The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 29: Truth



"Aku menasehatimu karena kau keponakanku. Meskipun Helena bukan saudariku dan kami berbeda orang tua, aku tetap menganggapmu sebagai keponakanku meskipun kau hasil dari kloningan ataupun karena kesalahan." Lanjut Joshua dengan serius membuat Kirania tertegun.


"Kenapa Paman tidak membenciku atau jijik padaku?" Tanya Kirania penasaran. Padahal ibu dan ayahnya serta seluruh keluarganya dulu sangat membenci bahkan memandang jijik dirinya.


"Karena setiap bayi yang lahir tidak berdosa. Dan kau tidak bersalah sama sekali." Ucapan Joshua terhenti saat melihat seorang pelayan membawa pesanan kearah mereka dan menatanya di meja.


Setelah pelayan itu menyelesaikan tugasnya dan undur diri, mereka segera makan karena perut mereka telah berdemo minta diisi.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Kirania merebahkan dirinya di tempat tidur miliknya. Perkataan Joshua membuat dirinya semakin penasaran.


'Jika kau memperhatikan lengan Albert, kau bisa melihat bekas suntikan di lengannya. Dia sering dijadikan kelinci percobaan oleh Damian karena memiliki stamina dan daya tahan diatas manusia pada umumnya.'


Karena rasa penasarannya yang tinggi, Kirania segera bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar Albert mengingat pria itu masih bekerja hingga larut nanti.


"Permisi..." Lirihnya saat memasuki kamar sang ayah yang terlihat rapi dan bersih dengan aroma aromatic watery yang memabukkan.


"Uhh... Jika saja aku bukan anaknya, sudah pasti aku mabuk kepayang dengan aroma ini." Gerutunya sambil menyusuri kamar Albert. Matanya bergerak liar mencari sesuatu yang membuatnya penasaran.


Dia tanpa sungkan mengobrak-abrik kamar Albert, biarlah pria tanpan itu marah dan membencinya daripada dia menjadi arwah penasaran karena penasaran sampai mati. Setelah sekian lama dia akhirnya menemukan sebuah map yang terletak di atas lemari.


Kirania duduk diranjang Albert dan mulai membuka map itu. Terdapat sebuah hasil tes DNA miliknya dan Albert membuatnya menganga tak percaya.


"Aku ini memang putrinya karena sering mendapat suntikan darah dari ayah tampan." Ucapnya ngawur saat dirinya mengingat sekelebat masa lalunya, dimana Kirania sering mendapat suntikan berisi darah yang dimasukkan kedalam pembuluh darah miliknya.


Matanya membulat, dadanya terasa sesak saat membaca berkas-berkas itu. Rupanya Albert sering menjadi pendonor darah dan DNA untuknya, serta mendapatkan suntikan hasil penelitian. Kirania membayangkan betapa menderita nya hidup Albert. Mengabaikan emosi yang berkecamuk Kirania membaca berkas itu sampai habis dengan air mata bercucuran. Ternyata dirinya dan Albert hanya dijadikan senjata untuk kepentingan mereka dan akan membunuhnya jika tujuan mereka telah tercapai.


Kirania menangis sesegukan bertepatan dengan terdengar pintu kamar terbuka dan suara bariton yang akrab menyapa pendengarannya membuat gadis itu tersentak kaget.


"Kau disini?"


⚛️⚛️⚛️⚛️


Albert memasuki apartemen nya yang terasa sunyi mengingat saat ini malam telah larut. Dia memasuki kamar Kirania untuk memastikan gadis itu telah tidur. Namun hal yang dijumpainya membuatnya sedikit cemas. Kamar Kirania masih terang benderang, namun sang pemilik kamar tidak berada disana.


Pria itu mendengar suara tangisan yang berasal dari kamarnya. Buru-buru dia memasuki kamarnya dan terlihat seorang gadis tengah menangis tersedu-sedu sambil membaca sebuah berkas.


"Kau disini?"


Dia melihat Kirania menoleh ke arahnya dengan wajah basah dengan air mata. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya yang bercucuran.


