The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 5: Siksaan Sang Ibu



Ellios melihat Kirania sibuk bermain dengan boneka teddy bear merah-hitam kesayangannya di halaman belakang, padahal semua keluarga Anderson tengah berkumpul di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Damian dan Joshua.


"Ran, kau tidak ikut menyambut kedatangan tuan besar Damian dan tuan Joshua?" Tanya Ellios penasaran.


Kirania yang mendengar pertanyaan Ellios menoleh sejenak ke arah anak laki-laki berusia 9 tahun itu lalu menggelengkan kepalanya.


"Mereka tidak memberitahu ku. Sebaiknya aku disini saja." Sahut Kirania polos yang membuat 2 orang dewasa yang berdiri tak jauh dari nya meringis.


Sejak kepalanya terbentur beberapa hari yang lalu, sikap gadis kecil itu berubah secara perlahan. Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata pedas serta pemikiran nya lebih dewasa dari usianya. Kirania juga menjadi keras kepala dan bar-bar untuk ukuran putri seorang pengusaha kaya raya.


Frankie dan Albert yang menyamar menjadi Alex hanya mampu terharu sekaligus menangis dalam hati melihat perubahan Kirania. Sedangkan Ellios hanya bisa menatap gadis kecil yang sudah seperti adik kandungnya dengan iba.


"Tidak perlu menatapku dengan pandangan seperti itu." Ucapnya sambil membalas tatapan Ellios. Dia tidak suka dikasihani.


"Sebaiknya kau bergabung dengan keluarga mu." Pinta Ellios sambil menarik kepala boneka teddy bear kesayangan Kirania, sedangkan Kirania yang tidak rela bonekanya di rebut menarik badan boneka merah-hitam tersebut. Terjadilah aksi tarik menarik antara 2 anak-anak berbeda gender tersebut.


"Aku tidak mau! Jangan menarik bonekaku!" Pekik Kirania sambil menarik tubuh boneka dengan sekuat tenaga.


Ellios yang tidak ingin kalah pun menarik kepala boneka tersebut sekuat-kuatnya dan ngotot, "Temui saja atau tuan Derrick akan marah besar."


"Tidak mau!" Tolak Kirania keras kepala sambil berusaha menarik tubuh bonekanya.


"Ku mohon." Pinta Ellios sambil menarik kepala boneka itu.


"Tidak!"


'BRREEETTT!'


'Brukh' 'Brukh'


Terdengar suara mengerikan yang berasal dari boneka tersebut. Mereka terjungkal kebelakang sambil memegang bagian tubuh boneka yang telah terpisah. Ellios memegang kepala boneka itu dan Kirania memegang tubuh tanpa kepala bonekanya, mereka berdua menatap boneka yang kepalanya telah terpisah dari tubuhnya dengan tatapan berbeda.


Ellios menatap dengan tatapan bersalah dan Kirania menatap bonekanya dengan ekspresi sedih lalu menatap Ellios dengan tatapan membunuh yang berhasil membuat anak laki-laki itu bergidik ketakutan.


"Maafkan aku, Ran. Aku tidak sengaja." Cicit Ellios sambil berdiri dengan kaki gemetar. Untuk pertama kalinya bocah itu melihat Kirania marah dan ternyata sangat menakutkan.


Ellios segera berlari saat melihat Kirania mengejarnya dengan sebuah kemoceng yang di dapat dari seorang maid yang berada disana.


"Ampuni aku, Ran!! Aku tidak sengaja!!" Teriak Ellios sambil berlari menghindari amukan Kirania. Bocah itu tidak sadar melangkahkan kaki kecilnya menuju ruang tamu.


"Kak Elli, berhenti!! Kembalikan boneka ku!!" Teriak Kirania sambil mengejar Ellios, sebelah tangannya memengang sebuah kemoceng.


Alex yang melihat pertengkaran kedua bocah itu hanya menghela nafas pasrah sambil menyusul mereka menuju ruang tamu. Tanpa sengaja Alex melihat keluarga Anderson tengah menyambut tuan Damian membuat pemuda itu merasa ingin menghabisi pasangan suami-istri tersebut. Namun saat ini dia ingin menghentikan kedua bocah yang membuatnya sakit kepala.


"Nona!! Elli!! Tolong berhenti! Tuan Damian tengah berkunjung! Tolong jangan bertengkar disini!" Seru Alex memperingatkan, namun sayangnya kedua bocah itu seakan tuli dan tetap berlarian.


"Aku tidak mengenalnya, paman! Bonekaku lebih penting daripada orang yang bernama Damian!" Ucap Kirania dengan enteng tanpa menghentikan acara kejar-kejarannya membuat Alex berkedut kesal.


Tanpa aba-aba Alex segera menangkap kedua bocah itu dan menenteng kerah belakang mereka seperti menenteng tengkuk seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.


"Turunkan kami, paman!" Teriak Ellios sambil meronta-ronta.


