The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 25: Sparring



Dua Tahun Kemudian


Kirania dan Ellios berlari menerobos gelapnya malam di dalam hutan. Sesekali mereka melompat dengan lincah bak seekor kijang yang berlari menghindari serangan sang raja hutan.


Suasana gelap tanpa cahaya sang rembulan yang menyinari bumi, jalanan yang tidak rata, bebatuan dan dahan pohon yang menghalangi jalanan tidak membuat mereka menghentikan laju larinya seolah mereka telah terbiasa menghadapi situasi ini.


Di belakang mereka terlihat Albert berlari mengejar mereka sambil sesekali melayangkan tembakan, membuat mereka berkelit menghindari laju peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.


Merasa terpojok, mereka berdua berhenti berlari. Dua insan itu saling pandang dan mengangguk, lalu mengeluarkan bom asap untuk melarikan diri dari kejaran Albert.


'Boff' 'Boff'


"Sial, mereka cerdik juga." Gerutunya menghentikan pengejaran nya. "Jadi, dimana kalian bersembunyi?" Gumamnya sambil berjalan santai menyusuri hutan itu tanpa mengurangi kewaspadaan nya.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Kita harus berpencar. Tidak mungkin kan kita melawan mereka bersamaan?" Usul Ellios sambil mengintip di balik semak-semak sambil mengamati situasi.


"Kau benar. Paman Joshua masih bersembunyi, sementara papa pasti mencari kita. Jadi bagaimana menurutmu?"


"Kau cari paman Joshua, aku akan menghadapi ayah mu."


"Baiklah. Ayo berpencar!"


Setelah berdiskusi dan mengatur strategi, mereka berdua keluar dari tempat persembunyian, namun...


"Kalian bersembunyi disini, ya? Kebetulan sekali." Sebuah suara familiar dengan nada riang menyapa pendengaran mereka membuat mereka tersentak kaget dan menoleh ke asal suara itu. Terlihat Joshua bersandar di sebuah pohon sambil bersedekap santai dengan pakaian serba hitam. Tidak lupa sebuah belati dan pistol menggantung cantik di pinggangnya.


"Kak, kau cari papa. Aku akan menahan paman Joshua." Ucap Kirania sambil mengambil sepasang kipas besi yang menggantung di pinggangnya. Dengan segera dia membuka salah satu kipas besi di salah satu tangannya hingga terdengar gemerisik besi memecah suasana yang tegang.


'Srriingg...'


Dengan santai Kirania memainkan kipas besi dengan panjang 40 cm dan lebar 50 cm jika di lebarkan, berat 100 gram dengan bahan baja dan stainless steel berwarna perak yang bersinar di gelapnya malam.


"Baiklah. Berhati-hatilah." Lalu Ellios segera berlari meninggalkan Kirania yang kini berhadapan dengan Joshua.


"Ah, dia lari, ya." Ucap Joshua santai sambil mengeluarkan belati dan memainkannya. Dia menghampiri Kirania dengan santai yang kini memasang sikap waspada.


"Nah, sekarang tinggal kita berdua. Kita akan sparing sampai salah satu dari kita menyerah kalah." Ucap Joshua sambil tersenyum licik.


"Sepertinya dia merencanakan sesuatu." Suara Ganymede bergema di kepalanya.


"Aku mencurigai sesuatu. Sepertinya ada bau taruhan." Balas Kirania melalui telepati.


"Senyumanmu mencurigakan. Apa kau memiliki sesuatu, taruhan misalnya?" Tanya Kirania dengan memicingkan matanya curiga, membuat pria berusia 29 tahun itu terkekeh.


"Dugaanmu tepat sekali. Jika kau menang, kau boleh meminta apapun dari ku." Ucap Joshua enteng membuat mata Kirania berbinar seketika.


"Apapun?" Beo Kirania memastikan.


"Ya, apapun. Tapi jika kau kalah maka kau harus menuruti permintaan ku." Ucapan Joshua sukses membuat Kirania merengut. Dia merasa berhadapan dengan seekor rubah licik saat ini.


"Baiklah. Kali ini aku menghadapimu dengan serius."


"Aku tidak akan menahan diri. Kerahkan semua kemampuanmu, keponakan ku sayang." Lalu Joshua menghunuskan belatinya dan berlari ke arah Kirania.


'TRANG'


Kirania menahan serangan sang paman dengan kipas besi disusul dengan sebuah tendangan yang di arahkan ke arah Joshua. Dengan santai Joshua menangkis tendangan Kirania dan melayangkan belati ke arahnya.


Kirania menutup kipas besinya untuk menahan serangan dari sang paman lalu kembali melancarkan serangan. Kedua tangan gadis itu dengan lihai membuka dan menutup kipasnya sehingga suara gesekan besi bergema di hutan yang sunyi itu.


Mereka bertarung dengan sengit, saling melempar tendangan, serangan, sesekali mereka berkelit menghindari serangan elemen yang keluar dari senjata mereka.


Kirania membuka kedua kipas besinya lalu mengibaskan kearah Joshua. Seketika kaki pria itu membeku dan tidak bisa digerakan.


Joshua segera menegaskan belatinya dengan gerakan vertikal yang mengeluarkan api merah berkecepatan tinggi ke arah Kirania. Dengan santai Kirania membuka kipas besi dan mengibaskannya membuat api itu padam seketika.


