
Ellios dan Kirania telah tiba di depan gedung berlantai 3 yang bediri gagah dibalik gerbang setinggi 2 meter, tak lain merupakan sebuah sekolah menengah pertama. Terlihat banyak siswa berlalu lalang memasuki area sekolah. Ada yang diantar sopir pribadi, ada juga yang naik angkutan umum. Bahkan beberapa ada yang berjalan kaki. Tiba-tiba terdengar suara teriakan perempuan membuat mereka mendengus kesal begitu mereka melangkahkan kakinya ke pintu gerbang sekolah karena menjadi pusat perhatian.
"Kiraannn!! Tunggu akuu!!" Seru seorang gadis berusia 13 tahun sambil berlari menghampiri nya membuat sepasang remaja berbeda gender dan rambut itu menoleh ke asal suara dengan malas.
"Ran, aku duluan, ya." Ellios segera memasuki gerbang sekolah meninggalkan Kirania di depan gerbang.
"Iya, Kak." Sahutnya singkat sembari menunggu seorang gadis cantik berambut hitam sebahu yang kini tengah mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Kau terlihat akrab dengan pemuda berambut merah tadi. Siapa dia? Apa dia pacarmu?" Tanya nya penasaran.
"Dia kakakku." Sahutnya singkat seraya melangkahkan kakinya menuju area sekolah disusul dengan gadis itu.
"Hee~ Dia kakakmu? Tidak mungkin!" Serunya tak terima membuat Kirania mengernyitkan dahinya. "Mana mungkin kau yang berpenampilan seperti ini memiliki kakak setampan itu." Cibirnya mengingat penampilan Kirania yang terlihat culun. Kacamata setebal pantat badak dan rambut pendek cepak ala laki-laki bewarna hitam. Tidak terlihat mirip dengan Ellios sama sekali.
Kirania menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Apa pedulimu. Kau itu tidak tau apa-apa tentangku." Ucapnya tajam lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas mengabaikan gadis itu. Seketika kepala gadis itu berdengung dengan suara Ganymede berkicau memenuhi kepalanya.
"Lihatlah burung beo itu yang tak henti-hentinya mengikuti mu. Kenapa kau mau berteman dengan gadis berisik seperti itu?"
"Siapa juga yang mau berteman dengannya. Menurut pengamatan ku, dia itu berbakat menghancurkan sebuah hubungan. Apalagi dia memiliki maksud tertentu denganku." Ucap Kirania melalui telepati membuat Ganymede mendengus geli.
"Sebaiknya kau berhati-hati saja dengannya." Nasihat Ganymede membuat sudut bibir Kirania sedikit terangkat.
"Tentu saja. Terimakasih sudah memperingatkan ku."
"Tentu saja. Aku ingin yang terbaik untukmu. Kau sudah terlalu lama menderita, Ran." Jawab Ganymede lalu memutuskan kontak dengan gadis itu.
"Tapi aku ini sahabatmu. Aku tau banyak tentangmu, Kiran." Ucap gadis itu tak terima dengan nada naik satu oktaf membuyarkan lamun Kirania. Sontak semua siswa menghentikan langkah mereka dan menatap kearahnya dengan tatapan penuh tanya membuat Kirania menahan emosi.
"Oh, ya? Benarkah?" Tanya Kirania dengan nada meremehkan membuat gadis itu terdiam. Kini perdebatan mereka menjadi pusat perhatian karena saat ini mereka berada dilorong kelas.
"Jika kau memang sahabat ku, seharusnya kau tau batasanmu, Aqueera." Kata Kirania dengan nada dingin dan meninggalkan gadis itu membuat Aqueera diam-diam mengepalkan tangannya menahan emosi.
⚛️⚛️⚛️
Ellios memperhatikan adik angkatnya yang tengah berdebat dengan seorang gadis cantik berambut hitam. Seulas senyum terpatri diwajahnya saat melihat Kirania berhasil membuat gadis itu bungkam.
"Sepertinya kau mengkhawatirkan adik angkatmu. Kenapa kau begitu peduli dengannya yang tidak ada ikatan darah?" Sebuah suara laki-laki bergema dikepala Ellios.
"Aku hanya ingin memiliki seorang adik perempuan. Apalagi sewaktu kecil dia sudah terlalu menderita membuatku ingin melindunginya." Jawab Ellios melalui fikirannya.
"Jawaban yang menarik. Apa karena pria yang kau anggap sebagai ayah itu?" Tanya suara itu lagi.
"Tidak. Bukan karena paman Albert. Tapi karena keinginanku sendiri."
"Begitu. Sebaiknya kau jangan memperlihatkan kepedulian mu dengan mencolok. Khawatir dia menjadi sasaran pembullyan karena penampilannya itu." Suara itu memperingati.
"Aku tau. Terimakasih telah mengingatkan ku, Aulolis." Lalu Ellios segera menuju kelasnya.
Kirania dan Ellios bersekolah di sebuah sekolah negeri kota X yang terletak tak jauh dari apartmen mereka. Hanya memerlukan waktu 20 menit berjalan kaki dengan melewati sebuah persimpangan besar yang terletak di pinggir kota.
Sekolah negeri ini merupakan salah satu sekolah elite yang terkenal dengan pendidikan yang mumpuni dan biaya yang terjangkau. Fasilitas sekolahnya pun lengkap dan modern, tidak kalah dengan sekolah lainnya.
