The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 23: Senggol Bacok Mode On



Setelah memastikan Aqueera pergi dari taman dan menghilang dari sana, sepasang remaja itu turun dari pohon dengan melompat dan mendarat mulus di tanah.


'Tap' 'Tap'


"Untunglah papa mau mengajari teknik akrobat." Komentar Kirania sambil menatap Ellios yang kini berdiri di hadapannya.


"Kau yang terlalu malas latihan. Yah, walaupun papamu tidak mengajarkan cara berkelahi, setidaknya dia mengajari dasar-dasar yang penting." Ucap Ellios sambil menyentil kening Kirania, membuat gadis itu meringis dan memegang dahinya yang memerah.


"Iya, ya. Lain kali aku tidak bolos latihan lagi." Ucap Kirania seraya melangkahkan kakinya dengan kesal yang disusul dengan Ellios dibelakangnya.


Pemuda berambut maroon itu terkekeh geli dengan tingkah adik angkatnya. Mereka sangat dekat meskipun bukan saudara kandung dan tidak mempermasalahkan status antara dirinya dan Kirania.


"Apa permintaan kita tidak terlalu berlebihan? Bagaimanapun kita baru saja tinggal dengan papa." Tanya Kirania sambil menundukkan kepalanya. Ingatannya melayang beberapa waktu lalu saat dirinya meminta sebuah rumah pada sang ayah.


"Jika kota ini baik-baik saja dan tidak ada orang yang mengawasi kita, itu bisa disebut berlebihan. Namun keadaan ini memaksa kita harus pindah. Apalagi banyak penjarah yang meresahkan menerobos ke rumah papamu." Jelas Ellios. Dia merasa bersalah karena ikut menyetujui permintaan gila Kirania.


"Tapi kenapa orang-orang itu menargetkan papa, Kak? Padahal wajah papa terlihat mengerikan dengan bekas luka itu."


"Mana aku tau."


Mereka berjalan kaki dengan keheningan karena sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa mengurangi kewaspadaan mereka. Kota X yang terkenal amburadul dengan sistem pemerintahan yang bobrok, apalagi distrik tempat mereka tinggal merupakan distrik B pinggiran yang rawan kejahatan.


Mereka memutuskan melewati sebuah gang agar cepat sampai di apartemen, namun sayangnya mereka melihat segerombolan preman mencegat perjalanan mereka.


"Yo bocah! Kalau lewat sini harus bayar!" Gertak salah satu preman bertubuh kekar dengan wajah sangar sambil menghampiri mereka, tak lupa menodongkan sebuah pistol mainan untuk menakuti Kirania dan Ellios. Sementara rekan lain dibelakangnya tertawa mengejek.


"Maaf, paman. Ijinkan kami lewat. Jika kami tidak pulang maka papa akan marah dan memukuli kami." Cicit Kirania sambil bersembunyi di balik tubuh Ellios dengan akting yang meyakinkan.


"Aku tidak peduli! Cepat serahkan uangmu!" Bentak preman itu sambil mendekati mereka yang meringsut ketakutan.


"Hei, Kak. Kau bisa bertarung?" Bisik Kirania pada Ellios yang berusaha melindunginya.


"Tentu saja, tapi ini tidak adil. 9 lawan 1 apalagi tubuh mereka besar-besar." Bisik Ellios putus asa sambil bergerak mundur.


"Gunakan otakmu untuk berfikir bukan otot. Kau akan menang jika tetap tenang dengan menggunakan otak dan sedikit otot." Bisik Kirania membuat Ellios mendengus. Apa yang dikatakan Kirania memang benar.


"Hei, pegang mereka!" Seru preman itu jengkel karena Ellios dan Kirania terus bergerak mundur.


"Dasar payah. Cepat bantu dia!" Sahut ketua preman lalu memberi instruksi pada 7 temannya untuk mendekati 2 remaja yang kini tidak bisa bergerak karena tubuh Kirania terhalang tembok di belakangnya.


"Sekarang!" Bisik Kirania lalu segera keluar dari balik tubuh Ellios. Mereka berdua hanya bersandar di tembok sambil menatap preman-preman yang kini semakin dekat kearahnya.


Begitu jarak para preman itu dekat dengan mereka, Ellios menendang aset preman itu dengan kencang hingga pria itu tersungkur lalu pemuda berambut maroon itu melayangkan tendangan pada perut preman itu, membuat rekannya geram.


"Hajar mereka!"


"Kak, sekarang!" Dua remaja itu langsung jaga jarak dan mengambil posisi kuda-kuda dengan tubuh masih bersandar di tembok.


"Yo, Paman jelek. Apa kau tidak pernah mandi? Badanmu bau sekali." Ucap Kirania dengan nada mengejek sambil mengibaskan tangannya di depan hidung, membuat salah satu diantara mereka tersulut emosi.


