
'Cklek'
"Aku pulang~" Seru Joshua riang dengan dua tangannya menjinjing beberapa paper bag yang entah apa isinya.
"Selamat datang." Sahut Kirania dan Ellios serentak dengan nada malas membuat Joshua sweatdrop tatkala melihat sepasang remaja itu asik dengan dunianya. Pria itu melihat Kirania menonton film action dengan tegang sembari memakan cemilan kesayangannya, sementara Ellios rebahan dengan kepala berada di pangkuan sang adik sambil memainkan ponsel.
Joshua segera melangkah mendekati mereka lalu menaruh paper bag di atas meja dan menghempaskan diri di sofa ikut bergabung menonton bersama Kirania. Saat adegan penyergapan dimulai, terdengar suara handphone berbunyi nyaring membuat gadis itu kesal dan menatap handphone yang bernyanyi dengan jengkel. Terlihat sebuah nomor tak di kenal terpampang di layar itu dan gadis itu memutuskan mengangkat nya.
"Ya, halo."
Sontak Ellios berhenti memainkan ponselnya dan Joshua duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Kirania. Ellios mencolek lengan Kirania membuat gadis itu menoleh menatap sang kakak yang masih setia berbaring dipangkuannya, lalu pemuda berambut merah itu memberi isyarat untuk mengaktifkan loudspeaker. Gadis itu menurut.
"Apa benar ini nomor telepon Albert?" Terdengar suara perempuan di seberang telepon dengan nada yang di lemah lembutkan.
"Siapa?" Tanya Kirania curiga.
"Aku~ Emm... Kamu siapanya Albert?"
"Apaan sih nelpon-nelpon kakek?!" Bentak Kirania dan mematikan sambungan telepon itu sepihak.
'Tuut'
Dengan serampangan Kirania melempar handphone tak bersalah itu ke sembarangan arah lalu melanjutkan acara menonton nya tanpa menyadari seorang pria tampan berdecak kesal mendengar pembicaraan gadis itu. Hei, dirinya baru saja berusia 30 tahun, masih muda dan tampan!
"Kau mau menghancurkan ponselku, putriku sayang?" Terdengar suara bernada rendah menyapa pendengarannya membuat Kirania menoleh ke arahnya sambil nyengir lebar. Beruntung ponsel Albert mendarat sempurna di sofa tepat disebelah Joshua dan mengambil teleponnya. Memeriksa benda persegi itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Hehe... Tadi handphone Papa berbunyi dan ada lalat yang berdengung minta digampar." Sahut Kirania asal dengan poker face andalannya.
"Ppfftt..." Joshua dan Ellios menatap Albert sembari menahan tawa.
"Kakek, mau ikut bergabung bersama kami? Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku dan membawa cemilan." Goda Joshua sambil menaik turunkan alisnya membuat Albert kesal.
"Kakek, aku bosan. Bagaimana jika besok kita pergi memancing?" Kali ini Ellios menimpali dengan nada mengejek membuat wajah Albert menggelap.
"Kalian mau mati?" Tukas Albert dingin yang sukses membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
⚛️⚛️⚛️
Dua orang berpakaian serba hitam menatap beberapa tabung raksasa dengan cairan hijau yang memenuhi tabung itu. Di dalam tabung itu terdapat beberapa tubuh telanjang bulat, baik anak-anak maupun remaja dengan sebuah alat bantu pernapasan bertengger di hidung mereka.
"Jadi mereka ini adalah calon percobaanmu?" Tanya salah satu diantara mereka dengan penuh minat. Di dengar dari suaranya, dia laki-laki.
"Tentu saja Tuan." Jawab Damian sembari menyuntikkan sebuah formula ke salah satu selang yang terhubung dengan salah satu anak kecil. Anak itu membuka mata dan meronta-ronta tanpa suara dengan raut wajahnya kesakitan. Lalu anak itu kejang-kejang sebelum akhirnya diam tak bergerak.
"Apa kau tidak mengatur dosisnya dengan tepat, Tuan Damian?" Tanya suara perempuan itu dingin.
"Aku sudah mengatur komposisinya dengan tepat, Nona. Mereka memang tidak sebaik dengan kelinci percobaan ku yang telah mati beberapa tahun lalu." Jawab Damian frustasi.
Dua orang berpakaian serba hitam itu saling melirik. Seorang berpakaian hitam itu mengangguk dan berkeliling di ruangan itu. Terlihat banyak tabung yang pecah, bahkan terdapat tabung gelap dengan beberapa mayat di dalamnya membuatnya membelalakan mata.
Lalu dia memutuskan menyelidiki tempat itu dan mendapati sebuah dokumen di sebuah rak yang terdapat di pojok ruangan. Dia memeriksanya sejenak dan matanya membulat saat melihat sebuah data dengan foto yang tampak familiar disana. Buru-buru dia menyimpan dokumen itu dalam ranselnya.
Dia mengecek beberapa dokumen, melihat isinya sekilas lalu memasukannya ke dalam ransel. Pria itu segera meninggalkan tempat itu, menghampiri rekannya yang sibuk memperhatikan Damian dengan percobaannya yang terus gagal.
