
Albert keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang jauh lebih segar dan lebih baik. Jambangnya telah dicukur rapi menampakkan wajah rupawan berhiaskan bekas luka, serta rambutnya yang sedikit basah membauat kaum hawa meleleh jika melihatnya.
Pria itu hanya mengenakan tanktop hitam dan celana cargo hitam panjang. Dia melihat Kirania berbincang-bincang dengan Ellios, namun dia tidak melihat Joshua yang biasanya selalu berkeliaran bersama anak laki-laki berambut maroon tersebut.
Albert hendak bertanya bertepatan saat pintu ruangan terbuka, tiga pasang mata mengalihkan perhatiannya kearah pintu, dimana seorang pria berambut cokelat memasuki ruangan sambil membawa sebuah kantung belanja. Pria itu menutup pintu lalu berjalan menuju sofa dan mendudukkan diri.
"Ku harap keponakan manisku tidak menangis saat melihat penampilanmu tadi." Ejek Joshua sambil melemparkan sebuah kopi kaleng ke arah Albert yang langsung ditangkap oleh pria itu.
"Ku harap Ran tidak keberatan jika aku melemparkanmu dari sini." Sarkas Albert sambil membuka kopi kaleng itu dan menyesap isinya.
Joshua terkekeh lalu menatap Kirania yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Pria itu tersenyum puas dan berkata, "Sepertinya salep penumbuh rambut buatanku berhasil. Jika umumnya rambut memerlukan waktu tiga bulan untuk tumbuh sepanjang satu senti dari pusat akarnya, salepku hanya memerlukan waktu tiga minggu. Itu juga aku campur dengan sedikit kekuatan Suzaku."
"Benarkah paman?" Tanya Kirania sambil meraba-raba kepalanya. Albert segera menyerahkan sebuah cermin kepada Kirania yang diterima langsung oleh gadis yang akan menginjak usia remaja itu.
Gadis itu menatap cermin dan memperhatikan kepalanya. Seperti yang dikatakan Joshua, rambutnya terlihat cukup pendek. Kirania berbinar senang karena rambutnya bisa tumbuh kembali.
Joshua memperhatikan Kirania dan Albert secara intens. Mereka berdua terlihat bagaikan pinang dibelah dua. Wajah, gaya bicara dan karakternya nyaris sama kecuali mata dan rambutnya.
"Kalian terlihat seperti pasangan ayah dan anak. Rupa dan tingkah laku kalian sama persis." Celetuk Joshua yang sukses membuat Albert tersedak dan Kirania menatapnya dengan bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya Albert setelah pulih dari acara tersedaknya.
"Ini menjadi pertanyaanku sejak dulu. Saat itu aku dan ibuku menemukanmu di pinggir jalan dalam keadaan sekarat. Setiap kali aku bertanya,kau selalu memasang wajah pucat dan mual-mual seperti wanita hamil. Ceritakan padaku, apa yang terjadi waktu itu." Desak Joshua dengan pandangan menuntut.
Suasana diruangan itu mendadak sunyi, sampai-sampai suara nafas masing-masing terdengar diruangan itu. Albert melihat tatapan penasaran dari ketiga orang itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Suatu saat rahasianya akan terbongkar, dan dia tidak menyangka hari itu adalah hari ini.
"Apa kalian tidak membenci dan menjauhiku setelah mendengar cerita dariku?" Tanya Albert sambil memandang mereka.
"Tergantung dari ceritamu. Aku hanya ingin mendengarkan kebenaran." Jawab Joshua mantap disusul dengan anggukan dua remaja yang berada disana. Pria itu segera duduk di sofa, tepat di samping Joshua.
Albert tampak menimang sebentar lalu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Setelah merasa tenang Albert mulai membuka suara, "Waktu itu, dua belas tahun lalu aku dijual oleh ayah tiriku pada seorang wanita kaya. Wanita itu memakai topeng yang menutup setengah wajahnya, rambutnya bewarna cokelat gelap dan matanya bewarna cokelat hazel."
Joshua tau siapa wanita itu dan memutuskan untuk mendengarkan cerita Albert hingga selesai.
"Dia mengancamku dan meninggalkan ku dengan wanita itu. Wanita itu merecokiku dengan segelas wine. Aku menolak, namun wanita itu menendang kakiku. Secara otomatis aku menenggak seteguk wine itu. Sesaat kemudian aku merasa kepalaku sangat pusing dan tubuhku panas. Sebelum aku pingsan, aku melihatnya tertawa dan aku tidak ingat apapun. Saat aku sadar bagian bawah tubuhku mati rasa dan tubuhku sangat lemah. Begitu aku membuka mata, aku melihat wanita itu di atas tubuhku, dia..."
