
Bulan bersinar kemerahan menyinari bumi dari gelapnya malam di temani bintang yang berkelap kelip di langit. Terlihat seorang pria berambut cokelat gelap dan seorang pria berambut jingga berlarian di atas atap rumah penduduk sambil sesekali melakukan akrobatik ala ninja memanjat beberapa bangunan tinggi berlantai.
'Tap' 'Tap'
Mereka mendarat di atap sebuah bangunan yang terletak di seberang hotel tempat yang akan terjadinya transaksi. Dengan santai pria berambut jingga itu mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya pelan.
"Dari informasi, dia adalah salah satu anak buah keluarga Anderson." Ucap Roy sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Mau bagaimana lagi. Mereka memang keluarga sinting." Balas Joshua sambil mengeluarkan minuman kalengnya, dia membuka tutup kaleng itu dan menyesapnya.
"Bukannya kakakmu menikah dengan keluarga itu?"
"Heh, jangan membuat bokongku tertawa. Memang dulu sekali dia kakakku, tapi sejak menikah dengan keluarga itu, tidak lagi." Sinis Joshua sambil meneguk minumannya hingga tandas lalu meremas kaleng itu dengan kuat hingga tak berbentuk lalu membuangnya sembarangan.
Ingatan pria itu melayang beberapa tahun silam, dimana saat itu dirinya baru saja lulus dari kuliah kedokterannya dan berhasil magang di rumah sakit terbaik kota S.
Saat dia mampir ke kediaman Anderson, dia melihat seorang anak kecil berambut hitam ombre biru tergeletak di lantai ruang tamu. Tidak ada siapapun yang memindahkan tubuh ringkih yang tergeletak di lantai. Saat Joshua mendekati tubuh itu dan memeriksanya, tubuh itu terasa sangat panas dengan keringat bercucuran membasahi tubuh kecilnya.
Segera Joshua membawa gadis kecil itu ke rumah sakit dengan tergesa-gesa, namun dia melihat Helena dan Derrick menuruni tangga dan menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Kenapa kau menggendong anak tak berguna itu? Kau mau membawanya kemana?" Tanya Helena bertubi-tubi begitu mencapai lantai ruang tamu dengan nada tinggi membuat Joshua mengernyitkan dahinya.
"Badannya sangat panas. Aku harus membawanya ke rumah sakit." Ujar Joshua datar.
"Biarkan saja dia di lantai. Kalau perlu ceburkan saja di kolam." Sinis Helena membuat Joshua kesal.
"Kak, dia ini putrimu. Kenapa kau tak punya hati, sih? Dia masih kecil dan kau membiarkan nya mati begitu saja? Bahkan kau begitu kejam kepada anakmu sendiri." Balas Joshua dengan nada tinggi lalu segera pergi menggendong Kirania kecil yang tak sadarkan diri.
"Jangan membawanya pergi atau aku membencimu seumur hidupku!" Raung Helena membuat Joshua menghentikan langkahnya dan menatap Helena dengan tatapan membunuh.
"Binatang buas saja punya hati untuk merawat anaknya, namun kau yang seorang ibu menelantarkan anakmu yang sekarat ini? Kau lebih buruk dari binatang." Ujar Joshua dengan dingin lalu bergegas keluar dari kediaman Anderson.
Untunglah dia membawa Kirania kecil tepat waktu, telat sedikit saja bisa dipastikan nyawa anak itu tidak tertolong. Menurut hasil pemeriksaan, gadis itu mengalami trauma hebat secara psikis dan fisik serta mengalami malnutrisi.
Saat itu Kirania baru berusia 8 tahun. Dulu warna rambut Kirania berwarna cokelat gelap dengan mata biru indah. Semenjak menjadi kelinci percobaan saat gadis itu berusia 3 tahun, DNA gadis itu berubah dan mendekati DNA milik Albert. Joshua sendiri baru mengetahui bahwa keponakannya menjadi kelinci percobaan saat tak sengaja memasuki ruang kerja milik Damian.
Pantas saja Albert selalu memakai topeng wajah sintetis saat berada di kediaman Anderson dan Brawijaya. Ternyata rekannya pernah menjadi objek percobaan dari Damian.
Sejak saat itu Joshua bersumpah akan merawat Kirania kecil yang kekurangan kasih sayang. Bahkan dia dan Albert mencoba mengisi kekosongan hati gadis malang itu.
Sekelebat bayangan masa lalu membuatnya semakin membenci keluarganya sendiri. Joshua memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang agar emosinya tidak meledak. Dia membuka matanya dan menatap bangunan di seberang sana dengan serius.
"Sepertinya target kita akan datang sebentar lagi." Ucap Joshua lalu menjatuhkan diri dari ketinggian beberapa lantai dan mendarat mulus di belakang hotel itu.
'Tap'
Joshua mendarat dengan sempurna tanpa menyebabkan suara mencurigakan. Jika manusia normal, kemungkinan akan menemui sang malaikat begitu tiba di tanah.
