The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 50



"Mereka terlihat seperti memergoki pacarnya yang ketahuan selingkuh." Komentar Kirania sembari menatap pintu tempat Derrick dan Emillia menghilang yang sukses membuat 7 pasang mata menoleh kearahnya.


"Kau benar, bocah. Bahkan tanpa mengajukan hal konyol pun dia bisa mengajukan kerjasama. Otaknya memang tidak berfungsi, sih." Balas Ren dengan pedas.


"Apa Paman tau dimana tempat lelang organ tubuh? Sepertinya kita akan kaya jika melelang otak pria itu atau kita bisa menukarnya dengan otak sapi." Balas Kirana tak kalah pedas membuat mereka meringis.


"Astaga, Albert. Gaya bicara bocah itu sangat mirip denganmu." Celetuk Roy sambil menggelengkan kepalanya. Sontak mereka menatap pasangan ayah anak itu dengan keringat dingin.


"Hn."


"Bukan hanya gaya bicara, penampilan dan tatapannya sangat mirip. Astaga mereka berdua memiliki kemiripan yang ekstrim." Kali ini Arabella berkomentar.


"Aku tebak mereka mengganggu kalian nanti." Celetuk Roy menatap Albert dan dua remaja yang duduk di kanan dan kiri pria itu yang sama-sama menatapnya dengan malas.


"Dia akan cepat bunuh diri jika hal itu terjadi." Komentar Ren dengan nada mengejek membuat Joshua menghembuskan nafasnya. Albert dan Ren sama-sama menyebalkan jika mereka sudah kesal.


Albert dengan mulut berbisanya yang lebih parah dari Ren. Siapapun yang membuat pria tampan itu kesal, siap-siap saja mencari tempat terindah untuk bunuh diri jika mulut berbisa yang pedas itu mengeluarkan kata-kata indahnya.


"Sebaiknya kau saja yang mengurusnya, Ren. Aku tidak berminat dengan bocah ulat itu." Ucap Albert dingin.


Seketika suasana mendadak hening dengan keringat mengalir dipelipis mereka saat merasakan suhu udara turun drastis. Mereka hanya tertawa pasrah saat melihat butiran es turun di ruangan itu.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Dua hari kemudian.


Senja menyelimuti kota X yang penuh konflik. Di sebuah kamar di apartemen berlantai 20 terdengar suara perdebatan seorang laki-laki dewasa dengan seorang perempuan dengan cukup sengit.


"Aku sudah bilang jauhkan pakaian itu, Paman!" Seru Kirania sambil menunjuk sebuah pakaian bewarna hitam. Tidak ada yang aneh pada pakaian itu kecuali terdapat hiasan menyerupai ekor dan pada tudungnya terdapat hiasan menyerupai telinga kucing.


Sementara Joshua tetap keras kepala memamerkan pakaian itu dan berusaha membujuk keponakan kesayangannya agar mau memakai pakaian itu. "Ayolah, Kiran, sekali saja pakai pakaian ini. Kau tau aku sangat bersusah payah mencari pakaian ini untukmu." Tidak lupa memasang wajah memelas berharap gadis itu luluh.


"Aku bukan anak kecil lagi, Paman. Dan hentikan tatapan menjengkelkan itu!" Kesal Kirania sembari menatap Joshua yang sibuk memasang wajah memelasnya layak seekor anjing minta dipungut.


"Sekali saja. Ya? Ya, ya, ya? Sebagai gantinya aku akan menuruti semua keinginanmu." Bujuk Joshua kekeh membuat mau tidak mau terpaksa menurut.


"Ha~h... Baiklah, baiklah. Sebaiknya kau keluar sana." Ketus Kirania sembari menerima pakaian itu lalu mendorong sang paman keluar dari kamarnya. Joshua tersenyum penuh kemenangan dan berbalik menatap keponakannya, namun Kirania menutup pintu tepat diwajah sang paman dengan kesal.


'BLAAM'


Senyum Joshua memudar dan pria itu segera menjauh dari sana. Dengan santai dia menuju sofa dan mendudukkan diri dengan nyaman disana. Tak lama kemudian Albert memasuki apartemen dengan sebuah kantong belanjaan dipelukannya.


"Kau baru datang?" Sapa Joshua basa basi.


"Hn. Dimana Kirania?" Tanya Albert saat mendapati Kirania tak berada di ruang tamu seperti biasa.


"Dia sebentar lagi keluar."


Tanpa sepatah katapun pria itu segera menuju dapur dan menata belanjaannya. Joshua menghampiri Albert yang menyusun belanjaan di kulkas.


"Sepertinya malam nanti akan ada tragedi. Sebaiknya kita bersiap untuk hal yang tidak diinginkan mengingat malam ini puncak dari festival pemilihan." Ujar Joshua menatap Albert yang sibuk menata bahan makanan yang baru di belinya.


"Sepertinya begitu."


'Cklek'


"Aku sudah pakai baju menggelikan ini, Paman sudah puas?" Ketus Kirania sambil melototi Joshua yang kini memandangnya dengan berbinar.