"Menyerahlah, Paman. Kau sudah terlalu tua." Ejek Kirania sambil berjalan mendekati Joshua yang kini tak bisa berkutik.


"Aku ini masih muda dan tampan, bocah!" Serunya tak terima, terdapat kedutan di wajahnya menandakan pria tampan itu tengah jengkel.


Kirania tiba di hadapan sang paman dan melepaskan es yang menahan pria itu. Setelah merasa bebas, Joshua melompat mundur dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


'BRAAKK'


'Sial, tendangannya keras sekali.' Umpat Joshua dalam hati sambil meringis menahan sakit.


'Sreekk'


Kirania tiba-tiba berdiri di hadapan Joshua lalu menodongkan kipas besinya ke arah pria itu sambil tersenyum bahagia, "Aku menang, Paman."


Joshua berdecak kesal dan segera berdiri sambil menepuk pucuk kepala Kirania dengan bangga. "Kemampuanmu meningkat pesat. Ku harap kau tidak memamerkan kemampuan mu untuk menindas orang lain." Joshua menasehati Kirania yang dibalas dengan anggukan.


"Baik, Paman. Sesuai kesepakatan, karena aku yang menang maka kau harus memenuhi janjimu." Ucap Kirania dengan seringai licik terbit diwajahnya.


"Baiklah-baiklah. Sebaiknya kita hampiri dulu ayahmu." Jawab Joshua pasrah. Dia merasa firasatnya buruk.


Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu yang telah dipenuhi bekas sayatan dan beberapa lubang akibat duel mereka.


⚛️⚛️⚛️


Ellios VS Albert


Ellios berlari sambil sesekali melompat-lompat dengan lincah. Gelapnya malam bukan halangan untuknya. Sesekali pemuda itu melirik sekitar dengan waspada.


'TAP'


Di hadapannya muncul seorang pria berambut hitam dengan tiba-tiba dari balik semak-semak membuat pemuda itu kaget dan menghentikan langkahnya.


"Ku kira kau akan bersembunyi sampai pagi." Ucap Albert dengan mencibir.


"Tidak juga."


"Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu." Ucap Albert sambil mengeluarkan samurai nya yang langsung mengeluarkan serpihan es.


Tak ingin membeku, Ellios segera menghindari serpihan es itu dengan melompat kesana kemari, lalu Ellios mengeluarkan cambuk yang yang langsung mengeluarkan api.


'BOM!!'


Ellios melompat sambil bersalto lalu mendarat di atas pohon sambil menatap kepulan asap hasil ledakan buatan mereka.


"Astaga, kau terlalu berlebihan. Bagaimana jika ada orang yang penasaran dengan ledakan tadi? Uhuk... Uhuk..." Omel Albert kesal sambil terbatuk di balik asap yang mulai menipis. Terlihat pria itu mengibaskan tangannya guna menghalau asap yang menerobos ke hidungnya.


"Bukannya kau duluan yang mengeluarkan es? Kau mau membuatku menjadi balok es, hah?!" Umpat Ellios kesal sambil berlari menyerang Albert dengan cambuknya.


Albert dengan santai menghindari serangan Ellios sambil sesekali menangkis tendangan dan menangkap sabetan cambuk pemuda maroon itu.


"Apa hanya segini kemampuanmu, heh?" Albert mulai memprovokasi Ellios.


Ellios semakin gencar menyerang Albert, namun pria itu tetap santai menghindar.


"Dasar payah. Sekarang giliranku." Lalu Albert melayangkan tendangan beruntun kearah Ellios yang sukses membuat pemuda itu kewalahan.


"Fokus. Jaga konsentrasi mu." Ucap Albert ditengah acara tendang menendangnya.


Ellios membaca serangan yang dilayangkan oleh Albert yang tidak ada celah sama sekali membuatnya nyaris putus asa.


"Hee... Kau terlihat putus asa." Ejek Albert membuat Ellios terbakar emosi. Dia segera membalas serangan Albert dengan membabi buta.


"Tenangkan dirimu, bocah. Jika kau mudah terpancing emosi dengan sebuah perkataan, maka kau bisa mati duluan." Lalu Albert melayangkan sebuah tendangan ke arah Ellios. Ellios menyilangkan kedua tangannya agar tidak mengenai tubuhnya, namun karena pukulan Albert yang lumayan kuat membuat pemuda itu terhempas beberapa meter dan berguling di tanah.


"Kau belum bisa mengendalikan emosi, Ellios." Ucap Albert mendekati Ellios dan menjulurkan tangannya. Ellios menerima uluran tangan itu dan segera berdiri dengan tertatih.


Ellios hanya diam dan mencerna perkataan Albert. Apa yang dikatakan oleh walinya ini memang benar. Dia memang belum bisa mengendalikan emosinya, apalagi jiwa tatto Leo nya sibuk mengomel membuatnya hilang konsentrasi.


"Hn."


"Kau benar-benar payah! Dasar payah!" Maki Aluolis di kepala nya berapi-api.


"Dasar singa cerewet. Kalau saja kau bisa diam dalam semenit saja, aku sudah bisa mengalahkannya tadi." Umpat Ellios melalui telepatinya lalu memutuskannya secara sepihak.


"Kita kembali."


"Hn."