan mereka dengan bingung.
"Kau kenapa sayang? Wajahmu terlihat ketakutan begitu." Tanya Helena penasaran.
"I–ibu, aku telah membunuh. Bagaimana ini? Aku pembunuh, bu!" Racau Emillia dengan panik yang berhasil membuat Helena dan Derrick menatapnya dengan kebingungan.
"A–aku telah membunuh aib itu, Ayah. A–aku takut." Cicit Emillia ketakutan yang membuat sepasang suami-istri itu menatapnya dengan tatapan kaget.
"Apa?!" Pekik Abimayu yang mendengar perkataan Emillia. Pemuda itu baru saja tiba di kediaman Anderson dan mendengar pengakuan dari Emillia membuatnya kaget.
"Kau gila, Emi! Bagaimana bisa kau segila ini!" Pekik Abimayu yang langsung menghampiri Emillia dan menamparnya.
'Plakk'
Tamparan Abimayu membuat Emillia tertoleh kesamping dan membuat Helena menatapnya tak percaya.
"Bima, dia itu adikmu! Kenapa kau menampar nya?" Pekik Helena sambil memeluk Emillia yang kini terguncang.
"Dia bukan adikku, Bu. Dia pembunuh. Apakah ada seorang kakak yang tega membunuh adiknya sendiri?" Tanya Abimayu dengan nada yang penuh penekanan membuat Emillia merasa bersalah.
"Bima!" Seru Derrick dengan emosi, sebelum pria paruh baya itu mengeluarkan kata-katanya, Abimayu segera berkata, "Apa? Ayah juga membela nya? Kenapa kalian begitu kejam kepada Ran? Aku akui dia terlihat berbeda, tapi pernahkah kalian berfikir bagaimana perasaannya selama ini? Taukah kalian bagaimana menderita nya Ran selama ini?"
Sontak perkataan Abimayu membuat mereka tertampar. Selama 8 tahun mereka telah menyiksa anak yang tidak tahu apa-apa hanya karena terlihat berbeda. Bahkan mereka lebih kejam dari hewan buas yang tidak akan tega menyakiti anaknya sendiri.
Abimayu tidak ikut menyiksa Ran, namun pemuda yang kini berusia 16 tahun diam-diam mengamati Kirania dan memberikan gadis kecil itu makanan layak. Semasa hidupnya Ran hanya memakan roti kering bahkan makanan sisa.
Sedikit rasa sesal merayap di hati pemuda itu. Dia merasa gagal melindungi adiknya. Adik? Bahkan mereka tidak mengenal begitu dekat sebagai seorang saudara.
Abimayu segera bergegas menuju kamarnya yang terletak di lantai 2, meninggalkan sepasang suami-istri dan adiknya yang termenung dengan kata-kata nya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Damian yang melihat vidio itu menggeram marah. Dia tidak menyangka hidup Kirania terlihat begitu menyedihkan.
"Jadi, apa keputusan mu, Pak Tua?" Tanya Joshua dengan nada penuh penekanan. Udara disekitarnya terasa panas dan berat. "Jika tidak ada kejadian seperti ini kau tidak akan bertindak? Kau bilang Ran adalah cucu kesayangan mu, bukan?" Sarkas pemuda berusia 26 tahun tersebut.
"Apa maksud Anda, Emillia adalah cucu kesayangan Anda, Tuan? Kenapa Anda tidak membiarkan nona Ran bahagia sedikit saja? Jujur, selama Anda menyuruh saya untuk mengawasi keluarga nona Helena, saya sudah melihat nona Ran menderita cukup banyak. Dia mendapat perlakuan yang lebih buruk dari binatang. Apa Anda tidak kasihan?" Albert mulai mengeluarkan unek-unek nya yang berhasil membuat Damian terdiam.
"Mau bagaimanapun Ran sudah meninggal. Kau harusnya merasa senang, Pak Tua." Sarkas Joshua pedas yang berhasil membuat Damian tidak bisa berkata-kata.
Joshua dan Albert tidak habis fikir kenapa Damian tidak mengambil tindakan saat cucu 'kesayangan'nya disiksa. Bahkan Albert sudah terlampau sering mengabari tentang keadaan Kirania, namun pria paruh baya itu tidak menanggapinya sama sekali.
"Terimakasih atas 10 tahun ini, Tuan. Saya mohon ijin mengundurkan diri." Pamit Albert seraya bergegas meninggalkan ruangan Damian. Pemuda yang berusia 26 tahun itu merasa kecewa dengan sikap Damian yang tidak bisa adil kepada cucu nya.
"Aku juga akan pergi. Di kota ini terdapat banyak kenangan tentang keponakan cantikku." Ucap Joshua sambil menyusul Albert yang lebih dulu meninggalkan ruangan Damian.
Damian menghembuskan nafas berat karena tidak membawa Ran bersamanya. Seandainya waktu bisa diputar kembali.
Damian hanya bisa menatap foto Ran yang tersenyum bahagia bersama Ellios yang kini telah menetap di sebuah panti asuhan semenjak ayah Ellios, Frankie meninggal tiga tahun lalu akibat ketahuan memberi gadis kecil itu makanan.
Seandainya waktu bisa diputar kembali mungkin gadis itu bisa hidup bahagia bersamanya.
Seandainya dia mau membawa Ran tinggal bersamanya, mungkin tawa gadis kecil yang polos itu memenuhi kediamannya.
Ya, Damian hanya bisa berandai karena ketidakpedulian nya kepada Ran. Namun nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan pun tidak bisa membangkitkan Ran yang telah tenang di alam sana.