The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 27: Mereka Disini?



Kirania duduk tak jauh dari mereka dan memutuskan mendengar percakapan 2 orang itu sambil menyantap makan siang. Beruntung mereka tak menyadari kehadiran Kirania sehingga memudahkan gadis itu menguping pembicaraan.


"Aku mengakuinya sebagai sahabat karena otaknya berguna. Jika saja otaknya tak berguna untukku, aku tidak sudi menjadikanya sahabat." Ucap Aqueera sambil tertawa menghina.


"Kau kejam sekali." Sahut Steve sambil mengusap kepala gadis itu.


"Lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Aqueera penasaran.


"Kami taruhan. Jika aku berhasil pacaran dengannya hingga lulus nanti, maka aku akan mendapatkan sebuah apartemen mewah di distrik A. Siapa juga yang mau pacaran dengannya yang menjijikkan itu. Dia hanya orang miskin yang tidak mempunyai keluarga. Asal usulnya juga tidak jelas." Cibir Steve angkuh.


"Benar. Dia hanya tinggal bersama walinya yang seorang bartender. Jangan-jangan mereka menjual diri agar bisa bertahan hidup, hahaha..."


Kirania mendengar perkataan mereka dengan jelas. Hati gadis itu terluka mendengar hinaan mereka. Apa yang salah jika sang ayah hanyalah seorang bartender? Oh ya, mereka tidak tau jika ayahnya adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat tampan dan dirinya adalah asisten dari 2 pembunuh berdarah dingin itu.


Kirania mengepalkan tangannya dengan kuat untuk melampiaskan emosinya. Mereka boleh saja menghina dirinya, namun dia tidak akan memaafkan orang-orang yang menghina Albert, pria yang telah merawat dan menyayanginya sejak kecil. Semua orang sama saja. Mereka hanya memandangmu jika kau memiliki status dan derajat yang lebih tinggi, begitulah Albert menasehati Kirania beberapa waktu lalu.


Kirania buru-buru menghabiskan makanan siangnya dan beranjak menuju kasir lalu membayarnya. Setelah itu Kirania segera keluar dari kantin dan pergi menuju toilet, mengabaikan tatapan merendah yang ditujukan ke arahnya.


Kirania menutup pintu toilet dan segera menuju wastafel yang terletak disana. Dia melepas kacamata badaknya lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah kusam tak terawat dengan bibir pecah-pecah serta rambut yang tampak kasar yang dia ikat asal.


"Wajar saja. Selama aku terlalu menuruti keinginan mereka. Aku sampai tidak mencintai diriku demi mereka. Papa benar, mereka sama saja." Monolog Kirania. Lalu gadis itu segera menghidupkan kran air dan membasuh wajahnya. Setelah merasa cukup, dia mematikan kran air dan merogoh saku rok nya mengambil sebuah saputangan yang selalu dibawanya lalu mengeringkan wajahnya dengan perlahan.


"Lebih baik aku meminta paman untuk mengantarku nanti." Gumamnya lalu mengambil kacamata dan memakainya.


Saat hendak keluar, dia mendengar beberapa langkah kaki mendekat. Segera Kirania bersembunyi di salah satu bilik toilet dan mengunci pintunya.


'KRIEETTT'


"Lho, ku pikir ada orang di sini." Ucap seorang siswi, lalu terdengar beberapa langkah kaki dan suara pintu toilet yang tertutup.


Sementara Kirana duduk santai di atas tutup toilet sambil bermain gadget dan menguping pembicaraan mereka.


"Ku dengar keluarga Anderson mendirikan perusahaan cabang di kota ini. Dan mereka menetap di distrik B." Ucap siswi A.


"Keluarga Anderson dari kota S itu?" Tanya siswi B penasaran disertai suara gemericik air.


"Iya. Keluarga yang itu."


"Ku dengar mereka juga menjadi donatur sekolah ini."


"Kau tau darimana?"


