
'Tiiit...' 'Tiiiit...' 'Tiiit...'
Suara pengukur detak jantung bergema nyaring di sebuah ruangan mirip ruang operasi. Terdapat berbagai tabung diatas meja dan komputer serta sebuah monitor menunjukkan anatomi tubuh seorang wanita.
Damian menatap Helena yang terbaring di brankar dalam keadaan kaki dan tangannya terikat. Terdapat sebuah selang infus tertancap di lengannya dan beberapa alat pengukur detak jantung tertempel di tubuhnya.
"Ayah, aku mohon lepaskan aku, hiks...hiks..." Pinta Helena sambil meronta-ronta mencoba membebaskan diri meski menyadari hal itu sangat mustahil.
"Kenapa kau ketakutan begitu, hmm?" Tanya Damian sambil menyeringai dan mengusap kepala Helena pelan. "Dulu kau menyiksa Ran dengan bangga dan membunuhnya. Sayang sekali formula yang aku tanam di tubuhnya gagal karena tingkah kalian itu." Sinis Damian.
Helena semakin menangis tersedu-sedu dengan penyesalan yang menyelimuti hatinya bagai hantaman ombak. Seandainya dia tidak menyiksa Ran dengan sadis hingga menyebabkan anak itu berkali-kali masuk rumah sakit dalam keadaan sekarat, mungkin anak itu akan menjadi percobaan terakhir antara hidup dan mati.
Namun jika dia tidak menyiksa Ran, maka formula yang ditanamkan oleh Damian akan menggerogoti kesadaran dan akal sehat gadis itu. Begitupun dengan remaja laki-laki yang menjadi kelinci percobaan ayahnya.
Meskipun menyesal, Helena bersyukur anak itu mati daripada menjadi kelinci percobaan yang menggerogoti akal sehatnya.
"Maafkan aku, nak. Dimanapun kau berada, ku harap kau bahagia dan siapapun tolong segera hancurkan kegilaan ini." Batinnya sambil menangis begitu melihat Damian menyuntikkan sesuatu di lengannya.
"Kau tau, Helena. Ayah sangat mencintaimu. Jadi menurutlah padaku, sebagai ganti dari anak yang kau siksa dulu." Bisik Damian di telinga Helena sambil menyeringai.
"Siapapun tolong hancurkan ilmuan gila ini." Batinnya saat merasakan tubuhnya sakit luar biasa dan kesadaran nya perlahan menghilang.
"Khukhukhu... Sebentar lagi kota ini akan menjadi milikku, hahaha!!" Tawa Damian sambil menatap tubuh Helena yang kejang-kejang dengan senyum kepuasan.
💠💠💠ðŸ’
Aretha bersama beberapa petinggi Athena Grup menatap 12 orang pemilik tatto zodiak dengan serius. Suasana hening menyelimuti ruangan ini hingga terdengar suara nafas masing-masing dengan jelas.
"Karena semuanya telah berkumpul, mari kita diskusikan rencana kita hari ini."
"Seperti yang dijelaskan kemarin, Aaron ini adalah seorang mafia dan baru-baru ini memiliki tatto Fenrir. Sekarang tatto itu sangat lemah dan kekuatan tatto itu belum bangkit sepenuhnya." Ren menjelaskan.
"Karena kalian pemilik tatto zodiak, sudah pasti kalian telah berlatih bersama dewa tatto kalian dan kalian bisa mengendalikan kekuatan tatto itu tanpa kehilangan kesadaran. Jadi menyingkirkan mereka akan lebih mudah." Jelas Roy panjang lebar.
Mereka semua diam menyimak penjelasan Roy, apa yang dikatakan pria berambut jingga itu memang benar jika mereka sering berlatih dan berkomunikasi dengan dewa tatto.
"Bagaimana jika kita menghabisi beberapa pendukung mafia itu. Bukankah mereka memanfaatkan situasi ini untuk membuat kekacauan?" Usul Ivanna yang membuat mereka semua menoleh ke arah pemuda itu.
"Kau Ivanna, mantan budak Aaron kan. Jelaskan maksud mu!" Perintah Albert tegas.
"Sebelumnya aku pernah bekerja di tempat terkutuk itu dan aku nyaris kehilangan nyawa di tangannya. Dia sudah merencanakan penyerangan ini 3 tahun lalu dan memanfaatkan beberapa pengusaha dan politisi yang memanfaatkan dukungannya agar bisa menjadi pemimpin kota ini. Jika perkiraanku benar, dia akan membunuh beberapa orang penting dan memusnahkan sebagian penduduk kota ini." Jelas Ivanna panjang lebar yang membuat petinggi Athena Grup terdiam. Apa yang dikatakan pemuda itu benar, banyak kemungkinan yang terjadi jika Aaron memimpin kota ini.
"Baiklah. Kita akan menyingkirkan beberapa pendukungnya." Putus Aretha dan mengambil sebuah berkas lalu menyerahkan pada Albert yang langsung diterima oleh pria itu.
"Aku memberikan tugas untuk mu, Albert. Seperti biasa, bereskan hingga ke akarnya."
"Akan saya kerjakan, Nona."
"Kau akan pergi sendiri?" Tanya Joshua dengan tatapan memohon yang sukses membuat Albert mual.
