The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 62: End



Aqueera menatap Kirania yang asik berbicara dengan Petra dengan tatapan benci sambil menggandeng tangan Steve. Dia tidak terima jika perempuan itu masih terlihat baik-baik saja.


Steve menatap Kirania dengan tatapan tak terbaca. Setelah tidak melihat Kirania selama dua bulan di sekolah semenjak hari terakhir remedial, kini gadis itu terlihat berbeda dengan wajah yang sangat cantik dan aura kuat terpancar.


Aquuera menghampiri Kirania yang sibuk berbicara dengan Petra membuat keduanya menoleh.


"Aku kira kalian berdua tidak bersekolah karena tidak punya rumah." Ucapnya dengan nada merendahkan.


"Aku kita otak mu itu tidak berguna setelah dua bulan tidak melihatmu." Balas Kirania tajam membuat Aqueera kesal.


Steve yang mendengar perkataan Kirania menjadi geram dan menegurnya dengan keras. "Jaga bicaramu!"


"Oh~ Di jaga ayang rupanya." Ejek Kirania sinis sambil menatap mantan pacar dan sahabatnya dengan jijik.


"Sudahlah, Steve. Mungkin dia tidak ingin aku mengganggunya." Ucap Aqueera dengan mata berkaca-kaca. Seketika Kirania dan Petra menahan mual melihat hal itu.


💠💠💠💠


Para orang tua siswa mulai memasuki aula dan duduk di bangku khusus orang tua murid. Seketika terdengar suara berisik disertai pekikan histeris dari beberapa siswa perempuan yang mengalihkan atensi Kirania dan Petra.


Mereka melihat Albert yang paling mencolok diantara para orang tua murid. Dengan paras tampan bak dewa serta rambut yang unik berhasil menggaet hati para perempuan, bahkan beberapa wanita yang berada diantara kerumunan orang tua siswa serta guru wanita.


Albert mengabaikan bisikan itu dan matanya menelisik setiap murid hingga tatapannya terhenti saat melihat Kirania yang cuek bebek bersama Petra yang sibuk menatapnya dengan tatapan datar. Segera Albert mengalihkan tatapannya dan mengawasi sekitar, mengabaikan bisik-bisik yang mengganggu sekitarnya.


Tak lama kemudian kepala sekolah bersama para guru memasuki aula dan acarapun dimulai. Mereka memberi sambutan dan petuah kepada siswa kelas IX.


Sesi berikutnya adalah pengumuman juara kelas. Para siswa yang menjadi juara kelas segera maju ke depan dan menerima ucapan selamat serta hadiah yang disiapkan.


Lalu disusul dengan pengumuman juara umum membuat semua siswa gugup.


"Juara umum pertama dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah SMP ini sekaligus nilai tertinggi tingkat kota didapatkan oleh Kirania Revalina." Seru sang kepala sekolah membuat para siswa menatapnya tak percaya. Lalu disusul oleh Petra dan Naura di urutan ketiga.


Albert tersenyum tipis pada putri kesayangannya. Setelah ini dia akan mengajak Kirania merayakan keberhasilannya bersama Ellios itung-itung sebagai liburan bersama.


Kirania menoleh kearah Albert dan mendapati pria itu menatapnya dengan ekspresi datar. Namun sudut bibir pria itu sedikit tertarik. Kirania tau jika pria itu bangga padanya.


💠💠💠💠


"Aku bangga padamu, Ran." Ucap Albert sambil meminum minuman yang di pesannya.


"Terimakasih, Papa. Selama ini kau telah mengajariku dengan keras." Ucap Kirania merendah. Dia ingat bagaimana pria dihadapannya ini mendidiknya dengan keras.


"Bagaimana dengan sekolah selanjutnya?"


"Aku ingin bersekolah disini, Pa. Jika Papa mengijinkannya." Ucap Kirania sedikit takut saat menyerahkan sebuah brosur sekolah.


"Kenapa kau ketakutan begitu, hmm? Tentu saja kau boleh bersekolah di sana." Ucap Albert lembut.


"Terimakasih, Papa."


"Kau tidak perlu takut meminta apapun dariku, Ran. Karena aku ini ayahmu."


Kirania tersenyum manis menanggapi ucapan Albert. Sekilas ingatan masa lalunya menari-nari di kepalanya.


"Hei, bocah. Apa yang kau lakukan di luar sini?" Tanya Albert pada Kirania kecil saat mendapati gadis itu yang berusia tujuh tahun meringkuk ketakutan di luar pagar kediaman Anderson. Saat itu Albert baru saja pulang dari kediaman Brawijaya dan malam telah larut.


"Aku di larang masuk ke rumah, Paman. Kata ayah, aku ini anak pembawa sial." Jawab Kirania polos.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Karena mereka selalu bilang aku ini anak pembawa sial."


"Bagaimana jika kau tinggal bersamaku untuk malam ini? Sebentar lagi hujan akan turun."


"Apa boleh?" Tanya Kirania kecil dengan tatapan ragu-ragu.