"Papa sudah pulang?" Tanyanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin meskipun sesekali terdengar suara isakan. Tubuh pria itu membeku saat melihat berkas di tangan Kirania. Itu berkas miliknya yang berhasil dia curi dari Damian beberapa waktu lalu.


"Aku baru saja sampai." Jawab Albert berusaha tenang sambil melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah Kirania.


Tanpa diduga Kirania menghamburkan dirinya ke pangkuan Albert dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, membuat pria itu kebingungan dan berusaha menenangkan Kirania.


"Maafkan aku karena masuk dan membacanya tanpa ijin. Papa boleh marah dan benci padaku. Tapi aku mohon jangan jual aku, hiks...hiks..."


"Aku tidak membencimu karena ini. Karena kau adalah putri ku meskipun kau putri kloningan ku. Seharusnya kau yang benci dan jijik padaku karena telah membaca berkas itu." Balas Albert sambil menepuk punggung Kirania pelan.


"Justru aku benci dan jijik pada mantan keluarga ku. Mereka sangat kejam padamu, Pa. Hiks...hiks..."


"Sudahlah, jangan menangis lagi, putri ku." Ucap Albert lembut. Kirania mengeratkan pelukannya pada sang ayah tanpa ada niatan melepas pelukannya.


Setelah beberapa saat Kirania mulai tenang dan gadis itu mengurai pelukannya. Dia terlihat kikuk karena kemeja Albert basah karena air mata dan ingusnya.


"Seharusnya Papa sudah menikah dan memiliki anak yang masih batita, bukan remaja berusia 15 tahun sepertiku." Ucap Kirania manja membuat Albert menjitak kepalanya sayang.


'Pletak'


"Aduduh..." Kirania mengusap kepalanya yang nyut-nyutan akibat belaian kasih sayang Albert. Dia menatap sang ayah dengan cemberut.


"Kau bosan hidup, ya? Mau ku kirim ke akhirat?" Sinis Albert kesal.


"Tidak, terimakasih. Nyawaku ada 1 bukan banyak." Ketus Kirania sambil mengembungkan pipinya pertanda kesal.


Albert menarik pipi Kirania membuat sang empunya meringis kesakitan.


"Mau aku anak angkat, anak kloningan atau apapun aku ingin tinggal bersama Papa. Bagaimanapun kau telah merawatku sejak kecil dengan tulus. Kau tidak memperlakukan ku seperti keluarga Anderson maupun keluarga Brawijaya. Pengecualian untuk paman Joshua karena dia bukan anak kandung si brengsek Damian. Jadi ijinkan aku tinggal bersamamu, ya." Ucap Kirania menggebu-gebu dan menatap Albert dengan penuh harap.


"Tentu saja."


Seakan mengingat sesuatu, Kirania menatap Albert dengan tatapan penasaran membuat Albert mengernyitkan dahinya.


"Ah, iya. Pa, bercinta itu apaan?" Tanya Kirania sambil memasang pose berpikir. Seketika suhu udara menurun drastis dan terlihat wajah Albert menggelap dengan petir menyambar sebagai background nya.


'CTAK' 'CTAK'


Muncul kedutan di wajah Albert, sepertinya pria itu tersulut emosi.


"Heh, nyebut. Tau perkataan itu dari mana?" Tanya Albert dengan nada dingin.


"Tadi sewaktu paman mengajakku jalan-jalan ada seorang laki-laki menghampiri kami. Dia berkata 'apa kau mau bercinta denganku? Aku akan memberimu apapun yang kau inginkan.'" Jelas Kirania polos sambil menirukan gerakan pria hidung belang yang merayu membuat kedutan muncul semakin banyak di wajah Albert.


Wajah Albert semakin menggelap. Dia ingin menguliti Joshua sekarang juga.


"Tapi paman langsung menghajar orang itu dan membawaku pergi dari sana." Lanjut Kirania yang berhasil menurunkan emosi Albert.


"Kau mau tau bercinta itu apaan?" Tanya Albert datar.