"Ayahku seorang reporter, jadi berita seperti itu sudah menyebar di internet."


'Tunggu! Keluarga Anderson? Untuk apa mereka kesini? Aku harus memberitahu papa dan om girang serta kak Elli.' Batin Kirania sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


"Sepertinya kau akan bertemu dengan mereka." Suara Ganymede bergema di kepalanya.


"Aku tidak sudi bertemu dengan keluarga itu. Ku harap mereka segera bangkrut." Maki Kirania melalui telepati.


"Jika kau tidak sengaja bertemu mereka, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menghindari mereka sebisa ku. Jika tidak bisa dan terpaksa, maka aku akan menghadapi mereka."


"Sepertinya ayahmu mempunyai sesuatu di kamarnya. Aku tidak yakin sih, tapi kau akan segera menemukannya. Ku harap kau menggunakan rasa penasaran mu daripada emosi bodoh dan tangisanmu saat mengetahuinya. Sampai nanti." Ganymede memutuskan telepati nya membuat Kirania penasaran.


⚛️⚛️⚛️


Kirania berjalan menyusuri koridor dengan lesu, bagaimana tidak si dewa tatto super narsis kini berceloteh ria di kepalanya membuat gadis itu pusing mendadak.


"Bucinmu itu keterlaluan. Cinta boleh, bucin boleh, tapi jangan bego dan buta juga kali." Omel Ganymede pada gadis yang kini menjadi wadahnya sekaligus dia anggap anaknya.


"Tapi Steve cinta pertama ku. Aku tak menyangka mereka mengkhianati ku dan menghina ku sampai seperti ini." Rengek Kirania melalui telepati membuat Ganymede mendengus.


"Yang sakit hati sekarang siapa? Bucin mu benar-benar menyedihkan. Aku sudah memperingati mu sedari awal, tapi kau ini ngeyel sampai segitunya. Aku heran, apa cinta dan bego itu beda tipis ya?"


"Aku tidak bego, sialan!"


"Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu." Kirania memutuskan telepati nya sepihak. Tanpa di sadari gadis itu kini telah sampai di gerbang sekolah dan melihat pemandangan yang menyakitkan. Dia melihat sahabat dan kekasihnya berjalan bersama sambil bergandengan tangan dengan mesra dan menatapnya dengan hangat. Steve tidak pernah berjalan bersamanya dan tidak pernah menatapnya dengan hangat. Dia selalu menyakiti nya dengan verbal.


Sahabat, ya? Seingatnya hanya Aqueera yang mengejarnya untuk menjalin persahabatan. Dia bahkan tidak pernah mau menjalin persahabatan dengan gadis itu karena memiliki maksud tertentu dan sepertinya tebakannya benar.


Sedangkan Steve? Entahlah. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Memang dia berdebar saat pertama kali melihat pemuda itu, namun entah kenapa saat ini hatinya sakit melihat pemuda itu begitu perhatian pada Aqueera.


"Mungkin aku perlu bersenang-senang." Gumam Kirania seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan area sekolah dengan perasaan berkecamuk. Namun sebuah kerumunan di sertai bisik-bisik membuat gadis itu penasaran dan langsung menerobos kerumunan itu membuat suasana hatinya yang buruk bertambah buruk seketika.


Terlihat seorang pria tampan dengan wajah baby face bersandar di mobil sport dengan warna mencolok yang menyakiti mata. Pria itu mengabaikan tatapan memuja penuh cinta dan langsung berseru bahagia saat melihat sosok gadis remaja yang dicarinya ada diantara kerumunan itu.


"Wah!! Keponakan ku!" Seru pria itu sambil melambaikan tangannya dengan semangat.


️⚛️⚛️⚛️⚛️


'BRAAKK!'


Suara dobrakan pintu yang lumayan kencang membuat sang pemilik kamar terlonjak kaget dan menatap sang pelaku dengan tatapan membunuh. Pria berambut hitam ombre biru cerah baru saja keluar dari kamar mandi dilihat saat ini dia hanya memakai boxer sambil mengeringkan rambutnya.


