The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 31: Mulai Kacau



"Ku harap kau tidak merepotkan ku, Kiran." Ejek Petra sambil menyeruput cappucino miliknya, mengabaikan orang berseragam yang menodongkan senjata kearahnya.


Kirania mengangkat sebelah alisnya, lalu menyeruput jus semangka yang tersisa setengah dengan santai.


"Apakah aku harus berteriak seperti ini, ’Kyaaa!! Tolong selamatkan aku!!?' Sangat menggelikan. Omong-omong aku pernah menghajar orang-orang keparat ini." Ucapnya dengan nada mengejek sambil bergaya ketakutan membuat Petra nyaris tersedak.


'BRAKK'


"Cepat serahkan barang berharga kalian!" Bentak orang berseragam itu dengan geram sambil menggebrak meja membuat sepasang remaja itu tersentak kaget dan menatapnya dengan tajam.


"Hei, Paman. Apa kau tidak melihat kami sedang minum? Matamu itu pajangan, ya? Boleh di congkel untuk di jual? Sepertinya matamu hanya benda yang tidak berguna." Geram Kirania kesal. Saat ini dia memikirkan berbagai cara untuk menyiksa pria berseragam dihadapannya.


Petra yang mendengar perkataan Kirania hanya bisa melongo. Gadis culun yang terkenal dengan kebucinan parahnya ternyata memiliki kata-kata yang bisa membuat orang bunuh diri dengan suka rela.


"Kau!!" Geram pria berseragam itu marah. Dia segera menodongkan senjata apinya ke arah Kirania, bermaksud mengancam gadis itu.


"Bintang yang menyinari langit malam, cahaya kecil penunjuk arah. Bintang yang menyinari langit malam, meskipun dikalahkan cahaya rembulan bintang tetap menemani sang rembulan menyinari kegelapan malam. Bintang yang menyinari langit malam, meskipun cahayanya tidak terang, dia akan memancarkan cahaya sampai akhir." Lalu muncul tatto berlambang zodiak Aquarius di pangkal leher Kirania tepat saat gadis selesai mengucapkan kata-katanya.


Segera gadis itu menendang pria itu hingga terhempas menembus tembok, seketika pria itu diam tak bergerak.


Sementara kawanannya yang melihat kejadian itu menganga kaget dan menodongkan senjata api kearah Kirania.


"Sialan! Apa yang kau lakukan?!" Seru salah satu diantaranya dengan marah.


"Pengganggu seperti kalian memang pantas disingkirkan." Ucap Kirania dengan nada membunuh.


"Tunggu apalagi, tembak dia!" Seru salah satu diantara orang berseragam itu, sepertinya dia adalah ketuanya.


Kirania mengangkat meja cafe itu dan melemparkan ke arah mereka. Lalu gadis itu menarik tangan Petra yang masih bengong dan menyeret pemuda itu keluar dari cafe.


Mereka tiba di luar cafe dan mendapati beberapa orang berseragam menodongkan senjata ke arah mereka.


"Ck. Mereka ini mengganggu sekali." Lalu Kirania mengipaskan kipas besi miliknya dan seketika keluar jarum es yang sangat banyak menusuk orang-orang itu.


'SRIINGGG!!'


'Jleb' 'Jleb' 'Jleb' 'Jleb'


"Aarrrggghhh!!!"


"D-dia scard?!" Ucap mereka dengan panik. Menurut rumor yang beredar, mereka pemilik tatto tidak diketahui identitasnya dan membaur dengan masyarakat.


Kirania menendang dan menghajar orang yang tersisa dengan brutal membuat Petra lagi-lagi melongo tak percaya. Gadis bucin yang terlihat lemah ini seorang scard dan memiliki hobi berkelahi? Astaga!


Tak ingin ketinggalan, Petra juga menghajar orang-orang itu dengan santai. Sesekali dia mengayunkan pisau lipat miliknya.


'Dor' 'Dor' 'Dor'


Suara tembakan beruntun terdengar dari dalam cafe. Terdapat sekelompok orang melayangkan tembakan kearah sepasang remaja itu. Ajaibnya tembakan itu tidak melukai sepasang remaja itu, malah sebaliknya. Muncul simbol aneh dari tubuh mereka dan memantulkan kembali peluru yang akan melukai tubuh mereka.


"Adududuh... Apa kalian bisa menembak dengan benar?" Tanya Kirania dengan nada mencemooh sambil mengorek hidungnya. Sementara Petra masih setia menghajar beberapa orang berseragam itu.


"Kalian hanyalah remaja ingusan yang lemah. Sebaiknya serahkan diri kalian!"


"Oh ya? Kalau begitu biarlah aku yang lemah ini menghajar kalian." Lalu Kirania berlari menghampiri orang berseragam itu.


Tak tinggal diam, orang berseragam itu melayangkan tembakan ke arah Kirania. Suara tembakan dan gemerincing selongsong peluru terdengar memenuhi area itu.


"Tembak mereka!"


Kirania dan Petra menghindari hujan peluru itu dengan lincah. Petra menendang seorang diantaranya dengan keras dan terpental ke dinding.


'Buaght'


'BRAAKK'


Kirania dengan santai mengibaskan kipas besinya dan menendang pria itu ke arah seorang pria yang masih sibuk baku hantam di seberang jalan. Setelah selesai menghajar orang-orang itu, Petra menatap Kirania dengan tatapan kagum dan berkata dengan menggebu-gebu, "Ku kira kau gadis culun yang bodoh dan lemah."


"Benar juga. Omong-omong siapa pria itu? Dia terlihat kesal." Ucap Petra sambil menunjuk ke arah seorang pria tampan berkacamata yang berjalan menghampiri mereka, dilihat dari raut wajahnya pria itu ingin mengubur seseorang.


