The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 14: Mendapat Serangan



Seorang pria berwajah tampan memandang pemandangan kota malam dengan tatapan datar sambil memegang segelas wine. Di belakangnya berdiri seorang pemuda tampan berusia 19 tahun dengan sebuah kalung anjing melilit lehernya yang kini menunduk hormat kearah pria itu.


"Informasi apa yang telah kau dapatkan?" Tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Beberapa hari belakangan ini banyak perusahaan besar menjanjikan kesejahteraan penduduk. Sementara beberapa oknum mulai mengadakan kampanye." Jelas pemuda itu.


"Heh, rupanya mereka tidak sabaran juga. Kita akan merayakannya saat kampanye nanti." Ucapnya acuh dan berbalik menatap pemuda itu dengan dingin.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya undur diri." Pemuda itu segera berlalu dari sana meninggalkan pria itu seorang diri.


Tak lama kemudian seorang wanita cantik dengan pakaian seksi datang menghampiri pria itu dengan cemberut.


"Kenapa wajahmu cemberut begitu, hmm?" Tanya pria itu dengan nada lembut.


"Aku bertemu dengan si pecundang itu. Kau tau dia menghinaku yang berarti dia menghinamu juga." Adunya sambil bergelayut manja di lengan pria itu.


"Kau selalu saja mencari masalah dengan orang-orang. Apa kau tidak bosan?" Gerutu pria itu dengan kesal. Entah sudah berapa kali wanita itu mencari masalah dengan orang-orang dengan ekonomi rendah karena alasan sepele.


"Mereka saja yang suka mencari masalah denganku. Kau tidak menyayangiku lagi?" Rengeknya manja membuat pria itu menghela nafas lelah dengan kelakuan wanitanya.


"Baiklah. Aku ingin anak buahku menyelidikinya dulu sebelum aku sendiri yang turun tangan." Ucap pria itu sambil mencumbu wanita itu.


♦♦♦


Di sebuah atap gedung terlihat dua pria dengan pakaian gelap tengah mengawasi sebuah kamar hotel. Seorang pria dengan menggunakan topeng naga yang menutup hampir separuh wajahnya tengah memperhatikan sesuatu dari teleskopnya.


"Bagaimana?" Tanya pria itu menatap rekannya yang menggunakan topeng burung. Terlihat pria bertopeng burung yang menutupi hampir separuh wajahnya itu sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.


"Situasi aman. Target memasuki ruangan." Ucap pria bertopeng burung itu dengan seringai tercetak diwajahnya.


Pria bertopeng naga itu tersenyum tipis dan kembali sibuk dengan teleskopnya mengamati target mereka. Lalu pria itu mengeluarkan sebuah senapan laras panjang dan memasang peredam. Setelah itu dia menarik pelatuk senapannya dan menembak targetnya.


'DOR'


'DOR'


Terlihat dua pria paruh baya di kamar sebuah hotel ambruk seketika.


"Misi selesai." Ucap pria bertopeng naga sambil melepas peredam dan mengemasi peralatannya.


"Akhirnya aku bisa tidur malam ini." Ucap pria bertopeng burung itu sambil meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku.


Mereka segera meninggalkan tempat itu dengan teleportasi, meninggalkan percikan api dan serpihan es di sebuah atap gedung.


♦♦


Kirania terlihat sibuk memilih sebuah kaset DVD milik sang papa sementara Ellios tengah rebahan di sofa ruang keluarga selepas kepergian dua pria dewasa beberapa saat yang lalu.


"Kak, kita nonton film ini, ya?" Pintanya dengan pandangan berbinar, sebelah tangannya memegang sebuah kaset DVD film action.


Ellios yang tengah kebosanan menatap kaset DVD yang dipegang oleh Kirania. Entah mengapa adik angkatnya sangat menyukai film action sejak kecil.


"Baiklah. Yang penting filmnya tidak membosankan." Jawabnya santai sambil mmengambil kaset DVD yang berada ditangan Kirania dan memasukannya kedalam DVD.


'Tok.. Tok.. Tok..'


Saat keduanya tengah asik menonton, tiba-tiba terdenganr suara ketukan pintu membuat mereka menoleh kearah pintu. Mungkin Albert pulang fikirnya mengingat sekarang malam telah larut.


"Ini apartemen papa. Tidak mungkin kan papa pulang ketok pintu rumah sendiri." Ucap Kirania sedikit curiga.


"Tentu saja mengingat saat ini sudah hampir tengah malam. Aku akan membuka pintu, kau tunggu disini saja." Balas Ellios sambil bergegas menuju pintu.


'Tok tok tok'


Ellios tanpa menaruh curiga berjalan menuju pintu dan membukanya, namun alangkah kagetnya pemuda berusia empat belas tahun iu saat melihat beberapa orang berpakaian hitam menodongkan senjata mereka ke arahnya membuat pemuda itu mengeluarkan keringat dingin. Terlihat wajah mereka ditutupi dengan topeng polos seutuhnya.


'Brugh'


Ellios meringis kesakitan sambil berusaha berdiri. Melihat hal itu Kirania segera menghampiri sang kakak dan menatap orang-orang itu dengan pandangan bingung. Apalagi salah satu di antara mereka mulai mengobrak-abrik seisi apartemen papanya.


