The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 24



Joshua merasa saku celananya bergetar, lalu meraba saku celananya dan mengambil sebuah kotak persegi yang bergetar heboh. Joshua menatap layar benda persegi itu, terlihat sebuah panggilan masuk di layar smartphone nya dan memutuskan mengangkat panggilan yang terpampang di layar smartphone miliknya.


"Iya, halo."


"... "


"Aku baru pulang. Ada apa?"


"..." Lalu sambungan terputus sepihak membuat Joshua mengernyitkan dahinya.


"Selalu saja memutuskan panggilan seenaknya." Gerutunya kesal sambil melanjutkan langkahnya.


⚛️⚛️⚛️


Albert menghela nafas frustasi. Sebagai seorang ayah tunggal dadakan, dia merasa bingung harus bersikap bagaimana kepada 2 remaja itu. Dia takut mereka tidak tumbuh dengan baik di kota yang bobrok ini. Meskipun Kirania adalah anaknya yang lahir karena kesalahan dan hasil ujicoba dengan DNA miliknya yang dilakukan oleh Damian, dia sangat menyayangi gadis itu sepenuh hati dan berusaha menjadi ayah yang baik.


Albert terkenal sebagai pria yang memiliki tenaga monster, stamina dan daya imun melebihi manusia pada umumnya, serta tubuh yang kebal racun membuat pria itu menjadi sasaran para ilmuwan untuk di jadikan kelinci percobaan.


Kirania keluar dari kamar dengan keadaan lebih baik meskipun wajah gadis itu di penuhi luka lebam dan memar. Dia menghampiri Albert yang duduk di sofa dan duduk di sebelahnya.


"Kau payah sekali." Ejek Albert saat melihat wajah Kirania yang di hiasi lebam di beberapa tempat. Kirania hanya bisa nyengir polos sambil meringis menahan sakit.


"Dia benar, kau benar-benar sangat payah." Suara Ganymede bergema di kepalanya dengan nada mengejek.


"Diamlah. Kami di keroyok pria berbadan besar, 9 lawan 2 bukan 1 lawan 1." Ucap Kirania membalas ejekan Albert. Suara tawa Ganymede terdengar di kepalanya.


Tanpa sepatah katapun Albert meninggalkan Kirania menuju kamarnya, lalu kembali dengan membawa sebuah kotak obat.


Dia duduk di sebelah Kirania, membuka kotak obat itu lalu mengeluarkan sebuah cairan antiseptik dan menuangkan cairan itu pada kapas. Dengan telaten pria itu membersihkan luka yang berada di wajah Kirania dengan hati-hati sambil berbincang dengan gadis itu.


"Kau sudah mulai beranjak dewasa, Kiran. Rasanya waktu cepat berlalu, ya. Dan seperti biasa aku yang mengobati mu." Ucap Albert sambil mengambil plaster luka dan menempelkan di luka gadis itu.


Kirania meringis menahan perih lalu melirik ayahnya, "Iya. Dan saat itu aku tidak tau jika kau adalah Papa. Entah kenapa saat kau menenangkan ku untuk pertama kalinya aku merasa nyaman. Terimakasih karena selalu ada untukku, Pa." Jawab Kirania tersenyum tulus.


Hati Albert terenyuh mendengar perkataan Kirania. Dia merasa bersalah pada putrinya, tangan kekar itu mengelus kepala Kirania dengan sayang dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku yang tidak bisa mengenalimu dan membawamu pergi dari sana sejak awal." Sesal Albert saat mengingat bagaimana penderitaan putri kecilnya di keluarga Anderson.


"Papa tidak perlu meminta maaf. Jika mereka tau aku ini anakmu, mungkin Papa dan aku tidak bisa berkumpul bersama seperti ini." Ucapnya lembut sambil menepuk punggung sang ayah.


Albert mengurai pelukannya pada sang anak lalu merapikan peralatan P3K.


"Kita akan pindah sebentar lagi." Ucap Albert dengan tatapan serius membuat Kirania menunduk merasa bersalah.


"Maafkan aku, Pa. Sepertinya permintaan ku keterlaluan." Sesal Kirania merasa bersalah.


"Tidak. Apa yang kau katakan itu benar. Kita harus pindah dari sini, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku sudah membeli sebuah rumah dengan lingkungan yang bagus dan sekarang sedang di renovasi. Ku harap kau menyukainya." Ucap Albert panjang lebar sambil menyodorkan smartphone miliknya ke arah Kirania . Langsung saja Kirania mengambil smartphone sang ayah yang memperlihatkan sebuah vidio yang berisi rumah baru lengkap dengan lingkungannya. Seketika matanya berbinar bahagia.


"Aku menyukainya, Pa. Terimakasih."


"Syukurlah kau menyukainya."


"Jadi kapan kita kesana?" Tanya Ellios tiba-tiba membuat Kirania berjengit kaget dan menatapnya tajam, sementara Ellios nyengir kuda.


