The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 13: Masalah Baru



Mereka berjalan menyusuri trotoar di siang hari yang terik dengan Albert membawa kantong belanjaannya, sedangkan dua bocah tanggung itu terlihat asik memandang sekitar tanpa mengurangi kewaspadaan.


Albert tersenyum sangaaattt tipis hingga memerlukan kaca pembesar untuk melihat senyumannya yang mampu membuat kaum hawa meleleh. Tanpa sadar mereka telah tiba didepan gedung berlantai duapuluh yang menjulang gagah dihadapan mereka.


Gedung itu merupakan gedung apartemen tempat Albert tinggal selama ini. Bangunan berwarna abu-abu itu memiliki letak yang sangat strategis, hanya orang menengah keatas yang mampu membelinya.


Mereka segera memasuki gedung apartemen dan menuju pintu lift. Albert segera menekan tombol lantai 5 dan pintu lift itu mulai menutup.


"Aku tidak menyangka apartemen ini sangat bagus di siang hari." Komentar Kirania membuat Albert menoleh kearahnya.


"Aku tinggal disini sekitar setahun. Apa kau suka apartemen ini?" Tanya Albert memandang Kirania dengan tatapan hangat.


"Aku belum melihat-lihat apartemen ini karena kita tiba semalam. Tapi aku menyukainya Pa." Balas Kirania sambil menatap sang ayah dengan polos membuat Albert gemas.


"Kau memang susah dipisahkan dengan kasur." Ejek Ellios yang sukses membuat Kirania naik darah.


"Aku hanya ingin tidur, Kak Elli. Masa iya aku keluyuran malam-malam. Apalagi aku lelah karena kasur rumah sakit sangat tidak nyaman." Sewot Kirania tak terima. Ellios terkekeh-kekeh mendengar umpatan Kirania.


Mereka tiba di lantai tujuan dan segera keluar dari lift, baru beberapa langkah berjalan sebuah suara wanita mengalihkan atensi ketiganya.


"Gilbert? Kau mengunjungi siapa disini?"


Terlihat seorang wanita cantik berambut cokelat panjang yang digerai indah dengan mata ungu gelap, tinggi sekitar 177cm dengan memakai angkle boot setinggi 8cm, tangtop dress bewarna hitam sepaha yang mencetak jelas bentuk tubuhnya yang seksi dengan sebuah tas kecil ditangannya.


Penampilan wanita itu terlihat glamour, dengan make up tebal dan tubuh yang dipenuhi dengan berbagai macam perhiasan mahal serta pakaian dan tas bermerk melekat ditubuhnya.


"Kau tinggal disini? Orang miskin sepertimu mana mungkin mampu membeli apartemen ini yang setara dengan gaji seumur hidupmu. Bahkan dengan menyewa nya saja kau tidak sanggup mencukupi kebutuhanmu, pfft.. " Ejek wanita itu dengan nada meremehkan.


"Ah, apa kau menjadi suami simpanan atau gigolo kelas atas? Bisa jadi mengingat kau memiliki wajah yang sangat tampan. Mungkin kau menjual tampang saja." Wanita itu mengelilingi Albert dengan angkuh membuat pria itu mendengus.


Suami simpanan? Gigolo kelas atas? Albert ingin tertawa mendengar hinaan wanita itu. Sedangkan kedua bocah tanggung itu hanya menatap wanita itu dengan tatapan menelisik. Seperti dugaan Ellios, seseorang menghina Albert karena penampilannya yang sederhana.


Albert hanya diam mengabaikan ocehan wanita itu yang menurutnya tidak penting. Tuduhan wanita itu sangat keterlaluan membuat mulut Kirania gatal.


"Ada pepatah tentang anjing menggonggong, kan? Apa kau tau anjing menggonggong itu seperti apa?" Tanya Kirania sambil menatap wanita dewasa yang kini menatap tajam dirinya.


"Anjing yang itu, ya?" Tanya Ellios sambil memasang pose berfikir. "Kalau tidak salah artinya anjing menggonggong tidak akan menggigit. Hanya mengandalkan gonggongan nya saja yang memekakkan telinga tanpa bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah." Sahut Ellios dengan nada mengejek.


"Biarlah aku mendengar gonggongan anjing yang memekakkan telinga. Toh dia tidak menggigit juga." Ucap Kirania dramatis sambil mengorek telinganya membuat wanita itu menggeram marah karena tersindir.


"Akhirnya mulut berbisamu keluar juga." Terdengar suara Ganymede menggema di kepalanya.


"Kalau wanita gila itu tidak menuduh ayahku sembarangan, mungkin aku mau beramah tamah. Sayangnya mulutnya tidak bisa dijaga. Aku jadi kesal." Curhat Kirania melalui fikirannya, bisa dibayangkan senyum lebar Ganymede terlintas dikepalanya.


"Hei, gadis kecil! Apa kau baru saja menyebutku seekor anjing, hah!" Nada wanita itu naik satu oktaf merasa tersinggung dengan ucapan dua bocah itu.


