
Sudah tiga bulan Kirania dan Ellios menetap di kota X. Mereka yang dulunya kurus kering kini telah berisi dan mereka tumbuh menjadi remaja tangguh dan cerdas berkat didikan dari Albert dan Joshua.
Dua pria itu melatih fisik, mental dan pola pikir mereka dalam memecahkan masalah layaknya seorang pembunuh profesional. Bahkan tak jarang mereka berdua melatih fisik dan mental 2 remaja itu di hutan yang terletak tak jauh dari apartemen mereka.
Kirania dan Ellios juga bersekolah di sekolah SMP yang terletak di kawasan Kota X. Selama tiga bulan ini mereka hanya belajar dan latihan bersama Albert dan Joshua serta jiwa dari tatto zodiak mereka.
Kirania dan Ellios tengah berjalan santai sambil membawa sekantong belanjaan. Mereka baru saja pulang sekolah dan berencana akan melakukan latihan setelah selesai mengerjakan tugas.
Tiba-tiba seseorang menabrak Kirania hingga menyebabkan gadis itu sedikit oleng. Terlihat seorang gadis berpakaian seragam yang sama denganya menatapnya dengan tatapan merendahkan lalu berlalu begitu saja meninggalkan Kiranua dan Ellios dengan tatapan heran.
♦♦♦
"Akhirnya kalian kembali," ucap Joshua dengan nada sedih yang dibuat-buat begitu sepasang remaja memasuki apartemen, membuat kedua remaja itu memutar matanya malas. "Aku kira kalian tersesat." Lanjut pria itu lagi.
"Hentikan nada mengejek mu itu, orang mesum!" Sarkas Kirania yang langsung menohok hati Joshua.
"Hei, aku tidak mesum,tau!" Seru Joshua tidak terima.
"Ya, kau tidak mesum mengingat kamarmu penuh dengan majalah dewasa." Ejek Kirania yang langsung membuat kepala Joshua berkedut kesal.
"Setidaknya aku ini tampan dan banyak uang."
"Ah... Kenapa bukan kau saja yang berbelanja. Apakah kau sudah mulai pikun?" Sindir Ellios yang langsung membuat Joshua kesal.
Jika saja kedua remaja ini bukan keponakannya, dengan senang hati Joshua akan melemparkan mereka dari jendela apartemen atau menghanyutkannya ke sungai.
Sebelum Joshua sempat membalas ucapan manis keponakannya, terdengar suara desingan peluru di kejauhan memecah keheningan sore hari yang indah.
"Mereka tidak pernah membuatku beristirahat." Keluh Joshua lalu menoleh ke arah dua remaja yang tengah berkutat didapur dan berkata, "Kalian jaga rumah, aku akan keluar sebentar." Yang hanya dibalas dengan gumanan. Joshua segera bergegas menuju pintu dan menutup nya, meninggalkan Kirania dan Ellios yang kini sibuk menata belanjaan di dapur.
"Sebaiknya aku membuat makan malam." Guman gadis itu.
...... ...........
Albert bersembunyi di salah satu gang sambil menggenggam tangan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Sesekali pria itu mengintip sekumpulan orang berpakaian hitam dengan wajah yang tertutup yang terus menembakkan peluru.
Pria itu memakai topeng naga yang menutupi hampir sebagian wajahnya, pakaian serba hitam yang ditutupi dengan jubah hitam, serta sebuah tudung yang menyembunyikan rambutnya.
"Tetaplah bersamaku. Jika mereka lengah, kau harus segera pergi. Kau tau tempat orang tuamu, kan?" Tanya Albert sambil memperhatikan situasi.
"Hu'um." Jawab anak laki-laki itu dengan pasti.
"Bagus." Albert segera keluar dari tempat persembunyiannya diikuti oleh anak laki-laki berusia 9 tahun.
"D–dia si pembunuh bayaran dengan tatto Naga!" Seru salah satu seorang pria berpakaian serba hitam.
"Heh, dia hanya seorang diri. Kita bisa mengalahkannya dalam sekali tembak." Sahut rekannya dengan meremehkan.
"Tunggu aba-aba dariku. Apapun yang terjadi jangan pernah menoleh ke belakang dan jangan berhenti. Kau tau rutenya, kan?"
"Iya." Sahut anak laki-laki itu dengan tegas.
"Cepat serahkan anak itu!" Teriak salah satu dari sekumpulan orang berseragam hitam tertutup itu.
"Sekarang!"
Anak laki-laki itu segera berlari menjauhi area itu, sedangkan Albert berlari kearah sekumpulan orang berpakaian hitam tertutup itu untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Tembak!"
Desingan peluru terdengar bersahut-sahutan, melontarkan timah panas dengan kecepatan tinggi ke arah Albert. Dengan gesit Albert menghindari peluru sambil mengeluarkan samurai nya dan menghalau serangan peluru itu.
