
Sepasang anak berbeda gender masih terbuai di alam mimpi membuat Frankie menggelengkan kepalanya saat melihat kedua anak-anak itu tidur dengan posisi elitnya.
Ellios tidur dengan telungkup, kepala maroonnya terjulur dari tempat tidur dan kaki terbuka ke sembarang arah, sedangkan Kirania tidur terlentang dengan sebelah kaki yang berada di atas punggung Ellios.
Frankie menyibak gorden kamar itu, membuat cahaya matahari menerobos masuk dan menerpa langsung wajah kedua anak kecil yang tengah tertidur pulas. Hingga akhirnya kedua anak kecil berbeda gender mengernyitkan mata karena terganggu dengan silaunya cahaya yang mendadak menerpa mata mereka.
Perlahan mereka menggeliat sebelum sebuah tendangan mendarat telak mengenai bocah laki-laki bersurai maroon hingga jatuh dari tempat tidur, memaksanya meninggalkan mimpi indahnya.
Anak laki-laki itu mengaduh dan memandang sang pelaku yang tak lain Ran dengan sengit. Segera anak laki-laki itu bangkit dari acara jatuhnya dan menarik selimut yang membungkus anak perempuan yang masih terbuai mimpi.
"Bisakah kau tidak menendangku?" Maki nya sambil menarik selimut yang membungkus Ran.
"Hoaamm... Selamat pagi, Kak Elli. Aku pikir tadi menendang guling." Sahutnya tanpa dosa sambil mengucek matanya yang masih terasa sepat, membuat kepala maroon Ellios berkedut.
"Guling kepalamu." Umpatnya kesal yang langsung mendapatkan jeweran manis dari Frankie membuat bocah itu mengaduh kesakitan.
"Ellios, mulutmu itu harus dijaga. Jangan mengumpat di depan nona atau kau akan mendapat masalah." Ucap pria paruh baya itu dengan tegas membuat Ellios merengut.
"Iya, Ayah. Maaf... Tolong lepaskan tanganmu dari telingaku." Jawabnya malas sambil mengaduh kesakitan membuat Frankie menghembuskan nafas lelah.
"Tidak apa, paman. Aku menganggap kak Elli sebagai kakakku. Tolong jangan marahi dia." Gadis kecil itu membela Ellios yang masih dijewer oleh Frankie.
Frankie melepaskan jeweran pada telinga Ellios dan menatap Ran dengan lembut, "Nona, hari ini tuan Damian akan datang. Mohon anda bersiap." Ucap pria paruh baya itu dengan lembut membuat Kirania mengernyit bingung.
"Tuan Damian? Siapa dia?" Tanya nya bingung sambil mengingat sesuatu.
"Nanti anda akan tahu. Sebaiknya anda segera bersiap." Titah Frankie dan segera menyeret Ellios yang sibuk mengusap telinganya untuk meninggalkan Ran sendirian.
Ran tidak pernah mengetahui tentang kakeknya maupun keluarga ibunya, kecuali Joshua. Sewaktu Kirania masih berusia 4 tahun, Joshua pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja dan memberikan sebuah boneka sebagai kenang-kenangan yang bertepatan pada hari ulang tahunnya.
"Sudahlah, mungkin dia orang yang tidak penting." Gumannya santai seraya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jika Damian mendengar gumanan gadis kecil itu, bisa dipastikan Damian akan menangis darah karena salah satu cucunya tidak mengenalnya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Ran keluar kamar dengan keadaan yang jauh lebih segar. Gadis kecil itu menggunakan dress sederhana bewarna biru muda menonjolkan beberapa helai rambut biru cerahnya.
Rambutnya dia sisir rapi dan di gerai tanpa hiasan membuatnya terlihat cantik sederhana.
Ran segera menuju ruang makan, sesampainya disana gadis kecil itu tidak menjumpai anggota keluarganya dan tidak ada makanan yang tersedia di meja makan.
Gadis kecil itu hanya bisa menghela nafas pasrah dan segera menuju dapur. Saat tiba disana dia mengamati sekitar dan segera membuka kulkas untuk mengambil selembar roti dan sekotak susu, namun suara seorang pria dewasa mengagetkan nya.
"Anda mau sarapan, nona?"
Sontak Kirania segera berbalik dan melihat Alex berdiri dengan wajah sangarnya. Gadis kecil itu langsung menundukan kepalanya takut sambil mengangguk dengan gerakan patah-patah. Kejadian kemarin membuatnya trauma. Sedangkan Albert yang menyamar menjadi Alex harus menahan diri agar tidak memeluknya.
"Siapa nama Anda, nona?" Tanya Alex dengan ramah.
"Namaku Ran, Paman. Hanya Ran saja tanpa nama panjang." Cicitnya sambil menunduk membuat Alex mengernyitkan dahinya.
"Boleh Paman tambahkan namamu?" Tawar Alex membuat gadis kecil itu mendongakkan kepalanya.
"Sungguh?"
"Tentu. Kirania Revalina itu nama panjangmu. Apa kau suka?"
"Aku suka, Paman. Itu nama yang indah."
"Tapi jangan sampai mereka tau nama panjangmu, ya? Nanti Paman dihukum sama mereka."
