
Joshua Alandero Mahardika, pria tampan yang berusia 26 tahun itu tengah berdiri dibawah kucuran shower yang membasahi sekujur tubuhnya yang terpahat sempurna. Pikirannya melayang ke masa lalu saat melihat sepasang pasangan aneh itu.
Dia meninju tembok yang berada dihadapannya dengan kuat guna menyalurkan rasa sakit hati dan kecewa saat mengingat masa yang paling ingin dilupakannya.
Flashback
3 tahun lalu saat dirinya dijodohkan dengan seorang wanita berambut merah menyala. Siapa yang menduga jika hari itu merupakan hari kesialannya hingga seumur hidupnya.
Dia yang menyamar menjadi pria culun dan menjadi kekasih wanita itu selama tiga bulan. Pria yang pertama kali menjalin asmara itu harus rela masa depannya hancur karena kejadian itu, dimana dia dijebak oleh tunangannya sendiri di sebuah kamar hotel.
Dia melihat tunangannya bercumbu mesra dengan seorang pria tepat dimatanya, mempertontonkan adegan mesum sementara dirinya diikat dengan tubuh telanjang. Tak hanya itu, mereka menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya sambil tertawa mengejek hingga menyebabkan dirinya impoten secara permanen.
Joshua putus asa meratapi hidupnya, dia tidak bisa menikah dan memiliki keturunan karena keadaannya. Saat ingin menghabisi hidupnya, Albert datang memberinya bogeman yang langsung membuatnya sadar.
"Jangan bodoh, Joshua! Coba ingat Ran, keponakan kesayanganmu itu! Jika kau tidak ada bagaimana hidupnya?! Dia yang selama ini menderita masih bisa tersenyum dan kau putus asa karena ini?!"
"Kau tau apa, hah?! Kau tidak mengerti apa yang ku alami dan aku rasakan!" Bentak Joshua putus asa sambil mencekram leher Albert.
"Aku juga sama sepertimu!! Aku tidak bisa bersama putriku! Dan aku juga tidak memiliki kehidupan setelah kejadian itu." Lirihnya pelan.
Joshua melepaskan cengkramannya dan terduduk pasrah menerima takdirnya. Pria itu menangis dalam diam.
Hingga suatu hari secara tak sengaja dirinya mendengar perbincangan ayah tirinya saat ingin membicarakan sesuatu yang membuat hidupnya berubah detik itu juga.
"Putri bungsu Helena merupakan kandidat yang cocok untuk percobaan ini. Lagipula dia begitu mirip dengan anak laki-laki itu. Aku juga sudah merubah DNAnya hingga menyerupai laki-laki yang ditemukan oleh Diana."
"Saat dia berusia dua belas tahun, dia harus menjalani percobaan ini. Aku tidak peduli jika dia hidup atau mati."
"Kau telah berhasil mengkebiri Joshua? Bagus. Aku tidak menaruh apapun pada anak itu walaupun dia memiliki kekuatan. Yang aku inginkan dia dan temannya menjadi senjata yang hebat untuk ambisiku dan aku akan menyingkirkannya begitu dia tidak berguna untukku."
'Deg'
Tubuh Joshua bergetar hebat. Dia tak menyangka pria yang dia anggap ayah tega berbuat kejam demi ambisinya. Saat ingin berbalik, dia melihat Albert menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Jadi kita ini hanyalah alat, huh? Bagus sekali. Aku ingin menemui Kirania sebentar." Ujar Albert seraya berbalik dan pergi begitu saja membuat Joshua mau tak mau mengikuti pemuda itu.
Flashback off.
Joshua merebahkan diri di kamarnya yang gelap dengan bulan sebagai sumber cahayanya.
Perlahan matanya terasa berat hingga pria itu terbuai dalam mimpi.
⚛️⚛️⚛️
Albert menghampiri dua bocah yang tengah tidur pulas disofa. Tubuh kedua remaja itu terlihat kurus kering dan kekurangan nutrisi.
Pria itu mengelus kepala Kirania dengan sayang lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut dan menatap Ellios yang kini tengah terlelap dialam mimpinya.
Senyum tulus terbit diwajah pria itu, dalam hati dia berjanji akan merawat mereka sepenuhnya.
Albert masuk kedalam kamar Kirania untuk mengambil bantal dan selimut lalu membawanya menuju ruang tamu. Dia menyelipkan sebuah bantal dikepala Kirania dengan pelan agar tidak mengganggu tidur putrinya.
Dan dia meletakkan sebuah bantal di lantai yang berbalut karpet hangat lalu memindahkan tubuh kurus Ellios. Tidak lupa menyelimuti tubuh keduanya.
