The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 32: Fake



"Papa, aku sangat mencintaimu. Selamat ulang tahun." Ucap Kirania tiba-tiba membuat Albert nyaris terjengkang dari tempat duduknya. Pria itu menatap Kirania dengan tajam karena salah paham, sementara gadis itu menatap Albert dengan penuh harap dan tangannya menyodorkan sebuah kotak hadiah.


"Kau sadar dengan ucapanmu? Kau tau aku ini ayahmu, kan? Kita tidak bisa menjalin hubungan terlarang karena kita ini ayah dan anak." Ucap Albert tajam.


"Aku tau, sangat tau. Tapi aku benar-benar mencintaimu sebagai seorang anak kepada ayahnya, bukan seperti apa yang kau pikirkan. Jadi, tolong terimalah hadiah dariku, Papa." Ucap Kirania panjang lebar dengan mata berkaca-kaca. Berharap pria itu menerima hadiah darinya.


Albert menghembuskan nafasnya dan menerima kotak hadiah yang entah apa isinya. Kirania segera duduk di samping sang ayah dan menatap pria itu dengan hangat.


"Terimakasih telah merawatku dan menyayangiku selama ini, Papa. Aku tidak tau bagaimana nasibku jika aku masih berada di keluarga itu." Ucap Kirania tulus.


Albert mengusap kepala Kirania dengan sayang lalu membuka kotak hadiah itu. Terdapat sebuah jam tangan dan kalung rantai dengan bandul naga bewarna biru gelap yang cantik.


"Terimakasih." Ucap Albert tulus. Jika diperhatikan dengan seksama, terluas senyum simpul yang sangat tipis di wajah pria tampan itu. Kirania yang melihat itu hanya tersenyum lebar. Sangat jarang ayahnya tersenyum seperti itu kecuali di saat tertentu.


Albert menyimpan hadiah itu kembali dan menatap Kirania dengan hangat, sorot mata yang sangat jarang dia perlihatkan.


"Seleramu benar-benar unik." Puji Albert.


"Yah~ aku memilihnya selama berjam-jam. Papa tau, paman Joshua sampai lumutan menungguku memilih hadiah untukmu, hehe..."


"Kenapa tidak sekalian saja kau buat dia menjadi patung es?"


"Nanti tidak ada sumber dana untukku, Pa. Lagipula paman Joshua memiliki banyak uang, tuh." Sahutnya cuek.


"Aku bisa mengabulkan apapun keinginanmu." Ucap Albert datar.


Kirania tersenyum dan memeluk Albert lalu mencium pipi pria itu dengan hangat. Hubungan mereka sangat harmonis, meskipun begitu Albert sangat menyayangi Kirania dengan caranya sendiri begitupun dengan Kirania.


Kirania sangat mengagumi Albert. Pria yang merawatnya sejak berusia 7 tahun disaat dirinya merindukan sosok seorang ayah.


Derrick, yang saat itu masih sebagai ayahnya sering mengabaikan Kirania yang masih kecil dan menganggap gadis itu tidak ada.


Dia bahkan dengan tega membiarkan Kirania tidur di luar dengan ditemani badai hujan petir, sementara Derrick dan keluarganya tidur dengan nyaman di dalam rumah, mengabaikan gadis itu yang meringkuk ketakutan di luar.


Beruntung Albert datang dan membawanya pergi menuju kamar miliknya yang terletak di belakang kediaman keluarga Anderson, sehingga Kirania kecil tidak kedinginan di luar sana. Mengingat masa lalu itu, Kirania mengepalkan tangannya dengan kuat.


Albert menyadari perubahan emosi Kirania. Dengan cepat pria itu menenangkan gadis itu dengan mengusap kepalanya lembut, "Sudahlah. Jangan mengingat hal itu. Sekarang kau sudah aman dan tidak menderita lagi."


Kirania tersadar dan menatap Albert dengan senyum simpul. "Iya, Pa. Terimakasih."


