
Ellios melewati lorong kelas dan berjalan menuju atap di ikuti Antares yang sibuk berceloteh di sebelahnya. Namun langkah pemuda berambut cokelat itu seketika berhenti tatkala mendengar suara aneh yang berasal dari toilet.
"Hei, Elli. Apa kau mendengar suara itu?" Tanyanya penasaran.
Ellios yang ikut berhenti dan mendengar suara itupun hanya acuh dan meneruskan perjalanannya menuju atap. Perutnya yang lapar lebih penting daripada suara aneh itu.
"Mungkin ada anjing yang sedang kawin. Sudahlah, abaikan saja." Balas Ellios cuek.
"Astaga, aku jadi mual." Keluh Antares.
"Kau bisa muntah disana." Balas Ellios santai sambil menunjuk ke sebuah tempat sampah yang berhasil membuat pemuda berambut cokelat itu geram. Sungguh dia tak mengerti kenapa pemuda berambut merah itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara desaha*n yang sering terdengar dimanapun mereka lewat.
Ellios sendiri sudah biasa mendengar dan melihat adegan itu secara langsung karena 2 pria gila nan sinting yang notabene ayah dan paman angkatnya sering sekali membawa dirinya ke tempat laknat untuk menyelesaikan misi, bahkan menyamar demi mendapatkan informasi apabila pemuda bersurai merah itu melakukan hal yang membuat mereka marah.
Lebih baik jangan membuat pria sinting yang gila itu marah atau kewarasanmu terganggu, begitu fikirnya. Ellios sendiri heran dengan 2 pria dewasa yang selalu bersamanya itu. Apalagi jika menyangkut Kirania, gadis yang menjadi adik angkat yang paling disayanginya, mereka berdua akan menjadi buas jika seseorang tak sengaja menatap gadis itu lebih dari lima detik. Bahkan mereka akan mengirimmu ke rumah sakit jika menatap Kirania dengan tatapan lapar atau merayunya.
Di kota tanpa hukum ini, penjarahan, penculikan, pembunuhan bahkan pelecehan sudah biasa terjadi. Bahkan beberapa anak remaja biasa menjadi alat transaksi demi keselamatan dan keuntungan mereka sendiri.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Aaron tersenyum sinis saat melihat Derrick datang sambil membawa sebuah dokumen kerjasama yang tentu saja saling menguntungkan.
Pria paruh baya itu mendapat keuntungan berupa perlindungan dari anak buah Aaron, sementara Aaron mendapatkan suntikan dana yang cukup banyak untuk bisnisnya.
"Senang bekerjasama dengan Anda, Tuan Aaron." Ucap Derrick sambil mengulurkan tangannya. Aaron membalas ukuran tangan itu dan mereka bersalaman sambil tersenyum tipis. Harapan untuk menjadi pebisnis berkuasa di kota X akan segera terwujud.
Semenjak dana keuangan mereka dibobol 3 tahun lalu, perusahaan Anderson dan Brawijaya mengalami keterpurukan selama 5 bulan. Damian yang frustasi menjual perusahaannya dan fokus dalam penelitian gilanya.
Sementara Derrick menjual berbagai tas, aksesoris serta sepatu branded milik Helena, membuat mereka bertengkar hebat dan berakhir dengan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh wanita itu. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi renggang dan seperti orang asing.
Kematian anak yang disiksa itu membuat hubungan keluarga mereka merenggang. Abimayu yang mulai bersikap kasar, Emillia yang akhir-akhir ini mulai suka keluar malam dan istrinya juga lebih sering mencari berondong. Begitu pula dengan dirinya yang lebih suka ke bar atau club malam untuk mencari hiburan.
Hingga beberapa bulan lalu Derrick bercerai dengan Helena. Pria itu memutuskan tinggal di kota X bersama Emillia dan membangun perusahaan di kota tanpa hukum ini.
Berkat hasil kerja kerasnya, dia berhasil bersaing dengan beberapa pebisnis diktota ini dan menjadi perusahaan nomor 1 di kota X, disusul dengan Athena Corp yang berpusat di distrik F.
Derrick tidak tau jika keputusannya untuk tinggal di kota ini akan membawanya pada sebuah penyesalan yang mendalam.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Albert dan Joshua membawa Kirania ke sebuah ruangan remang-remang yang terletak di bawah tanah. Mereka memasuki ruangan itu dan menutup pintu.
'Blam'
"Ini pemeriksaan terakhirmu, Kiran. Kau siap?" Ucap Albert lembut.
"Baiklah, kita mulai saja. Buka pakaianmu." Ucap Albert tegas.
Kirania menurut, gadis itu membuka semua pakaiannya di depan 2 pria dewasa itu hingga dirinya telanjang bulat. Sementara 2 pria itu menatap datar Kirania dengan mata yang bersinar. Albert dengan mata merah menyala dan Joshua dengan mata kuning ke emasan yang menatap gadis itu melepas pakaiannya. Setelah selesai Kirania meletakkan pakaiannya dan berdiri tegak menghadap ke arah 2 pria dewasa itu dengan tatapan datar.