Dan siswa yang terpilih disekolah ini akan mendapatkan promosi dari sebuah SMA yang bergengsi, dimana sekolah itu dibiayai oleh pemerintah hingga tamat.
Tentu saja mereka berdua berhasil masuk kesekolah ini berkat kecerdasan mereka yang diatas rata-rata tanpa campur tangan Albert dan Joshua yang sukses membuat 2 pria dewasa itu bungkam seketika.
⚛️⚛️⚛️
Albert tiba di sebuah perumahan yang terletak di distrik F kota X dengan waktu tempuh hanya 3 jam dengan kecepatan 100km/jam. Dia memarkirkan motornya dan membuka helm full face yang menutupi wajahnya membuat beberapa wanita yang lewat sana menatapnya dengan wajah merona.
Albert mengabaikan tatapan memuja yang ditujukan padanya dan segera mencari sebuah rumah berlantai 2 yang berdekatan dengan hutan dan landscape yang indah. Dia berencana membuka sebuah cafe dan memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja. Walaupun uang hasil penjarahan yang diberikan oleh Joshua beberapa waktu lalu cukup untuk menghidupi dirinya dan 2 remaja itu selama beberapa tahun, namun dia tidak ingin bergantung dengan uang itu.
Setelah mencari selama beberapa lama, akhirnya Albert menemukan sebuah rumah berlantai 2 yang hendak dijual oleh pemiliknya,terlihat sebuah selebaran yang tertempel di gerbang rumah itu menunjukkan rumah itu memang ingin dijual oleh pemiliknya.
Albert menghubungi nomor yang tertera pada selembaran yang tertempel didepan gerbang itu dan berbicara dengan pemilik nomor itu. Tak berapa lama datanglah seorang pria paruh baya berusia akhir tiga puluhan menghampiri Albert.
"Saya pemilik rumah ini, Nak." Jawab pria paruh baya itu sembari menghampiri Albert yang berada di depan gerbang rumahnya dengan tergopoh-gopoh. "Apa Anda ingin membeli rumah saya ini?" Tanya nya penuh harap.
"Saya ingin melihat-lihat rumah ini, apa boleh Tuan?"
"Tentu, Nak. Mari silahkan masuk." Pria paruh baya itu membuka gerbang itu dan mengajak Albert memasuki rumah itu. Mereka berdua mengelilingi untuk melihat-lihat dan memastikan rumah ini aman dari penyusup yang mengganggu nya akhir-akhir ini.
"Kenapa Anda ingin menjual rumah ini, Tuan?" Tanya Albet penasaran. Dia memang membutuhkan sebuah rumah, namun dia ingin tau alasan pria paruh baya itu.
"Rumah ini penuh kenangan dari istriku. Karena kesalahanku, dia pergi meninggalkanku untuk selamanya." Jawab pria itu sambil menerawang membuat Albert diam mendengarkan cerita pria paruh baya itu.
"Aku akan membeli rumah ini. Boleh lihat dulu sertifikat atau surat rumah ini?"
"Tentu Nak." Lalu pria paruh baya itu segera mengambil sertifikat dan kunci rumah itu lalu menyerahkan pada Albert. Albert memeriksa surat itu lalu mengangguk.
"Aku membayar rumah ini, Tuan. Tolong urus surat kepemilikan ini dengan namaku. Aku ingin lusa surat kepemilikan ini sudah ada di tanganku." Ucap Albert dengan nada mengintimidasi lalu menyerahkan kartu nama miliknya.
"Baik, Nak. Secepatnya akan aku selesaikan." Ucap pria paruh baya itu. Albert lalu mengambil sebuah cek dan menuliskan nominal yang tertera disana dan menyerahkannya pada pria paruh baya itu yang menerimanya dengan tangan bergetar.
Pria paruh baya itu mengucapakan terimakasih berkali-kali lalu segera meninggalkan Albert seorang diri. Pria tampan bak dewa itu menatap bangunan yang kini menjadi miliknya sembari mengingat percakapannya dengan 2 remaja yang kini menjadi anaknya.
Flashback.
"Pa, akhir-akhir ini banyak penyusup yang masuk ke apartemen malam-malam dan itu mengganggu tidurku." Adu Kirania sembari memakan makan malamnya dengan lesu.
"Apa Paman memiliki masalah dengan mereka?" Tanya Ellios penuh selidik.
"Tidak ada. Aku tidak memiliki masalah dengan siapapun." Jawabnya tenang.
"Apa mungkin karena pekerjaan mu?" Yang dimaksud oleh Ellios adalah pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran.
"Tidak. Aku tidak pernah memperlihatkan identitas apalagi wajahku pada orang lain."
"Bukannya Papa seorang pembunuh bayaran?" Celetuk Kirania yang sukses membuat 2 laki-laki itu menoleh kearahnya dengan tatapan curiga.
"Lalu?" Tanya Albert penasaran. Dia ingin tau apa yang akan diucapkan oleh anak mulut cabe ini.
"Bayaranmu seharusnya lebih tinggi daripada pendapatan seorang bartender. Kenapa tidak sekalian saja kau gunakan untuk membeli sebuah rumah yang jauh dari hiruk-pikuk menyebalkan ini? Apalagi Papa juga berhasil mebobol keuangan 2 keluarga itu. Harusnya itu cukup untuk beli rumah baru dan buka usaha, kan? Ga mungkin Papa bangkrut hanya membeli sebuah rumah." Sahutnya enteng membuat 2 laki-laki itu melongo kaget.
"Hah?!"