
"Apa?! Kiran mempermalukan mu?!" Ucap Steve geram.
"Benar. Dia juga menipuku selama ini. Padahal aku ini sahabatnya, hiks...hiks..." Aqueera mengadu pada Steve sambil mengeluarkan air mata buaya membuat pemuda itu iba kepadanya.
"Dia menipumu? Apa selama ini dia tidak menganggapmu sahabat? Dasar tidak tau diri." Maki Steve kesal lalu menatap Aqueera lembut, "Jangan khawatir, setelah kejadian ini dia pasti menyesal dan menangis memohon padamu."
"Aku tidak apa-apa, Steve." Jawabnya sesegukan sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Kau sangat baik, Aqueera. Dia beruntung mendapatkan sahabat baik seperti mu, namun sayangnya dia tidak menghargai kebaikanmu."
"Aku juga menyesal telah mau menjadi sahabat nya." Balas Aqueera dengan raut teraniaya membuat Steve menatap gadis itu sedih.
"Sudahlah. Aku akan memutuskannya sekarang juga. Pacaran dengannya membuatku muak." Ucap Steve geram membuat Aqueera tersenyum bahagia di sela-sela tangis bombay nya.
Steve mengambil ponselnya dan mencari kontak Kirania, lalu dia mengirim pesan dan memblok kontak gadis itu. Setelah itu dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Aku mencintaimu sejak lama, Aqueera. Maukah kau menjadi pacarku?" Tanya Steve sembari menatap mata gadis itu dalam-dalam.
Aqueera mengangguk bahagia sambil tersenyum manis membuat Steve berbunga-bunga seketika. Mereka berdua melupakan kekesalan pada Kirania tanpa menyadari sepasang mata menatapnya jijik.
"Lihatlah pasangan itu, Petra. Mereka itu mencari keuntungan dari sebuah hubungan. Apalagi perempuan itu tipe yang tidak setia dan terlihat mirip ulat bulu. Jangan dekat-dekat dengannya." Ucap sebuah suara di kepala Petra.
"Aku tau. Dia itu mirip ular yang berbisa. Anak dari pasangan haus uang dengan keluarga yang suka ikut campur memang menjijikkan." Balas Petra.
"Sepertinya gadis yang menjadi korbannya itu wadah si manusia es itu. Jika bertemu lagi aku tak sabar mentertawainya." Teriak suara itu membuat Petra jengkel.
"Selebrasinya nanti saja. Kau membuat kepalaku pusing." Ketus Petra jengkel dan merebahkan diri di atas pohon mangga yang rimbun.
"Aku dengar dia di skors oleh guru berkumis baplang itu. Aku ingin kesana dan mentertawakan Ganymede sepuas hatiku. Khahahaha!"
"Diam." Geram Petra sambil memejamkan matanya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Aku bertaruh jika laki-laki itu akan mengirimkan pesan pernyataan putus." Ucap Ganymede tiba-tiba membuat konsentrasi Kirania buyar.
"Pokoknya harus putus, sih. Apa kau mau sakit hati dan menjadi gila karenanya? Ingat, sakit hati itu tidak ada obatnya dan kau menyesal jika menangis karenanya." Omel Ganymede dengan nada memaksa membuat Kirania tersenyum. Jika perkataan nya benar maka dia akan bebas melakukan apapun yang diinginkannya.
"Baiklah."
Kirania tengah asik menonton anime di handphonenya sambil rebahan di dalam kamar sebelum sebuah pesan dari Steve terpampang di layar ponselnya.
"Kita putus." Begitulah bunyi pesan itu yang seketika membuat Kirania memekik bahagia.
"Akhirnya dia telah memutuskanku!! Akhirnya aku bebas!!" Teriaknya heboh yang membuat 2 pria dewasa tengah sibuk berbincang di ruang tamu mengalihkan perhatiannya.
"Sepertinya dia bahagia. Apa orang baru putus dari pacarnya memang seperti itu?" Tanya Albert sambil menyesap minumannya.
"Entahlah. Biasanya mereka akan berubah menjadi orang bodoh yang lebih bodoh dari orang bodoh." Jawab Joshua membuat Albert melirik pria berambut cokelat gelap itu.
'Krieett'
Kirania muncul ke kamarnya dengan raut wajah gembira membuat 2 pria itu mengernyitkan alisnya. Apakah kejadian tadi membuat otak gadis itu bergeser?
"Hari ini kau terlihat gembira. Apa kau baru saja punya pacar?" Goda Joshua.
"Tidak, tuh. Justru aku baru putus darinya." Ucapnya berbunga-bunga.
"Biasanya perempuan yang patah hati akan menangis berhari-hari dikamarnya dan melakukan hal lebih gila dari orang gila." Cibir Joshua yang membuat Kirania kesal.
"Jadi aku harus menangis meraung-raung lalu menghampirinya dan memohon agar dia tidak mengakhiri hubungannya denganku? Ayolah Paman, lebih baik aku pacaran dengan kalian saja kalau begitu." Balasnya santai yang sukses membuat 2 pria dewasa itu menyemburkan minumannya.
Kirania segera menuju kulkas yang terletak di dapur untuk mengambil minuman dan snack kesayangannya lalu kembali menuju kamar untuk membaca buku.