"Ah~ kau terlihat sangat imut sekali, benarkan Albert?" Ujar Joshua dengan riang sambil meminta persetujuan dari sahabatnya. Merasa dipanggil Albert pun menghentikan kegiatannya dan tubuhnya seketika membeku saat melihat Kirania yang tampak menggemaskan dengan kostum kucing.


"Dari mana kau dapat pakaian menyebalkan seperti itu?" Tanya Albert dengan nada membunuh membuat Kirania merinding. Gadis itu segera menghampiri sang ayah dan memeluknya, berusaha menenangkan Albert yang kini terlihat kesal.


"Paman Joshua yang memberikan dan memaksaku memakainya." Kirania mengadu dan menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca yang seketika membuat Albert membatu dengan keimutan sang anak. Sementara Joshua mengeluarkan keringat dingin khawatir jika sebuah pisau terbang melayang kearahnya.


Kirania menatap Joshua dengan tajam yang justru terlihat seperti seekor kucing yang galak karena makanannya hendak di rebut, pria itu melupakan kecemasan akibat amukan Albert yang bisa saja melayangkan senjata tajam kearahnya. Gadis itu benar-benar tampak menggemaskan yang membuat pria tampan itu meleleh seketika.


"Tidak boleh ada yang melihatnya memakai pakaian ini selain aku." Batin mereka bersamaan saat melihat Kirania yang terlihat begitu menggemaskan.


"Ganti pakaianmu. Sebentar lagi kita akan pergi." Perintah Albert setelah pulih dari efek keimutan putri kesayangannya.


"Kau tidak mau memeluk paman tampan mu ini?" Ucap Joshua dengan nada dibuat sedih sambil merentangkan tangannya.


Kirania melepaskan pelukannya pada sang ayah dan memeluk Joshua singkat lalu bergegas menuju kamarnya meninggalkan 2 pria itu yang menatap kepergiannya dengan tidak rela.


"Aku tidak keberatan dia memelukku lebih lama lagi dengan kostum itu." Batin mereka kompak.


💠💠💠💠


Malam terlihat ramai dan cerah. Kirania ditemani sang ayah dan pamannya memutuskan pergi menikmati festival yang diadakan oleh calon pemimpin kota X. Mereka berdua bahkan menyuruh Kirania waspada dan membawa senjata, khawatir ada penyerangan mendadak mengingat kota ini kota tanpa hukum.


"Kakak!" Seru Kirania melambaikan tangan saat melihat Ellios berjalan santai menikmati festival bersama seorang pemuda berambut cokelat yang menatapnya dengan penasaran. Mendengar sang adik memanggil, pemuda berambut merah itu segera menghampiri Kirania dengan langkah cepat.


"Kiran~! Aku merindukanmu." Pemuda itu menghampiri Kirania dan memeluk gadis itu dengan erat hingga membuatnya susah bernafas.


"Le-lepas~ A-aku tidak bisa bernafas~" Protes Kirania dalam pelukan Ellios yang mengabaikan protesan sang adik. Bisa-bisa Kirania mati lemas akibat ulah kakak angkatnya yang memeluknya dengan erat hingga susah bernafas.


"Kau bersama siapa?" Tanya Ellios setelah melepaskan pelukan mautnya dari sang adik dan celingak celinguk mencari 2 orang yang di kenalnya.


"Papa dan paman. Mereka sedang mencari makanan dan minuman, tuh." Ujar Kirania santai sambil menunjuk ke arah 2 pria yang sibuk bertransaksi. "Ngomong-ngomong, dia siapa?" Tanya Kirania saat melihat Antares di sekitar Ellios yang menatapnya penasaran.


"Aku Antares, sahabat baik Ellios. Senang bertemu denganmu." Antares memperkenalkan dirinya dengan gembira sambil tersenyum lebar.


"Jangan tersenyum seperti itu di depan adikku." Desis Ellios membuat Antares mayun mengerucutkan bibirnya.


"Aku hanya senang bertemu dengannya. Lagipula dia sangat cantik."


"Jangan menaruh perasaan padanya." Balas Ellios ketus membuat Antares murung seketika.


"Abaikan saja dia. Sebaiknya kita pergi berkeliling." Tanpa basa basi pemuda berambut merah itu menyeret sang adik dan pergi meninggalkan Antares yang masih murung.


"Hei, tunggu aku!" Seru Antares setelah pulih dari acara murung yang dan menyusul sepasang saudara itu tanpa menyadari 2 pasang mata menatapnya dengan benci.


"Kebahagiaan kalian akan bertahan malam ini. Nikmatilah kesenangan kalian." Bisik sosok sambil menyeringai kejam. Dia memainkan sebuah tombol dan menatap sekitar dengan tatapan sinis.


Sosok itu segera pergi dari sana dan membaur dikeramaian.


Suasana malam yang ramai terasa sunyi dengan hawa panas dan tegang. Joshua dan Albert saling melirik dan mengangguk lalu mereka menarik Kirania membuat gadis itu kaget dan sebuah ledakan terjadi tak jauh dari sana membuat suasana menjadi mencekam.


"DUUAAARRR!!! "