The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 43: Sekilas Masa Lalu



"Selamat ulang tahun, Kirania!" Seru Ellios dan Joshua bersamaan begitu Kirania membuka pintu rumah Albert. Seketika gadis itu menatap mereka dengan haru dan bahagia. Segera Kirania memeluk mereka berdua membuat 2 laki-laki beda usia itu terpaku sejenak lalu membalas memeluknya.


"Terimakasih." Ucap Kirania tulus yang membuat Joshua mengacak-acak rambutnya dengan gemas.


"Apa yang kau katakan, Kiran. Kita ini keluarga." Ucap Joshua sembari menepuk-nepuk pundak Kirania dengan hangat.


"Apa yang dia bilang itu benar, Ran. Kita ini keluarga sejak kau keluar dari keluarga itu, bukan orang lain." Ellios menambahi.


"Keluarga itu tidak selalu berhubungan darah, Kiran. Mereka yang saling melindungi, mendukung dan menyayangi tanpa mencari keuntungan dan tempatmu untuk pulang, itulah keluarga." Imbuh Albert dan memeluk Kirania dari belakang. Mereka berpelukan ala teletubbies dengan Kirania berada di tengah-tengah.


"Maafkan aku karena merepotkan kalian dan tidak mempercayai kalian." Ucap Kirania merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu tunggu apalagi, ayo masuk dan kita berpesta!" Seru Ellios yang disambut dengan senyuman bahagia dari Kirania.


Mereka segera melepaskan pelukannya pada Kirania dan bergegas masuk kedalam. Albert menutup pintu rumahnya dan menyusul mereka untuk merayakan ulang tahun Kirania. Meskipun tanpa kue ulang tahun atau pesta yang meriah, Kirania terlihat sangat menikmatinya meskipun hanya hidangan makanan. Untuk pertama kalinya mereka melihat Kirania berekspresi tanpa ragu dan itu membuat mereka lega.


Mereka berharap Kirania dapat melupakan rasa trauma yang dan memulai hidup tanpa bayangan masa lalunya.


⚛️⚛️⚛️⚛️


'Shaaassshhh'


'Gluduk' 'Gluduk'


'JEDDEEERRR!!!'


Hujan lebat di iringi suara petir menyambar membuat Kirania terperanjat kaget dan terbangun dari tidurnya. Dia segera meringkuk dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Kirania tidak menyukai kilatan petir yang mengingatkannya pada bayangan masa lalu.


"Hiks... Hiks... Dia menunpahkan makananku..." Adu Emillia sambil menangis terisak-isak dan menunjuk ke arah Kirania yang terduduk di lantai dengan makanan yang berserakan di sekitarnya.


"Aku tidak menumpahkan makanan Kakak. Dia sendiri yang menumpahkannya ke arahku." Kirania membela diri, namun suara tamparan menggema di ruang makan membuat suasana hening.


'Plak!'


"Dasar tidak tau diri! Sudah jelas kau menumpahkan makanannya, anak sialan!" Maki Helena seraya menjambak rambut panjang Kirania membuat gadis kecil itu meringis kesakitan.


"Kalian selalu saja menyiksaku! Dasar tidak punya hati!" Teriak Kirania yang saat itu berusia 8 tahun. Dia berusaha menahan cengkeraman tangan Helena membuat Derrick kesal dan membentaknya.


"Dasar anak sial! Sekarang kau berani melawan, ya!" Lalu pria itu berjalan mendekati Helena. Helena segera menghempaskan cengkeramannya membuat Kirania kecil terjerembab dan meringis kesakitan. Tanpa basa basi Derrick menyeret Kirania keluar rumah dengan kasar dan melemparkan tubuh kurus kering itu keluar.


'Brukh'


Kirania meringis menahan sakit dan menatap nanar ayahnya. Dia ingin sekali pergi dari rumah ini, namun suatu saat mereka pasti akan menemukannya dan membawanya lagi ke rumah ini.


"Sekarang kau tidur di luar sebagai hukumanmu!" Ucap Derrick dingin dan membanting pintu tepat di hadapan Kirania. Sebelum pintu itu tertutup dia melihat Emillia tersenyum sinis kearahnya membuat gadis kecil itu menatapnya benci.


'BLAAMM!'


Saat itu terjadi badai disertai petir yang menyambar membuat suasana menjadi menyeramkan.


"Buka pintunya, sialan!" Raung Kirania sambil menendang pintu dengan kasar. Udara diluar terasa dingin dengan hujan disertai angin kencang menyebabkan tubuhnya menggigil kedinginan.


Terlalu malas menggedor-gedor pintu, Kirania segera meringkuk di depan pintu menahan dinginnya udara di malam hari dan ketakutan dengan sambaran petir yang sewaktu-waktu bisa menyasar kearahnya.


Setelah menunggu beberapa lama, pintu juga tidak terbuka. Kesadarannya perlahan menurun dan dia tergeletak pingsan di luar rumah. Namun sesaat sebelum kesadarannya hilang total, dia merasa tubuhnya melayang.


"Ukh, ingatan sialan itu lagi." Geram Kirania kesal dengan tubuh gemetar di bawah selimut.


'JEDEERRR!'