"Apa kau telah memeriksa kondisi mereka atau melakukan tes alergen? Kemungkinan mereka tidak kuat dengan formula buatanmu." Wanita itu mencoba memberi saran.
"Sepertinya perkataanmu perlu aku pertimbangkan. Mungkin aku terlalu terburu-buru."
"Terimakasih atas waktumu, Profesor. Aku harap pesanan ku selesai dalam waktu dekat. Kami permisi."
Dua orang itu mengangguk dan pergi dari sana, meninggalkan Damian yang menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu.
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Bagaimana menurutmu, Ren?" Tanya Aretha melirik pria yang sibuk dengan kemudinya.
"Aku rasa percobaannya berbahaya, Nona." Sahut Ren tanpa mengalihkan pandangannya.
Sebuah mobil sport bewarna hitam melaju kencang di jalan raya yang sepi menembus gelapnya malam yang telah larut. Hanya terdapat beberapa kendaraan besar pengangkut komoditi yang melintas di tengah malam.
"Kau benar. Jika percobaannya berhasil, maka kota X dalam bahaya." Ujar Aretha sembari menghela nafas.
"Seharusnya Nona menyerahkan pekerjaan ini pada kami." Tukas Ren.
"Aku tidak ingin merepotkan kalian dan melibatkan kalian lebih jauh lagi."
"Tidak sama sekali, Nona."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan perbatasan kota X dengan kota U, tempat sepi dengan hutan belantara di sepanjang kiri kanan jalan.
Menurut informasi yang mereka dapat dari Joshua, Damian sering melakukan penelitian dengan mengambil anak-anak dari panti asuhan. Bahkan dulu dia pernah melakukan penelitian pada cucunya sendiri yang berakhir dengan kematian.
Aretha ingin menyelidiki tujuan penelitian yang diadakan oleh Damian, mengingat beberapa anak buahnya kerap kali melihat beberapa orang menculik anak-anak dari kota X.
Aretha mengambil dokumen dari ransel yang tergeletak dikakinya dan membaca isinya. Seketika matanya membola saat mengetahui data serta foto yang terpampang disana.
"Bukankah mereka adalah Albert dan kedua anak angkatnya?" Gumam Aretha yang didengar oleh Ren.
"Ya, Nona. Namun mereka berhasil selamat berkat kematian palsu yang dibuat oleh Joshua." Sahut Ren.
Dokumen yang di pegang oleh Aretha adalah dokumen hasil penelitian milik Albert, Kirania dan Ellios. Lebih tepatnya dokumen duplikasi buatan Joshua.
"Kita harus bergerak lebih cepat, Ren. Pertama-tama, singkirkan mereka sebelum hari pemilihan. Mengingat jumlah kelompoknya yang banyak dan kemungkinan besar ada mutan yang perlu kita waspadai." Ucap Aretha serius.
"Baik, Nona."
Mobil sport hitam mulai memasuki distrik E,terlihat beberapa cahaya rumah di perbukitan menyapa pengelihatan mereka. Suasana di distrik ini terlihat sedikit ramai. Ren segera mencari jalan pintas menuju distrik F. Beberapa menit berlalu dan mereka telah memasuki distrik F.
Distrik F merupakan distrik yang terletak di daerah perbukitan yang berbatasan langsung dengan daerah pesisir. Memiliki pemandangan indah yang menyejukkan mata membuat siapapun betah berlama-lama tinggal di distrik ini. Namun distrik ini merupakan distrik yang diabaikan oleh pemerintah kota X yang lebih mementingkan distrik lainnya, menjadikan distrik ini kawasan kumuh dengan tingkat pendidikan, kesehatan yang rendah dan kemiskinan yang tinggi.
Dibawah naungan Athena Corp, distrik ini mulai terlihat indah dan rapi. Bahkan beberapa bulan lalu sudah mulai banyak wisata yang mengunjungi daerah ini.
Berkat bantuan dari kelima petinggi sekaligus pemilik tatto ksatria perunggu pelindung Athena, mereka sukses mendirikan perusahaan besar dan menjadikan kawasan kumuh ini kawasan bersih dengan taraf pendapatan dan kesehatan tinggi.
Mobil sport hitam itu memasuki sebuah rumah modern minimalis berlantai 2. Meskipun Aretha adalah pemilik perusahaan, namun gadis itu enggan membangun rumah besar dan luas seperti orang kaya pada umumnya.
Mereka segera keluar dari mobil dan melihat seorang pria berambut jingga tengah rebahan di atas kap mobil sport berwarna biru. Mengetahui pemilik rumah telah datang, Roy bergegas menghampiri mereka.
"Nona, kami telah menyelesaikan misi. Dan Joshua meninggalkan ini untuk Anda." Ucap Roy seraya membuka pintu mobilnya, mengambil sebuah paper bag yang berisi beberapa makanan dan minuman instan.
"Terimakasih. Omong-omong mari masuk kedalam." Ucap Aretha seraya memasuki rumah minimalis itu diikuti oleh 2 pria tampan itu.
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang bernuansa minimalis. Aretha mengeluarkan isi paper bag itu dan menatanya di meja.
"Kami berdua mendapat sesuatu dari laboratorium milik Damian." Ucap Aretha memecah kesunyian membuat 2 pria itu menatapnya dengan serius.