"Nanti jika waktunya tiba."


⚛️⚛️⚛️


Pintu apartemen terbuka dan muncul sesosok makhluk cokelat dengan kicau merdunya yang membuat sang empunya mendengus jengkel.


"Keponakanku~ Paman tampanmu datang berkunjung~!!" Lalu sosok itu menutup pintu apartemen Albert dan melepas sepatunya. Sosok itu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Bisakah kau tidak berisik?" Ucap Albert datar membuat Joshua cengengesan.


"Bukannya tadi kau menelponku dan menyuruhku kesini secepatnya?" Tanya Joshua santai sambil merebahkan dirinya di sofa.


"Ada apa? Kau merindukan sahabat tampanmu ini?" Tanya Joshua dengan nada menggoda sambil menaik turunkan alisnya, membuat Albert mendengus jijik.


"Ogah. Aku masih normal." Ketus Albert.


"Sayang sekali~ Omong-omong dimana 2 tuyul merepotkan itu?" Tanya Joshua sambil celingak celinguk mencari 2 remaja yang selama ini tinggal bersama Albert. Joshua bangkit dari acara rebahannya dan dengan santai pemuda berambut cokelat itu nyelonong menuju kamar Albert.


"Hei, jangan kesana!" Teriak Albert namun diabaikan oleh Joshua. Begitu Joshua membuka pintu kamar Albert, terlihat Kirania yang setengah telanjang hendak memakai baju, namun kedatangan Joshua yang tiba-tiba membuatnya kaget dan teriakan nyaring bergema di kamar itu membuat seisi rumah geger.


"Kyaaa! Dasar mesum!!"


Buru-buru Joshua keluar dari kamar Albert dengan wajah memerah sambil menutup pintu kamarnya. Dengan kesal Albert menyeret Joshua menjauh dari sana.


Ellios keluar dari kamar Kirania dengan panik dan menatap 2 pria dewasa itu dengan curiga.


"Aku dengar Kirania berteriak. Ada apa?"


"Ti-tidak ada apa-apa." Jawab Joshua gugup.


"Benarkah?"


"Benar." Joshua mengangguk menyakinkan.


"Aku sudah memperingati mu untuk tidak memasuki kamarku. Kebiasaan nyelonong mu itu sangat meresahkan." Omel Albert kesal membuat Joshua tertawa gugup. Sementara wajah Ellios menggelap.


"Kau memang pria tua mesum yang meresahkan." Ujar Ellios dengan kejam membuat Joshua pudung di pojokan.


⚛️⚛️⚛️


Kirania keluar dari kamar Albert dengan aura hitam menguar dari tubuhmya. Dia menatap tajam Joshua yang kini tertawa gugup dengan pipi memerah.


"Bisakah kau ketok pintu dulu, Paman? Kau benar-benar orang tua mesum." Ucap Kirania dengan tatapan membunuh membuat Joshua salah tingkah dan menelan salivanya dengan kasar.


'GLEK'


"Ahahaha... Maafkan aku, Kiran. Aku pikir kau tidak disana."


"Oh, ya?"


"Sial. Dia mirip dengan balok es saat marah. Benar-benar duplikat mengerikan." Batinnya sambil melirik Albert yang juga menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Jadi, ada apa dengan wajah kalian?! Apa balik es itu menyiksamu Ell? Kiran kenapa wajahmu seperti ini? Apa ayahmu memperkosamu?" Seru Joshua ngasal dengan wajah heboh saat melihat 2 wajah remaja itu di hiasi plaster luka.


Suhu ruangan mendadak turun drastis, udara di sekeliling nya terasa dingin membuat Joshua merinding dan menatap ke arah Albert gerakan patah-patah. Terlihat aura membunuh menguar di tubuh Albert dengan kedutan kesal muncul di wajahnya.


"Bisakah kau berhenti berkicau? Aku tidak serendah itu." Ucap Albert dingin.


"Sepertinya mulutmu perlu di sumpal, Paman." Ucap Kirania sambil melemaskan jari tangannya.


"Kami gelud dengan preman tadi. Jadi kau tidak perlu negatif thinking begitu." Jawab Ellios santai membuat Joshua tertawa gugup.


Joshua segera memeriksa keadaan mereka lebih lanjut, beruntung mereka tidak mengalami cedera yang serius.


"Ini salep luka. Olesi ini pada luka kalian secara teratur,pagi dan sore agar tidak membekas." Ucap Joshua sambil menyodorkan 2 buah salep kepada 2 remaja itu.


"Terimakasih."


"Jadi kenapa kau menelpon ku?" Tanya Joshua melirik Albert yang duduk di sofa dengan pergelangan kaki disilangkan dan tubuhnya bersandar di sandaran sofa.


Albert menegakkan punggungnya dan menatap 3 orang yang menatapnya dengan penasaran. "Kita mendapatkan misi dan kalian berdua akan ikut dengan kami."