The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 61



Beberapa orang tengah mengepung sebuah bangunan sederhana yang terletak di dalam hutan. Seorang diantara mereka memberi aba-aba yang langsung di angguki oleh mereka.


Mereka segera menerobos masuk dengan senjata andalan masing-masing dan langsung menghancurkan apapun di dalamnya.


Keributan itu mengundang beberapa orang yang berekspresi seperti papan triplek mendatangi mereka, yang tak lain Aretha dan para petinggi Athena grup dengan beberapa orang pemilik tatto zodiak. Segera mereka menyerang sekelompok orang itu dengan membabi buta.


"Ren, Albert! Bawa beberapa orang untuk masuk ke dalam. Hancurkan apapun yang menghalangi kalian." Titah Aretha.


"Baik." Seru mereka bersamaan.


"Ellios, Antares, Petra, Benedict dan Ivanna! Ikut kami!" Titah Ren tegas.


"Baik!" Seru mereka dengan tegas.


Mereka memasuki sebuah ruangan yang terlihat remang-remang. Ren memberi isyarat untuk berpencar yang langsung di angguki oleh mereka. Albert diikuti Benedict, Antares dan Ellios segera menuju ke sebuah ruangan yang terdapat berbagai macam alat operasi dan sebuah brankar. Di sana terlihat Damian tengah menyuntikkan sesuatu pada tubuh Helena.


"Lama tidak bertemu, Tuan Damian." Sapa Albert dingin membuat Damian menoleh ke asal suara dan menatapnya dengan kaget.


"K-kau?!" Sapanya dengan wajah pucat pasi.


"Ya, ini aku. Eksperimen yang kabur dan mematai Anda selama ini." Tukas Albert dengan ekspresi dingin.


"Tidak mungkin! Kau tidak bisa bertahan hidup."


"Oh? Bagaimana dengan anak berambut merah ini?" Ujar Albert sinis membuat Damian membelalakan matanya saat melihat Ellios berjalan dan berdiri di sebelah Albert.


"Tidak mungkin! Bukannya kau sudah mati?!" Seru Damian tak percaya.


"Ah, kau benar-benar bodoh, Pak Tua. Kau yang memintaku mengawasi seorang anak kecil di kediaman Anderson beberapa tahun lalu. Dan kau juga memukul ku dan Joshua bila menghibur anak itu." Sinis Albert membuat Damian memundurkan langkahnya dengan gemetaran. Sementara Antares dan Benedict hanya diam menyimak tanpa ikut campur.


"Apa kabar, Kakek? Ternyata kau masih hidup, ya?" Sinis Ellios sambil menahan emosi yang membuncah di dadanya.


Ya, Ellios mengingat jika saat itu dia dibawa pergi dengan paksa ke panti asuhan saat tengah menghibur Kirania yang menangis akibat di siksa Helena. Beruntung Joshua berhasil menemukannya dalam keadaan babak belur dan membawanya pergi dari sana.


Menyadari emosi Ellios, Albert menenangkan pemuda bersurai merah itu.


"Aku ingin memberikan informasi penting padamu." Ucap Albert santai sambil merogoh saku celananya. "Joshua dan anak itu masih hidup, jadi berita kematian itu adalah rekayasa kami." Mendengar hal itu membuat Damian terlonjak kaget.


"Apa?"


"Tapi karena ini informasi penting, maka bayarannya adalah nyawa Anda." Pria tampan dengan rambut hitam dengan ombre biru itu menodongkan senjata api kearah Damian lalu menarik pelatuknya.


Suara tembakan terdengar menggema di ruangan itu. Damian telah tergeletak tak bernyawa dengan kepala berlubang yang mengucurkan darah.


"Ellios, bunuh wanita itu." Ucap Albert saat melihat Helena yang terbaring tak berdaya di atas brankar. Ellios menurut dan tanpa membuang waktu dia segera menembak kepala Helena.


"Bakar tempat ini."


Ellios menurut. Dia mengeluarkan apinya dan mulai merambat membakar tempat ini. Mereka berempat segera meninggalkan tempat yang terbakar.


