The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 34: Drama Murahan



Kirania pulang lebih awal karena insiden yang terjadi di blok sebelah. Khawatir terjadi sesuatu maka sekolah memulangkan murid-muridnya lebih awal dan di liburkan selama 3 hari kedepan.


"Kiran, aku duluan bersama Steve, ya. Dia mengajakku pulang hari ini." Ucap Aqueera dengan perasaan tak enak. Saat ini mereka tengah berada di depan gerbang sekolah.


"Hn. Pergilah." Sahutnya datar membuat sekelebat raut kegembiraan tercetak jelas di wajah gadis itu, lalu seketika ekspresinya berubah menjadi tak enak.


"Tapi bagaimana denganmu?" Tanya nya merasa tak enak.


"Aku punya kaki, jadi aku bisa jalan sendiri." Sahutnya cuek. Segera Kirania beranjak meninggalkan gerbang sekolah bersama Aqueera. Namun baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba Aqueera menjatuhkan dirinya membuat Kirania mengernyitkan dahinya. Dia melirik sekitar dan melihat Steve berjalan ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


"Aku tau jika kau pacarnya Steve, tapi jangan mendorongku seperti ini. Aku dan Steve hanya teman biasa." Ucapnya sambil menangis yang sukses membuat kerumunan di sekitar mereka.


"Apa yang kau lakukan pada sahabatmu?! Tingkahmu sangat rendahan!" Bentak Steve membuat Kirania tersentak kaget. Selama ini dia tidak pernah di bentak oleh keluarganya, bahkan dia selalu mendapatkan perlakuan hangat. Paling tidak hukumannya hanya hal-hal yang membuatnya sakit kepala. Seperti mengerjakan tugas dan kuis dengan kesulitan tingkat menengah.


"Dia mendorongku karena tidak terima aku dekat denganmu. Jangan marahi dia, Steve. Ini semua salahku." Ucap Aqueera sambil sesegukan.


"Kapan aku mendorongmu?" Tanya Kirania datar lalu melirik mereka dengan tatapan jijik.


"Aku lebih suka menghajar daripada mendorong dan menampar. Lain kali kau melompat saja dari gedung." Sinis Kirania tajam membuat Steve berang.


"Kenapa kau berbicara seperti itu, Kiran? Kau tidak cocok bertingkah seperti itu!" Bentak Steve.


"Jadi aku harus bagaimana? Apakah aku harus seperti robot yang tak memiliki perasaan yang hanya bisa di atur dengan control kalian? Apakah aku tidak boleh menjadi diriku sendiri dan harus bertingkah seperti keinginan kalian?! Aku ini manusia bukan robot! Aku ini bukan boneka!" Raungnya marah.


"Aqueera, selama ini aku tidak pernah menganggapmu seorang sahabat. Bagiku kau hanyalah lalat pengganggu yang ingin dekat dengan kakakku, kan? Dan Steve, kau menjadikan ku bahan taruhan, kan? Dan selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai pacarku." Perkataan Kirania sukses membuat mereka tersentak kaget.


"Kau!" Bentak Steve sambil melayangkan sebuah tamparan ke arah Kirania. Beberapa saat sebelum mengenai wajah Kirania, sebuah tangan kekar menahan tangan Steve dan suara tajam mengintimidasi membuat mereka merinding.


"Apa yang kau lakukan pada putri ku?"


⚛️⚛️⚛️⚛️


Albert melihat kerumunan di depan gerbang sekolah Kirania. Samar-samar terdengar suara ribut dari kerumunan itu dan terdengar suara Kirania yang berteriak marah.


Khawatir terjadi sesuatu pada Kirania, Albert segera menerobos kerumunan itu dan menangkap tangan dari seorang pemuda yang hendak menampar putri nya. Selama ini dia tidak pernah main fisik dengan Kirania, namun pemuda asing ini seenak jidatnya ingin menampar putri nya? Tidak bisa. Tangan itu harus patah saat itu juga.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Tanya Albert dingin dengan aura mengintimidasi yang kuat memancar dari tubuhnya, membuat pemuda itu menggeram marah.