"Siapa yang berani mencampakkan mu?" Tanya Albert dengan nada membunuh begitu putrinya berjalan melewati mereka. Perkataan Albert membuat Kirania menghentikan langkahnya dan menatap sang ayah yang sepertinya ingin menghajar orang.
"Dari nada bicara Papa sepertinya kau ingin membantainya." Ucap Kirania tepat sasaran dan melanjutkan, "Namanya Steve, anak dari asisten CEO, Pa. Aku tidak menyukainya dan dia memaksaku untuk menjadi pacarnya. Karena kasihan, aku terima saja. Berkat itu aku menerima informasi yang berharga darinya." Lanjut Kirania santai tanpa beban membuat mereka sweatdrop.
Sementara itu, 2 pria dewasa saling menukar pandangan dan menghembuskan nafas secara bersamaan.
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Aku Emillia Anjelina Anderson." Ucap seorang gadis cantik dengan rambut cokelat madu. Mata cokelat itu menatap Ellios dan Antares bergantian sambil menjulurkan tangannya.
"Hn." Jawab Ellios acuh dan mengabaikan Emillia sementara Antares hanya diam dan menyambut uluran tangan gadis itu tanpa berkata apapun membuat Emillia canggung.
Ellios dan Antares mengamati jalanan yang mendadak sepi dari biasanya. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat di sore yang indah ini membuat mereka curiga.
"Maafkan tingkah mereka, Emillia. Mereka sedikit pemalu." Balas seorang perempuan dengan mengenakan pakaian dress ketat sepaha bewarna merah dengan belahan dada rendah dan heels 5 senti sembari menghampiri gadis itu.
"Apa kalian tidak memperkenalkan diri?" Tanya Xeon sambil merangkul perempuan yang selalu menempelinya, tak lain adalah Irene membuat mereka berdua jengah.
"Hei, Ell sepertinya disana ada hal yang menarik." Ucap Antares seraya menunjuk ke suatu tempat. Dia melihat sebuah sepeda yang tergeletak disana.
"Dan berakhir dengan di kejar massa? Jangan bercanda, brengsek." Ketus Ellios. Gara-gara pemuda itu dia di kejar sekumpulan preman dan berakhir membersihkan rumah semalaman.
"Bukan itu, bodoh!" Ucap Antares gemas sambil menoyor kepala merah Ellios yang langsung mendapatkan decakan kesal. "Lihat, ada orang berseragam dengan senjata api mendekati kita." Ujarnya saat melihat orang-orang berseragam berjalan mendekat kearah mereka.
"Lagi? Ayolah aku bosan berkelahi dengan mereka. Bisakah aku istirahat sebentar saja?" Keluh Ellios frustasi membuat mereka bertiga menatap mereka heran.
"Sayang, bagaimana ini. Aku takut." Rengek Irene manja membuat Antares dan Ellios merotasikan matanya malas.
"Tinggal lari aja atau kau mau berkelahi dengan mereka?" Sinis Antares kesal.
"Bisakah kalian bersikap baik dengan Irene sekali saja?!" Bentak Xeon pada 2 laki-laki itu membuat mereka kesal.
"Kalian selalu saja mengikutiku dan itu memuakkan." Balas Ellios sinis.
"Kita lari saja, Irene." Ujar Xeon lembut.
"Tapi bagaimana jika tertangkap?" Rengek Irene manja.
"Siapa mereka?" Tanya Emillia begitu melihat sekelompok orang berpakaian khusus dengan senjata api mendekati kearah mereka.
"Cepat lari!" Teriak Ellios dan berlari meninggalkan mereka. Sontak mereka berempat menyusul Ellios yang telah berlari lebih dulu dan kini mereka dikejar oleh sekumpulan orang bersenjata itu.
"Sayang tunggu aku." Teriak Irene panik dan tersandung kakinya sendiri sehingga tubuhnya jatuh terjerembab.
"Kyaaa!"
'Brukh'
Xeon menghentikan larinya dan menghampiri Irene yang meringis kesakitan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas sambil membantunya berdiri.
"Kakiku sakit sekali." Ringisnya. Sementara orang-orang berseragam itu semakin dekat dengan keberadaan mereka dan Xeon segera menggendong Irene dan berlari menyusul teman-temannya.
Emillia yang tidak biasa berlari memutuskan berhenti untuk mengatur nafasnya yang tersengal. Dia yang baru tinggal 6 bulan di kota tanpa hukum ini masih beradaptasi dengan suasana kota ini.
Sementara Ellios dan Antares berhenti dan menatap orang-orang berseragam yang berdiri di depannya sambil menodongkan senjata api. Rupanya tempat ini telah di kepung.
Mereka berdua segera memasang kuda-kuda dan saling memunggungi, mengeluarkan senjata kesayangan mereka. Ellios dengan cambuk berdurinya dan Antares dengan boomerangnya.
"Kalian tidak akan bisa kabur. Bersiaplah untuk mati!" Seru salah satu diantara mereka sambil menodongkan senjata api.
"Apa kalian yakin?" Tanya Ellios menyeringai sambil memainkan cambuk berdurinya.
"Hei, bangsat! Mari kita hajar mereka!" Seru Antares dengan semangat.
"Ya!"