The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 37: Kirania dan Ellios



Ellios dan Kirania menyusuri pusat perbelanjaan sembari menenteng beberapa paper bag, mengabaikan tatapan dan bisik-bisik pengunjung yang mengerumuninya seperti semut mengerubungi gula. Setelah puas berbelanja, mereka segera mencari sebuah kedai makanan mengingat perut mereka mulai bergemuruh minta diisi.


"Ternyata kita menghabiskan waktu lebih lama dari perkiraan. Kau mau makan?" Tanya Ellios merasa bersalah.


"Hn. Kau tau kedai di sekitar sini?"


"Tentu saja."


Mereka segera menuju eskalator yang mengarah ke lantai bawah. Ellios memperhatikan sekitar yang terlihat ramai. Dia melihat seorang gadis menggandeng mesra seorang pria tua, mungkin itu kakeknya atau ayahnya.


Tunggu! Sepertinya gadis itu familiar. Dia mengamati gadis itu dan gadis itu menatapnya.


Ellios segera menunduk, berpura-pura mengambil telepon dan mengangkatnya lalu celingak-celinguk seakan mencari seseorang. Gadis itu menatap Ellios intens membuat pria tua di sebelahnya menepuk pundak gadis itu hingga membuatnya tersentak. Gadis itu memberi senyuman manis kepada pria tua itu dan berbincang-bincang dengan mesra.


'Ellios? Tidak mungkin! Mungkin salah lihat.' Batin gadis itu.


Seringai terbit di wajah pemuda bersurai merah itu. Balas dendamnya segera di mulai saat melihat hasil jepretannya yang memuaskan.


"Kau kenapa, Kak? Senyumanmu terlihat mengerikan."


"Tidak apa-apa." Balas Ellios sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku celana.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Jadi wanita itu yang membuat mu membakar seprai kesayanganmu dan menghancurkan foto ku?" Tanya Kirania dengan nada membunuh setelah mendengar cerita Ellios. Saat ini mereka berada di sebuah cafe bernuansa Korea yang terletak tak jauh dari rumah Albert yang berada di distrik F dan mereka duduk di pojok dekat jendela, memudahkan melihat pemandangan jalan raya yang terlihat ramai.


"Tidak hanya itu. Dia selalu menempeliku seperti lem dan ikut campur dengan segala urusanku. Aku sangat risih dengannya." Ucap Ellios frustasi.


"Aku tau apa yang harus kau lakukan." Ucap Kirania jahil membuat Ellios merasakan firasat buruk.


"Jika kau ingin dia menjauhimu, kau harus menuruti kata-kata ku." Ucap Kirania lalu menyeruput jus semangkanya.


"Baiklah. Jadi apa yang harus ku lakukan?"


Kirania mencondongkan tubuhnya membuat Ellios penasaran dan ikut mencondongkan tubuhnya. Gadis itu membisikkan sesuatu membuat dahi Ellios mengernyit lalu menegakkan tubuhnya. Pemuda tampan bersurai merah itu tampak berfikir sejenak lalu mengangguk.


Kirania menegakkan tubuhnya lalu menatap sekitar. Kedai milik sang ayah tidak ramai pengunjung dan secara tidak sengaja matanya melihat seorang gadis merangkul mesra seorang pria tua di seberang cafe.


"Pfftt..." Kirania menahan tawa melihat pemandangan itu membuat Ellios menatap sang adik dengan sebelah alis terangkat.


"Ada apa? Kau menertawakan sesuatu?" Tanya Ellios penasaran.


Kirania hanya mengacungkan telunjuknya arah jendela kaca cafe sebagai jawaban membuat pemuda itu mengalihkan perhatiannya.


Pemuda itu mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar lalu meletakkannya di atas meja. Ellios lalu menatap Kirania dengan serius.


"Kiran, sebagai seorang kakak aku mohon kau jangan merendahkan diri demi ketenaran. Kau tidak cacat, kau cantik dan sehat. Kau bisa menggunakan tenaga dan otakmu untuk mencari cara agar bisa menghasilkan uang, bukan dengan cara instan seperti menjual tubuhmu. Jangan kau menghancurkan hidupmu untuk kesenangan sesaat yang berakhir dengan penyesalan seumur hidup." Pinta Ellios sendu. Di kota X yang tanpa hukum ini, hubungan bebas sudah biasa terjadi. Bahkan hubungan incest sudah menjadi hal umum di kota tanpa hukum. Ellios khawatir Kirania terjerat dengan pergaulan bebas mengingat banyak teman perempuan seangkatan dengannya menjadi wanita penghibur bahkan sugar baby demi gengsi mereka.