"Tentu saja, Paman. Aku janji."
"Mau ikut sarapan bersama ku?" Hati Albert berdenyut sakit melihatnya yang kurus kering karena kekurangan nutrisi.
Kirania menimang tawaran pria dihadapannya sebelum menjawab dan menunjukkan makanan yang diambilnya tadi, "Maaf Paman, aku sarapan dengan makanan ini saja."
Mata pemuda itu memincing dan melihat roti yang dipegang oleh Kirania, warna roti itu terlihat berbeda dan berbau. "Boleh saya melihatnya?" Ucap Alex sambil menunjuk roti dan susu yang di pegang oleh Kirania.
Kirania segera menyodorkan roti dan susu yang baru saja diambilnya yang langsung di terima oleh Alex. Pemuda itu memeriksa susu kotak itu dan ternyata sudah kadaluwarsa.
"Ran, susu ini sudah basi dan roti ini sudah berjamur. Tidak baik mengkonsumsi makanan dan minuman ini, nanti kau bisa sakit perut." Alex memberi penjelasan dengan panjang lebar. Dalam hati pemuda itu menangis melihat keadaan putrinya.
"Tapi aku sudah biasa memakan makanan ini paman. Lagipula ayah dan ibu tidak pernah mengajakku makan bersama atau menyisakan sedikit makanan untukku." Jawab Kirania polos yang sukses membuat Alex tercengang.
Dibalik kehidupan keluarga Anderson yang bahagia dan bergelimang harta, terdapat kehidupan seorang anak yang begitu menderita dan terlupakan. Albert yang menyamar sebagai Alex tidak habis fikir dengan perlakuan keluarga Anderson yang begitu pilih kasih.
"Paman akan memasak makanan enak untukmu." Ucap Alex sambil berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Kirania sambil mengelus kepala anak itu dengan lembut. Dia ingin sekali menyebut dirinya sebagai ayah, namun dia tahan karena tidak ingin hidupnya berakhir saat ini.
Kirania mengangguk dengan semangat dan segera membuat sarapan bersama, lebih tepatnya menonton Alex yang sibuk mempersiapkan bahan untuk memasak.
Alex mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan di kulkas lalu mencincangnya. Setelah selesai dia menyiapkan wajan dan menumis nya.
Bau harum masakan menyapa indra penciuman Kirania membuat cacing di perutnya berdemo minta di isi.
Ellios yang kebetulan melewati dapur tidak sengaja mencium aroma masakan yang dibuat oleh Alex langsung datang menghampiri mereka.
"Paman masak apa? Baunya harum sekali."
"Hari ini aku memasak nasi goreng sosis. Mau ikut sarapan bersama?" Tawar Alex sambil menyajikan masakannya di atas piring dan menatanya.
"Apa boleh?" Tanya Ellios ragu.
"Tentu saja. Mari kita sarapan bersama."
Mereka bertiga sarapan bersama dengan tenang. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Setelah selesai sarapan, mereka langsung membereskan peralatan makan mereka dan segera melanjutkan kegiatan masing-masing.
⚛️⚛️⚛️
Damian tiba di kediaman Anderson bersama Joshua. Terlihat keluarga Anderson menyambut mereka dengan ramah.
Damian memperhatikan cucu-cucunya, pria itu mengernyitkan dahinya kebingungan saat tidak melihat Kirania ikut menyambutnya.
"Dimana Ran?" Tanya Damian yang berhasil membuat mereka gugup.
"Ran? Dia sedang di belakang." Jawab Helena ambigu yang berhasil membuat Damian mengerutkan dahinya curiga.
"Sepertinya kau tidak mengetahui nama putrimu sendiri. Kalian sebenarnya mempunyai berapa anak, sih?" Tanya Damian tajam yang membuat sepasang suami-istri itu gugup.
Namun suara cempreng khas anak-anak berhasil menarik perhatian mereka. Terlihat seorang gadis kecil berambut hitam legam dengan beberapa helai rambut biru cerah berlari sambil membawa sebuah kemoceng, gadis kecil itu mengejar seorang anak laki-laki berambut maroon yang menenteng sebuah kepala boneka.
"Ampuni aku, Ran!! Aku tidak sengaja!!"
Di belakangnya terlihat Alex berusaha menghentikan mereka dengan wajah frustasinya.
"Kak Elli, berhenti!! Kembalikan bonekaku!!" Teriak Kirania menggelegar memenuhi ruangan.
"Nona! Elli! Tolong berhenti! Tuan Damian tengah berkunjung! Kalian berdua jangan bertengkar disini!" Seru Alex memperingatkan, namun mereka seakan tuli dan tetap berlarian.
"Aku tidak mengenalnya, paman! Bonekaku lebih penting daripada orang yang bernama Damian!" Ucap Kirania dengan enteng tanpa menghentikan acara kejar-kejarannya membuat Alex berkedut kesal.
Damian yang mendengar ucapan Kirania langsung tertohok. Sepertinya cucu nya itu tidak mengetahui kedatangannya.
"Sepertinya kau dilupakan, Pak Tua." Ejek Joshua sambil tertawa terbahak-bahak.
"Diam, kau!" Sentak Damian yang membuat Joshua semakin terpingkal-pingkal.