"Kalian siapa dan mau apa?" Tanya Kirania sedikit ketakutan. Ellios menyembunyikan gadis itu dibelakang tubuhnya.


Salah satu diantara mereka menodongkan senjatanya dan berkata dengan dingin, "Jika ingin selamat, jawab pertanyaan ku. Dimana Gilbert Antonio?"


Kerutan muncul di dahi kedua bocah itu membuat orang bertopeng itu emosi dan hendak melayangkan senjatanya untuk memukul dua anak-anak itu. Salah satu rekannya menghentikannya.


"Jangan sakiti mereka. Jika si pecundang itu tidak ada disini, kita bisa menjual mereka dengan harga tinggi." Ucapnya dengan nada mengejek.


"Aku setuju, apalagi ada dua bocah berparas lumayan. Kita bisa dapat bonus." Ucap yang lainnya membuat pria yang hendak memukul nya mendecih dan menurunkan senjatanya.


"Apa yang kalian lakukan di apartemen ku?" Ucap seorang pria dengan nada dingin membuat mereka menoleh keasal suara itu.


Terlihat seorang pria tampan dengan bekas luka diwajahnya, berambut hitam dengan beberapa helai biru menatap tajam sejumlah orang yang tengah mengelilingi dua anaknya membuat Albert emosi. Mata biru gelapnya menatap tajam sekumpulan orang bertopeng itu.


Sejak beberapa waktu lalu kota X mengalami permasalahan dalam pemerintahan maupun ekonomi. Dimana banyak pengusaha kaya berlomba-lomba membesarkan industri mereka di kota X, pemerintah yang hanya menebarkan janji dan hukum yang tumpul membuat kota ini amburadul.


Akibatnya banyak penjahat dari luar kota melarikan diri dan bersembunyi di kota X, membuat warganya cemas mengingat hukum di kota ini begitu tumpul. Bahkan beberapa pemuda pemudi diculik dan dijadikan budak oleh mereka yang berkuasa.


"Ikut dengan kami, maka anak-anak ini akan selamat." Ucap salah satu pria bertopeng polos itu sambil melayangkan tendangan kearah Ellios, membuat bocah itu meringkuk menahan sakit.


Albert memasuki apartemen nya dengan tenang membuat sekumpulan penyusup itu tertawa mengejek. "Pria rendahan sepertimu memang pantas mendapatkan sebutan pecundang. Entah mengapa nona kami begitu menginginkan pria sampah ini."


'Sring'


'Brukh'


Salah satu pria bertopeng polos yang berada didekat dua anak yang sebentar lagi beranjak remaja itu ambruk dengan luka tebasan yang dalam di bagian vitalnya membuat orang itu mati seketika. Sementara rekannya menatap Albert yang santai mengibaskan samurainya dengan pandangan membunuh.


"Kurang ajar!! Habisi dia!!" Seru pria bertopeng polos itu dan menghujaninya dengan tembakan. Seketika baku tembak terjadi di apartemen miliknya.


Sebuah simbol aneh muncul di tubuh Albert saat beberapa peluru berjarak beberapa inchi dari tubuhnya dan membuat peluru itu terpental membuat orang-orang itu panik.


"Tidak mungkin." Kata salah satu mereka dengan tatapan tak percaya.


"Tembak saja dia!" Perintah sang ketua dengan emosi.


Suara desingan peluru kembali bergema diunit apartemen miliknya. Albert dengan santai berdiri menjadi tameng untuk dua bocah yang berada dibelakangnya.


"Papa..." Cicit Kirania ketakutan dipelukan Ellios membuat Albert menoleh kepada dua anak yang sebentar lagi beranjak dewasa dengan senyum tipis yang terukir diwajah dewanya.


Beberapa selongsong peluru berjatuhan dengan suara gemerincing yang nyaring membuat mereka menghentikan tembakannya.


"Hei, hei, apa kalian tidak bisa menembak dengan benar?" Ucap Albert santai dengan memasang wajah mengejek membuat mereka berang.


"Sudah selesai? Kalau begitu sekarang giliranku." Dengan cepat Albert meluncur dan menebas beberapa penyusup itu membuat dua orang yang tersisa gemetar ketakutan.


"S–siapa kau?" Tanya salah satu pria bertopeng polos itu dengan nada gemeter sebelum ambruk akibat sebuah pukulan mendarat dengan telah ditengkuk dua pria itu.


"Semut ini merepotkan sekali." Keluh Albert lalu dia teringat dengan dua anak yang berada dibelakangnya. Pria itu berbalik dan menatap dua anak itu dengan tatapan cemas.


"Kalian baik-baik saja?"


Mereka mengangguk kompak lalu memeluk pria itu dengan erat.


"Apa paman baik-baik saja?" Tanya Ellios dengan cemas sambil melepaskan pelukannya.


"Aku tidak apa. Kalian jangan khawatir. Ini sudah menjadi hal biasa untukku." Jawabnya santai membuat Kirania yang betah memeluk papanya mengendurkan pelukannya dan menatap Albert dengan pandangan bertanya.