"Tidak. Aku akan pergi dengan Kirania dan Ellios. Ah, sepertinya bocah berambut biru juga boleh." Jawabnya santai sambil menunjuk kearah Petra membuat Joshua memayunkan bibirnya.
"Kalian bertiga ikut aku." Perintah Albert yang langsung dituruti oleh mereka dan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan beberapa orang yang sibuk berbicara dengan tattonya masing-masing.
"Kau bocah yang waktu ini, kan?" Tanya Albert begitu tiba di ruangan miliknya. Dia menatap Petra yang duduk di sebelah Kirania lekat-lekat seperti predator yang hendak menerkam mangsa.
"Hahaha! Rasakan itu, Merman sialan!" Umpat Ganymede melalui pikiran Kirania. Dia ingat beberapa waktu lalu pernah berpapasan dengan Petra, namun suara sang tatto pisces membuatnya emosi dan menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam. Dan sekarang dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menertawakannya.
"Kalian baca berkas ini. Malam nanti kita pergi." Perintah Albert sambil menyerahkan berkas itu.
💠💠💠ðŸ’
Malam ini kota X terlihat gelap gulita, kecuali beberapa bangunan yang terlihat lampu-lampu yang masih menyala.
Sang rembulan tidak menampakkan cahayanya, begitu juga dengan bintang-bintang yang sepertinya bersembunyi di balik gelapnya sang awan.
Malam ini tampak begitu mencekam dengan suara desingan peluru di susul ledakan kecil menggema di beberapa titik kota X. Para warga lebih memilih mengungsi di tempat aman daripada tinggal di rumah mereka.
Di sebuah gedung tinggi yang gelap, terlihat 4 siluet tubuh berdiri sambil membawa senjata andalannya masing-masing.
"Hei, Tua Bangka. Kau sudah memonopoli adikku selama ini. Jadi biarkan aku menjalankan misi bersama adikku." Ucap Ellios dengan pongah.
"Begitukah caramu membalas budi pada orang yang merawatmu? Sepertinya sia-sia saja aku merawat dan membesarkan mu." Balas Albert sinis.
"Haahh~ Mereka mulai lagi." Gerutu Kirania saat melihat kakak dan ayahnya mulai bertengkar di hadapannya. Pemandangan biasa yang membuat gadis itu jengah. Baik ayah maupun kakaknya tidak mau mengalah jika menyangkut tentang dirinya. Bahkan sang paman pun sering ikut bergabung jika mereka mulai adu mulut.
"Sebagai seorang kakak, sudah sepantasnya aku melindungi adikku." Sengit Ellios.
"Justru sebagai seorang ayah, aku yang pantas melindungi anakku. Ingat bocah, kau itu masih lemah." Ejek Albert membuat pemuda berambut merah itu tersulut emosi. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam dengan cahaya listrik imajiner yang keluar dari kedua mata mereka dengan meletup letup yang menghanguskan apapun. Sementara Petra yang melihat hal itu hanya bisa cengo dan menatap Kirania dengan tatapan bertanya.
"Apa mereka selalu seperti ini?" Tanya Petra dengan berbisik.
"Abaikan saja." Balas Kirania malas dengan berbisik sambil menonton perdebatan tak bermutu itu. Petra hanya mangut-mangut sambil memasang pose berfikir.
"Apa katamu?!"
"Sudahlah kalian berdua. Aku akan pergi bersama Petra." Balas Kirania sambil menyeret Petra yang kini mendadak kaku saat melihat tatapan 2 pria itu kearahnya yang seakan ingin memutilasi nya hidup-hidup.
"Kau masih terlalu dini untuk menggandeng seorang pria dihadapanku, bocah." Kesal Albert dengan aura hitam menguar disekelilingnya dan langsung mencekal tangan Kirania, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Kau harus bersamaku." Ucap mereka kompak sambil menunjukkan pesonanya masing-masing membuat Petra dan Kirania sweatdrop dengan tingkah ajaib mereka.
"Astaga! Yang benar saja! Kalian menggunakan ketampanan kalian untuk melupuhkanku?!" Raung Kirania marah yang malah diabaikan oleh 2 pria beda usia itu.
"Kalian berdua bertengkar nya nanti saja. Kita harus menjalankan misi." Petra mencoba melerai Albert dan Ellios yang kini hendak bersitegang lagi.
Albert berjalan cepat kearah Kirania dan menggendong nya. Kirania memekik kaget dan hanya bisa pasrah dengan tindakan ayah tampannya itu.
"Kyaa! Papa, turunkan aku!" Pekiknya sambil mengembungkan pipinya. Albert menatap Ellios dengan tatapan mengejek yang sukses membuat pemuda itu geram. Mereka seakan melupakan keberadaan Petra yang hanya melongo melihat drama picisan itu.
"Kau pergi bersama bocah itu. Sampai nanti." Lalu pria itu segera menghilang bersama Kirania digendongannya dengan meninggalkan percikan es yang sukses membuat Ellios mencak-mencak.
"Dasar Tua Bangka!"
"Sebaiknya kita juga bergegas pergi." Petra mencoba mengingatkan Ellios yang masih setia mencak-mencak. Segera pemuda berbuat merah itu berdeham dan memasang wajah triplek andalannya.
"Hn." Lalu Ellios segera pergi dari sana.
"Aneh. Apa mereka akan bertingkah seperti itu di depan Kiran?" Batinnya penasaran dan segera menyusul Ellios yang kini telah di telan gelapnya malam.