"Jangan memperlakukan kami seperti kucing, paman! Turunkan kami!" Maki Kirania sambil bersedekap membuat Alex menghembuskan nafas frustasi.


Joshua dan Damian hanya bisa cengo melihat kelakuan Alex terhadap dua bocah tersebut lalu berkata, "Rupanya Ran sangat akrab dengan anak berambut maroon itu."


"Benar sekali, Pak Tua. Mereka seperti anjing dan kucing." Sahut Joshua sambil terkekeh-kekeh melihat pemandangan tadi.


♦♦♦


Malam datang begitu cepat, Damian dan Joshua telah pergi meninggalkan kediaman Anderson beberapa jam yang lalu.


Kirania tengah memakan roti kering saat melihat Helena memasuki kamarnya dengan tatapan dingin. Tubuh kurus kering bocah itu gemetar ketakutan saat melihat kedatangan wanita itu yang tak lain merupakan ibu kandungnya sendiri.


Wanita itu tidak mengharapkan kelahiran gadis kecil itu karena kesalahannya di masa lalu, dia pernah memperkosa anak laki-laki dibawah umur hingga anak itu nyaris sekarat karena siksaannya. Apalagi saat dirinya mengetahui hamil dan berniat menggugurkan nya, namun dicegah oleh Damian. Saat Kirania lahir, wajahnya begitu mirip dengan remaja laki-laki itu sehingga keluarga Anderson mulai mengabaikannya karena menganggap gadis kecil itu aib semenjak berusia empat tahun.


Hati kecil Helena merasa bersalah pada Ran dan remaja itu, namun ego mengalahkan segalanya. Apalagi publik hanya mengetahui dia mempunyai 2 orang anak.


Mertuanya juga sering kali menyuruh mereka membawanya ke panti asuhan, namun mereka berdua menolak dan lebih senang untuk menyiksa gadis kecil yang tidak tahu apa-apa.


Sulutan rokok, pukulan, tendangan, bahkan kekerasan lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Ran sejak gadis kecil itu berusia 4 tahun.


Tidak ada yang mau menolongnya, bahkan Emillia juga sering menindas gadis kecil itu yang merupakan adik kandungnya sendiri.


Helena melihat Ran meringkuk ketakutan hanya bisa menyunggingkan senyum merendahkan lalu berjalan menghampiri nya.


"Sebaiknya kau tidak usah banyak tingkah, anak sialan! Seharusnya aku menggugurkan mu waktu itu jika saja ayahku tidak mencegahku!" Umpat Helena sambil mendorong tubuh Ran yang ringkih hingga tersungkur.


Helena lalu menjambak rambut Ran dan menghantamkan ke lantai membuat kepala gadis kecil yang malang itu memar kemerahan. Kirania hanya bisa menangis menahan sakit.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Helena segera keluar meninggalkan Ran yang menangis kesakitan tanpa menyadari ada yang memperhatikan tindakannya.


Ellios yang sendari tadi memperhatikan perbuatan Helena dari depan pintu memutuskan untuk menghampiri Ran dan memeluknya.


"Ran, kakak ada disini. Jangan menangis lagi, kakak mohon..." Lirih bocah itu sambil mengelus punggung Ran dengan lembut. Berharap tindakannya bisa meredakan tangisan Ran.


Ellios tidak mengerti kenapa Ram diperlakukan seperti samsak hidup oleh keluarga nya sendiri. Bocah itu tidak berani menghentikan tindakan keluarga Anderson kepada gadis kecil malang tersebut mengingat ibunya telah kehilangan nyawa saat mencoba menghentikan tindakan gila keluarga Anderson setahun lalu.


Saat Ellios hendak menghampiri Ran untuk meminta maaf, dirinya melihat Helena memasuki kamar Ran. Karena penasaran dia memutuskan untuk mengintip dari pintu depan dan matanya terbelalak kaget saat melihat perilaku wanita itu.


Ellios memutuskan untuk bersembunyi dan memanggil Alex yang kebetulan berjalan kearahnya dan meminta tolong untuk mengobati Ran setelah menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


Perlahan tangisan Ran terhenti bertepatan dengan kedatangan Alex yang membawa sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil. Dengan cepat pemuda itu mengambil Ran yang tertidur di pelukan Ellios dan membopong tubuh ringkih gadis kecil berusia 7 tahun itu menuju ranjang kecil yang hanya muat satu orang dewasa.


Dengan telaten pemuda berwajah sangar itu mengompres luka memar pada dahi Ran. Seumur hidupnya Albert belum pernah melihat kegilaan seperti keluarga Anderson. Pemuda itu hanya bisa berdoa agar kehidupan buruk yang menimpa Kirania segera berakhir.


Ellios hanya bisa memperhatikan kegiatan Alex dalam diam. Dirinya belum mengerti alasan keluarga Anderson memperlakukan Kirania begitu buruk. Dalam hati bocah itu berjanji akan melindungi gadis kecil itu.