"Lakukan kuda-kuda satu." Perintah Albert.
Kirania segera melakukan beberapa peregangan. Dia meluruskan punggung dan lengan serta kakinya. Joshua mendekati Kirania lalu menekan lengan, punggung dan meraba paha gadis itu lalu dia mundur menjauhi keponakannya.
Dua pria itu melihat aliran darah, struktur otot, detak jantung, suhu tubuh dan organ dalam Kirania. Mata 2 pria itu sangat istimewa karena dapat menembus objek yang dilihatnya sejauh 1 kilometer. Itulah keunggulan Mata dari tatto Ksatria Perunggu Pelindung Athena, yang mana tatto mereka adalah hewan buas mitologi yang sangat kuat.
"Kuda-kuda 2!" Perintah Albert kembali terdengar dengan nada tegas. Kirania kembali melakukan beberapa gerakan dan Joshua kembali memeriksa tubuh polos keponakannya. Tidak ada ekspresi apapun di wajah kedua pria dewasa itu selain memandang gadis remaja itu dengan serius.
"Sekarang pakai pakaianmu." Perintah Albert tegas setelah melakukan beberapa pemeriksaan. Segera Kirania membalikkan tubuhnya dan memakai pakaiannya kembali.
"Bagaimana?" Tanya Albert menatap Joshua, membuat pria berambut cokelat gelap itu menoleh kearahnya.
"Susunan kerangka dan ototnya bagus. Tubuhnya berkembang dengan pesat sesuai usianya. Tidak ada kelainan di dalam tubuh Kirania, bahkan luka dan cedera semasa kecilnya tidak menghambat perkembangan tubuhnya dan tidak membuat reaksi tubuhnya trauma. Hanya di saraf tertentu saja membuat traumanya muncul." Jelas Joshua yang di dengar oleh Kirania dan Albert. Mata kedua pria itu kembali normal seperti semula dan menatap gadis remaja yang sibuk memakai pakaiannya dengan penyesalan.
"Meskipun luka fisiknya telah sembuh dan tidak membekas, luka mental dan ingatan tidak bisa di sembuhkan atau dihilangkan." Jelas Joshua. Mereka berdua segera membalikkan badan memunggungi gadis itu yang sibuk memakai pakaiannya.
Kirania berlari menerjang Albert dan melayangkan beberapa pukulan dan tendangan, namun dengan gesit pria itu menangkis dan berhasil mengunci tubuh Kirania dengan mudah, membuat gadis itu mengerang kesakitan.
"Seranganmu cukup bagus. Namun suara langkahmu masih terdengar di telingaku. Jika kau ingin menyerang, gunakan serangan kejutan yang mematikan." Ucap Albert dan melepaskan kunciannya.
"Baik, Pa."
Kirania, meskipun dirinya berusia 15 tahun, namun jiwanya telah berusia 28 tahun karena pernah berada di ruang jiwa selama 13 tahun. Ganymede bahkan pernah memberikan gadis itu ilusi kehidupan ekstrim beberapa kali hingga membuatnya merasa lahir kembali dan menjadikannya lebih dewasa dari usianya.
"Bersikaplah seperti remaja pada umumnya, Kiran. Kau bersama kami, jadi kau bebas bertingkah sesuai usiamu." Ucap Joshua sedih karena sejak terbangun dari komanya, Kirania tampak berubah.
Albert menepuk punggung putri nya pelan dan berkata dengan hangat, "Kau terlalu dewasa di usiamu yang sekarang, Kiran. Kau tidak harus bertingkah dewasa bersama kami."
Albert sedih karena putri kesayangannya sangat takut meminta sesuatu, meskipun itu uang jajan atau sekedar jalan-jalan. Bahkan Kirania sering menatapnya curiga jika memberikannya hadiah. Mungkin perlakuan keluarganya yang dulu membuat Kirania memendam kesedihan dan kekecewaan yang luar biasa, sehingga sangat jarang mengeluarkan isi hatinya.
Kirania hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka dan menatap wajah tampan mereka yang berselimut kecemasan dan rasa bersalah membuat Kirania menggenggam tangan paman dan ayahnya dan berkata dengan riang, "Aku baik-baik saja, Papa, Paman. Jangan khawatir."
Mereka segera meninggalkan ruangan bawah tanah itu sambil berpegangan tangan lalu menghilang dengan percikan api dan es. Mereka bertiga muncul di sebuah jalanan yang sepi. Joshua dan Albert menatap punggung gadis itu dengan sejuta penyesalan karena masa kecil Kirania yang begitu menyedihkan dan mereka tidak bisa menolongnya lebih cepat.
"Paman, Papa bagaimana jika kita jalan-jalan?" Untuk pertama kalinya mereka mendengar Kirania mengajukan permintaan tanpa rasa takut maupun ragu-ragu membuat 2 pria itu tersenyum.
"Sesuai keinginan mu."