Roy yang melihat rekannya menyusul. Dia segera melompat dan mendarat di sebelah Joshua.
'Tap'
"Kau siap?" Tanya Joshua pada Roy seraya menatap bangunan lima lantai di depan nya.
"Lebih siap dari sekarang."
⚛️⚛️⚛️⚛️
Dua orang pria berjalan menyusuri lorong hotel dengan seragam serba hitam dilengkapi dengan jubah dan topeng wajah berbentuk Phoenix dan Garuda menutupi hampir separuh wajah mereka.
Mereka tiba di sebuah kamar yang dijaga oleh beberapa orang berseragam hitam dengan tubuh besar dan kekar.
Pria bertopeng Phoenix menyeringai lalu berjalan mendekati pria itu dan menendang dadanya dengan keras hingga terdengar suara patah yang mengerikan.
'Duakh' 'Krakk'
'Brukh'
Sontak membuat beberapa penjaga mulai waspada dan mengepung mereka. Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Dua pria bertopeng melawan 6 orang pria berpakaian serba hitam dengan tubuh besar dan kekar.
Pria bertopeng garuda melayangkan tendangan mengenai leher salah satu pria berseragam hitam hingga terdengar bunyi patah yang mengerikan. Seketika pria itu tumbang dan tewas di tempat.
"Sial! Serang mereka!"
Dua pria bertopeng itu menyeringai. Mereka saling tatap lalu memberi isyarat dengan mengangkat sebelah alisnya.
Segera mereka berdua menghajar orang berseragam hitam itu dalam sekali serangan dan tewas ditempat.
Dalam waktu singkat mereka selesai menyelesaikan perkelahian itu tanpa lecet sedikitpun sementara lawannya telah tergeletak tak bernyawa. Lalu pria bertopeng garuda menendang pintu kamar hingga jebol. Daun pintu terlepas dari engselnya dan terbang melayang sebelum menabrak jendela hotel dan terhempas bebas ke bawah.
'BRAAKKK!'
'PRAANNGG!'
Sontak mereka yang berada disana kaget dan melindungi diri dari serpihan kaca yang berterbangan. Dua pria bertopeng melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku. Tidak lupa aura bewarna kuning keemasan dan hijau terang keluar dari tubuh 2 pria itu, memberi suasana mencekam.
Beberapa orang diantaranya menodongkan senjata api kearah mereka. Terlihat keringat dingin mengalir deras di dahi target membuat mereka menyeringai.
"Siapa kalian?" Seru pria paruh baya kaget.
"Lihatlah sekelompok tikus got ini. Mereka terlihat lemah dan bodoh." Ucap pria bertopeng Phoenix sembari mengangkat tangannya yang mengeluarkan cahaya kuning keemasan.
"Kita harus membereskan mereka secepatnya. Aku ingin tidur malam ini." Balas pria bertopeng garuda malas seraya memijat lehernya. Lengan pria itu mengeluarkan sinar hijau terang.
"Aku tanya siapa kalian?!" Raung pria paruh baya itu marah.
"Kami adalah pelindung kawasan ini. Salah satu biro keamanan kota X dibawah naungan Athena Corp." Sahut pria bertopeng garuda datar.
"Kalian berani melakukan transaksi ilegal di kawasan Athena Corp. Maka konsekwensinya adalah kematian." Ucap pria bertopeng Phoenix dengan aura membunuh yang keluar dari tubuh nya.
"M-mereka scard!" Ucap salah satu diantara mereka dengan ketakutan.
"Tunggu apalagi, tembak saja dia. Toh mereka hanya berdua saja." Ucap salah satu rekannya dengan nada memprovokasi.
'Dor' 'Dor'
Mereka menembak 2 pria bertopeng itu, namun mereka terbelalak kaget saat melihat peluru mereka terjatuh beberapa inchi dari tubuh 2 pria bertopeng itu. Gemerincing peluru terdengar menggema memenuhi ruangan itu.
"M-mustahil! Bagaimana bisa?!" Seru mereka tak percaya.
"Nah, sekarang giliran kami." Ucap pria bertopeng Phoenix sambil menyeringai. Dia segera menghajar mereka dengan tangan kosong.
Tak ingin ketinggalan, pria bertopeng garuda juga menghajar beberapa orang itu, membuat bos mereka gemetar ketakutan. Ingin melarikan diri namun mustahil mengingat mereka melakukan transaksi di lantai atas.
Kurang dari semenit mereka telah berhasil menumbangkan beberapa pengawal target mereka. Dengan santai pria bertopeng itu merogoh saku celananya, mengambil sebuah senjata api lalu menodongkan ke arah 2 pria yang masih tersisa. Lalu pria bertopeng Phoenix itu menarik pelatuknya dan...
'Dor' 'Dor'
'Brukh' 'Brukh'
Dua pria itu tergeletak dengan dahi yang mengucurkan darah dengan derasnya, mata mereka terlihat kosong tanpa tanda kehidupan. Lalu 2 pria bertopeng meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan kilatan api dan hembusan angin seolah-olah tak ada siapapun disana.