"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang seekor anjing yang menggonggong, kenapa Anda yang marah?" Ujar Kirania polos yang membuat wanita itu semakin emosi.


Wajah wanita itu memerah menahan amarah, melihat itu Kirania berkata dengan pedas, "Ya, gitu dong emosi. Bodohnya jadi keliatan, kan. Kenal juga enggak tapi ngomongnya ngasal begitu."


Skak mat! Wanita itu tidak bisa berkata-kata. Wajahnya merah padam dan sebelah tangannya mengepal menahan emosi yang meledak-ledak dalam dirinya.


Albert memandang bocah itu dengan hangat dan berkata, "Mulutmu sangat manis semenjak keluar dari rumah sakit, ya... " Lalu menatap wanita itu dengan dingin dan berkata dengan pedas. "Kenapa kau yang repot? Apa kau yang membiayai kehidupan kami? Sepertinya kau perlu bercermin, nona. Siapa yang menjadi simpanan dan menjual tubuh untuk hura-hura? Lagipula ini hidupku dan kau hanya orang asing yang tidak tau apa-apa. Satu lagi, tuduhanmu itu tidak benar. Permisi."


Begitu mereka menutup pintu apartemen, terdengar teriakan membahana penuh kemarahan dari wanita itu.


"SIALAAANNNN!!!"


⚛️⚛️⚛️


Mereka telah berada didalam apartemen dengan senyum iblis terpatri diwajah mereka. Mulut berbisa Kirania sukses membungkam wanita itu.


Saat ini Kirania memperhatikan interior apartemen milik sang ayah. Terlihat ruangan bernuansa minimalis modern menyapa pengelihatannya.


Ruang tamu sekaligus ruang keluarga dengan sebuah sofa single dan sebuah sofa panjang bewarna merah maroon dipadukan dengan lantai yang dibalut karpet bulu bewarna cream, rak buku yang berisi tumpukan buku tebal, sebuah meja dengan TV 25 inchi di atasnya dan kabinet dibawahnya. Dindingnya bewarna cokelat pastel dengan dua senapan laras panjang yang tertempel di dinding dan beberapa lukisan menjadi pemanis ruangan.


Dapur menyatu dengan ruang makan dengan desain klasik bewarna kayu yang dibatasi dengan sekat yang berisi beberapa kabinet dibawahnya. Lantainya bewarna hitam dengan keramik marmer yang elegan. Diatas kompor terdapat dua kabinet yang memanjang hingga diatas tempat cuci piring.


Terdapat lampu gantung diatas meja makan memberi kesan klasik. Terdapat jendela besar yang menghadap langsung ke arah luar apartemen, memperlihatkan pemandangan kota yang terlihat indah.


Albert segera menata belanjaan mereka dibantu oleh Kirania dan Ellios. Setelah selesai Albert segera memasak makan malam mengingat sebentar lagi jam makan malam dimulai.


"Kalian mandi dulu, aku akan memasak makan malam." Setelah berkata demikian terdengar suara gaduh yang berasal di kamar Kirania.


'Drap' 'drap' 'drap'


'BRAKK!'


"Kak Elli, aku duluan. Kau nanti saja!" Seru Kirania sambil menahan tubuh Ellios di depan pintu kamar mandi.


"Aku duluan memasuki kamar ini, sebaiknya aku yang duluan mandi." Sahut Ellios tidak terima.


"Tapi kau bisa menunggu, kan?" Ujar Kirania dengan puppy eye andalannya.


"Kalian bisa memakai kamar mandi di kamarku!" Teriak Albert dari dapur membuat keduanya saling melemparkan tatapan tajam.


Kirania merengut sebal dan memilih pergi, tidak lupa mengambil peralatan mandi dan pakaian ganti lalu bergegas menuju kamar mandi yang terletak di kamar Albert. Ellios segera meluncur ke kamar mandi yang terletak di kamar Kirania.


Albert hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Dari dulu hingga sekarang keduanya seperti anjing dan kucing.


Kirania memasuki kamar Albert dan terpana dengan interiornya. Kamar tidur bewarna gelap dengan warna kayu senada dengan lantai dan gorden nya, terdapat tempat tidur bewarna biru cerah bermotif menjadi ciri khasnya sendiri.


Disamping tempat tidur terdapat sebuah lemari kayu, meja dan sebuah sofa yang ditata sedemikian rupa, memberi kesan minimalis serta lampu gantung klasik menjadi tambahannya.


Kirania segera menuju kamar mandi yang terdapat di kamar sang ayah untuk membersihkan diri.


Albert hanya tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Namun senyumannya menghilang saat melihat Joshua nyelonong masuk begitu saja sambil nyengir lebar.


"Wah, senyumanmu membuatku jatuh hati. Andai aku seorang wanita, aku pasti berlari memelukmu." Goda Joshua sambil meghempaskan diri di sofa.


"Berisik! Meskipun begitu aku dengan senang hati melemparkanmu dari jendela apartemen ku." Balas Albert dengan dingin membuat Joshua cengengesan lalu memasang wajah serius.


"Kita mendapatkan misi."