"Diam kau, bocah!" Ucap preman itu sambil melayangkan pukulan kearah Kirania, dengan gesit gadis itu menunduk,membuat pukulan preman itu meleset dan memukul tembok di belakangnya.


'Buakh'


"Ah, pukulanmu meleset, ya." Ucap Kirania dengan nada di lemah lembutkan dan memegang lengan preman itu lalu menariknya dengan cukup keras ke arah tembok yang berada di belakang Kirania.


'Duakh'


Preman itu langsung tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengucur di dahinya akibat benturan yang cukup keras pada tembok.


"Nah, sekarang giliran siapa?" Tanya Kirania dengan tatapan tajam dan nada dingin yang mengintimidasi, membuat 3 preman lainnya menggeram marah.


'BUAKH' BRAAKK'


Serangan Kirania mengenai salah satu preman itu menyebabkan pria berbadan kekar itu terhempas hingga menabrak dinding dan pingsan seketika.


"Gadis sialan!!" Teriak salah satu preman itu dan melayangkan sebuah tamparan kearah Kirania, dengan sigap Kirania menangkap tangan preman itu dan memelintir nya hingga berteriak kesakitan.


"Apa yang kau lakukan, sialan!" Bentak salah satu rekannya. Dia segera menghampiri Kirania, namun gadis itu menendang perut preman itu hingga menabrak rekannya yang sibuk bertarung dengan Ellios.


"Kak, awas!" Pekik Kirania sambil memperkuat pelintirannya.


Ellios menoleh dan segera menghindar saat melihat sesosok tubuh kekar melayang kearahnya.


'GEDEBUKH'


Preman itu jatuh tersungkur dan berusaha berdiri. Diam-diam dia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.


"Kiran, hati-hati!" Seru Ellios di sela-sela perkelahian nya.


"Aarrgghh! Lepaskan aku, ****** kecil!"


"Uh, teriakan mu sangat berisik, Paman. Kau tau teriakan berisikmu itu bisa mengundang keramaian." Seru Kirania jengkel, sebelah tangannya meraba tas di pundaknya sambil mencari sesuatu. Setelah menemukan yang dicarinya, dia mengeluarkan dari tasnya yang ternyata sebuah botol spray berisi sebuah cairan dan mengocoknya sebentar lalu menyemprotkan ke arah mata preman itu.


Terdengar teriakan kesakitan dari preman itu, tanpa basa basi Kirania mematahkan bahu preman itu dan menghempaskan nya dengan keras.


Seorang preman menghunuskan pisau lipat kearahnya, dengan sigap Kirania menghindar dan menyemprotkan cairan itu ke wajah preman itu lalu menendangnya hingga terlempar menindih rekannya yang terkapar tak berdaya.


Ellios juga telah selesai menghajar beberapa preman itu. Pakaiannya terlihat acak-acakan dan wajahnya di hiasi lebam.


"Kau terlihat menyedihkan,Kak." Sindir Kirania.


"Kau juga tak ada bedanya." Balas Ellios saat melihat Kirania yang acak-acakan. "Ayo pulang." Lanjut pemuda itu meninggalkan gang sempit itu disusul Kirania mengekor dibelakangnya.


⚛️⚛️⚛️


Albert Side


Setelah selesai makan siang, Albert membayar pesanannya dan bergegas pulang menuju apartemen nya. Dengan kecepatan tinggi pria berusia 26 tahun itu menggeber motor sport nya, meliuk dan menyalip dengan lihai di antara pengendara lain.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, Albert akhirnya tiba di parkiran dan memarkirkan motornya lalu segera menghilang dari sana dan muncul di kamarnya.


Dia segera membuka helm full face nya dan segera membersihkan diri. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan keadaan lebih segar dengan menggunakan pakaian santainya.


Dia keluar kamar bertepatan dengan munculnya 2 remaja yang selama ini tinggal bersamanya. Terlihat pakaian mereka acak-acakan dan wajah mereka babak belur membuat Albert mengernyitkan dahinya.


"Kok kalian pulang dengan keadaan begini?" Tanya Albert dengan pandangan menyipit.


"Habis berantem tadi." Sahut Ellios sambil membuka sepatunya dan meletakkan di rak sepatu .


"Iya, Pa. Kami dicegat preman tadi. Daripada di palak, lebih baik kami melawan." Jelas Kirania sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu di ikuti Ellios


"Berarti kalian yang menang,'kan."


"Iya, Pa." Jawab mereka kompak. Mereka berdua segera menuju sofa dan duduk disana sambil meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.


"Ganti pakaian dan bersihkan tubuh kalian." Titah Albert yang langsung dilaksanakan oleh 2 remaja itu.


Albert lalu merogoh sakunya dan mengambil smartphone nya lalu menghubungi seseorang.


"Kau dimana? Ke apartemen ku sekarang."