💠💠💠💠💠


Albert menatap Kirania yang terkulai lemah di ranjang rumah sakit. Beruntung gadis itu hanya menerima patah tulang pada lengannya dan tidak mengalami luka serius.


Sementara Joshua mengalami pergeseran pada bahu dan beberapa memar menghiasi tubuhnya. Joshua menghampiri Albert yang tengah menatap Kirania dengan ekspresi sendu. Perasaan bersalah menggelayuti hatinya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa melindunginya pada saat itu." Sesal Joshua.


"Hn." Albert melirik Joshua dan segera menghampiri rekannya. Dia memegang bahu Joshua dan..


'Krak'


"Aaarrgghh!" Joshua berteriak kesakitan. "Apa yang kau lakukan? Sakit bodoh!" Maki Joshua kesal.


"Hanya membetulkan letak tulang bahumu." Sahut Albert cuek.


Joshua menggerakkan bahunya, tidak terasa sakit lagi membuatnya bernafas lega.


"Dia mengalami shok akibat kejadian kemarin." Ucap Joshua saat mengingat bagaimana perlakuan Aaron pada keponakannya. "Aku bukan paman yang baik, aku tidak bisa menyelamatkannya. Maafkan aku." Joshua menghampiri Kirania yang masih tertidur dan mengusap kepalanya dengan sayang.


"Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku tidak menyangka di laboratorium si tua bangka gila itu banyak mutan, termasuk Helena." Jelas Albert.


Ya, semalam Albert bersama keempat petinggi Athena grup dan Aretha serta para pemegang tatto zodiak lainnya menerobos ke laboratorium milik Damian dan membumi hanguskan laboratorium miliknya. Dia juga membunuh Damian dan Helena serta beberapa mutan lainnya.


Tanpa mereka sadari, Kirania tersadar dari tidurnya dan mendengar percakapan mereka.


"Bagaimana dengan Aaron?"


"Tatto Fenrir nya berhasil dimusnahkan. Untuk sementara dia di tahan di penjara bawah tanah untuk di interogasi."


"Papa, Paman..."


Sontak mereka berdua menoleh dan mendapati Kirania yang telah sadar dan duduk bersandar di ranjang rumah sakit.


"Kau baik-baik saja?" Tanya mereka bersamaan.


"Uh'um. Paman baik-baik saja?" Tanya Kirania sambil melirik Joshua.


"Maafkan Papa juga yang terlambat datang, Ran." Sesal Albert.


Seketika ingatan kemarin kembali melintas, dimana Aaron menampar dan melecehkannya.


"Hiks... Hiks... J-jadi a-aku... Hwaaaa!!!" Kirania menangis di pelukan sang paman, menyembunyikan wajahnya di dada Joshua.


"Tenanglah, Ran. Hal itu tidak terjadi." Joshua menepuk pundak Kirania dengan hangat, mencoba menenangkan Kirania yang menangis histeris.


Setelah beberapa saat Kirania akhirnya tenang, apalagi saat mendengar penjelasan dari Ganymede, Joshua dan Albert membuatnya bernafas lega.


"Dimana kakak?" Tanya Kirania begitu tidak mendapati keberadaan Ellios.


💠💠💠💠


Distrik F terlihat sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang di jalanan. Terlihat beberapa orang sibuk membereskan kekacauan semalam.


Waktu kembali berlalu begitu cepat dan malam telah tiba. Di sebuah rumah minimalis berlantai dua terlihat seorang pria tampan bagai dewa duduk bersandar di sofa sambil menatap langit malam menemani seorang pemuda bersurai merah yang masih tertidur pulas.


"Apa kau pernah mendengar legenda mimpi monyet?" Tanya Albert sambil menatap Ellios yang masih tergulung selimut.


"Mimpi itu, ya? Itu legenda dimana seseorang dibunuh dalam mimpi. Walaupun sudah bangun, jika tidur lagi mimpi itu akan berlanjut." Jawab Ellios dengan suara khas bangun tidur.