Joshua paham saat melihat tubuh Albert bergetar hebat. Dia menduga bahwa saat itu merupakan mimpi buruk bagi Albert dan menyuruhnya berhenti bercerita. Namun Albert menggeleng dan tetap melanjutkan ceritanya. "Setelah melakukan hal itu, dia menyeretku pada seorang pria berambut hitam. Wanita itu memanggilnya Derrick. Pria itu menyiksaku habis-habisan hingga aku tidak sadarkan diri."
Dulu Derrick dan Helena pernah menyiksa seorang remaja laki-laki karena kesal dengan kolega bisnisnya yang kabur setelah memberikan dokumen kerjasama palsu. Anak laki-laki malang yang disiksa habis-habisan itu merupakan anak dari kolega bisnis pria yang kabur itu. Joshua tau siapa remaja malang tersebut sekarang.
"Aku yang saat itu menyamar menjadi Alex, Ran." Kirania menangis mendengar penuturan Albert. Sedangkan Ellios menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Rupanya paman baik hati yang selalu menjaganya dan Kirania merupakan orang yang sama.
Albert mencengkram hidungnya dan menariknya dengan kuat hingga terlepas lalu melepas softlens biru yang menempel dimatanya. Terlihat wajah mulus tanpa cacat dengan mata biru gelap seperti mata Kirania.
Albert juga menarik rambut palsunya, menampilkan rambut hitam legam dengan beberapa helai biru yang sama persis dengan rambut Kirania.
"Kalian boleh membenciku dan menjauhiku." Ucap Albert sambil menatap tiga orang yang berada disana. Tanpa diduga Joshua menepuk pundak pria itu . "Aku tidak menduga jika laki-laki bisa menjadi korban pelecehan. Ku kira hanya perempuan saja yang mengalami hal itu. Aku tidak membencimu atas kejadian yang menimpamu waktu itu. Yang penting kebenarannya sudah terungkap." Ucap Joshua dengan sok bijak.
Ellios mendekati Albert dan memeluk pria itu. "Paman, terimakasih telah membantu ku selama ini. Aku tidak membenci Paman karena masa lalu." Ucap Ellios dengan tulus. Albert membalas pelukan pemuda itu.
Albert menepuk pundak Ellios dengan pelan lalu menatap Kirania yang menatapnya dengan ekspresi berkecamuk. Selama ini Kirania merasa sangat akrab dan nyaman saat bersama pria itu yang ternyata merupakan ayah biologisnya.
Pria yang selalu mengobatinya saat terluka, pria yang selalu menyemangatinya di saat dirinya putus asa, pria yang selalu mendukungnya selama ini ternyata orang yang sama.
Tiga laki-laki itu menatap Kirania dengan cemas, mereka khawatir dengan gadis itu saat mengetahui kebenarannya.
"A–aku tidak bisa berkata-kata, sungguh. Tapi aku merasa sangat dekat dan nyaman bersamamu, apalagi hanya kau satu-satunya orang yang mau peduli padaku saat keluarga ku menyiksaku. Boleh aku memelukmu, ayah?" Ucap Kirania panjang lebar dan ragu-ragu saat memanggil Albert dengan sebutan ayah.
Albert melepaskan pelukannya pada Ellios dan mendekati Kirania, gadis itu segera menghamburkan diri di pelukan pria itu dan menangis.
Suasana haru menyelimuti ruangan itu saat sebuah kebenaran terungkap. Kirania akhirnya tau alasan kenapa dirinya berbeda dengan anggota keluarga Anderson. Dan gadis itu juga tau alasan kenapa ibu dan kakaknya sangat membencinya.
Albert merasa lega, bebannya yang selama ini dia pendam seorang diri menghilang.
Kirania bahagia saat mengetahui bahwa Albert merupakan ayahnya. Dia yang selama ini ingin merasakan hangatnya pelukan seorang ayah akhirnya terwujud.
'Momen yang mengharukan.' Suara Ganymede bergema di kepala Kirania. 'Dia memang ayah kandungmu dan pemilik tatto naga jelek yang menjengkelkan.' Lanjutnya lagi.
"Dasar perusak suasana." Maki Kirania dalam hati yang langsung dibalas dengan ketus oleh Ganymede, 'Aku mendengarnya.'
Setelah puas berpelukan, mereka melepaskan diri. Namun ketiga mata laki-laki itu membulat saat melihat simbol Aquarius berkedip dengan sinar biru es yang indah di pangkal leher Kirania.
Kirania menatap mereka dengan takut, namun sebuah simbol Leo berkedip redup di pangkal leher Ellios dengan warna jingga kemerahan membuat dua pria dewasa kaget.
"Kalian pemilik konstelasi dua belas Zodiak?' Tanya mereka berdua kompak. Muncul tatto naga bewarna merah kehitaman di lengan Albert dan tatto Phoenix bewarna kuning keemasan di pergelangan tangan Joshua.
"Jangan tunjukkan tatto ini pada siapapun atau kalian akan diincar oleh orang-orang serakah." Titah Albert tegas yang langsung dijawab dengan anggukan oleh dua remaja beda gender tersebut.