"Albert! Gawat! Keponakan manisku membawa kabar buruk!" Seru Joshua mengabaikan tatapan membunuh yang di layangkan oleh si pemilik kamar.


"Dia bilang keluarga Anderson menetap di distrik B dan menjadi donatur di sekolah keponakan ku. Kau bisa mengecek ponselmu." Cerocos Joshua sambil menunjukkan layar ponselnya.


Albert segera mengecek ponselnya dan seketika tubuhnya menegang saat membaca laporan dari putri kesayangannya.


'Papa, keluarga itu sudah ada disini. Dia menjadi donatur di sekolah ku dan sudah membuka cabang di kota ini.' Begitulah pesan yang dikirim dari Kirania membuat Albert cemas.


"Sial! Bajingan itu." Geram Albert sambil meremas ponselnya. Tangannya terkepal kuat, pertanda pria itu meluapkan emosinya.


"Joshua! Jemput Kirania. SEKARANG!" Ucap Albert penuh penekanan membuat pemuda bersurai cokelat gelap itu bahagia seketika.


"Tentu saja dengan senang hati." Ucapnya riang lalu segera meninggalkan Albert sebelum pria tampan itu berubah pikiran. Kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu bersama keponakan kesayangannya itu?


Dia segera menuju sekolah Kirania dengan mengendarai mobil sport merah dengan kobaran api jingga kekuningan. Tak butuh waktu lama dia tiba di depan gerbang sekolah Kirania dan langsung memarkirkan mobilnya. Dia bersandar di pintu mobil menunggu kedatangan Kirania.


Tak lama jam sekolah telah usai, terlihat beberapa siswa keluar dari area sekolah dan menatapnya dengan penasaran. Bahkan beberapa siswi mengerubunginya seperti ngengat dengan suara berisik di sertai pekikan membuat Joshua jengah.


Tak lama terlihat Kirania dengan wajah murung membuat Joshua mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan keponakan manisnya itu? Lalu dia memanggil keponakan kesayangan nya sambil melambaikan tangannya.


"Wah! Keponakanku!"


Pria itu langsung menghampiri Kirania dan menyeretnya menuju mobil, membuat gadis itu berkedut kesal.


"Paman, kau mau menculikku atau menjemputku, sih?" Serunya kesal.


"Aku di suruh menjemputmu oleh si balok es pemarah itu." Sahutnya cuek sambil membuka pintu mobilnya. Kirania segera masuk dan duduk manis di sana, mengabaikan tatapan iri dan cemburu yang dilayangkan oleh kerumunan itu.


Joshua yang paham keadaan itu langsung berkata dengan nada mengancam, "Maaf, nona-nona. Dia keponakan kesayanganku. Jadi jangan ada yang mengganggu nya atau kalian berurusan denganku."


Sontak kerumunan itu bergidik ngeri merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Joshua dan memekik histeris.


"Kyaaa!!! Kau tampan sekali!!"


"Aku jadi iri!!"


"Jadilah pacarkuuu!!!"


Joshua mengabaikan mereka dan segera bergegas masuk kedalam mobil. Perlahan mobil sport merah itu meninggalkan area sekolah dengan kecepatan tinggi.


Sementara di tempat lain...


Di sebuah bar terlihat seorang pria tampan berkacamata tebal tengah mengelap sebuah gelas. Tiba-tiba tangan pria itu gemetaran membuatnya mendengus sebal dan menghentikan kegiatannya.


"Sepertinya ada yang membicarakan ku." Gumamnya sambil menunggu tangannya berhenti gemetaran.


'Ku harap Joshua tidak macam-macam dengan putri ku. Atau aku akan mengulitimu hidup-hidup.' Batin nya sadis membayangkan dirinya menguliti Joshua sambil tertawa ala iblis yang sukses membuat beberapa rekannya menatap pria itu dengan aneh dan ngeri.