Kirania mengangguk dengan ragu dan berkata, "Sepertinya itu bukan hal yang bagus."


"Sebaiknya kau tidak usah tau tentang hal menjijikkan itu." Putus Albert mutlak.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Karena ujian akan dilaksanakan sebentar lagi, ku harap kalian belajar dengan giat dan lulus dengan nilai memuaskan." Ucap seorang guru wanita sambil merapikan peralatan mengajarnya.


"Iya, bu..."


"Sampai jumpa besok anak-anak." Lalu guru wanita itu segera meninggalkan kelas. Seketika seisi kelas berisik seperti pasar meributkan sekolah atas mana yang akan menjadi tujuan mereka.


"Kau akan bersekolah dimana, Kiran?" Tanya Aqueera antusias.


"Entahlah. Kau sendiri?" Balas Kirania malas.


"Aku sih ingin di sekolah yang terletak dipusat distrik B. Ku dengar sekolah itu sangat lengkap dan elite. Jadi keluargaku akan menyekolahkan ku disana." Cerocos Aqueera semangat.


"Kau tau, ayahku seorang pengacara hebat dan ibuku adalah seorang hakim ternama. Jadi itu adalah hal yang mudah." Ucapnya sombong membuat Kirania tersenyum malas. Dia sudah bosan mendengar celotehan tak berguna Aqueera.


"Pengacara hebat apanya? Dia menyelesaikan kasus jika dibayar mahal." Cibir Ganymede tiba-tiba.


"Benarkah? Kau tau darimana?" Tanya Kirania melalui telepati mengabaikan Aqueera yang sibuk berceloteh ria.


"Aku ini dewa konstelasi zodiak. Jadi aku mengetahui apapun dengan mudah." Ucapnya sombong membuat Kirania menghela nafas bosan sambil mengorek telinganya yang mendadak gatal.


"... Ayahmu yang hanya bartender murahan itu tidak akan bisa menyekolahkan mu disana. Jika kau ingin sekolah disana, aku bisa membantumu." Perkataan Aqueera sukses membuat emosi Kirania tersulut. Dia ingin menghajar gadis itu sekarang juga, namun dia urungkan mengingat gadis itu adalah sumber informasi penting untuknya.


"Aku akan memikirkan tawaranmu lain kali." Jawab Kirania lalu kembali membaca brosur sekolah yang baru saja dia dapatkan.


Jam istirahat telah tiba. Kirania segera mengambil kotak bekalnya dan bergegas menuju halaman belakang. Saat ini dia tidak mood makan di kantin mengingat betapa merepotkannya saat berdesakan memasuki ruangan itu.


Halaman belakang sekolah ini terlihat sepi namun sangat indah dan rindang. Tetapi jarang ada siswa yang mengunjungi tempat ini. Dia mengedarkan pandangannya dan kepincut pada sebuah pohon mangga besar dan rimbun yang ada di sana. Dengan bahagia dia menghampiri pohon mangga itu dan memanjatnya dengan riang.


Kirania memilih sebuah dahan yang kokoh dan rindang. Gadis itu duduk bersandar dan mulai memakan bekal siang buatan sang ayah dengan lahap sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang memabukkan.


Namun suasana bahagianya menghilang seketika saat pendengaran nya menangkap beberapa langkah kaki yang mendekat kearahnya, tepatnya ke arah pohon tempatnya duduk.


Kirania memperhatikan guru itu dengan waspada, terlihat dari gerak geriknya yang begitu mencurigakan. Segera dia menghabiskan makan siangnya dan merapikan nya. Dia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Meskipun tidak sopan, siapa tau ada informasi rahasia yang berharga.


Kirania sendiri adalah pencari informasi yang handal. Berkat latihan yang dijalani bersama Albert dan Joshua serta latihan ekstrim yang dijalani semasa kecil membuatnya tumbuh menjadi gadis berbahaya.


Mata gadis itu membola saat melihat seseorang yang familiar datang menghampiri mereka.


'D–dia...'