Pria itu memasuki kamarnya untuk mengambil bantal dan selimutnya lalu kembali berjalan menuju ruang tamu. Dia segera menaruh bantalnya di sebelah Ellios dan ikut merebahkan diri disana. Perlahan rasa kantuk menghampirinya dan ikut menjelajah alam mimpi.
⚛️⚛️⚛️
"Hah...Hah.. Sial mimpi itu lagi." Kesalnya sambil melirik jam beker yang berada dinakasnya yang menunjukkan jam 6 pagi.
Segera pria itu beranjak membersihkan apartemennya, setelah itu dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar dan segera beranjak menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
Seperti biasa setelan abu-hitam menjadi favoritnya, baju kaos polos bewarna abu-abu gelap dipadukan dengan celana cargo hitam dengan kemeja yang senada dengan celananya. Tidak lupa sepatu sneakers bewarna hitam serta kacamata hitam bertengger manis dihidungnya yang sedikit mancung.
Setelah selesai, Joshua segera meninggalkan apartemennya yang berada di lantai 9 dan berjalan santai menuju lift lalu menekan tombol 6.
"Aku tidak sabar bertemu dengan dua iblis itu. Ku harap mereka baik-baik saja." Gumannya dalam hati.
Perlahan pintu lift tertutup dan bergerak turun menuju lantai 6.
'TING'
Pintu lift terbuka dan pria tampan berambut cokelat itu segera melangkahkan kaki menuju unit apartmen Albert yang terletak di unit 566. Segera dia menekan sejumlah angka dan membuka pintu apartemen milik Albert yang seperti rumah kedua baginya. Pria itu melangkah masuk kedalam apartemen milik Albert dan berkicau.
"Kiran keponakanku yang manis~!! Paman yang tampan ini–" Kicauannya terhenti seketika saat melihat tiga tubuh berbaring di lantai beralaskan karpet bulu dengan saling berpelukan.
Lebih tepatnya Albert menjadi bantal kedua bocah itu. Kepala Ellios berada di perut Albert dengan kaki beralaskan bantal yang berada disisi kiri sementara kepala Kirania berada di dada Albert dengan kaki berada diatas sofa yang berada disisi kanan. Sementara pria berambut hitam dengan beberapa helai hiasan biru cerah itu tidur terlentang dengan kedua lengan memeluk tubuh dua bocah itu.
Dengan tanpa dosa Joshua mengambil handphonenya dan mengabadikan momen langka tersebut lalu kembali menyimpan handphone miliknya.
Albert membuka matanya dan menatap Joshua yang telah berdiri dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Albert dengan suara serak khas bangun tidur sambil mengucek matanya yang masih terasa sepat. Pria itu merasa tubuhnya berat dan seketika kaget saat melihat dua bocah yang tidur lelap diatas tubuhnya.
"Aku hanya ingin numpang sarapan. Kau tau, hari ini aku lagi malas memasak." Sahut Joshua santai tanpa beban membuat Albert mendengus.
"Bisa bangunkan dua bocah ini? Aku tidak bisa bergerak."
"Tentu saja." Lalu Joshua segera menghampiri dua bocah yang masih terlelap diatas tubuh sahabatnya.
Tanpa diduga pria berambut cokelat itu segera menghujani wajah Kirania dengan kecupan ringan yang sukses membuat Albert mendelik galak.
"Hei! Jangan sembarangan mencium anak orang!" Seru Albert geram, namun Joshua seakan tuli dan melanjutkan aksinya.
"Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku dan anakmu yang menggemaskan ini sudah ku anggap seperti keponakanku." Sahutnya enteng sambil meneruskan aksinya membuat kepala Albert berkedut kesal. Namun...
'Plak'
Seketika Joshua menghentikan aksinya dan menjauhkan wajahnya dari Kirania sambil memegang pipi nya yang terasa perih saat seseorang menamparnya.
Albert menggeleng pelan karena memang bukan dia pelakunya.
"Papa, kenapa banyak nyamuk disini." Erang Kirania yang merasa tidurnya terganggu dengan suara serak khas bangun tidur. Dia segera duduk sambil mengucek matanya lalu meregangkan tubuhnya.
"Nyamuknya berada tepat di hadapanmu." Sahut Albert sambil menunjuk kearah Joshua yang masih setia memegang pipinya.
"Pagi, Paman. Hoaammm." Sapa Kirania saat melihat Joshua yang menatapnya cemberut.
"Pagi, Kiran. Cepat bangunkan kakakmu dan segera bersiap. Aku ada berita gembira untukmu." Sahut Joshua dengan senyum lima jarinya, mengabaikan rasa kebas yang masih terasa di pipi nya.
"Sial, tenaganya kuat sekali." Batin Joshua ngeri.