Seketika teriakan menggema di sekitar mereka, bahkan bertanya-tanya hubungan pria itu dengan Kirania.


"Tampannya meski dia pakai kacamata~" Pekik salah satu siswa dengan mata berbinar.


"Kyaaa~ Aku belum pernah melihat pria setampan ini!!" Jerit yang lainnya. Sementara Kirania hanya menatap sang ayah dengan malas.


"Dia pacarku. Aku bebas melakukan apapun padanya, termasuk mendidiknya." Geram Steve tanpa menyadari aura hitam keluar dari tubuh Albert. Steve meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya karena cengkraman pria itu begitu kuat.


"Dia anakku. Harusnya orang asing seperti mu tidak pantas memperlakukan anakku seperti ini." Ucap Albert penuh penekanan sambil meremas pergelangan tangan Steve dengan kencang, membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Apa!!" Seru mereka bersamaan. Mereka tidak salah dengar, kan? Pria setampan itu adalah ayah si culun itu? Mereka menatap Kirania dengan tatapan menuntut yang hanya dibalas dengan anggukan malas dari Kirania.


"Dia memang ayahku." Sahutnya cuek membuat para gadis patah hati serentak.


"Orang lemah seperti mu hanya bisa bermulut besar saja. Bahkan kau tidak bisa melepaskan diri." Lalu Albert menghempaskan pergelangan tangan Steve dengan kencang, membuat pemuda itu terjerembab.


"Steve, kau tidak apa-apa?" Tanya Aqueera sambil membantu Steve berdiri. Mereka menatap pasangan ayah anak itu dengan tatapan benci.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Albert sambil memeluk Kirania.


"Aku baik-baik saja, Pa. Tumben Papa datang menjemput ku." Ucap Kirania sambil membalas pelukan sang ayah. Mereka meregangkan pelukannya dan bergegas pergi dari sana, mengabaikan tatapan iri dari kumpulan gadis-gadis itu.


"Aku mendengar suara ledakan tadi yang berasal dari sini."


"Syukurlah kau baik-baik saja."


Aqueera menatap Kirania benci. Kenapa gadis itu memiliki orang-orang tampan yang menyayanginya? Dia memikirkan sesuatu untuk menyingkirkan Kirania dari hidupnya. Dia menyusun cara membuat hidup gadis itu menderita sehingga tidak berani keluar dari rumahnya.


"Kita akan membalas penghinaan ini." Geram Steve tak terima.


"Bagaimana saat perayaan kelulusan nanti?" Ucap Aqueera sambil tersenyum licik.


⚛️⚛️⚛️


"Papa, maafkan aku karena tidak mendengarkan perkataan mu." Ucap Kirania sambil menunduk. Saat ini mereka berada di ruang tamu yang berada di apartemen dengan suasana mencekam yang menyelimuti ruangan itu.


"Untunglah kau tau letak kesalahanmu." Ucap Albert sambil menatap tajam Kirania yang masih menunduk.


Albert menghela nafas dan menepuk-nepuk kepala Kirania dengan hangat, membuat gadis itu mendongak menatap Albert. Tidak sengaja pandangan mereka bertemu, Kirania melihat rasa khawatir, cemas dan takut di sorot mata pria itu.


"Aku sudah menduga luka lebam di tubuhmu itu berasal dari pemuda itu." Ucapan Albert sukses membuat wajah Kirania merah padam. Kirania segera membuang muka karena malu.


"Wajahmu merah. Apa kau sakit?" Tanya Albert sambil meletakkan punggung tangannya.


"Ti-tidak kok." Panik Kirania membuat Albert menatapnya khawatir.