"Tentu saja." Albert segera menggendong Kirania.


"Apa seperti ini rasanya di gendong oleh seorang ayah?" Tanya Kirania kecil dengan polos yang sukses membuat Albert mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak pernah di gendong oleh ayah. Biasanya dia akan mengacuhkan ku, kadang dia memukulku." Celotehnya. Entah mengapa Kirania kecil merasa nyaman di gendongan pemuda itu.


( Lanjut di bab 1 dan perhatian Albert atau Alex)


"Paman, apa kau mau menjadi waliku untuk mengambil raport ku? Ayah dan ibu ku tidak mau mengambilkan raport." Ucap Kirania dengan tatapan sedih dan melirik Albert yang menyamar menjadi Alex dengan tatapan takut.


Albert berjongkok menjajarkan tingginya dengan Kirania dan mengusap kepala gadis kecil itu dengan sayang.


"Tentu saja."


"Wah, kau menggambar dengan bagus." Puji Albert sambil mengelus kepala Kirania dengan sayang.


"Jadi sekarang Paman akan pergi?" Tanya Kirania dengan tatapan berkaca-kaca.


"Benar. Tuan Derrick menyuruhku untuk berhenti bekerja. Tapi jangan khawatir, aku akan selalu mengunjungi mu." Ucap Albert sambil memeluk Kirania dengan hangat.


"Aku akan merindukan Paman."


Kirania duduk di sebuah taman dengan perut yang terasa sangat lapar. Tiba-tiba seorang pemuda dengan luka di wajahnya datang dan duduk di sebelah Kirania tanpa permisi.


"Apa yang dilakukan anak kecil sepertimu di taman ini sendirian? Hari sudah hampir malam dan kau masih berkeliaran." Omel Albert.


"Paman siapa?" Tanya Kirania polos.


"Panggil saja aku Albert."


"Paman bisa memanggilku Ran."


"Kenapa kau masih berkeliaran di sore hari begini?"


"Aku tidak bisa masuk ke rumah karena dikunci." Jawabnya polos.


"Orangtuamu kemana?" Tanya Albert. Dia berusaha menyembunyikan emosinya yang membuncah.


"Mereka pergi liburan bersama kakak. Mereka meninggalkanku sendirian di luar rumah." Jawab Kirania polos.


Albert memperhatikan Kirania. Gadis kecil itu hanya mengenakan pakaian lusuh dan tubuhnya terlihat kurus.


"Bagaimana jika kau ikut makan bersamaku?" Tawar Albert membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan berbinar, lalu kembali meredup.


"Tidak usah, Paman."


Tanpa basa basi Albert segera menggendong Kirania kecil dan membawanya ke sebuah cafe.


Sejak saat itu mereka berdua menjadi akrab layaknya ayah dan anak.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Albert dengan cemas. Kirania melihat wajah pria itu memar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Kirania menangis dan memeluk Albert dengan erat. Tubuh kecilnya gemetar ketakutan. Sejak hari itu Kirania selalu menjadi objek penelitian dari Damian memberikan trauma hebat pada mental anak kecil itu.


"Hwaaa.... Aku takut... Hiks.. Hiks.."


"Tenanglah, aya-ehm aku disini bersamamu." Ucap Albert sambil menepuk-nepuk pundak Kirania dengan hangat.


"Kau kenapa?" Tanya Albert saat melihat Kirania meringkuk kesakitan di sebuah taman. Terlihat noda darah di pakaian gadis itu.


"Hiks... Hiks... Perutku sakit Paman dan mengeluarkan darah. Orang rumah tidak ada yang memberitahu ku."


"Aku antar ke rumah sakit, ya?" Ucap Albert sambil melepas jaket yang di pakai nya dan memakaikan di pinggang kurus gadis kecil itu.


"Papa, terimakasih." Ucap Kirania tulus.


Albert tersenyum tipis dan mengelus kepala Kirania dengan sayang.


"Apapun itu untukmu, Putriku."


Albert menatap Kirania dengan bangga. Dulu dia adalah gadis kecil yang rapuh dan menderita, tidak ada tempatnya untuk berbagi.


Dan sekarang gadis kecil yang rapuh dan menderita telah menjelma menjadi gadis cantik yang kuat dan bermulut pedas.


Albert mendampingi dan melihat bagaimana tumbuh kembang Kirania.


Kirania, gadis kecil yang menjadi objek penelitian dari kakeknya sendiri kini telah terbebas dari neraka itu.


Gadis kecil yang di buang oleh keluarganya kini menjelma menjadi gadis cerdas multitalenta yang membanggakan.


"Papa, terimakasih telah menjadi ayah yang sempurna untukku dan menjadi cinta pertamaku." Ucap Kirania tulus membuat Albert membeku lalu tersenyum lembut.


Pepatah mengatakan sosok ayah adalah cinta pertama anak perempuan dan Albert termasuk dalam pepatah itu.


"Karena kau itu putriku."