Kirania paham Ellios sangat khawatir dengannya. Masa lalunya yang begitu buruk membuat gadis itu tidak percaya pada siapapun, kecuali Ellios, Albert dan Joshua. Hanya pada merekalah dia berani berekspresi sesuai suasana hatinya.


"Kakak jangan khawatir. Jika aku butuh uang, aku bisa mendapatkannya dengan mudah, kok. Taruhan dengan paman Joshua atau menjadi asisten papa misalnya. Jika kepepet aku bisa membobol keuangan perusahaan orang atau jual organ tubuh." Ucapnya dengan tampang polos membuat Ellios menjitak kepala Kirania hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


"Apa-apaan bicaramu itu?" Omel Ellios kesal yang hanya ditanggapi dengan senyum tanpa dosa milik Kirania.


"Jangan menjitak ku, Kak." Ucap Kirania dengan tatapan memelas seperti anak kucing minta di pungut membuat Ellios gemas.


"Aduh~ Kenapa kau begitu imut, sih?" Dengan semangat Ellios menarik pipi Kirania membuat gadis itu pasrah dengan tangan nakal sang kakak.


"Hentikan kak, sakit~" Rengek Kirania. Terlihat setitik air mata di pelupuk mata gadis itu membuat Ellios melepaskan cubitannya.


"Aku tau kau sangat khawatir dan peduli padaku. Terimakasih telah menasehati ku, Kak." Ucap Kirania tulus.


"Boleh ikut bergabung?" Terdengar suara berat yang familiar membuat mereka menoleh dan mengangguk kompak.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Saat hendak mengambilnya, seorang pria tua lebih dulu menyerobot nya membuat Albert kesal. Seketika seleranya pada pin rambut itu menghilang.


"Anak muda, sebaiknya kau mengalah saja. Jepit ini untuk kekasihku, kau tidak akan mampu membelinya." Ucap pria tua berpakaian mahal itu dengan sombongnya.


Albert menatap pria tua itu yang menyerahkan jepit rambut incarannya pada seorang gadis muda yang menerimanya dengan mesra, mungkin gadis itu sebaya dengan Kirania atau Ellios.


Gadis itu melirik Albert tanpa kedip, terpaku pada ketampanannya. Namun saat melihat pakaian Albert, seketika ekspresi mengejek terlintas di wajahnya. Pria itu hanya memakai celana cargo hitam dan baju kaos bewarna navy, dipadukan dengan sepatu kets hitam yang terlihat sederhana.


Albert mengabaikan mereka dan memutuskan melihat aksesoris lainnya. Saat melihat sebuah kalung dan hendak menyentuhnya, terdengar suara wanita yang membuatnya jengkel.


"Daddy, aku ingin kalung itu. Pasti sangat cocok untukku." Rengek wanita itu pada pria tua di sebelahnya.


"Baiklah, Babby. Apapun untukmu." Jawab pria tua itu manja yang seketika membuat Albert ingin muntah.


"Sepertinya kekasihku ingin kalung itu. Mengalah sajalah, anak muda. Kau yang miskin dan kotor seperti ini tidak akan mampu membelinya."


"Ambil saja." Setelah berkata demikian Albert segera keluar dari toko itu dengan dongkol. Hilang sudah niatnya untuk membelikan putri kesayangannya hadiah. Daripada memperebutkan barang palsu dan mudah rusak, lebih baik dia mencari bahan berkualitas yang asli.


"Hei, anak muda! Jaga sopan santun mu!" Kesal pria tua itu pada Albert karena diacuhkan. Pria itu berhenti sejenak di depan pintu toko dan menoleh ke arah pria tua itu dengan kesal.


"Seharusnya kau yang jaga sikap, Pak Tua. Kau yang bau tanah harusnya sadar diri sebelum kematian menjemputmu." Balas Albert pedas dengan nada membunuh membuat pria tua itu geram. Pria tampan itu segera membuka pintu dan keluar meninggalkan toko itu.