"Hn. Dan mimpi itu akan menghampiri mu jika kau kebablasan tidur lagi." Ucap Albert dengan nada mengancam.


Ellios segera menegangkan tubuhnya dan beranjak duduk di atas ranjang. "Hoaamm~ Selamat pagi, Ayah." Sapa Ellios.


"Pagi kepalamu! Kau tidur selama enam hari seperti orang mati. Ini sudah malam, tau." Kesal Albert.


"Apa?! Kenapa kau tidak membangunkan ku?"


"Aku berniat memesan peti mati jika kau tidak bangun malam ini. Cepat bersiap. Aku sudah menyiapkan makan malam." Setelah berkata demikian Albert beranjak dari sana.


"Baik, Yah. Terimakasih."


"Dimana kakak?" Tanya Kirania begitu melihat sang ayah menuruni tangga.


"Dia sedang bersiap-siap."


"Kau tau, Ran? Ellios tidur sejak enam hari lalu, dia seperti orang mati. Jika dia tidak bangun malam ini, kami sepakat akan memesan peti mati untuknya." Ucap Joshua dengan nada riang sambil tersenyum manis.


"Apa?! Tidur selama enam hari?" Ucap Kirania tak percaya. "Dia benar-benar seperti kukang."


Tepat Kirania berkata seperti itu, muncul Ellios di balik pintu dan menyapa mereka dengan wajah tanpa dosa dan ikut bergabung bersama mereka di meja makan.


💠💠💠💠


Hari telah berganti dan hari kelulusan telah tiba. Kirania mendatangi distrik B bersama Albert untuk mengambil ijazah.


Kirania memasuki aula sekolah bersama beberapa siswa lainnya dan mencari tempat duduk yang terletak paling belakang.


"Heh, lihat si culun ini. Setelah dua bulan tidak datang ke sekolah, kali ini datang dengan tampilan seperti ini?" Cibir Adinda menghampiri Kirania.


"Oh, apa kau baru saja menjadi seorang pelacur?" Sinis Olivia dengan nada mengejek. Mereka tertawa merendahkan yang sukses menjadi pusat perhatian.


"Lalu urusan kalian?" Tanya Kirania cuek membuat mereka geram.


"Hei, Kiran!" Sapa Petra begitu melihat keberadaan Kirania. Dia segera mendekati gadis itu dan duduk disebelahnya, mengabaikan keberadaan Adinda dan gengnya seolah mereka makhluk tak kasat mata.


"Ya?"


"Kau akan bersekolah dimana?" Tanya Petra penasaran.


"Aku belum memikirkannya. Banyak sekolah dengan prestasi gemilang dan bagus yang membuatku pusing untuk memilihnya." Ucap Kirania santai.


"Aku dengar ada sebuah sekolah bergengsi. Untuk menjadi pemimpinnya, kau harus mengalahkan beberapa kandidat yang terpilih." Ucap Petra berapi-api sambil menyodorkan sebuah brosur.


Kirania menerima brosur itu dan membacanya. Seketika matanya berbinar senang.


"Kau akan bersekolah di sini?" Tanya Kirania.


"Benar. Lagipula disini bebas bertarung dan kita bisa membuat geng ataupun menjadi pemimpin angkatan." Jelas Petra menggebu.


"Kau berani mengacuhkanku?!" Seru Adinda tak terima saat Kirania mengabaikannya.


"Oh, bukannya kau itu anak dari calon walikota yang menyebabkan kerusuhan waktu itu, ya?" Seru Petra dengan suara keras membuat bisik-bisik menggema di aula itu.


"Bukankah dia anak wali kota yang gagal terpilih itu, ya?"


"Dia berani membuat ulah setelah ayahnya membuat kekacauan di kota ini? Benar-benar tidak tau malu."


Mendengar bisik-bisik itu wajah Adinda memerah menahan malu dan amarah. Dengan kesal dia segera menuju tempat duduknya diikuti oleh antek-antek nya.


"Tunggu saja pembalasanku, Kirania!" Geram Adinda.