"Besok aku akan ke distrik F untuk–" Belum selesai Albert bicara, Kirania segera memotong perkataan pria itu, membuat Albert kesal seketika.


"Aku ikut!!" Seru Kirania menggebu-gebu.


–mengecek cafeku di sana. Mungkin aku akan tinggal selama 3 hari. Dan jangan biasakan memotong pembicaraan, bocah!" Seru Albert jengkel sambil mencubit kedua pipi Kirania dengan kencang.


"Aduduh!" Seru Kirania. Albert melepaskan cubitannya meninggalkan jejak kemerahan di pipi gadis itu. Kirania merasa pipinya nyut-nyutan akibat tangan nakal sang ayah. Dia segera mengusap pipinya untuk mengurangi rasa sakit.


"Jangan percaya pria di luar sana. Karena mereka di penuhi dengan setan-setan menjijikkan. Malam ini aku ada misi, dan aku menunjuk mu sebagai asisten ku." Ucap Albert serius. Kirania mengangguk dan berkata dengan tegas dan tersenyum.


"Baik, Tuan."


⚛️⚛️⚛️⚛️


Malam datang begitu cepat, terlihat seorang gadis cantik dengan rambut hitam ombre biru cerah memasuki sebuah club malam bersama seorang pria tampan bak dewa dengan rambut yang sama. Suara musik bertalu-talu dengan beberapa pengunjung berdansa mengikuti hentakan musik. Gadis itu memperhatikan sekitarnya dengan cemas. Dia merapatkan tubuhnya pada pria yang berjalan di sebelahnya.


"Kau takut? Inilah kenyataan yang harus kau ketahui." Ucap Albert santai mengabaikan pemandangan disekitar mereka.


Kirania melihat beberapa pria dewasa duduk meminum minuman alkohol sambil didampingi beberapa wanita berpakaian seksi. Tangan mereka meraba tubuh wanita itu membuat Kirania bergidik ngeri sekaligus jijik.


Bahkan dia juga melihat seorang wanita mabuk berat dikelilingi oleh beberapa laki-laki, bahkan beberapa diantaranya kejang-kejang tidak tau tempat membuat Kirania mual seketika.


"Abaikan saja mereka. Nanti kau akan terbiasa." Ucapan Albert seketika menyelamatkannya. Bahkan gadis itu menyadari tatapan lapar beberapa pria hidung belang membuatnya tak nyaman.


"Apa kau akan menjualku?" Tanya Kirania cemas membuat Albert menatapnya dengan datar.


"Untuk apa aku menjual putriku sendiri? Aku tidak akan setega itu untuk menjual mu dan menghancurkan masa depanmu. Meskipun kau hasil percobaan atau sebuah kesalahan, kau itu tetap putriku yang berharga." Ucap Albert yang membuat Kirania tenang.


"Tuan, apa kau ingin minum bersamaku?" Tiba-tiba datang seorang wanita cantik dengan make up tebal, pakaian ketat yang sangat seksi menunjukkan lekuk tubuh dan asetnya yang menggoda membuat Albert mendengus jijik.


"Menyingkirlah dari hadapanku." Ucap Albert dingin di sertai aura intimidasi yang kuat membuat wanita itu menciut seketika.


Mereka segera meninggalkan wanita itu, namun wanita itu menghalangi jalan mereka dan berusaha merayu Albert membuat pria itu memandang dengan amarah.


"Tuan, aku bisa memuaskanmu daripada ****** kecil yang kau bawa itu. Aku adalah primadona di tempat ini." Rengek wanita itu dengan suara yang dibuat manja, sukses membuat Albert geram. Dia segera menghempaskan wanita itu dan merangkul Kirania dengan mesra.


"Maaf, nona. Tapi aku suka barang baru. Dan aku tidak tertarik dengan bekas orang. Meskipun yang ku bawa ini belum pengalaman, itu lebih memuaskan. Jadi menyingkirlah dari hadapanku sebelum aku menghajarmu."