
Mendengar perkataan Albert membuat kedua bocah itu menatapnya dengan pandangan bertanya. "Apa Paman biasa membunuh?" Tanya Ellios curiga membuat Kirania menatap pria itu dengan tatapan menuntut.
"Membunuh atau dibunuh, itulah pilihan yang ada di kota ini." Jawab Albert tenang.
"Jadi kenapa Papa membunuh mereka? Papa bisa saja melaporkan pada polisi." Ucap Kirania dengan nada kecewa.
"Jika itu bisa menekan kejahatan di kota ini. Sayangnya hukum disini tumpul pada yang berkuasa dan beruang. Kota ini tidak seperti kota lainnya yang aman. Konflik, penjarahan, penculikan dan pembunuhan sudah biasa terjadi disini." Jelas Albert.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Albert membuat mereka terdiam. Mereka masih kecil dan belum tau apa-apa tentang kota ini.
"Kenapa Papa tidak meminta keadilan pada pihak hukum?"
"Keadilan? Heh, lucu sekali." Ucap Albert dengan mengejek. Lalu pria itu berdiri dan membelakangi dua bocah yang menatapnya heran.
"Keadilan hanya berlaku pada penguasa yang memiliki uang. Sedangkan kami yang menengah kebawah hanya bisa menerima perlakuan tak adil dari mereka. Tidak ada yang adil dan damai disini." Lalu pria itu mendekati dua orang yang dibuat pingsan itu dengan santai seraya melangkahi beberapa mayat yang tergeletak berlumuran darah di bawahnya.
Seketika kepala dua bocah itu pening akibat celotehan dari konstelasi zodiaknya.
"Apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar. Tatanan kota ini telah hancur dan jika kau tidak terima, kau bisa pergi dari sini dan berakhir di neraka." Suara pria bergema dikepala Ellios.
"Buang emosi bodohmu itu, Ran. Jika kau pergi maka tidak ada tempat untuk kembali. Ucapan ayahmu itu benar, kota ini tidak aman sejak beberapa hari terakhir." Ucap Ganymede santai.
"Bunuh atau membunuh, hukum rimba berlaku disini. Siapa yang berkuasa dia pemenangnya." Ucap keduanya serentak.
"Apa Papa membunuh untuk keadilan?" Tanya Kirania penasaran.
"Keadilan? Jangan membuatku tertawa." Sentak Albert sambil berbalik menatap dua bocah itu.
"Kami hanya membunuh sampah yang tidak berguna yang memang pantas dibunuh."
"Aku dan Joshua adalah pembunuh bayaran." Albert membeberkan pekerjaan aslinya pada dua bocah itu. "Kalian boleh pergi jika tidak ingin bersama seorang pembunuh seperti kami." Lanjutnya lagi sambil menatap dua bocah itu dengan ekspresi serius.
Sontak Kirania menatap sang ayah dengan pandangan berbinar-binar membuat Ellios menatapnya curiga dengan pemikiran adik angkatnya itu.
"Ada apa dengan matamu itu?" Tanya Ellios penuh selidik, sementara Albert menatap sang anak dengan kening berkerut.
"Tadi Papa bilang pembunuh bayaran, kan?" Pria itu mengangguk mengiyakan.
"Aku juga ingin menjadi seperti Papa. Kau terlihat keren saat menebas musuh." Ujar Kirania dengan mata berbinar.
"Kau sadar dengan ucapanmu?"
"Tentu saja. Bahaya kalau gadis secantik diriku ini hanya teriak-teriak tidak jelas saat ada bahaya. Apalagi jika aku keluar sendirian dan kalian tidak sedang bersamaku." Ucap Kirania panjang lebar sambil bergaya centil membuat Albert tersenyum.
"Idih pede gila." Sewot Ellios dengan wajah mengejek membuat Kirania cemberut.
"Kakak iri, ya. Bilang dong."
"Sudahlah kalian berdua." Albert mencoba melerai dua bocah berbeda gender ini. Bisa-bisa mereka berdebat hingga pagi yang bahkan bisa membuat dirinya sakit kepala.
"Jika kau ingin membuktikan perkataanmu, bunuh dua orang ini." Titah Albert sambil mengambil dua buah pisau lipat dibalik pinggangnya dan menyerahkan pada dua bocah dihadapannya dengan tatapan serius membuat Kirania dan Ellios saling tatap dan mengangguk.
Segera mereka berjalan mendekati dua pria yang tergeletak pingsan itu dan menghabisinya membuat Albert tersenyum puas.
Ellios merangkai beberapa segel tangan dan menggumamkan sebuah mantra lalu muncul simbol aneh melingkupi sekitarnya.
Seketika bocah itu jatuh terduduk karena kelelahan.
'Prok... Prok... Prok..'
