
Kota X, kota khusus yang dipenuhi konflik antar penguasa, baik dari pemerintahan maupun dari para pengusaha.
Kota ini memiliki hukum yang lemah, para penegak hukum akan bekerja berdasarkan 'kriteria' mereka. Tak jarang banyak penduduk menengah ke bawah harus menerima takdir mereka yang menyedihkan.
Sebelum menjadi kawasan khusus, kota ini dulunya merupakan kawasan kota damai dan indah, hingga para investor datang membangun usaha di kota ini.
Awalnya semua baik-baik saja, hingga semakin banyak investor yang memasuki kota ini dan persaingan sengit pun tak dapat di hindarkan.
Perlahan para penguasa mulai berani menyuap penegak hukum sedikit demi sedikit demi melancarkan ambisi mereka.
Tak jarang mereka menculik pemuda pemudi untuk dijadikan budak memperkuat kedudukan mereka di kota itu dan membuang mereka jika sudah tidak berguna untuk tujuan mereka. Banyak orang mengecam hal ini, bahkan beberapa orang berniat meninggalkan kota ini, namun sayangnya mereka di bunuh jika ketahuan pergi meninggalkan kota ini.
Pemerintah pusat mulai mengabaikan kota ini dan menutup mata atas kejadian yang terjadi di kota X, membuat warga kota pasrah akan kehidupan mereka yang tidak adil dan penuh tekanan.
Hingga beberapa waktu lalu muncul sebuah organisasi rahasia di bawah naungan Athena Group, dimana perusahaan itu merupakan pengusaha asli kota X yang menginginkan kedamaian kota ini.
Tidak diketahui apa nama organisasi ini, menurut desas desus yang beredar mereka adalah sekelompok orang dengan memiliki kekuatan diluar nalar dan berbaur dengan penduduk.
⚛️⚛️⚛️
Aaron menatap pemandangan kota X distrik B dari jendela apartemen nya dengan tatapan datar sambil sesekali menggoyangkan gelas wine di tangannya. Akhir-akhir ini keadaan kota mulai memanas berkaitan dengan pemilihan walikota yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi.
Perebutan kekuasaan menyebabkan banyak korban akibat persaingan yang cukup ekstrim. Mereka tak segan menyingkirkan lawan dengan cara membunuh target mereka.
Seorang wanita berpakaian cukup seksi menerobos masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Seketika aroma parfum musim semi yang membangkitkan hasrat memenuhi ruangan ini.
"Kapan kau akan menyingkirkan pecundang itu?" Rengeknya manja sambil memeluk pria itu dari belakang.
"Tiga minggu lagi."
"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggunya selama 2 tahun."
"Kenapa kau ingin menyingkirkan pecundang itu?" Tanya Aaron penasaran. Selama 2 tahun ini wanita itu selalu ingin menyingkirkan seorang pria yang tinggal di apartemen sederhana.
"Aku tidak suka dengannya, itu saja." Jawab nya sambil memasang wajah sedih membuat pria itu mendengus dan menghampiri wanita itu.
"Kau tau berapa bayarannya, kan?" Bisiknya dengan suara serak yang langsung di iyakan oleh wanita itu.
"Tiga minggu lagi aku akan melakukannya untukmu." Ucapnya sambil menyeringai misterius.
⚛️⚛️⚛️
Kirania menyusuri lorong kelas dengan wajah mengantuk. Sesekali gadis itu menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Hoaaammm..."
"Kau bergadang lagi?" Tanya Aqueera melirik Kirania yang menguap untuk kesekian kalinya.
"Hn. Semalam aku berhasil mengalahkan pamanku dalam bermain game." Jawabnya santai sambil kembali menguap.
'Lebih tepatnya mengalahkannya dalam duel. Aku tak sabar memoroti uangnya sampai habis, nyuehehehe.' Batinnya nista dalam hati.
Aqueera dan Kirania kini bersahabat, lebih tepatnya Aqueera memaksa gadis itu menjadi sahabatnya. Mereka telah akrab selama 3 tahun ini dan selalu bersama.
"Kau tampak akrab sekali dengan pamanmu."
"Tidak juga."
Seorang pemuda bersandar di dinding kelas Kirania lalu menatap tajam gadis itu. "Kau terlambat 5 detik. Menjauh dariku." Ketus seorang pemuda dengan rambut hitam keunguan. Wajahnya cukup tampan untuk remaja seusianya.
Pemuda itu bergegas meninggalkan Kirania dengan kesal, membuat gadis itu menundukkan kepalanya.
"Sudah, jangan dipikirkan." Aqueera menghibur Kirania dengan nada yang terdengar mengejek.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka yang terletak di kelas IX B. Mereka memasuki ruang kelas dan menuju tempat duduk masing-masing, namun suara Ganymede menggema di kepalanya.