'Cklek'


'Tap' 'Tap' 'Tap'


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Albert sambil membuka paksa gulungan selimut yang membungkus tubuh putrinya membuat gadis itu memekik saat cahaya kilat menyambar langit.


"Kyaa! Aku benci kilatan petir." Tukas Kirania dan menatap sang ayah yang kini berjalan mendekati jendela. Pria itu menutup jendela dengan tirai untuk menghalangi kilatan cahaya petir dan berjalan mendekati Kirania lalu duduk di ranjang putrinya.


"Sekarang berbaringlah. Kilatan petirnya sudah tidak mengganggumu lagi." Titah Albert yang dituruti oleh Kirania. Gadis itu menurut dan menatap Albert ragu-ragu.


"Kau ingin di temani?" Tebak Albert menatap mata gadis itu. Kirania ingin mengangguk namun di urungkan karena takut pria itu akan meninggalkannya. Terlihat sedikit keraguan di mata biru gelap itu sebelum berubah menjadi waspada.


Tanpa di duga pria itu berbaring di sebelah Kirania dan ikut berbagi selimut dengan gadis itu. Albert tidur menyamping menghadap ke arah putrinya dan mereka tidur saling berhadapan.


"Papa?"


"Tidurlah. Aku akan menemani mu hingga kau tidur." Balas Albert sambil membelai kepala Kirania dan mengecup kening gadis itu. Rasa hangat menyelimuti gadis itu dan dia mulai memejamkan matanya sambil merangsek mendekati sang ayah dan dengan ragu-ragu tangannya memeluk Albert. Albert hanya tersenyum tipis lalu memeluk Kirania dan berkata dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku tidak menyakitimu, Kiran. Seharusnya kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang belum pasti." Ucap Albert lembut.


"Papa, apa kau tidak marah jika aku membuat ulah?" Tanya Kirania membuka matanya dan menatap wajah sang ayah.


"Kota tanpa hukum ini sangat rentan kejahatan. Kau boleh melakukan apapun asalkan tidak melakukan hal ilegal dan berbahaya." Nasehat Albert.


"Baik, Pa." Jawab Kirania dan mata gadis itu perlahan terasa berat sebelum menyerah dan menutup matanya.


Perlahan mereka berdua terlelap ke alam mimpi di temani suara petir yang samar-samar masih terdengar di luar.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Kalian akan pergi?" Tanya Ellios menatap Kirania dan Albert serius.


"Ya, karena besok Kirania akan kembali sekolah. Setelah pemilihan dia akan mengikuti ujian." Jelas Albert singkat.


'Grep'


"Kakak jaga diri, ya. Setelah ujian aku akan pindah kemari." Ucap Kirania sambil memeluk Ellios.


"Kau juga jaga diri. Jika ada orang yang mendekatimu, hajar saja dia. Ingat diluar sana banyak tangan laki-laki berisi virus yang berbahaya. Jadi kau berhati-hati saja." Ucap Ellios sambil menepuk punggung Kirania. Joshua yang mendengar itu hanya menahan tawanya.


"Dan di sekitar Kakak juga banyak perempuan ular dan ulat bulu yang menyamar menjadi kupu-kupu." Balas Kirania sembari melepaskan pelukannya membuat tubuh Joshua bergetar menahan tawa.


"Kami pergi." Pamit Albert menuju ke motor sport yang terparkir di depan rumah minimalis itu diikuti oleh Kirania yang mengekor di belakangnya.


Albert menyerahkan helm kepada Kirania yang di terima oleh gadis itu. Setelah mereka memakai helm, Kirania naik dan duduk di belakang Albert.


Kirania melambaikan tangannya yang di balas oleh Ellios lalu Albert segera melaju meninggalkan rumah minimalis modern berlantai 2 itu.


Motor sport itu melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi membuat Kirania memegang pundak sang ayah dengan erat. Untuk pertama kalinya gadis itu berboncengan dengan Albert membuatnya sedikit takut.


"Pegangan yang kuat, Ran." Ucap Albert saat motor sport hitam itu berhenti di sebuah lampu merah lalu memindahkan tangan putrinya dan melingkarkan ke perutnya.


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Kirania dengan canggung.


"Jangan berpikir aneh-aneh, bocah. Atau kau akan terbang dari jok belakang." Ucap Albert sambil menarik gasnya sedikit.


'Brrmmm...' 'Brrmmm'


Lampu berubah menjadi hijau lalu Albert menarik gasnya dengan kencang membuat motor sport nya melaju dengan kecepatan tinggi.


Albert meliuk-liukkan motornya dengan lincah menyalip kendaraan di depannya. Kirania yang awalnya ketakutan kini menikmati atraksi yang dilakukan oleh sang ayah.


"Kau menikmatinya?" Tanya Albert sembari fokus mengendarai motor sport nya.


"Iya. Ternyata sangat seru, Pa!" Pekik Kirania kencang dengan nada bahagia.


"Pegangan yang erat!" Perintah Albert yang langsung di turuti oleh Kirania. Mereka melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi menuju distrik B. Menanti sebuah tragedi yang akan mengubah kota X yang saat ini sibuk bersitegang.