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Tuan, ini data yang Anda minta." Ucap seorang pria sambil menyerahkan sebuah dokumen yang berisi data siswa. Di hadapannya terlihat seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kebesarannya. Terdapat banyak berkas menumpuk di meja itu menunggu giliran untuk dijamah. Pria paruh banyak yang masih terlihat tampan di usianya menghentikan kegiatannya sejenak.


Pria itu mengambil dokumen yang dijulurkan kearahnya dan membaca sekilas lalu meletakkan kembali dokumen itu. Pria itu menghembuskan nafasnya lelah.


Ya, dia adalah Derrick Anderson, pemilik perusahaan yang mengembangkan bisnisnya di kota X sejak 6 bulan lalu sebelum keadaan kota ini memanas.


"Apa 'anak itu' masih hidup? Sial, aku bahkan tidak tau namanya. Kematiannya 3 tahun itu sangat mencurigakan." Gumam Derrick.


"Apa Anda mengatakan sesuatu, Tuan?"


"Kau boleh keluar." Ucap Derrick melambaikan tangannya tanda mengusir. Pria itu segera undur diri.


Derrick membaca kembali dokumen itu dengan teliti sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Jika dia masih hidup, seperti apa rupanya dan bagaimana perkembangannya?" Gumamnya lagi hingga matanya berhenti saat melihat data milik Kirania.


Terpampang foto seorang gadis remaja dengan rambut hitam sebahu dan mata biru gelap yang disembunyikan oleh kacamata setebal pantat badak. Nilai akademik dan non akademik yang sangat memuaskan serta penampilan yang terlihat culun membuatnya mengangkat alisnya sebelah.


"Anak ini benar-benar jenius. Jika saja Emillia memiliki otak seperti anak ini." Monolognya sambil menerawang jauh.


"Seperti apa orang tua yang mendidik anak ini?" Batinnya bertanya-tanya sambil menatap foto Kirania dengan intens. Derrick memutuskan memanggil asistennya.


"Ya, Tuan?" Tanya sang asisten dengan raut penasaran.


"Selidiki mereka."


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Astaga! Kenapa banyak sekali orang-orang yang berkunjung ke rumahnya sakit dengan keadaan berdarah-darah seperti ini?! Apalagi pakaian mereka juga sama, ya ampun!!" Seru Joshua kesal.


Sejak siang tadi hingga malam dirinya menangani pasien yang yang terluka dengan jumlah yang meningkat setiap detiknya membuat pemuda tampan berambut cokelat gelap itu menjerit frustasi karena tidak sempat makan siang dan melewatkan waktu istirahat serta jam makan malamnya.


"Ayolah!! Aku kelaparan dan ingin beristirahat sejenak." Keluhnya kesal.


"Hentikan keluhanmu itu, Senior dan cepat obati mereka!" Seru salah satu perawat dengan ketus yang sukses membuat pemuda itu semakin kesal.


"Memangnya dari tadi aku bergosip seperti kalian, hah?! Sebaiknya kalian tidak usah kerja jika hanya bergosip tidak jelas di depan orang yang sakit, sialan!" Raungnya marah sambil mengobati pasien yang tengah tak sadarkan diri.


Perkataan Joshua membuat beberapa perawat yang sibuk bergosip terdiam dan memandang Joshua dengan kesal.


Menyadari tatapan mereka membuat Joshua semakin mencak-mencak dan emosinya tersulut. "Apa lihat-lihat, hah?! Cepat lakukan tugas kalian!"


Sontak mereka kembali mengerjakan tugas mereka, bahkan beberapa perawatan dengan terang-terangan menunjukkan ekspresi kesal.


"Sepertinya kau menjadi sensitif hari ini, Senior. Apa kau sedang PMS?" Tanya salah satu dokter dengan wajah penasaran.


"PMS kepalamu, keparat! Kau tidak lihat aku ini laki-laki, hah?! Mau ku perlihatkan 'burung' milikku agar kau percaya?!" Maki Joshua kesal yang sukses membuat beberapa perawat perempuan merona merah. Perkataan Joshua membuat mereka salah paham.