Albert mengedarkan pandangannya dan tak sengaja melihat sepasang remaja yang tengah berbincang-bincang santai di sebuah cafe yang terletak di seberang jalan. Seketika radar tentang keberadaan Kirania aktif di kepalanya. Dia berdiri di trotoar dibawah lampu lalulintas menunggu lampu lalu lintas bewarna merah. Setelah menunggu beberapa pria tampan itu menyebrang jalan dan melangkahkan kakinya ke arah cafe itu. Dia memasuki cafe itu dan menghampiri mereka yang tengah berbincang serius. Sepertinya Albert melewatkan sesuatu.


"Boleh ikut bergabung?" Tanya Albert yang sontak membuat sepasang remaja itu menoleh dan mengangguk kompak.


"Kalian sudah memesan makanan?" Tanya Albert lagi.


"Belum, Pa/Yah." Jawab mereka bersamaan.


Albert memanggil pramusaji dan memesan makanan untuk dirinya dan 2 remaja itu. Pramusaji itu segera mencatat pesanan mereka dan berlalu dari sana.


"Daddy, aku ingin duduk disini." Terdengar suara manja yang sukses membuat 2 laki-laki beda usia itu merinding dan mengalihkan perhatiannya.Tak sengaja mereka melihat seorang gadis bersama seorang pria tua duduk tak jauh dari mereka. Seketika suasana hati Albert memburuk.


'Sial! Kenapa mereka kesini, sih?' Batin keduanya dongkol merasa terganggu dengan tatapan seseorang yang terasa mengerikan.


Kirania heran saat melihat ekspresi kakak dan ayahnya yang terlihat seperti ingin membakar sesuatu. Dia segera mengedarkan pandangannya dan melihat seorang pria tua dengan seorang gadis menatap mereka dengan intens. Lebih tepatnya tatapan lapar gadis itu ke arah ayah dan kakaknya dan tatapan tak suka saat pandangan gadis itu mengarah ke arahnya.


Tak berapa lama pramusaji itu datang membawa pesanan mereka dan mulai makan. Masakan di cafe itu benar-benar memanjakan lidah.


Suara Ganymede tiba-tiba bergema dikepalanya membuat kepala Kirania berdengung.


"Sepertinya gadis itu merencanakan sesuatu. Berhati-hatilah dengannya."


"Tentu saja. Kita akan mengerjainya habis-habisan sampai dia sadar diri. Lihatlah tatapan menjijikkan yang diarahkan ke ayah dan kakakku. Aku ingin sekali mencongkel matanya." Ucap Kirania sembari menelan makanannya.


"Oho! Bahkan seleranya sangat pa~yah. Lihatlah pria yang bau tanah itu. Dia juga menatapmu dengan mata yang nyaris melompat." Kicau Ganymede membuat Kirania menatap ke arah mereka sekilas lalu kembali fokus pada makanannya.


"Ku harap matanya copot dan menjadi hiasan makananku." Balas Kirania yang sukses membuat Ganymede terkekeh.


Kirania memanggil seorang pramusaji dan memesan kembali makanannya dalam porsi jumbo yang sukses membuat sang ayah dan kakaknya menatap gadis itu dengan horor.


"Kau selalu makan banyak tapi hanya dadamu yang tumbuh dengan pesat, sementara tubuhmu sangat pendek. Aku heran kemana larinya sisa sari makananmu itu." Sindir Ellios membuat Kirania kesal.


"Aku masa pertumbuhan, Kak. Masa pertumbuhan!" Seru Kirania jengkel.


"Yang mengalami pertumbuhan itu hanyalah bagian dadamu. Sementara tubuhmu tidak berkembang, tuh." Balas Ellios santai sambil menyuap makanannya.


"Sudahlah, kalian berdua." Lerai Albert sambil menghembuskan nafasnya lelah. Ayolah dia ingin makan dengan tenang mengingat suasana hatinya memburuk hari ini.


Kirania mengembungkan pipinya kesal. Tak berapa lama pesanannya datang dan dengan sadis gadis itu melampiaskan rasa kesalnya pada makanannya.