⚛️⚛️⚛️


Albert yang hendak pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan harus merelakan waktunya untuk baku hantam dengan beberapa orang berseragam khusus dengan senjata api. Entah mimpi apa semalam hingga mengalami hal yang menyebalkan menurutnya.


Saat berhasil menumbangkan beberapa orang, secara tidak sengaja dia melihat sebuah tubuh melayang ke arahnya. Dengan segera dia menghindari tubuh itu agar tidak menjadi kasur dari tubuh itu.


'BRUKH'


Tubuh itu tergeletak tak bergerak di hadapannya. Pria tampan itu segera menyusuri sekitar mencari pelaku yang melempar tubuh itu ke arahnya, dan ketemu!


Terlihat sepasang remaja tengah selesai baku hantam di depan sebuah cafe dengan keadaan yang sedikit acak-acakan, di sekitar mereka terlihat beberapa tubuh tergeletak tak sadarkan diri. Albert menatap seorang gadis yang familiar di seberang jalan dengan kesal.


Ya, gadis remaja itu adalah Kirania, gadis bar-bar dengan penampilan culun yang terlihat lemah namun berbahaya. Albert menghampiri mereka yang sepertinya tengah berbincang santai.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Albert dengan datar membuat mereka menoleh ke arahnya.


"Kami tidak apa-apa." Sahut pemuda itu dengan sopan. Sedangkan Kirania hanya nyengir tanpa dosa membuat Albert berkedut kesal. Astaga, ayahnya terlihat hot dengan rambut acak-acakan dan tubuhnya yang basah akibat keringat. Jika pria itu bukan ayahnya, sudah pasti dia jatuh pada pesona tampan ayahnya.


"Syukurlah. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini. Sebentar lagi polisi anti huru hara akan kemari." Lalu Albert melirik Kirania dan menjewer telinga gadis itu.


"Aduduh... Kenapa kau menjewer telingaku, Pa?" Rengek Kirania dengan tatapan memelas membuat Petra melongo. Pria itu ayah Kirania?


"Anak nakal! Kenapa kau melemparkan tubuh itu ke arah ku? Kau tau aku sedang sibuk menghajar bedebah itu?" Omel Albert dan melepaskan jewerannya.


Kirania mengusap telinganya yang terasa kebas dan membuang muka. Gadis itu sepertinya ngambek. "Aku tidak tau jika itu Papa." Sahutnya tanpa dosa membuat Albert berkedut kesal. Entah kenapa semenjak hari itu, tingkah Kirania membuatnya sakit kepala.


Petra memperhatikan interaksi ayah dan anak itu dengan sweatdrop. Pria muda berusia akhir 20 tahunan itu tengah sibuk mengomeli seorang gadis SMP yang terlihat culun dengan tatapan khawatir.


"Ehem! Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Ucap Petra menyadarkan 2 orang dihadapannya.


"Ah, kau benar. Ayo cepat pergi." Lalu Albert meninggalkan sepasang remaja itu.


Kedua remaja itu saling tatap lalu memutuskan mengikuti Albert, meninggalkan kekacauan yang terjadi di sekitar sana.


⚛️⚛️⚛️


Suara sirene terdengar bersahut-sahutan memekakkan telinga di salah satu bagian distrik B. Beberapa mobil khusus anti huru-hara dan ambulance terparkir di sekitar tempat yang dipenuhi beberapa tubuh yang tergeletak tak berdaya. Tampak beberapa polisi bersenjata lengkap turun dari mobil itu dan menyebar ke beberapa tempat.


Terlihat beberapa petugas medis sibuk mengangkut beberapa tubuh yang tergeletak kaku dan beberapa polisi memeriksa lokasi kejadian.


"Astaga... Tempat ini kacau sekali." Keluh seorang pria tampan dengan rambut hijau tosca panjang tergerai sambil memijat pelipisnya.


"Berhentilah mengeluh dan cepat bereskan kekacauan ini." Tegur seorang wanita dengan rambut ungu berpotongan bob sebahu. Mereka berdua adalah petugas kepolisian anti huru hara yang baru-baru ini di bentuk.


"Kau tau, mereka ini komplotan penjarah yang meresahkan. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya mereka dari organisasi bawah." Ucap pria berambut panjang itu.


"Tapi, siapa yang mengalahkan mereka?" Tanya wanita berambut ungu tersebut, sementara pria berambut hijau tosca itu hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau.


Seorang petugas kepolisian datang menghampiri mereka dengan raut panik sambil memberikan sebuah laporan yang berada di tangannya.


"Inspektur, seluruh area ini telah kami periksa. Ada 1 CCTV yang terletak di cafe itu. Mungkin kita bisa mendapatkan keterangan." Ucap polisi itu sambil menunjuk ke arah cafe dengan dinding yang telah jebol.


"Baiklah."


Mereka segera pergi kearah cafe itu dan memeriksa CCTV yang berada disana, sayangnya CCTV itu memperlihatkan beberapa orang berseragam khusus dengan senjata api memasuki ruangan dan menodongkan kearah beberapa pengunjung, termasuk sepasang remaja yang berada disana. Namun mereka melihat salah satu diantaranya menembakkan peluru ke arah CCTV itu sehingga tidak terlihat kejadian berikutnya.


"Sial! Mereka menembak CCTV-nya. Bagaimana ini?" Umpat salah satu diantara mereka.


"Kita selidiki orang-orang ini. Siapa tau ada petunjuk yang kita temukan." Ucap pria berambut hijau tosca panjang itu sambil menguap bosan.


"Mereka mulai bergerak, ya? Orang-orang menyebalkan itu." Geramnya dalam hati, lalu sebuah tatto Pegasus berkedip di telapak tangannya yang dibungkus selop tangan bewarna hitam.