'Kling...kling... kling'
Albert menoleh ke belakang memastikan anak itu telah pergi dengan selamat, namun sebuah peluru berhasil mengenai bahunya. Terlihat sebuah simbol aneh di bahu Albert yang memantulkan peluru itu membuatnya berdecak kesal.
"Kau menembak ku disaat aku lengah. Kali ini aku akan serius!" Lalu Albert segera menebas salah seorang berpakaian hitam itu.
'Duakh' 'Brukh'
Seorang telah tumbang membuat sekumpulan orang berpakaian hitam itu tanpa sadar tersentak mundur. Albert berdiri dengan santai lalu menyerang mereka hingga tak tersisa.
♦♦♦
Kirania telah selesai menata makan malam di meja makan saat seseorang menekan bel apartemennya.
'Ting tong'
Dengan waspada Kirania segera mengambil sebuah pistol yang terletak di atas meja dan mengintip layar telekom. Terlihat seorang pria tampan dengan rambut coklat, mata abu kebiruan dengan rahang tegas tersenyum lebar di layar telekom yang membuat gadis itu mendengus.
"Kiran~ apakah kau tidak mau membukakan pintu untuk paman mu yang tampan ini ~?" Kirania segera meletakkan pistolnya kembali dan melangkahkan kakinya mendekati pintu apartemen dengan enggan.
Dengan enggan Kirania membukakan pintu apartemennya. Terlihat 2 pria tampan berdiri di depan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Tak lupa gadis itu menutup pintu apartemennya.
Joshua dan Albert mendudukkan diri di sebuah sofa panjang di ruang tamu. Mereka membuka 3 kancing kemeja menampakkan dada bidang mereka yang terlihat kokoh dan berotot.
"Kau tidak menyapa paman tampan mu?" Goda Joshua sambil menaik turunkan alisnya yang membuat Kirania kesal.
"Kau terlihat sangat tua, Paman." Ejek Kirania saat melihat penampilan Joshua yang sangat acak-acakkan. Gadis itu segera berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.
"Dasar keponakan laknat." Gerutu Joshua pelan dan mendapatkan tatapan tajam dari Albert.
"Aku mendengarnya, Pria mesum!" Seru Kirania dari arah dapur yang berhasil membuat Joshua berkedut kesal.
"Aku mandi dulu." Albert beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
...... ........ .....
Albert keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar. Pria itu mengibaskan rambut hitam dengan beberapa helai biru yang sedikit basah membuat siapapun meleleh saat melihatnya. Pria itu mengenakan pakaian santai dan segera menuju ruang makan yang ternyata telah ditunggu oleh Joshua dan Kirania yang sibuk berdebat dengan Ellios sebagai penengahnya.
"Dia kenapa?" Tanya Albert kepada Ellios saat melihat putrinya sibuk mengomeli Joshua.
"Seperti biasa. Dia menggoda Kiran hingga dia marah-marah." Jawab Ellios dengan cuek sambil menonton Kirania dan Joshua yang sibuk berdebat.
"Ehem! Kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian nanti. Sekarang mari kita makan dulu." Ucap Albert yang sukses menghentikan pertikaian sepasang manusia beda gender dan usia itu.
"Untung kau datang disaat yang tepat. Kalau tidak, telingaku akan meledak mendengar ocehan putrimu." Sungut Joshua kesal sambil menatap Kirania dengan tatapan tajam.
"Kenapa Paman menatapku seperti itu? Paman menyukaiku?" Tanya Kirania dengan nada mengejek sembari menaik turunkan alisnya membuat Joshua menghela nafas frustasi.
"Kiran, berhenti menggoda Pamanmu. Setelah makan kau bisa membekukannya sesuka hatimu." Ucap Albert yang dibalas dengan tatapan tak percaya oleh Joshua dan tatapan bahagia dari Kirania.
..... .........
Mereka berempat tengah bersantai di ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang keluarga. Albert menatap Kirania yang sibuk menonton film action sambil bersandar dibahu Ellios yang tengah sibuk membaca buku, tidak lupa ditemani cemilan kesayangannya.
"Bagaimana sekolah kalian?" Tanya Albert seraya mengamati kedua anaknya.
"Seperti biasa, Pa." Jawab mereka serentak dan menatap Albert dengan tatapan hangat.
"Uhh... Manisnyaa~ Seandainya saja mulutnya tidak pedas." Batin kedua pria itu bersamaan.
Merasa tidak mendapat tanggapan, Kirania berdeham membuyarkan lamuan 2 pria tampan yang berada dihadapannya.
"Tak perlu memandang kami begitu hingga kalian lupa berkedip. Aku tau kami ini sangat tampan sampai-sampai mata kalian melotot nyaris keluar dari rongga nya." Ucap Kirania percaya diri membuat kedua pria itu memutar matanya malas.
'Dasar bocah laknat!Apa dia lupa bahwa dirinya perempuan?'' Mereka hanya bisa memaki dalam hati.