"Kerja bagus." Pujinya sambil mendekati dua bocah yang berlumuran darah itu. "Kau bisa meminta Joshua untuk melatih elemen apimu. Dia pemilik tatto Phoenix api, jadi kalian bisa bebas saling bakar bakaran. Tapi jangan sampai ketahuan jika kau adalah pemilik tatto Leo."
"Baik, Paman."
"Lalu aku bagaimana?" Tanya Kirania dengan tatapan bingung, gadis kecil itu menengadahkan telapak tangannya dan keluarlah sebongkah es ditangannya.
"Kebetulan sekali." Albert langsung mengeluarkan es ditelapak tangannya dan menatap sang putri dengan tatapan serius. "Aku juga pengendali es."
⚛️⚛️⚛️
Damian menatap putri dan menantunya dengan tatapan marah. Tidak habis fikir kenapa mereka membiarkan Ran terbunuh di tangan Emillia.
"Aku tidak menduga kalian bisa seceroboh itu. Kau membiarkan bocah itu mati membuat penelitian ku sia-sia. Aku menyuruhmu untuk tidak menggugurkan kandunganmu karena ingin menjadikannya anak itu sebagai subjek penelitianku. Mengingat bocah itu sangat spesial." Gerutu Damian kesal.
"Tapi Ayah, aku tidak mau merawat anak itu. Kenapa Ayah bersikukuh ingin anak itu tetap hidup,sih? Lagipula kita masih memiliki Joshua." Ucap Helena santai tanpa beban membuat Damian menggebrak meja meluapkan emosinya.
'Brak!'
"Dia sudah mati bersama temannya. Apa kau lupa, hah?! Bahkan Ran juga mati sebelum aku sempat menjadikannya kelinci percobaan!" Bentaknya dengan mata melotot membuat Helena membulatkan matanya.
"Sedangkan remaja yang kita tangkap untuk penelitian itu sudah mati saat kalian menyiksanya!" Serunya frustasi membuat mereka menunduk.
"Kita bisa menjadikan Abimayu dan Emillia sebagai kelinci percobaan." Jelas Derrick membuat Damian menggeram marah.
"Sudah banyak yang gagal di uji coba ini. Mereka telah mati sesaat setelah Aku memasukkan formulanya. Aku tidak mau kehilangan cucuku yang berharga. Jika ada subjek yang berhasil maka keluarga kita akan ditakuti." Lanjut Damian.
Tanpa mereka sadari, Emillia dan Abimayu yang kebetulan melintas mendengar pembicaraan kedua orang tuanya bersama sang kakek menganga tak percaya. Mereka baru mengetahui bahwa si bungsu dan anak berambut merah itu calon kelinci percobaan sang kakek yang merupakan seorang ilmuwan.
Seketika rasa takut menyelimuti perasaan mereka. Mereka takut jika dijadikan kelinci percobaan oleh kakeknya yang terkenal gila dan tak berperasaan jika sudah di lab. Segera mereka berdua pergi menuju kamar masing-masing tanpa suara. Bisa gawat jika pembicaraan mereka terdengar, bisa-bisa mereka dijadikan kelinci percobaan sang kakek yang telah banyak memakan korban.
⚛️⚛️⚛️
Joshua duduk di sebuah bangku taman sambil menyesap minuman kaleng favoritnya. Pandangannya menyusuri sekitar yang terlihat begitu ramai di malam yang telah larut ini.
"Halo tampan, boleh kenalan? " Terdengar suara wanita menyapa pendengarannya disusul bau parfum yang menyengat membuat pria itu bersin beberapa kali.
"Hatciii! Hatciii!"
"Siapa yang memakai parfum menyengat ini. Hidungku jadi gatal." Gerutu Joshua sambil menggosok hidungnya yang gatal lalu menatap seorang wanita berambut merah menyala dengan make up tebal, pakaian yang terlihat terbuka memamerkan belahan dada dan pahanya yang mulus membuat pria berambut cokelat itu meringis jijik.
"Sayang, kenapa kau mendekati pria menjijikan ini? Apa aku terlihat tidak sempurna dimatamu?" Seorang pria tampan datang menghampiri wanita berambut merah menyala sambil merangkul pinggangnya dengan erat lalu mencium pipinya dihadapan Joshua yang menatapnya dengan datar.
"Jika saja dia mau menjadi simpanan ku." Ucap wanita itu dengan santai membuat wajah pria itu menggelap. "Aku tidak tau jika kau menyukai sampah." Sinis pria itu seraya menatap Joshua tajam.
Joshua mendesah. Niat hati ingin menikmati suasana malam malah diganggu dengan dua orang asing. Joshua segera meninggalkan tempat itu sambil meremas kaleng minumannya hingga tak berbentuk.
"Mereka menjatuhkan moodku." Makinya sambil melangkah meninggalkan pasangan aneh itu yang kini bertengkar hebat dibelakangnya.