
Kirania merebahkan diri di ranjang single yang muat untuk satu orang di salah satu kamar unit apartmen Albert. Fikirannya berkelana pada percakapan antara sang paman dan ayahnya beberapa waktu lalu.
Flashback
"Dua tatto dari dua belas konstelasi bintang zodiak ada disini, Aquarius dan Leo." Guman Joshua yang didengar oleh tiga orang di ruangan itu sambil menatap kedua anak remaja yang menatap dua pria dewasa dengan tatapan bingung.
"Ya, kau benar." Sahut Albert singkat.
"Sebaiknya mereka harus menyembunyikan tatto itu, jika tidak..." Joshua menggantungkan perkataannya.
"Pemerintah kota X dan oknum-oknum yang serakah akan memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi." Albert menimpali. Mereka saling tatap sejenak dan mengangguk.
"Kota X?" Beo Kirania bingung.
"Ya. Kami sengaja membuatmu mati suri dan membawa kalian ke kota X agar kalain bisa hidup bahagia. Kalian tidak pernah bisa tenang jika berada dibawah pengawasan keluarga Anderson dan Brawijaya. Asal kau tau, kakak tiriku itu memang kejam dari dulu." Papar Joshua santai sambil menyesap minuman kalengnya.
"Dan kalian jangan khawatir, aku sudah menguras habis uang perusahaan Anderson dan Brawijaya. Jadi untuk kedepannya kita akan memulai hidup baru disini."
"Ah, satu lagi. Mulai sekarang kalian berdua tinggal bersama Albert. Aku akan membuatkan kalian identitas baru." Ucap Joshua yang sukses membuat Albert melotot tidak terima.
"Kalau kalian ga mau merawat kami, yaudah. Ga usah sok-sokkan mau ngurus." Ketus Ellios tak masuk akal saat melihat ekspresi dua pria dewasa dihadapannya seakan enggan mengurus mereka.
"Bukan begitu, Ellios. Ak–" Pengelakan Joshua dipotong oleh Kirania. "Kami bisa hidup berdua tanpa orang lain. Jadi kalau kalian enggan lebih baik tidak usah mengurus kami. Lagipula kami tidak perlu orang pura-pura baik untuk merawat kami." Sukses perkataan Kirania membuat dua pria itu tertohok.
Flasback off
Lamuan Kirania terpecah saat mendengar suara Ganymede bergema di kepalanya.
"Memikirkan perkataan dua pria tua itu?"
"Ya... Seperti yang kau dengar." Jawab Kirania melalui pikirannya.
"Apa yang dikatakan oleh mereka memang benar. Kota X ini merupakan kota yang amburadul, berantakan."
"Kau tahu dari mana?" Tanya Kirania penasaran. Pasalnya dia baru tiba disini semalam dan belum menjelajahi kota barunya.
"Kami biasa bertukar informasi dengan tatto konstelasi dua belas zodiak lainnya. Jadi itu bukan perkara yang sulit. Omong-omong papamu datang." Lalu suara Ganymede hilang di kepalanya.
'Tok' 'Tok' 'Tok'
"Kiran, kau di dalam?“ Panggil Albert dari luar kamar. "Kami mau ke supermarket sebentar. Mau ikut?"
"Iya, Pa. Sebentar!" Sahut Kirania dari dalam. Beberapa saat kemudian Kirania keluar dari kamar dan bergegas menghampiri Albert yang duduk di sofa bersama Ellios.
⚛️⚛️⚛️
Albert mendorong troli dengan pelan di lorong bagian makanan di ikuti oleh dua bocah tanggung di belakangnya. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil makanan yang dibutuhkan dan memasukannya di troli sambil menandainya di catatan. Melihat Kirania yang sibuk menggendong banyak camilan dan meleng ke sana kemari membuatnya gemas dan langsung menarik tangan gadis itu lalu merampas cemilan yang berada di gendongan Kirania.
"Kiran, astaga. Camilannya jangan banyak-banyak!" Seru Albert sambil meletakkan kembali beberapa camilan yang ada di gendongan Kirania.
"Pa, jangan!" Kirania protes sambil berusaha merebut kembali cemilan yang ditaruh oleh Albert.
"Kiran, sebaiknya ambil satu-satu bukan memborong semuanya." Albert mencoba memberi pengertian. Kirania dan keripik kentang memang susah dipisahkan!
"Aku sangat menyukai keripik ini, Pa. Aku mohon berikan keripiknya..." Rengek Kirania sambil memasang wajah memelas yang sukses membuat Albert tak berkutik. Pria itu berusaha tidak terpengaruh dengan tatapan imut Kirania.
"Tidak bisa. Kau bahkan sering melewatkan jam makanmu jika ada keripik ini." Albert berusaha sabar. Dia bukan pria penyabar, oke!
Perdebatan mereka mengundang beberapa ibu-ibu berkerumun disekitarnya. Mereka menonton perdebatan Albert dan Kirania dengan tatapan memuja. Lebih tepatnya memperhatikan wajah super tampan milik Albert.
Siapa yang tidak meleleh melihat seorang pria sangat tampan bak dewa berbelanja di supermarket?
Ellios yang sedari tadi menonton perdebatan itu menghela nafas pendek dan menghampiri keduanya yang masih sibuk berdebat.