"Habisnya sejak tadi kau marah-marah terus seperti wanita yang sedang PMS. Apa kelaparan membuatmu menjadi sensitif seperti ini?" Tanya dokter itu dengan wajah polos yang sukses membuat kepala Joshua mengeluarkan asap dan menyemburkan api, pertanda pria itu benar-benar marah.


"Oke-oke, aku diam sekarang." Ucap dokter itu sambil memberi isyarat menutup mulut lalu pergi dari sana, mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Ellios menatap pemandangan di hadapannya dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana tidak, kamar pemuda itu digunakan oleh sahabatnya untuk bercinta dengan seorang perempuan yang juga mengejar-ngejar dirinya.


Dia tidak mempermasalahkan mereka, tetapi kamarnya kotor dan berbau aroma percintaan membuatnya meradang.


"Kalian sengaja kemari untuk memamerkan kemesraan kalian, dan memilih menggunakan kamarku untuk hal menjijikkan seperti ini?" Geramnya sambil meninju pintu yang terletak di sebelahnya hingga retak, membuat pasangan itu kelabakan dan buru-buru menutup tubuh mereka dengan selimut.


"Ellios, i-ini bukan seperti yang kau pikirkan." Ucap perempuan itu buru-buru membuat Ellios mengangkat alisnya sebelah.


"Bukan urusanku." Sahutnya cuek lalu menatap datar pemuda berambut hitam yang kini membuang muka.


"Aku tidak marah padamu, Xeon. Tapi kau harus ganti rugi karena mengotori kamarku. Setidaknya kau harus membelikan aku seprai dan selimut baru dengan motif yang sama." Ucap Ellios enteng dan segera meninggalkan mereka yang tertunduk malu, tidak lupa pemuda berambut merah itu menutup pintu kamarnya.


"Ini sudah kesekian kalinya aku membakar selimut dan seprai sutra ku. Aku malas meminta uang tambahan pada ayah. Sudah beruntung dia mau mengadopsi dan membiayai ku." Monolognya sambil menghela nafas untuk menenangkan emosi yang sempat menguar di tubuhnya.


'CKLEK'


Muncul sepasang remaja dengan wajah canggung dari kamar Ellios dengan pakaian lengkap. Mereka berdua segera menghampiri Ellios dan duduk dihadapan pemuda berambut merah itu dengan canggung.


"Ehem! Karena kalian telah mengotori kamarku, kalian berdua harus membayar kerugian untukku." Ucap Ellios santai.


"Kau berniat merampokku?" Geram Xeon tak terima.


"Bukannya aku merampokmu. Aku hanya ingin minta uang ganti rugi. Kau tau, selimut dan seprai milikku telah habis aku bakar karena ulahmu." Sahut Ellios enteng membuat Xeon menelengkan kepalanya.


"Bukannya bisa di cuci? Kau tinggal mencucinya, kan?" Bujuk Xeon sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Adik dan ayahku akan berkunjung besok. Aku khawatir ayahku akan memarahi ku karena mengira aku bersenang-senang dengan seorang pelacur." Jelas Ellios sambil melirik perempuan yang dudut di sebelah Xeon dengan tatapan dingin.


"Kau bisa mengganti dengan seprai yang lain, kan?"


"Tidak bisa. Seprai ku telah habis terbakar karena ulahmu yang seenak jidat membawa pacarmu ke rumahku dan memakai kamarku. Bahkan sampai membanting foto adikku yang berharga. Aku tidak tau bagaimana reaksi adikku besok." Ujar Ellios keras kepala.


"A-aku tidak tau jika itu adikmu." Cicit perempuan itu.


"Aku tidak bilang pelakunya adalah kamu." Sinis Ellios. Perempuan itu tertunduk merasa bersalah.


"Itu hanyalah foto. Kenapa di besar-besarkan, sih." Xeon membela perempuan itu yang sukses membuat Ellios emosi.