
Suara ledakan tak jauh dari sebuah festival di selenggarakan terdengar begitu keras. Seketika suasana berubah menjadi mencekam. Orang-orang segera berlari menyelamatkan diri.
Rasa panik menyelimuti mereka, anak-anak yang terpisah dari orang tuanya, orang yang terjatuh dan terinjak-injak serta beberapa orang menangis histeris karena ketakutan yang melanda.
Albert dan Joshua segera berlari membantu menenangkan dan mengevakuasi anak-anak dan korban yang luka-luka ke tempat yang aman di bantu ketiga remaja itu. Suara desingan peluru bersahut-sahutan terdengar tak jauh dari sana menambah suasana semakin mencekam dan tegang.
"Tenanglah. Kalian bisa lewat sini dengan aman." Ucap Joshua sembari menjelaskan rute aman untuk jalur evakuasi.
Albert menghampiri Kirania yang telah selesai mengevakuasi warga dengan cemas dan memeluknya dengan erat. Meskipun suasana ini sering terjadi dan gadis itu sering terlibat dengan mereka, pria tampan itu tetap saja cemas dan khawatir. Beruntung mereka tidak terlalu panik karena mereka sudah terbiasa dengan kejadian ini.
"Kalian berdua, tolong periksa apakah masih ada orang yang tertinggal di sekitar sini." Perintah Albert dengan sedikit cemas.
"Baik."
Ellios dan Antares segera pergi menjalankan perintah sang ayah dan memeriksa sekitar. Setelah memastikan tak ada lagi orang, mereka segera menghampiri Albert.
"Semuanya aman. Tidak ada orang yang tertinggal disekitar sini." Lapor Ellios yang dibalas dengan anggukan oleh Albert.
"Kita harus pergi dari sini. Jangan sampai terlibat dengan mereka." Perintah Albert sambil melirik 3 remaja yang kini berada di depannya.
💠💠💠💠ðŸ’
Suara tembakan dan desingan peluru berjatuhan serta ledakan bom molotov memecah heningnya malam. Terlihat beberapa mobil polisi dan beberapa kendaraan hancur dan terbakar, beberapa tubuh tergeletak tak berdaya dengan genangan darah di sekitarnya membuat suasana bertambah mencekam.
Beberapa bangunan terlihat berlubang akibat menjadi sarang peluru nyasar, bahkan beberapa jendela kaca di toko sekitar sana hancur berkeping-keping.
"DUUAAARRR'
Kali ini sebuah bangunan berlantai 20 meledak dan menyebabkan getaran di sekitar lokasi, mengakibatkan gedung itu hancur sebagian dan puing-puing bangunan itu berterbangan sebelum akhirnya bangunan itu roboh menimpa jalanan.
" Khukhukhu.... Akhirnya si sombong itu telah mati." Ucap Aaron dengan tawa sinis sambil menatap bangunan yang telah hancur. Dibawah reruntuhan itu terdengar suara rintihan dan teriakan minta tolong, bahkan terdapat bercak darah berceceran yang mengalir di sela-sela reruntuhan.
"Hancurkan bangunan di sekitarnya." Ucap pria itu melalui walkie talkie yang dibawanya. Sontak saja terjadi kebakaran hebat di distrik B membuat wanita itu menatap pemandangan dihadapannya dengan nanar.
"Apa yang kau lakukan? Aku hanya ingin dia mati, bukan hal seperti ini!" Seru wanita itu tak terima.
"Bukannya hal seperti ini yang kau inginkan, Amora? Nikmatilah pemandangan indah ini." Sarkas Aaron tanpa rasa bersalah. Wanita yang bernama Amora itu hanya bisa terpaku menatap bangunan yang hancur dan dilalap api.
Dia tidak menyangka meminta tolong pada Aaron beberapa tahun lalu membuat kota ini hancur. Banyak rumah dan bangunan hancur dan dilalap si jago merah, nyawa orang tak bersalah juga melayang sia-sia akibat ambisinya.
Ya, Amora sangat terobsesi dengan Gilbert yang tak lain adalah Albert. Dia ingin menjadikan pria yang terlihat culun itu sebagai budaknya.
Siapa sangka pria itu mengadopsi 2 orang anak yang membuatnya tak terima, apalagi saat mengetahui jika pria itu bekerja sebagai seorang bartender dan pernah memergokinya saat sedang membuang sebuah kantong plastik hitam yang ternyata berisi janin yang belum sempurna.
Amora menatap pemandangan malam ini dari atas sebuah gedung. Samar-samar terdengar suara tangisan anak-anak, teriakan kesakitan serta kesedihan orang-orang tak bersalah. Distrik B telah menjadi lautan api akibat kekejaman Aaron.
"Kau bisa saja membunuhnya, kan?"
"Siapa kau yang berani protes padaku, hemm?" Tanya Aaron dengan nada membunuh. Pria itu mencengkram dagu Amora dengan keras lalu menghempaskan hingga wanita itu tersungkur.
Aaron mengambil sebuah senjata api dan mengarahkan moncong senjata api itu kearah Amora, membuat wanita itu menggigil ketakutan. Dia berkata dengan sinis dan menatap wanita itu dengan nada dingin.