"Hentikan perdebatan yang mengundang kerumunan. Nanti kau disangka menculik anak orang." Ucap Ellios lirih yang didengar oleh mereka berdua.
Sepasang ayah dan anak itu menatap kesekeliling, dan benar saja. Banyak ibu-ibu dan gadis-gadis berkerumun menonton perdebatan mereka.
Bisik-bisik pun terdengar disekitarnya.
"Wah... Pria itu tampan sekali."
"Seandainya dia mau menjadi suami simpananku..."
"Seandainya dia mau menjadi menantuku..."
Albert hanya mengabaikan bisik-bisik itu lalu berjongkok dihadapan Kirania untuk mensejajarkan tingginya dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas. "Baiklah, kau bisa mengambil keripik ini dengan varian yang berbeda. Jangan borong semua!" Putus Albert yang langsung disambut dengan sukacita oleh Kirania.
"Terimakasih, Papa. Aku mencintaimu."
Kirania langsung mengambil keripik itu satu persatu dan memasukannya ke dalam troli lalu segera menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka. Terlihat cemilan Kirania mendominasi belanjaan mereka hari ini.
⚛️⚛️⚛️
Albert berjalan santai dengan kantong belanjaan besar di tangannya. Letak apartemennya hanya beberapa blok saja yang memerlukan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Lagipula dia malas membawa mobil.
'Kryuuukk'
Terdengar suara gemuruh yang berasal dari perut dua bocah yang berjalan disamping nya.
"Kalian lapar?"
Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Pria itu merasa perutnya juga mulai lapar mengingat hari sudah beranjak siang dan jam makan siang hampir lewat.
"Kalian mau makan dimana?"
Mereka berdua mengedarkan pandangannya dan secara serempak mereka menunjuk sebuah kedai yang berada di pinggir trotoar yang terlihat sepi.
"Disana saja, Pa. Lagipula disana cukup sepi dan tidak perlu mengantre." Sahut Kirania dan melenggang menuju kedai tersebut disusul oleh Ellios.
Albert segera menyusul dua bocah yang membuatnya geleng-geleng kepala dengan kekompakan dan keajaiban sifat mereka yang bertolak belakang namun saling melindungi.
Dua anak-anak yang selalu bertengkar namun saling menyayangi dan melindungi. Saling mendukung dan menyemangati, persaudaraan mereka yang begitu tulus walau bukan saudara kandung.
Albert melihat dua anak itu telah duduk manis dan menatapnya dengan hangat.
"Paman mau pesan apa? Kami belum memesan makanan." Ellios menunjukkan sebuah buku menu.
Albert mendudukkan diri di sebelah Kirana dan meletakkan belanjaannya lalu menyambar buku menu dan membacanya, rupanya kedai ini merupakan kedai mie. Seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka dengan sebuah catatan dan pulpen ditangannya.
"Paman, aku mau mie ayam!" Seru Kirania antusias.
"Aku juga."
"Samakan saja dengan mereka."
Pemilik itu segera mencatat pesanan mereka dan berlalu menuju dapur untuk membuat pesanan.
Sambil menunggu pesanan datang, Ellios memutuskan bertanya tentang pekerjaan Albert.
"Paman bekerja dimana?"
"Aku bekerja sebagai bartender di Lotus bar. Hanya lima menit jalan kaki dari apartemen kita." Jawab Albert jujur.
"Papa bukan gigolo atau simpanan orang, kan?"
Albert nyaris tersedak lalu memicingkan matanya, menatap dua bocah itu dengan tatapan tajam.
"Soalnya kami tidak mau ada orang asing yang teriak-teriak tidak jelas nanti dan menyakiti kami, itu memalukan." Jawab Ellios sambil menatap langsung mata Albert.
"Aku tidak mengambil pekerjaan kotor itu. Asal kalian tau." Jawab Albert menatap dua bocah itu dengan tenang. Kirania dan Ellios menatap mata pria itu, tidak ada jejak kebohongan disana.
Mereka mengalihkan pandangan saat sang pemilik kedai membawa pesanan mereka. Kirania langsung menyerbu seporsi mie ayam pesanannya.
"Paman, satu mangkok lagi!" Seru Kirania yang sukses membuat dua laki-laki nyaris tersedak. Mereka melihat mangkok Kirania sudah tandas sementara mereka baru makan lima suapan.
Tak lama pesanan Kirania datang dan gadis itu kembali menyerbu pesanannya.
"Aaahh... Aku kenyang sekali..." Ucap Kirania sambil mengelus perutnya yang membuncit. Di hadapannya terdapat empat tumpuk mangkok kosong bekas mie ayam pesanannya.
Sedangkan dua laki-laki itu hanya melongo tak percaya melihat tumpukan mangkok kosong dihadapan Kirania. ’Terbuat dari apa perut bocah ini?’ Batin mereka kompak.
"Pa, ayo pulang." Sontak mereka segera pulih dari acara melongo nya dan berdehem singkat.
Albert segera pulih dan membayar pesanannya dan mengajak dua bocah itu pulang menuju apartemen.
"Sepertinya tidak buruk tinggal bersama mereka mengingat aku pernah dekat dengan mereka." Batin Albert memperhatikan dua bocah yang berjalan didepannya.