"Kenapa kau begitu bodoh mempertahankan mereka, Ran?" Ganymede mulai berceloteh ria dikepalanya begitu Kirania memasuki kelas.
"Mereka tidak membiarkan aku pergi. Aku sudah tidak tahan, tapi kau tau kan itu percuma saja." Ucap Kirania melalui pikirannya sambil melangkah menuju tempat duduk yang terletak di belakang.
"Mereka benar-benar tidak punya hati."
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku akan membalas mereka nanti, nyuehehehe..." Tawa nista Kirania muncul pertanda sesuatu yang buruk.
"Terserah kau saja."
Saat hendak duduk di bangkunya, Kirania melihat sampah berserakan di atas meja membuat gadis itu mendengus. Segera Kirania mengambil tempat sampah dan membersihkan bangkunya namun segerombolan siswa datang menghampirinya.
"Wah, wah. Kau rajin sekali." Ucap salah satu gadis itu dengan tatapan mengejek sementara temannya terkikik.
Kirania diam mengabaikan mereka dan melanjutkan kegiatannya, membuat gadis itu berang.
"Beraninya anak miskin menjijikkan sepertimu mengabaikanku?!" Bentak gadis itu sambil mendorong meja Kirania. Sontak seisi kelas menghentikan kegiatannya dan menatap mereka dengan kesal. Namun mereka tidak berani menghentikan kelompok itu karena mereka adalah anak dari orang-orang berpengaruh di kota X.
Wajah Kirania menggelap. Gadis itu sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka selama tiga bulan ini.
"Apa mau mu?" Tanya Kirania dingin membuat mereka kaget lalu kembali tertawa.
"Oh, dia bertanya 'apa mau mu?' Menakutkan sekali." Celetuk salah satu dari mereka sambil mencibir. Lalu mereka tertawa.
Sementara gadis yang mendorong meja Kirania memasang senyum miring dan mendorong Kirania dengan keras hingga menyebabkan dirinya sedikit oleng.
"Mau ku? Tentu saja kematian mu. Karena kau tidak pantas dengan Steve!" Bentaknya sambil mendorong Kirania dengan kasar.
"Kau membicarakan kematian seolah-olah kau pernah mati. Apa kau ingin merasakan bagaimana rasanya mati?" Tanya Kirania dengan nada dingin membuat gadis itu kaget dan sedikit gemetaran. Selama ini Kirania tidak pernah melawan mereka meskipun di tindas.
DEG
'A-apa ini?' Batinnya ketakutan. Keringat dingin mengalir deras di dahinya. Sepintas gadis itu melihat sinar biru menari-nari di mata Kirania.
"A-awas saja kau!" Bentaknya sambil berlalu disusul oleh teman-temannya. Kirania menghela nafas kesal dan melanjutkan membersihkan mejanya yang kotor.
"Kau keren sekali." Ucap salah satu siswa perempuan dengan malu-malu. Pipi gadis itu memerah.
"Tidak juga." Lalu Kirania bergegas keluar kelas membuang sampah meninggalkan siswi itu yang kini merona hebat.
⚛️⚛️⚛️
Jam istirahat telah datang. Kirania bergegas merapikan bukunya dan melesat menuju kelas Steve dan menunggunya di depan pintu.
"Kenapa kau kemari?" Ketus Steve saat melihat Kirania yang berdiri di depan pintu dan melewati nya begitu saja.
"Tentu saja ingin mengajakmu makan siang." Jawab Kirania sambil menyusul pemuda itu dan berdiri di hadapannya.
"Lagipula aku ingin minta maaf."
"Enyah." Ucap Steve dengan dingin membuat Kirania tersentak kaget dan tanpa sadar tubuhnya menyingkir dari hadapan pemuda itu.
Steve berlalu begitu saja meninggalkan Kirania yang terpaku di lorong kelas. Entah kenapa tingkah Steve berubah akhir-akhir ini.
"Kenapa rasanya sangat menyakitkan? Apa seperti ini rasanya patah hati?" Batin Kirania sambil meremas roknya dengan kencang. Dia segera menggelengkan kepalanya dan bergegas pergi menuju kantin.
Saat tiba di kantin, matanya menyusuri kantin itu dan mencari tempat kosong. Namun secara tak sengaja mata gadis itu melihat 2 sosok yang di kenalnya duduk bersama sambil tertawa bahagia. Kirania memutuskan memesan makanan dan duduk tak jauh dari 2 sosok itu karena penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka.
'Bagaimana cara mengakhiri hubungan yang menyakitkan ini. Astaga... Aku bisa gila.' Rutuknya dalam hati sambil mendengarkan pembicaraan mereka.