"Orang tidak berguna seperti mu harus disingkirkan. Tapi aku berterimakasih atas kerjamu selama ini."
Aaron menarik pelatuknya dan terdengar suara letusan keras di sana.
"Dasar beban." Sinis Aaron sambil menatap Amora yang kini tergeletak tak bernyawa dengan kepala mengeluarkan darah akibat peluru bersarang di kepala wanita itu.
Aaron segera pergi meninggalkan tempat itu dengan seringai kejam terpatri diwajahnya.
💠💠💠💠ðŸ’
Kota X distrik B kini berubah menjadi lautan api di beberapa titik. Desingan peluru dan suara ledakan terdengar bersahut-sahutan memberikan suasana yang tampak mencekam.
Tak terhitung banyak korban jiwa yang berjatuhan, banyak anak-anak kehilangan orangtua nya, kehilangan anggota keluarga bahkan sanak saudara.
Mereka mencoba menyelamatkan diri sebisa mereka demi bertahan hidup. Suara tangis dan ratapan kesedihan serta rintihan kesakitan memenuhi tempat pengungsian darurat itu.
Para dokter dan relawan mengobati korban luka-luka dengan peralatan seadanya. Beberapa dari mereka dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sementara polisi dan relawan dibantu pemadam kebakaran sibuk mencari korban dibawah reruntuhan bangunan dan memadamkan api yang membakar sebagian besar distrik B. Beberapa korban ditemukan selamat, namun sebagian besar ditemukan luka-luka bahkan meninggal.
Tangis histeris keluarga korban pun menjadi nyanyian pilu saat melihat keluarga mereka menjadi korban. Beberapa kandidat calon pemimpin mengambil kesempatan ini untuk membantu korban dan keluarganya agar mendapat simpati dan dipilih menjadi pemimpin kota ini.
Petra yang berhasil selamat dari reruntuhan menatap para kandidat dengan sinis. Dengan jelas pemuda berambut jabrik itu melihat senyum sinis yang terpatri di wajah mereka.
Situasi ini dimanfaatkan oleh para penjahat yang bersembunyi di kota X. Mereka mulai adu senjata membuat beberapa distrik menjadi porak-poranda.
Malam ini kota X menjadi kacau balau. Instalasi listrik terpaksa diputuskan untuk mengurangi dampak dari korsleting listrik. Hanya listrik untuk rumah sakit dan instalasi penting saja yang menyala.
Kota X menjadi gelap gulita dengan desingan peluru dan ledakan bom sebagai nyanyian malam yang mencekam. Beberapa kawasan hancur lebur, terutama distrik F yang mulai bergeliat kembali hancur dengan beberapa bangunan yang rata dengan tanah dan terbakar.
Distrik B sendiri juga mengalami hal yang sama. Beberapa titik kota B dilalap si jago merah dengan ganasnya. Bahkan beberapa unit perumahan hancur lebur menyisakan puing-puing bangunan.
Distrik lainnya seperti distrik C, D, dan E mengalami hal yang serupa namun kerusakan bangunan tidak separah distrik B dan F.
Kirania menatap pemandangan ini dengan air mata yang bercucuran saat mendapati tempat tinggalnya telah hancur menyisakan reruntuhan. Tempat tinggal bersama sang ayah dan pamannya yang penuh dengan kenangan kini tinggal puing-puing.
"Sepertinya mereka mulai bergerak." Joshua mengeluarkan pendapatnya.
"Hn. Mereka mengincar Athena Grup untuk ditaklukkan." Balas Albert datar.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ellios sambil melirik 2 pria dewasa itu lalu kembali menatap bekas apartemen mereka yang telah hancur.
"Kita bersembunyi dulu." Albert segera mendekati Kirania yang mematung lalu menggendongnya. Kirania yang asik bersedih memekik kaget saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang dan berakhir di gendongan sang ayah.
"Kita pergi." Ucap Albert lalu melirik Antares yang terdiam menyaksikan tempat itu. "Kau juga ikut kami."
"A-ah, baik."
Albert segera berlari dengan kecepatan tinggi sambil menggendong Kirania disusul oleh Joshua, Ellios dan Antares meninggalkan apartemen yang telah hancur dan menuju ke sebuah bukit kecil tempat mereka berlatih.
Mereka berlari menembus hutan yang gelap. Tak ada cahaya bulan maupun bintang yang menerangi perjalanan mereka. Semakin lama mereka memasuki hutan hingga tiba di bagian terdalam. Setelah cukup jauh mereka akhirnya melewati sebuah bagian hutan yang curam dengan jurang menganga lebar di bawahnya. Mereka akhirnya berhenti saat di depannya terdapat sebuah tebing tinggi dengan sebuah goa setinggi 60 cm dengan lebar 1 meter.
Albert memasuki goa kecil tersebut dengan merangkak lalu disusul oleh Joshua dan ketiga remaja itu. Setelah merangkak sepanjang 6 meter, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan modern bergaya minimalis. Disana telah terdapat beberapa orang duduk di sebuah sofa bersama para petinggi Athena Grup.
"Maaf, kami terlambat." Sapa Albert dan Joshua serentak membuat mereka menoleh ke asal suara.
"Selamat datang di Sanctuary." Sapa Aretha ramah.